MANAGED BY:
KAMIS
21 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 12 Januari 2018 09:09
Pilgub dan Persiapan Pilpres

PROKAL.CO, Oleh: Ariful Amin
(Ketua Komunitas Pemerhati Balikpapan)

POLITIK itu dinamis dan cair sebagaimana bentuk cair dapat berubah bentuk sesuai yang ditempatinya. Termasuk berubah warna sesuai campuran warna di dalamnya. Begitu cair dan dinamisnya sehingga pilgub kali ini terjadi perubahan yang sangat cepat dari waktu ke waktu. Dari mulai bongkar pasang pasangan bakal calon sampai partai pengusung pun berubah-ubah.

Sebagaimana sifat cair adalah mudah sekali dipanasi, berbeda dengan sifat barang padat. Proses politik dalam pencalonan gubernur mengirim pesan ke masyarakat adanya situasi yang panas. Tapi, sebagaimana sifat barang cair mudah didinginkan tapi dalam hal ini tidak terjadi.

Politik yang cair dan dinamis sebenarnya diperlukan oleh masyarakat agar dapat pemimpin yang benar-benar mengerti dan paham kemauan yang punya mandat tertinggi, yakni rakyat. Namun, apakah cair dan dinamisnya ini dalam upaya tersebut? Bila dilihat dari perjalanan selama ini, masih jauh dengan kemauan masyarakat. 

Seperti halnya pasangan dibutuhkan chemistry dengan pasangannya. Chemistry tidak dapat dibangun hanya sesaat, namun harus terus-menerus mendalami satu sama lain. Kesamaan visi bukan karena kesamaan kepentingan sesaat. Karena ketidakadaan chemistry pasangan hanya berumur jagung dan pecah kongsi di tengah jalan yang merugikan rakyatnya.

Cairnya politik ternyata tidak disertai cairnya ke masyarakat. Politik lebih hanya sekadar mempertahankan kekuasaan, sehingga terlihat lebih besar titipan penguasa dibanding titipan rakyat.

Pilgub yang terjadi, akhirnya seperti pemanasan menuju Pilpres. Seakan-akan pemenang pilgub mempunyai kemampuan mengarahkan rakyat, yang juga punya hati dan pikiran untuk mendukung presiden pilihannya. Pasangan calon tidak lagi melihat akar di mana kaki berpijak dan menyerap sari pati. Tapi, hitungan strategi mengadang untuk meloloskan calon dalam kepentingan persiapan pilpres.

Kadang kala banyaknya calon diartikan sebagai keuntungan rakyat karena banyak pilihan, tapi tidak pernah dibahas bahwa banyaknya calon juga menunjukkan sulitnya calon pemimpin mempersatukan kepentingannya. Padahal, bila pemimpin benar lahir dari rakyat, rakyatlah yang berbondong-bondong memberikan amanahnya, bukan dengan cara mencalonkan diri. Pilpres biarlah berjalan dan menentukan sendiri lahirnya seorang pemimpin. Pilgub pun diberi ruang yang cukup untuk lahir seorang pemimpin, bukan lagi dengan cara mengemas dan dijadikan industri. Masyarakat lebih sehat diberi pemahaman tentang pemimpin yang baik, bukan dipengaruhi dengan tekanan dan menyodorkan pemimpin yang penuh rekayasa. (*/one/k15)


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 07:40

Jangan Runtuhkan Bangunan Takwa Kita

Oleh: Ismail MPdI(Guru Fikih MAN Insan Cendekia Paser) DI antara cara Alquran dalam menginformasikan…

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .