MANAGED BY:
SENIN
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 13 Desember 2017 09:21
17 Dokter Batal Mundur, Pasien Terlayani Kembali

Akhir Gembira setelah Gonjang-ganjing di RS Regional Sulbar

NORMAL KEMBALI: Seorang pasien mendapat pelayanan kesehatan di salah satu poliklinik di RS Regional Sulbar kemarin. (FAJAR)

PROKAL.CO, Kisruh dokter spesialis dengan manajemen RS Regional Sulbar berakhir. Rumah sakit kembali hidup. Pasien berdatangan. 

EDWARD AS, Mamuju 

JAUH-jauh datang ke Mamuju, yang ditemui Yuliadi dan istri pada Senin lalu (11/12) hanya kekecewaan. Poliklinik di Rumah Sakit (RS) Regional Sulawesi Barat (Sulbar) itu bukan hanya tak melayani pasien. Pintu-pintunya bahkan masih tertutup rapat. Padahal, dari tempat tinggalnya di Tapalang, Sulawesi Barat, butuh 45 menit untuk sampai ke ibu kota provinsi. “Apalagi membawa istri yang baru selesai operasi caesar dua minggu lalu,” tutur Yuliadi kepada Fajar (Jawa Pos Group).  

Yuliadi dan istri hanyalah salah seorang korban kisruh di RS tersebut. Kisruh yang dipicu pengajuan surat pengunduran diri 17 dokter spesialis pada Jumat lalu (8/12) karena perselisihan dengan manajemen.

Sebelum para dokter melayangkan surat pengunduran diri, komite medik sebenarnya telah melayangkan mosi tidak percaya kepada gubernur Sulbar pada 19 September. Kemudian dilanjutkan dengan aksi mogok pada 6 Oktober. 

Para dokter spesialis kecewa terhadap manajemen RS. Mereka menilai, kondisi rumah sakit yang tak memadai memaksa mereka bekerja tidak sesuai standard operating procedure (SOP). Risdin Umar, seorang pasien stroke, juga tak terlayani saat datang Jumat lalu. Padahal, untuk datang ke Mamuju dari Kalukku, dia harus menyewa mobil.

Setibanya di RS Regional Sulbar, Poliklinik Syaraf tertutup. Rudiansyah, anaknya, bertanya ke salah seorang pegawai. Dia hanya mendapat jawaban bahwa dokter tidak masuk karena ada masalah dengan manajemen. “Kami kembali ke rumah dengan hampa,” katanya.  

Selama dua hari, Jumat dan Sabtu, jadwal pemeriksaan pasien melambat. Jadwal pemeriksaan yang biasanya dilakukan pada pukul 09.00 Wita hingga 11.00 Wita, baru dilakukan pada pukul 13.00 Wita.

Adnan, salah seorang keluarga pasien, juga sempat bertanya kepada pegawai RS. Sebab, hingga pukul 12.00 pada Sabtu lalu, belum ada dokter yang memeriksa kondisi ayahnya. Padahal, ayahnya harus mendapatkan perhatian khusus karena menderita usus turun.  “Jawaban perawat, dokter lagi tidak masuk,” tuturnya.

Beruntung kabar baik datang kemarin (12/12). Ke-17 dokter spesialis yang sebelumnya menyatakan akan mengundurkan diri, kembali bertugas. Mereka membatalkan pengajuan pengunduran diri sebagai aparatur sipil negara (ASN) maupun dokter kontrak.  

Ketua Komite Medik RS Regional Sulbar dr Harpandi Rahim menyatakan, dia dan ke-16 dokter spesialis lain memutuskan bertugas lagi sejak pertemuan dengan pengurus Ikatan Dokter Indonesia bersama Gubernur Sulbar. Dasarnya adalah pertimbangan kemanusiaan. Pemprov Sulbar juga berjanji akan melakukan pengecekan kondisi RS Regional Sulbar.

“Kami sebetulnya telah sepakat menanggalkan status ASN. Tetapi, karena ada beban moril jika disinggung masalah pasien, kami luluh,” kata Harpandi. 

Efek pengajuan pengunduran diri mereka memang panjang. RS Regional Sulbar bahkan sempat menolak pasien. Setidaknya, dua pasien yang masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Regional tertolak dan diberi rujukan ke RS lainnya. Mereka adalah Bulan Indah Sari (17), warga Karema Selatan, yang menderita diare akut dan dirujuk ke RS Mitra Mamuju. Pasien lain, Srywahyuni (2) warga Botteng, yang mengalami demam tinggi juga dirujuk ke RS yang sama.

Direktur RS Regional Sulbar Andi Munasir membenarkan kondisi tersebut. Dia mengatakan, penolakan terhadap pasien terpaksa dilakukan karena kekosongan dokter spesialis. Dokter jaga di IGD juga tidak mampu melayani pasien yang baru datang. “Kami takut terjadi apa-apa sehingga langsung merujuk. Untuk sementara, IGD hanya dijaga dokter umum, jadi jika penyakit pasien parah akan langsung dirujuk,” katanya.

Ada pula pasien yang harus dirujuk ke Makassar, Sulawesi Selatan. Padahal, antara Mamuju dan Makassar terpisah jarak perjalanan darat sekitar tujuh jam. Tapi, kemarin, seiring kembalinya para dokter spesialis, suasana rumah sakit langsung “hidup” lagi.

Poliklinik beroperasi lagi. Antrean pasien di ruang tunggu kembali terlihat. Dengan setia, mereka menunggu namanya dipanggil oleh staf yang bertugas. “Kami bisa kembali berobat,” ujar Yuliadi yang kembali ke RS kemarin untuk membawa istrinya check up

Risdin tak kalah leganya. Begitu sang anak mendengar kabar baik tentang kembalinya para dokter itu pada Senin malam, kemarin pagi dia langsung memutuskan ke RS lagi. “Hari ini (kemarin, Red), kami datang dan ternyata benar (poliklinik sudah buka). Saya lega,” ucapnya.

Tapi, apakah “bara” perselisihan pada dokter dengan manajemen benar-benar telah selesai? Harpandi memilih menjawab secara diplomatis. “Mengenai tuntutan, kami serahkan langsung ke Pak Gubernur,” katanya. (*/JPG/ttg/rom/k11)


BACA JUGA

Minggu, 21 Januari 2018 08:57

Verifikasi Jadi Kunci, Dinyatakan Gugur jika Masih Ada Perbaikan

SAMARINDA – Empat pasang bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang mendaftar pada Pilgub Kaltim…

Minggu, 21 Januari 2018 08:56

NU Pilih Jaga Jarak

NAHDLATUL Ulama (NU) dengan tangan terbuka akan membantu menyukseskan pemilihan kepala daerah di arena…

Minggu, 21 Januari 2018 08:55

Orgatrans Minta Pakai Pelat Kuning

SAMARINDA – Di tengah persiapan penerapan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 108…

Minggu, 21 Januari 2018 08:51
Menengok Ruang Isolasi RSKD, Tempat Perawatan Pasien Difteri

Sayangkan Status KLB, Pertegas Vaksinasi

Masuk dan keluar ruang isolasi harus melalui sterilisasi berlapis. Selain rawan penularan penyakit,…

Minggu, 21 Januari 2018 08:46

Gubernur Ideal Taat Agama

PEMILIHAN gubernur sudah di depan mata. Berbagai kelompok masyarakat angkat suara tentang gubernur ideal…

Minggu, 21 Januari 2018 08:43
Kisah para Relawan Difagana ketika Bencana

Keterbatasan Bukan Halangan untuk Membantu

Relawan di Difagana memang tidak hanya beraksi ketika organisasi itu terbentuk. Jauh sebelumnya, mereka…

Sabtu, 20 Januari 2018 07:15

JELAS LAH..!!! Gubernur Total Dukung Anak Sendiri

SAMARINDA  –   Gubernur Awang Faroek Ishak kukuh dengan pendiriannya dalam menentukan…

Sabtu, 20 Januari 2018 07:13

APBD Harus Fokus Pengendalian Banjir

BALIKPAPAN  –  Setiap masuk musim hujan, banjir menghantui beberapa daerah di Samarinda…

Sabtu, 20 Januari 2018 07:11

Rita Mengaku Suka Tas KW

JAKARTA  –  Bupati non aktif Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari angkat bicara…

Sabtu, 20 Januari 2018 07:08

Driver Keluhkan Stiker Permanen

SAMARINDA  – Transisi penerapan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 108 Tahun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .