MANAGED BY:
MINGGU
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Minggu, 17 Desember 2017 06:33
Penawar Mimpi sebelum Titik Tertinggi

Annapurna Base Camp

BENDERA-BENDERA DOA: Prayer flags, penanda sakral para pendaki dari berbagai penjuru dunia yang mencapai Annapurna Base Camp

PROKAL.CO, OLEH: HADIANTO *
*)Pegawai swasta di Kutai Kartanegara. Korwil Mitman Kopassus 05.

EVEREST barangkali jadi mimpi tertinggi dari para pendaki. Bagi yang belum kesampaian mencapai puncak dunia ini, ada beberapa penawar. Salah satunya Annapurna Base Camp (ABC), yang merupakan salah satu puncak penting di barisan pegunungan Himalaya.

Berada di ketinggian 4.130 meter dari permukaan laut (mdpl), ABC lebih tinggi dari Puncak Mahameru di Tanah Jawa, atau Rinjani di Nusa Tenggara. Dua gunung yang pernah saya taklukkan sebelumnya.

Terhitung empat bulan setelah saya memesan tiket ke Nepal, ekspedisi ke Annapurna akhirnya terlaksana 3 November lalu. Jadwal ini tak dipilih secara acak, atau sekadar mencocokkan dengan tiket murah. Bagi orang yang pertama kali ke Nepal, bulan kesebelas adalah salah satu waktu terbaik, karena suhu udaranya belum terlalu dingin, juga tak terlalu panas.

Memulai perjalanan sejak pagi, saya bersama rombongan dari komunitas backpacker dari kota lain tiba di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu, pukul 21.00 waktu setempat. Waktu di Kathmandu dua jam lebih lambat dari zona Indonesia Tengah.

Sekitar 30 menit perjalanan dari Bandara, kami tiba di hotel kecil di Thamel.

Sabtu, 4 November, pukul 06.30 waktu setempat, kami sudah berjalan ke Kanti Path untuk mencari bus ke Pokhara. Kanti Path adalah sebuah kawasan yang setiap pagi dilalui puluhan bus tujuan Pokhara, yang merupakan pintu masuk pendakian di kawasan konservasi Gunung Annapurna.

Setelah menginap satu malam di Pokhara, esoknya, kami naik mobil hardtop tiga jam ke Siwai, salah satu desa di kaki Annapurna. Selain Siwai, ada desa lain yang lazim dipilih sebagai titik awal pendakian. Di antaranya, Kimche dan Ghandrung, yang sebenarnya menawarkan rute lebih pendek.

Melahap jalur Annapurna Base Camp tak sama dengan mendaki gunung-gunung di Indonesia. Perjalanan di sana dilalui dari desa ke desa yang menyediakan penginapan dan tempat makan. Jadi, tak perlu terlalu banyak membawa perlengkapan.

Malam pertama pendakian, kami habiskan dengan menginap di Ghandrung, yang berada di 1.940 mdpl. Suhu malam di desa ini sekitar 10 hingga 15 celsius.

Setelah Ghandrung, perjalanan berlanjut New Bride dan Jhinu Danda, yang lokasinya di dua bukit berbeda. Setelah itu, kami mencapai Chhomrong, di ketinggian 2.140 mdpl. Konon, rute ini cukup ditempuh enam jam. Tapi, kami menghabiskan waktu delapan jam. Di Chhomrong, kami pun memutuskan menginap.

Chhomrong adalah desa terakhir yang memberikan air panas gratis. Di desa-desa selanjutnya menuju Annapurna, yakni Sinuwa, Bamboo, Dovan, Himalaya, Deurali, dan Marchapurche, ada tarif untuk mandi dengan air panas. Internet pun tak lagi gratis di desa-desa itu.

Sebelum menuju pendakian ke desa lain, pendaki mewajibkan untuk melapor di Pos Acab Office Gurung Village. Setelah sempat bermalam di Himalaya, kami berjalan menuju Machhapuchhre Base Camp, dengan disertai hujan es dan salju.

Meski sempat menikmati momen langka itu, tetap saja tubuh tropis tak bisa berbohong. Sebagian dari kami terkena gejala acute mountain sickness (AMS), yang membuat pusing. Kondisi ini lazim dialami saat seseorang mencapai ketinggian 2.500 mdpl.

Marchapurche merupakan desa terakhir sebelum Annapurna, dan berada di ketinggian 3.700 mdpl. Saat kami di sana, suhunya minus 6 celsius.

Esoknya, pukul 06.00 kami sudah mulai melahap tiga jam perjalanan menuju Annapurna Base Camp. Di ketinggian 4.130 mdpl ini, dengan sisa tenaga, sebanyak mungkin momen kami abadikan.

ABC hanya pijakan awal atau base camp untuk menggapai titik tertinggi barisan Gunung Annapurna yang menjulang. Mimpi dan hasrat tentu ingin menggapai puncaknya. Tapi, sadar dengan keterbatasan diri, ABC pun sudah menjadi pencapaian, pengalaman, sekaligus dan pelajaran berharga bagi kami.

Setelah mengisi kembali tenaga dan persiapan lain, kami lantas berbalik arah pada hari yang sama. Butuh tiga hari untuk akhirnya kembali ke Pokhara, dan melanjutkan persiapan pulang ke Tanah Air. (**/man/tom/k15)


BACA JUGA

Jumat, 04 Mei 2018 07:31

Semangat Belajar dalam Keterbatasan

Oleh: Gerakan Mengajar – Universitas Mulawarman Samarinda SAMARINDA - Sabtu (28/4), Gerakan Unmul…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .