MANAGED BY:
RABU
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 22 Januari 2018 08:15
Pesta Demokrasi Jurnalis Televisi

PROKAL.CO, Oleh: Achmad Ridwan

SEORANG wartawan STV tengah mewawancarai direktur utama perusahaan daerah di Kaltim. Tak dinyana, sang direktur murka ketika ditanya bagaimana pola kerja sama terbaru dibanding rencana awal kerja sama terdahulu antara perusahaan yang dipimpinnya, dengan mitra bisnis.

Alih-alih menjawab, Pak Dirut justru emosi. Di depan umum. Di hadapan para wartawan. Beberapa orang sampai harus menahannya agar tak terjadi bentrok fisik. Sampailah kemarahannya di ubun-ubun. Dia mengeluarkan kartu tanda anggota ormas kesohor di Bumi Etam. “Berani kamu sama saya?” pekiknya pada wartawan STV.

Lain waktu, seorang wartawan televisi lokal lain di Kaltim tengah meliput kecelakaan. Truk milik satu ormas terbalik, menghantam rumah warga di kawasan Gunung Manggah, Samarinda. Kerah baju sang wartawan ditarik seorang preman dan diancam agar tidak melanjutkan kerja jurnalistiknya.

Dua kasus tadi hanya contoh ringan kekerasan yang dialami wartawan televisi di daerah. Faktanya kekerasan bisa terjadi tidak hanya dalam bentuk verbal, namun psikis hingga fisik. Kasus memilukan di Kaltim pernah terjadi 2013. Wartawati televisi lokal di Paser dianiaya oleh oknum aparat desa, hingga janin dalam kandungannya mati. Tragedi semacam itu tentu tidak boleh terulang.

Dalam catatan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), terjadi 60 kasus kekerasan terhadap wartawan di Indonesia sepanjang 2017. Terbanyak dialami wartawan televisi, yakni 25 kasus. Sisanya, menimpa wartawan media cetak, radio, dan online.

Wajar saja, karena wartawan televisi paling sulit “bersembunyi” di lapangan. Wartawan cetak, radio, atau online, masih bisa menyamarkan identitas sambil melakukan liputan di tempat yang mungkin berbahaya. Tetapi wartawan televisi akan sulit berkelit karena mereka harus merekam momen dalam bentuk gambar bergerak (video). Kecuali dilengkapi perangkat hidden camera.

Tak ada berita seharga nyawa. Seruan itu beberapa kali disampaikan ketua IJTI Kaltim, Suriyatman di grup sebuah aplikasi chatting. Namun, meski sudah berhati-hati dan semaksimal mungkin menjunjung etika jurnalistik, nyatanya kekerasan tetap bisa menimpa jurnalis.

Di situlah biasanya organisasi profesi seperti IJTI menemukan eksistensinya: ketika anggotanya mengalami kekerasan saat bertugas. Tapi, idealnya fungsi organisasi tentu bukan hanya itu. Misi utama organisasi profesi selain advokasi dan perlindungan, juga peningkatan mutu/kompetensi para anggota.

Tahun lalu, sekitar 600 aduan masuk ke Dewan Pers. Ratusan aduan itu boleh jadi mengindikasikan dua hal. Pertama, banyak wartawan yang memang tidak profesional menjalankan tugasnya. Atau, tidak sedikit pelapor yang terlalu tipis telinganya. Yang kedua tentu tidak perlu dibahas karena bisa jadi sangat subjektif.

Namun, satu yang pasti, tantangan wartawan, termasuk wartawan televisi ke depan makin kompleks. Di tahun politik 2018 dan 2019, wartawan harus benar-benar menjaga kode etik dan muruahnya. Memang berat menahan diri dari rayuan politik praktis yang seksi. Namun, syahwat itu harus diatasi. Belum lagi pertempuran melawan hoax. Jangan pula sampai terjadi, wartawan merangkap produsen dan distributor hoax. Betapa konyolnya.

Untuk itu, profesionalisme jurnalis harus benar-benar diwujudkan. Selain perusahaan pers, organisasi profesi seperti IJTI menjadi pemikul tugas besar tersebut. Meski terdengar merepotkan, tapi harus dikerjakan.

Akhir pekan ini, IJTI akan menggelar musyawarah daerah. Pesta demokrasi jurnalis televisi di Kaltim ini menarik karena tahun pelaksanaannya bersamaan hajat besar politik di Bumi Etam. Prosesnya adalah pertaruhan idealisme. Meski belum sebesar “senior”nya yakni PWI dan AJI, IJTI pasti menyimpan daya tarik bagi siapa pun yang akan bertarung di Pilgub Kaltim.

Pertaruhan lain adalah, jangan sampai para jurnalis televisi seperti meludah ke langit. Dalam arti, para pewarta yang sehari-hari menggelorakan demokrasi yang sehat dan damai, justru tidak mampu mewujudkan hal itu di lingkup internal.

Namun, melihat atmosfer hingga tulisan ini dibuat, pelaksanaan musda tampaknya akan berjalan baik dan lancar. Selamat bermusyawarah, kawan-kawan. Jalani dengan bahagia. Selamat berpesta!

Penulis adalah Direktur STV.


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .