MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 08 Januari 2018 09:05
Pilgub Kaltim, Menjemput Generasi Gunung Kelua
Unmul Juga Bisa

PROKAL.CO, Pemilihan Gubernur Kaltim 2018 menjadi pembuktian bagi Universitas Mulawarman. Lima alumni berpeluang turut dalam pilkada. Jika seorang dari mereka menang, dialah gubernur Kaltim pertama jebolan Kampus Gunung Kelua.

UNTUK kesekian kali dalam sehari, Makmur HAPK keluar-masuk ruang dosen. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Mulawarman itu menemui Susilo, dosen killer yang menjadi pengampu tugas akhirnya.

Menyusun skripsi adalah waktu terberat ketika Makmur masih mahasiswa. Dia dibimbing dosen yang paling ditakuti seantero fakultas. Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara itu adalah satu-satunya bimbingan Susilo yang masih bertahan. Setidaknya, sampai tugas akhir Makmur benar-benar selesai pada 1984 (Makmur HAPK: Membangun bersama Rakyat, 2015). Skripsi yang mengupas peran kepala kampung dalam proses pembangunan akhirnya mengantar Makmur meraih gelar sarjana sosial politik.

"Pak Makmur ke sana-sini mengendarai motor Suzuki A100," tutur Joni Marhansyah, rekan sepermainan Makmur sejak kecil hingga kuliah, kepada Kaltim Post, Rabu (3/1). Joni yang sekarang sekretaris kabupaten Berau melanjutkan, "Beliau sejak mahasiswa sudah aktif berorganisasi."  

Setelah 21 tahun lulus dari kampus Gunung Kelua, sebutan Unmul, Makmur menjabat bupati Berau selama dua periode. Masa-masa Makmur kuliah, pada 1977–1984, tepat dengan berakhirnya generasi X yang digantikan kelahiran generasi Y. Pada masa itulah, generasi emas lahir di Unmul. Generasi yang sekarang berkilauan.

Rizal Effendi, satu angkatan di atas Makmur, adalah wali kota Balikpapan jebolan Fakultas Ekonomi. Satu angkatan di bawah Makmur, Isran Noor masuk kuliah pada 1978. Mantan bupati Kutai Timur itu lulus dari Faperta, Fakultas Pertanian.

Masih dari kampus pertanian, Rusmadi Wongso yang menjadi sekretaris provinsi Kaltim masuk kuliah pada 1981. Masih ada satu nama lagi yang tak bisa dilupakan; Irianto Lambrie. Gubernur Kaltara itu seangkatan dengan Isran.

Kecuali Irianto, empat nama yaitu Makmur, Rizal, Isran, dan Rusmadi, kini bersaing ketat dalam Pemilihan Gubernur Kaltim 2018. Dari waktu masuk dan lulus, dapat dipastikan bahwa keempatnya pernah kuliah di satu universitas pada waktu yang bersamaan.

Satu kandidat lagi bisa disebut beralmamater sama. Syaharie Jaang memang meraih sarjana dari Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda. Namun, gelar master sains Jaang diperoleh dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul. Wali Kota Samarinda dua periode itu turut menggemukkan "pasukan" Gunung Kelua yang terjun di arena pilkada serentak 2018.

Dari eskalasi politik sampai berita ini ditulis, Sabtu (6/1), kelima nama itu punya kans besar dalam pilkada. Isran sudah hampir pasti maju bersama Hadi Mulyadi, politikus Partai Keadilan Sejahtera. Jaang dan Rizal, yang sedang diterpa isu politisasi dan kriminalisasi, sudah menjadi satu paket beberapa bulan lalu.

Nama berikutnya adalah Makmur. Sebagai politikus Golkar, dia berpeluang besar maju sebagai calon gubernur. Nama terakhir adalah Rusmadi Wongso yang baru saja mengumumkan undur diri dari pilgub. Meski begitu, keputusan Rusmadi masih mungkin berubah ketika denyut politik kian meningkat ketika pendaftaran calon dibuka hari ini (8/1).

Jika kelima nama itu ikut pilgub, peluang alumni Unmul menjadi gubernur Kaltim periode 2018–2023 makin lebar. Potensinya lebih besar dibanding dua pilkada terdahulu.

Dalam Pilgub Kaltim 2013, tiga alumni Kampus Gunung Kelua turun gunung. Hanya Imdaad Hamid dari Fakultas Ekonomi yang menjadi cagub. Dua nama lain, Ipong Muchlissoni dari FISIP dan Aji Sofyan Alex dari Fakultas Ekonomi hanya cawagub. Tiga-tiganya takluk dari pasangan Awang Faroek Ishak-mendiang Mukmin Faisyal. 

Alumni Unmul yang terlibat pilgub langsung pertama di Kaltim pada 2008 sedikit berbeda. Dari empat pasangan calon, Achmad Amins dari Fakultas Ekonomi dan Jusuf Serang Kasim dari Fakultas Kehutanan menjadi cagub. Satu nama lagi adalah Heru Bambang dari Fakultas Ekonomi sebagai cawagub. Mereka semua juga takluk dari Awang Faroek Ishak yang berpasangan dengan Farid Wadjdy.

RIZAL YANG JENIUS

Dari kelima alumni, Rizal paling senior. Masa kuliah wali kota Balikpapan itu cemerlang. Namanya masyhur lewat pena sebagai kolumnis di majalah mahasiswa. Beragam genre artikel lahir dari akal Rizal. Sebagian besar seputar pembelaan hak mahasiswa.

“Kualitas politiknya terlihat sejak kuliah karena ditunjang ilmu jurnalistik,” ucap Eny Rochaida, adik tingkat Rizal di Fakultas Ekonomi. Eny sekarang adalah guru besar di fakultas yang sama.

Jurnalistik kemudian menjadi garis tangan Rizal. Lulus dari kampus, pria yang lahir pada 27 Agustus 1958 itu menggeluti dunia pers. Sebelum menjabat wakil wali kota Balikpapan pada 2005, Rizal adalah pemimpin redaksi Kaltim Post.

Padahal, menjadi wartawan bukan cita-citanya. Sejak kecil, dia tidak pernah berpikir menjadi jurnalis, dokter, gubernur, apalagi presiden. Kehidupan kampuslah yang membuatnya mengenal jurnalistik. Sebagai mahasiswa, Rizal yang gemar membuat buletin, diam-diam membuat darah wartawan mengalir di dalam tubuhnya (Tokoh Pers Kaltim: Sejarah Karya dan Pengabdian, 2003).

Kekuatan Rizal di tulisan seimbang dengan lisan. Profesor Eny mengatakan, Rizal memiliki kemampuan public speaking yang ciamik. Rizal vokal melawan ketidakadilan.

"Rizal itu sosok jenius. Segala bidang dia lakoni," terang Zamruddin Hasid, guru besar Fakultas Ekonomi yang lain. Zamruddin adalah kakak tingkat Rizal yang terpaut setahun. "Radio, majalah, hingga teater, dia ikuti,” lanjut rektor Unmul periode 2010–2014 itu.

Jika mahasiswa dikenal kritis, begitulah Rizal. Pernah suatu hari Rizal memprotes Rektor Unmul Sambas Wirakusumah. Tak puas dengan jawaban dari rektor pertama Unmul itu, Rizal meneruskan protes ke menteri. "Hebat benar dia," terang Zamruddin terkekeh-kekeh.

ISRAN CEMERLANG

Isran Noor jelas jenius sejak kecil. Dia melahap bangku SD dalam lima tahun. Ujian nasional diikuti saat Isran masih kelas lima dan mendapatkan nilai tertinggi di sekolah. Ketika SMA, Isran telah mengusai empat bahasa asing.

Bahasa Arab dikuasai Isran karena mahir membaca Alquran sejak kecil. Isran mendapat kemampuan berbahasa Jepang dari awak kapal perusahaan asing. Para pelaut itu sering menepi di kampung halamannya di Sangkulirang, Kutim. Untuk bahasa Prancis, Isran dalami ketika SMA di Samarinda. Saat itu pula, mantan bupati Kutai Timur tersebut mengikuti pertukaran pelajar ke Prancis dan Jerman (Isran Noor: Matahari dari Kutai Timur, 2013).

Juraemi, kini guru besar Unmul, adalah teman akrab Isran sejak kecil. Keduanya satu sekolah dari SD hingga kuliah, sekaligus satu asrama mahasiswa. Kepada Kaltim Post pekan lalu, Juraemi yang juga ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutim berkata, "Isran itu tidak pernah bolos kuliah."

Angkatan Isran di Faperta Unmul memang istimewa kendati hanya diisi 30 orang. Irianto Lambrie, sekarang gubernur Kaltara, seangkatan dengannya. Kiprah organisasi Isran di kampus juga berkilau. Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanahan itu menjabat ketua senat. Sekarang, Isran dipercaya menjadi ketua ikatan keluarga alumni Unmul.

Selain cerdas, Isran populer di mata para mahasiswi. Satu kisah menarik berlangsung di asrama mahasiswa yang dihuni Isran. Malam minggu tiba ketika Isran yang jarang bercanda tiba-tiba meminta bantuan kepada Juraemi. ”Ada beberapa nama di sini. Tolong cabutkan satu. Saya mau kencan tapi diundi dulu,” tutur Isran seperti ditirukan Juraemi. Tentu saja, lanjut dia, kisah itu hanya cerita masa muda. "Namanya masih mahasiswa," imbuh Juraemi.

RUSMADI, PRAMUKA KLIMIS

Pak Guru Diran yang mengajar kesenian di SMP 2 Samarinda tiba-tiba mengajukan pertanyaan. "Siapa yang menciptakan lagu Indonesia Raya?" Seorang murid bernama Rusmadi Wongso menjawab singkat. "WR, Pak," katanya dengan suara yang tidak terlalu nyaring. Rupa-rupanya Pak Guru Diran tak mendengar. Rusmadi mengulang lagi jawabannya. "WR, Pak. WR, Pak," sahutnya.

"Satu kelas tertawa," tutur Muhammad Aswin, murid sekelas Rusmadi. Di kelas yang sama, duduk pula Said Amin, tokoh yang juga ketua MPW Pemuda Pancasila Kaltim. WR yang dimaksud Rusmadi tentu saja Wage Rudolf Supratman. Sejak kejadian itu, Aswin memanggil sahabatnya dengan nama "WR" hingga hari ini. Keduanya sekarang mengabdi di Pemprov Kaltim. Aswin adalah kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip, sedangkan Rusmadi menjadi atasannya sebagai sekretaris provinsi.

Rusmadi dan Aswin lantas sama-sama memilih Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian di Faperta Unmul. Mereka angkatan 1981 dan kuliah di kawasan Sidomulyo, sekarang di Jalan Biawan.

Pada awalnya, kampus Unmul hanya berdiri di Jalan Flores dan Sidomulyo (50 Tahun Universitas Mulawarman, 2012). Tahap pemindahan kampus sedang berlangsung ke Gunung Kelua. Gubernur Abdoel Wahab Sjahranie dan Wali Kota Kadrie Oening telah menyiapkan 100 hektare lahan di utara Samarinda. Gunung Kelua, kampus sekarang, masih berbukit-bukit dan penuh pohon karet serta buah-buahan.

Rusmadi, yang aktif di pramuka sejak sekolah, terkenal dengan kedisiplinan. Berbeda dengan mahasiswa kebanyakan, dia selalu berpakaian rapi, tidak gondrong, tidak pula merokok. Potongan rambutnya selalu klimis.

Selagi kuliah, Rusmadi mengajar di berbagai sekolah. Salah satunya di SMA PGRI di Jalan KS Tubun, Samarinda. Aswin pun demikian. "Kami sama-sama dari keluarga tidak berada. Untuk membayar kuliah, harus mengajar," terang Aswin.

Lulus kuliah, Rusmadi berkarier sebagai pegawai negeri. Dia mengajar di Faperta Unmul. Sulit memisahkan kecerdasan darinya. Rusmadi menjadi lulusan terbaik saat meraih sarjana lewat tugas akhir bertema ekonomi pembangunan. Gelar master Universitas Gadjah Mada diselesaikan dengan status cum laude. Gelar doktornya dari University of the Philippines dilabeli honor of society of agriculture, Gamma Sigma Delta. Kecemerlangan itu membuatnya dipercaya sebagai dekan Faperta.

JAANG SARJANA HUKUM

Kandidat terakhir yang beralmamater Unmul adalah Syaharie Jaang. Gelar masternya diraih dari Kampus Gunung Kelua. Namun, wali kota Samarinda itu tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama UWGM, Universitas Widya Gama Mahakam di Samarinda.

Jaang masuk kuliah pada 1985. Dia mahasiswa Fakultas Hukum yang tak pernah membawa tas tetapi selalu menenteng kitab undang-undang hukum perdata. Kampus UWGM masih di gedung bekas SMA Kesatuan Samarinda, Jalan Ruhui Rahayu, tak jauh dari Kampus Gunung Kelua. Jaang selalu berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Jalan Dr Soetomo, Gang 8, menuju kampus.

"Dia selalu mengenakan kemeja," tutur Raden Eddy Haryadi, teman sekelas dan sekampus Jaang kepada Kaltim Post. Jaang kemudian memilih hukum perdata sebagai konsentrasi kuliah. Cita-citanya waktu itu ingin jadi pengusaha, bukan pengacara atau notaris.

Pilihan yang mujarab. Belum lulus, lelaki asal hulu Sungai Mahakam itu sudah bekerja di perusahaan konstruksi milik keluarga Rini Soewandi, menteri BUMN sekarang. Setelah gajian, Jaang biasanya mentraktir teman-temannya di kantin kampus. Dari upah itu pula, dia membeli sepeda motor Suzuki GP 100 produksi 1978. Menurut Eddy, Jaang bukanlah seorang aktivis saat mahasiswa. Suami Puji Setyowati itu meraih gelar sarjana hukum pada 1991.

MENUNGGU GILIRAN

Unmul adalah universitas terbesar dan tertua di Bumi Etam. Pada usia 56 tahun, Unmul belum mengirimkan satu alumnusnya untuk duduk sebagai orang nomor satu di Kaltim. Dari 12 nama pemimpin Kaltim, hampir semua lulusan luar daerah.

Awang Faroek Ishak sebagai petahana adalah jebolan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang. Dia menempuh magister di Universitas Indonesia dan meraih doktor dari Universitas Airlangga (60 Tahun Kiprah dan Pengabdian Awang Faroek Ishak, 2008). Faroek tercatat pernah mengabdi sebagai pengajar di Unmul.

Pendahulunya, Yurnalis Ngayoh, adalah lulusan Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Gubernur sebelumnya lagi, Suwarna AF berlatar belakang militer. Sedangkan Muhammad Ardans sudah menjadi sarjana pada dekade 1960-an ketika Unmul baru lahir (East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy, 2010). Para gubernur yang lebih jauh menjabat, dapat dipastikan tidak menempuh pendidikan tinggi di Kaltim.

Belum adanya wakil Gunung Kelua yang memimpin Kaltim, menurut pakar politik lokal dari Unmul, Sarosa Hamongpranoto, disebabkan beberapa hal. Guru besar FISIP itu mengatakan, penggodokan kader partai politik belum sepenuhnya terbangun dengan kampus dan dunia akademisi. Padahal, tak sedikit pengurus parpol adalah alumni Unmul.

"Mereka seolah enggan kembali ke kampus. Lebih percaya penggodokan sendiri dibandingkan akademisi," ulas Sarosa. Kurangnya keterlibatan akademisi membuat Kaltim sukar bersaing di tingkat nasional. Sarosa membandingkan dengan provinsi tetangga seperti Kalsel. Gusti Muhammad Hatta dari Universitas Lambung Mangkurat pernah menjadi menteri pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sarosa juga menilai, beberapa figur dari Kampus Gunung Kelua yang bakal bertemu di pilgub lebih terkesan kebetulan. Menurut catatan universitas, lulusan Unmul sudah menembus 89.140 sarjana sejak 1962 hingga 2012. Jika rata-rata 5 ribu orang lulus setiap tahun, tak kurang 114 ribu sarjana lahir di Unmul sampai 2017. Angka itu hampir menyamai jumlah penduduk Penajam Paser Utara. Bukan mustahil, satu dari 114 ribu lulusan tersebut kelak menjadi gubernur Kaltim. Unmul harusnya juga bisa. (tim kp)


BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…

Kamis, 27 September 2018 09:12

Ekonomi Menggiurkan dari Alam

RATANA Lukanawarakul begitu seksama mendengar penjelasan Agus, pemuda Desa Muara Siran, Muara Kaman,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .