MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 15 Januari 2018 08:53
Rp 62,4 Miliar dari Kaltim Cemerlang
-

PROKAL.CO, BEASISWA penuh bagi seluruh mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim adalah tawaran yang paling menarik. Ditanggung program Kaltim Cemerlang, puluhan mahasiswa yang sebelumnya menumpang di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta telah lulus.

Nur Intan Savitri dan Siti Suhada adalah dua orang dari angkatan pertama ISBI Kaltim. Menyelesaikan seluruh perkuliahan di Kota Pelajar, keduanya menerima ijazah ISI Jogjakarta.

Intan dan Siti mengakui, beasiswa yang mereka terima sangat cukup untuk menyelesaikan sarjana. Pada tahun pertama, beasiswa dari Pemprov Kaltim sebesar Rp 9 juta sampai Rp 10 juta. "Sudah dipotong untuk biaya semester,” terang Siti. Pada tahun berikutnya, Siti mengelola sendiri uang beasiswa yang masuk ke rekening sebesar Rp 25 juta. Tidak ada lagi pemotongan. Uang itu disimpan untuk membayar uang kuliah dan mengontrak rumah.

Belajar di Program Studi Televisi dan Film akan memerlukan biaya tambahan. Tugas membuat karya audiovisual, sebagai contoh, mengeluarkan biaya produksi yang tak sedikit. "Kembali kepada mahasiswa untuk memanajemen beasiswa," terang Intan.

Sepanjang menuntut ilmu di Jogja, Intan dan Siti terus memantau perkembangan ISBI Kaltim. Keduanya mengaku pernah melihat miniatur rancangan gedung ISBI di grup percakapan Line. Dari sana, dia mulai yakin gedung kampusnya segera rampung. Sampai Intan dan Siti lulus, gedung itu tak selesai dibangun.

Kuliah di ISI Jogjakarta, Intan dan Siti menerima kurikulum setempat. Tentu saja tidak ada materi budaya dari Kalimantan. Sinta Nurul Fauziah, mahasiswi Program Studi Seni Tari di ISBI Kaltim, membenarkan hal itu. Dia hanya menerima mata kuliah Tari Bali, Jogja, Sumatra, dan Jawa Timur. Tidak ada pelajaran yang menyinggung Kalimantan. Padahal, mahasiswi angkatan 2013 itu sangat berharap mendapat mata kuliah berkenaan dengan asal daerahnya. “Memang begitu kurikulum di sana,” jelas Sinta.

Keinginannya mempelajari budaya lokal akhirnya dipuaskan lewat tugas akhir. Sistem tugas akhir di ISI Jogjakarta dibagi dua pilihan, pengkajian atau penciptaan. Objek penelitian dikembalikan kepada mahasiswa. Jika pengkajian, mahasiswa akan mempelajari tari-tarian. Sementara jika mengambil penciptaan, mereka bisa menampilkan tari-tari tersebut. Sinta akhirnya memilih tari khas suku Dayak sebagai objek penelitian tugas akhirnya.

Semua yang dilewati Intan, Siti, dan Sinta, berkebalikan dengan mahasiswa angkatan 2016 ISBI Kaltim. Sistem dosen terbang dan gedung kuliah yang tidak jelas menjadi persoalan. Intan menyayangkan sikap Pemprov Kaltim yang terkesan memaksakan mahasiswa angkatan 2016 kuliah di Tenggarong. Sebagai alumni kampus, Intan khawatir kualitas perkuliahan di Kaltim berbeda jauh dengan di Jogjakarta.

Siti Lailatul Fitria dan Muhammad Adiat, dua mahasiswa ISBI Kaltim angkatan 2016, membenarkan hal itu. Keduanya kuliah di Tenggarong dan sudah memasuki semester tiga. Bersama 74 mahasiswa angkatan 2016, Siti dan Adiat juga menerima beasiswa Rp 25 juta per tahun dari Pemprov Kaltim.

Kepada Kaltim Post, Siti dan Adiat mengatakan, beasiswa hanya diberikan selama empat tahun. Seorang mahasiswa akan menerima Rp 200 juta selama 8 semester. Jika ISBI Kaltim telah "merekrut" 312 mahasiswa dari enam angkatan, total Beasiswa Kaltim Cemerlang yang sudah dan harus dikucurkan menembus Rp 62,4 miliar.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Provinsi Kaltim, Elto, menyatakan, provinsi masih mempertimbangkan pengucuran beasiswa tahun ini. Kucuran dana tersebut, kata dia, juga menjadi stimulan kepada siswa yang lulus ujian nasional untuk kuliah di ISBI. "Kami berharap tetap ada, tetapi tentu dengan melihat kemampuan keuangan daerah yang sedang terbatas," jelasnya.

Mahasiswa yang belum lulus setelah empat tahun, atau sesuai batas beasiswa, harus menanggung uang kuliah sendiri. Namun, bukan itu yang menjadi sumber kegalauan. "Fasilitas di Tenggarong sangat jauh berbeda dengan di Jogja. Di sini, gedung belum ada. Peralatan dan studio masih kurang memadai," terang Adiat. Untuk jurusan tari, lanjutnya, mahasiswa memerlukan studio cermin yang besar. Ruangan yang tersedia saat ini tidak sanggup menampung 25 mahasiswa.

Siti dari Jurusan Etnomusikologi juga mengakui alat praktikum sangat kurang mencukupi. Ketika teori membahas kolintang, alat musik itu justru tak ada. "Sudah sering seperti itu," akunya. Mahasiswa akhirnya menyesuaikan dengan alat  musik lain yang kira-kira suaranya sama. Siti teringat perkuliahan di semester pertama. Tidak ada alat musik sama sekali. Mahasiswa terpaksa tarik suara lewat akapela.

"Kami kecewa dipindah ke sini, gedung tidak ada," timpal Adiat. (*/rdm/riz/fel/k11)


BACA JUGA

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .