MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 20 Desember 2017 08:32
Kadang Suka Salah Tulis NIM, Bermimpi Jadi Peneliti

Habibi, Mahasiswa Double Degree yang Melawan Keterbatasan Fisik

MAHASISWA TELADAN: Muhammad Habibi saat mewakili Unmul dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Indonesia pada 2013. (dokpribadi)

PROKAL.CO, Banyak cara membuat diri jadi berguna. Khususnya dengan ilmu yang dipunya. Membuat jurnal dan penelitian salah satu penerapannya.

RADEN RORO MIRA, Samarinda

DIA tertarik dengan dunia politik. Belajar di program studi (prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Mulawarman (Unmul), Muhammad Habibi tidak sekadar berbicara politik sederhana. Yakni merebut kekuasaan. ”Tapi, bagaimana kita dapat berperan menyejahterakan masyarakat setelah berkuasa,” ungkapnya kepada Kaltim Post Selasa (19/12). Perawakannya biasa saja. Layaknya pemuda pada umumnya.

Kacamata minus 5 bertengger di batang hidungnya. Habibi tertarik belajar politik lebih jauh. Bukan sekadar di organisasi. Dia mempelajarinya langsung dengan kuliah lagi. Mulanya Habibi tercatat sebagai mahasiswa Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul pada 2012. Setahun berlalu, dia merasa seperti salah jurusan. Bukannya pindah, Habibi justru memilih double degree dengan menjadi mahasiswa baru pada 2014 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), kampus yang sama.

Habibi pun aktif ikut berbagai lomba karya tulis ilmiah. Paling menarik, dia pernah mewakili Unmul dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Indonesia pada 2013 lalu. Dia menjadi peserta termuda. Saat itu, Habibi masih semester 2 dan berhasil menyabet juara 3 nasional. Lomba menulis paper, esai, debat hingga business plan dilahapnya. Habibi juga tidak pulang dengan tangan hampa dari setiap lomba yang diikuti.

Dia tidak ingin jadi mahasiswa biasa-biasa saja. Mengikuti berbagai kegiatan dianggapnya tak masalah asal membentuk diri jadi lebih baik. Bukan tanpa kendala menjalani dua program studi bersamaan. Jadwal tugas berbarengan jadi hambatan. Hal sederhana namun cukup fatal pernah dia lakukan. ”Kadang suka salah tulis NIM (Nomor Induk Mahasiswa). Tugas buat IP malah nulis NIM Akuntansi, kadang sebaliknya,” jelas pria kelahiran 1993 tersebut. Apalagi jika ada tugas dengan deadline bersamaan.

Alhamdulillah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) keduanya di atas 3,50. Rencana pengin wisuda sekaligus. Untuk IP sudah lulus bulan ini, akuntansi insyaallah menyusul Maret nanti,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Yos Sudarso, Sangatta Utara tersebut. Tercatat, masa studi Akuntansi, yakni 5 tahun 3 bulan, sedangkan IP sebaliknya. Tiga tahun 5 bulan. Dia lebih cepat merampungkan studinya di bidang politik karena di situlah dia merasa nyaman. Seakan menemukan passion setelah dua tahun bergelut dengan studi menyoal keuangan.

KEHILANGAN KAKI

Hidup tidak semulus yang diinginkan. September lalu, Habibi harus ikhlas kehilangan kaki kanannya karena kecelakaan. Dalam perjalanan dari rumah menuju Samarinda, dia melihat pengendara motor melaju dari arah berlawanan. Pengendara tersebut menabrak lubang dan motornya terpental ke arah kaki Habibi.

Tidak ada harapan dari luka yang infeksi. Keadaan terus memburuk. Setelah menjalani operasi fiksasi eksternal (perawatan bedah yang digunakan untuk menstabilkan tulang dan jaringan lunak), ternyata hanya mampu bertahan dua minggu. ”Bisa dibilang kaki remuk, pembuluh darah juga putus. Jadi di bawah lutut akhirnya amputasi,” jawab dia. “Akhirnya ikhlas. Sekarang sudah punya kaki palsu, tapi masih adaptasi untuk pemakaian,” lanjut Habibi.

Dia tidak merasa dunianya runtuh seketika. Justru jadi titik pembuktian. Hal tersebut bukan akhir. Bahkan kini dia sedang mempersiapkan program pascasarjana. Berniat mengambil prodi Ilmu Pemerintahan di Jogjakarta. ”Tanggal 30 ini tesnya,” ujar alumnus SMA 1 Sangatta Utara tersebut. Fokusnya adalah membuat ilmu yang dia miliki berguna lewat penelitian.

Dia ingin membuat penelitian atau jurnal terindeks Scopus atau Thomson. Merupakan layanan database abstrak dan sitasi (kutipan) terbesar di dunia. Di mana banyak institusi menjadikan Scopus sebagai tolok ukur kualitas jurnal. Dia kadung cinta dengan dunia politik. Bahkan mimpinya, yakni menjadi peneliti di bidang tersebut. Kini, Habibi sedang dalam proses menerbitkan buku karangan perdananya. “Tema bukunya tentang Politik Anggaran,” pungkas dia. (riz/k15)


BACA JUGA

Kamis, 04 April 2019 10:32
Berbincang dengan Setyo Pranoto, Pria Berjuluk Manusia Jadul

Keliling Jawa dan Kalimantan untuk Berburu Handphone Jadul

Teknologi semakin maju. Telepon genggam pun semakin canggih dengan desain…

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…

Rabu, 27 Maret 2019 12:08
Warga Venezuela yang Hidup di ’’Neraka Gelap’’

Semua Jadi Gila saat Listrik Mati

Masyarakat Venezuela ingin melupakan kejadian tragis yang disebabkan lumpuhnya jaringan…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:03
Geliat Wisata saat Gunung Bromo Erupsi Kecil

Justru Bisa Dapat Sajian Momen Keindahan Asap

Jumlah wisatawan ke Bromo menurun bahkan jika dibandingkan dengan saat…

Sabtu, 16 Maret 2019 14:06
Setelah sang Pelukis Abstrak Itu Berpamitan Dua Bulan Lalu

Sosok yang Supel dan Selalu Siap Bantu Teman

Dari Jogjakarta, Zulfirman Syah pindah ke Selandia Baru untuk mendampingi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*