MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 15 Desember 2017 06:40
Klaster Bawang BI di Balikpapan Panen Perdana
Dapat 21 Ton, Hanya 50 Persen Dikonsumsi
SIAP DIPASARKAN: Salah satu anggota kelompok petani bawang merah binaan KPw-BI Balikpapan saat panen perdana di kawasan Gunung Bubukan, Teritip, Balikpapan Timur, kemarin. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, Upaya Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim menekan inflasi dari sektor pangan, satu per satu menemui titik terang. Untuk komoditas bawang merah, program klaster dari bank sentral ini akhirnya menggelar panen perdana, Kamis (14/12).

BAWANG merah memang menjadi salah satu biang inflasi di Balikpapan, maupun Kaltim. Selama ini, pasokan komoditas pangan dari subkelompok bumbu itu banyak dipenuhi dari Jawa timur dan Sulawesi.

SebelumBalikpapan, klaster bawang merah BI telah melaksanakan panen di Penajam Paser Utara. Menanam sejak Juli lalu, kemarin, panen tanaman ini yang dibudi daya di kawasan Teritip, Balikpapan Timur itu mencapai 21 ton.

Kepala KPw BI Balikpapan Suharman Tabrani mengatakan, program ini merupakan kerja sama antara pihaknya dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), serta Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Balikpapan. Berdasarkan roadmap, program ini berlangsung hingga 2019 nanti.

Adapun 21 ton bawang merah yang dipanen kemarin, berasal dari 1 ton bibit yang dibawa dari Brebes. Daerah di Jawa Tengah itu juga menjadi lokasi belajar para petani binaan dari KPw-BI Balikpapan, Juni lalu.

“Panen 21 ton ini tak semua dikonsumsi. Setengahnya wajib digunakan untuk pembibitan,” kata Suharman saat panen perdana klaster bawang merah di kawasan Gunung Bubukan, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, kemarin.

Kebijakan alokasi produksi panen ini, lanjut Suharman, sudah disepakati bersama para petani. Sebab, tujuan dari program ini adalah untuk keberlanjutan pasokan. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan daerah lain di Kaltim.

“Tak hanya bibit, dalam program klaster ini, petani juga mendapat pengadaan gudang penangkaran. Gudangnya terdiri dari dua ruangan, untuk ruangan penyimpanan dan pengasapan,” ungkap Suharman,

Adapun ruangan penyimpanan, kata dia, digunakan untuk menyimpan dan menggantung hasil panen. Sedangkan ruangan pengasapan digunakan untuk proses pengasapan calon-calon bibit bawang merah yang akan ditanam pada periode produksi selanjutnya.

“Pengasapan ini untuk mengurangi kadar air, sehingga bibit tidak cepat busuk. Juga agar tidak mudah timbul bakteri pada umbi tanamannya,” jelas dia.

Suharman berharap, hasil budi daya bawang merah bisa perlahan memenuhi kebutuhan masyarakat Balikpapan dan sekitarnya. Ketergantungan pasokan dari daerah lain pun bisa dikurangi.

“Perlu dicatat juga bahwa kami tidak hanya fokus ke produksi. Pemasarannya juga harus dipikirkan. Tidak gampang masuk pasar tradisional, tapi ini akan kami pikirkan,” sebutnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Balikpapan Yosmianto mengakui, petani di Kota Minyak memang memiliki masalah dalam memasarkan hasil tani. Ada yang dapat menjual ke pasar langsung ke pedagang, namun hanya sebagian kecil.

Melihat kondisi tersebut, bersama TPID dan Dinas Perdagangan Balikpapan berencana membuat pasar penyeimbang. Pasar ini akan ditempatkan di dekat Pasar Klandasan.

Yosmianto berharap, upaya tersebut dapat terealisasi awal tahun depan. “Petani bisa memanfaatkan pasar penyeimbang ini. Mereka dapat harga selayaknya. Selama ini, harga yang mereka dapat sangat rendah, karena rantai distribusi yang terlalu panjang,” ungkapnya. Adapun opsi lainnya, adalah dengan menggandeng Perum Bulog sebagai pembeli khusus.

Pria yang akrab disapa Yos ini menyebut, kebutuhan bawang merah di Balikpapan saat ini sekitar 800 ton per tahun. Saat ini, produksi lokal memang belum mampu memenuhinya.

Saat ini, kata dia, ada tiga kelompok tani yang menanam bawang merah, tapi produksinya belum cukup. Sekali panen hanya di kisaran 20 ton, dengan tiga kali panen per tahun.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kelompok Tani Hikma,  Bahar mengaku, selama ini mereka kesulitan memasok ke pasar tradisional. Tak jarang, para anggota harus menjual sendiri hasil panennya.

“Semoga ke depan, ada upaya baru untuk memastikan penjualannya. Produksi 21 ton bawang merah kami ini baru menggunakan lahan 1 hektare dengan 10 petani. Ke depan, akan lebih banyak, jadi butuh pasar yang lebih besar,” ulasnya. (aji/man/k15)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 06:45

Tahun Depan Sasar Utara dan Selatan

BALIKPAPAN – Kota Minyak terus mengembangkan jaringan gas (jargas) di masyarakat. Saat ini Pemkot…

Kamis, 15 November 2018 06:43

Ini Masalah yang Selalu Jadi Momok Investasi di Kaltim

BALIKPAPAN – Permasalahan lahan kerap menjadi penghambat dalam mengembangkan investasi di Kaltim.…

Kamis, 15 November 2018 06:42

Siapkan Rencana Operasi Pasar

JAKARTA – Pergerakan harga beras medium bakal menjadi perhatian pemerintah dalam sebulan ke depan.…

Kamis, 15 November 2018 06:40

PHSS Sukses Kapalkan LNG Perdana

BALIKPAPAN - Upaya PT Pertamina dalam mengelola blok migas eks VICO Indonesia mulai membuahkan hasil.…

Kamis, 15 November 2018 06:37

Perdamaian Dikabulkan, Peluang Merpati Terbang Lagi Kian Besar

SURABAYA - Langkah Merpati Nusantara Airlines untuk kembali terbang semakin mulus. Pengadilan Niaga…

Kamis, 15 November 2018 06:33

Antisipasi Praktik Kartel

JAKARTA - Pemerintah perlu mengevaluasi tata niaga kebijakan gula di Tanah Air. Pasalnya, beberapa kebijakan…

Kamis, 15 November 2018 06:32

Kadin-Bappenas Fokus Perkuat Industri Kelautan

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional…

Kamis, 15 November 2018 06:31

Berharap Produk Olahan Perikanan Mendunia

JAKARTA - Sebagai salah satu negara kepulauan, kekayaan laut Indonesia tidak bisa dimungkiri. Sayangnya,…

Kamis, 15 November 2018 06:30

Investor Masih Khawatir Pasar Negara Berkembang

JAKARTA – Perdagangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali berada dalam…

Kamis, 15 November 2018 06:30

Produk UKM Sulit Bersaing

JAKARTA – Pertumbuhan e-commerce yang begitu pesat tampaknya perlu diikuti regulasi yang jelas.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .