MANAGED BY:
MINGGU
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Minggu, 31 Desember 2017 06:40
Zamrud Hijau di Jantung Kebun Sawit

Jelajah Kawasan Karst PT Sukses Tani Nusasubur

PESONA DI KEBUN SAWIT: Lorong utama Gua Tolu Liang di kawasan konservasi PT Sukses Tani Nusasubur (Astra Agro Lestari Tbk), Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara. Di gua ini, banyak terdapat ornamen stalaktit dan stalagmit yang khas dan indah. Kawasan ini juga menjadi ikon konservasi keanekaragaman hayati Kabupaten Penajam Paser Utara.

PROKAL.CO, Siapa sangka di tengah perkebunan sawit yang subur, terdapat ekosistem karst yang memiliki keindahan serta kekayaan tiada bernilai. Mulai dari bebatuan permukaan yang khas, ornamen gua yang cantik, hingga aliran sungai bawah tanah yang deras.

OLEH: THOMAS DWI PRIYANDOKO*

EKOSISTEM karst ini tepat berada di jantung area perkebunan kelapa sawit PT Sukses Tani Nusasubur (STN) di Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Jika dari Bandara Internasional Balikpapan, lokasi perkebunan PT STN berjarak sekitar 73 kilometer atau memerlukan tiga jam perjalanan. Untuk menuju Kabupaten Penajam Paser Utara dari Balikpapan dapat menggunakan jasa penyeberangan feri atau kelotok.

Setelah tiba di Pelabuhan Penajam, perjalanan dilanjutkan melalui darat sekitar 40 kilometer ke Desa Labangka. Jika sudah bertemu SD 002 Kecamatan Babulu, maka itu pertanda area perusahaan di bawah payung Astra Agro Lestari Tbk tersebut sudah dekat.

Kemudian, perjalanan dilanjutkan dari jalan besar ke area perkebunan sekitar 8 kilometer lagi. Jalan perusahaan yang dilalui masih berupa tanah yang dipadatkan dengan bebatuan keras. Namun tidak perlu khawatir tersesat, karena banyak penunjuk arah yang membantu pengendara atau pengunjung.

Setelah 30 menit, jajaran pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi menyambut. Aktivitas para pekerja yang mengangkut tandan buah kelapa sawit akan sering dijumpai.

Kawasan konservasi karst PT STN rupanya sangat dekat dengan salah satu area mess karyawan. Hanya selemparan batu, gerbang kawasan konservasi ini berdiri tegak. Perjalanan menjelajahi area konservasi ini dipandu oleh Staf Sustainability Adlan Yusran dan tim lapangan Lilik Suhendra.

Namun sebelum masuk area konservasi, menggunakan alat pelindung diri berupa sepatu safety dan helm merupakan hal yang wajib. Ini juga sesuai dengan aturan keselamatan yang berlaku di lingkungan perusahaan.

Sayang, cuaca siang itu kurang bagus. Hujan yang mengguyur selama setengah jam membuat seluruh area hutan tersebut sangat basah. Penjelajahan pun dilakukan dengan hati-hati.

Kawasan karst ini berada di gugusan hutan bernama Echo. Luasnya 700 hektare dari total keseluruhan area konservasi 2.017 hektare. Sedangkan luas hak guna usaha (HGU) PT STN mencapai 7.936,92 hektare.

Saat memasuki area konservasi, pepohonan lebat dengan hawa lembap yang merupakan ciri hutan tropis langsung terasa. Di sebelah kiri dan kanan, banyak pohon asli Kalimantan yang menjulang. Seperti ulin, meranti, bangris, kariwaya dan lainnya. Kicauan burung, suara jangkrik, dan kelelawar yang terbang cepat menemani perjalanan.

Setelah menapaki jalur sepanjang 100 meter dari pintu gerbang, rombongan melalui bebatuan karst yang sangat besar. Papan pemberitahuan untuk harus berhati-hati ada di setiap sisi ketika masuk dalam jalur yang sempit karena impitan bebatuan.

Tidak lama, rombongan sampai di Gua Tolu Liang. Sesuai namanya dalam bahasa Paser berarti gua yang memiliki tiga lubang. Lubang utama memiliki lorong atau ruang yang sangat luas. Di sini banyak terdapat gugusan stalaktit dan stalagmit di permukaan dinding gua. Tidak hanya itu, ornamen gua yang indah lainnya juga ada. Berupa tirai, tiang, dan curtain. Tetesan air dari stalaktit merupakan momen unik yang dapat dinikmati.

Jalur maupun jembatan yang ada di tempat ini masih terawat baik sejak diresmikan pembangunannya pada 2010 lalu. Pengunjung pun dapat lebih nyaman ketika melihat-lihat isi gua. Hanya saja perlu hati-hati karena badan jembatan menjadi licin setelah hujan.

Setelah puas melihat-lihat, tujuan berikutnya adalah Gua Liang Pagar. Jarak objek ini dari Gua Tolu Liang sekitar 300 meter. Gua Liang Pagar terhubung dengan sungai bawah tanah. Ketika hujan, aliran sungai di bawah tanah bisa sangat deras. Tinggi air dapat mencapai tubuh orang dewasa. Jika menelusuri lebih dalam, maka aliran air terhubung ke beberapa lorong dan gua.

"Sebagaimana fungsinya, karst itu menyimpan air. Karena itu juga karst ini merupakan sumber air Sungai Labangka, yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar," tutur Adlan.

Jauh sebelum dikelola oleh PT STN, warga setempat sering menyebut kawasan ini sebagai Pulau Tengah. Belum diketahui asal-usul ceritanya. Namun, jika dilihat dari kejauhan, karst yang ada di area konservasi ini seperti tumpukan batu besar. Sekilas menyerupai pulau.

Selain keindahan batu-batuan yang  terbentuk dari zaman purba, kawasan ini juga memiliki keanekaragaman hayati."Untuk tumbuhan, kawasan ini sebagai plasma nutfah beberapa jenis tanaman. Seperti ulin, meranti, dan bangris. Kawasan ini juga menjadi habitat sejumlah hewan. Yang paling sering terlihat dan khas adalah enggang gading, kijang, hingga bekantan merah," tutur pria asal Sukabumi ini.

Dengan keindahan dan kekayaan keanekaragaman hayati serta sumber air yang dimiliki, maka tidak salah jika kawasan konservasi tersebut diumpamakan bagai zamrud hijau di jantung kebun sawit. "Keunikan lainnya, jika ditelusuri sungai bawah tanah dari Liang Pagar tadi ternyata sampai masuk area kebun. Jadi, di atas lapisan sungai bawah tanah ini dapat tumbuh sawit. Ini sangat jarang dijumpai di perkebunan sawit lainnya," ujarnya lantas tersenyum.

Staf Humas PT STN Darwanto mengungkapkan, kawasan konservasi ini memang belum terbuka bebas untuk umum. Selain karena berada di lingkungan perusahaan, keselamatan dan keamanan pengunjung juga harus diperhatikan. "Jadi untuk sementara, jika ingin berkunjung harus melalui izin perusahaan," ujarnya.

Sementara itu, Camat Babulu Margono Hadi Sutanto mengakui kewajiban konservasi yang dilakukan perusahaan sudah sangat baik. Keberadaan kawasan karst yang menjadi sumber air Sungai Labangka juga bermanfaat bagi masyarakat baik kebutuhan sehari-hari maupun perkebunan maupun ternak.

"Sungai itu kan sumber kehidupan. Walaupun tidak langsung dari perusahaan, namun manfaatnya sangat banyak bagi masyarakat. Dan selama ini aliran sungai dari karst PT STN tidak bermasalah," katanya.

Ia pun berharap, perusahaan dapat bekerja sama dengan pemerintah setempat seperti badan usaha milik desa (Bumdes) untuk bersama-sama mengelola kawasan tersebut sebagai objek wisata. "Tentunya dampak kerja sama ini akan dapat menyejahterakan masyarakat sekitar," pungkas Margono. (tom2/k15)

*) Penulis adalah jurnalis surat kabar harian Kaltim Post. Berdomisili di Balikpapan.


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .