MANAGED BY:
RABU
23 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MANCANEGARA

Rabu, 13 Desember 2017 09:14
Rusia dan Turki Kompak Kecam Trump

Menentang Deklarasi Presiden AS tentang Kota Yerusalem

MELAWAN TRUMP: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin usai pertemuan di Kompleks Presiden di Ankara, belum lama ini. Keduanya sepakat pengakuan Donald Trump atas Yerusalem bisa meningkatkan ketegangan.(afp)

PROKAL.CO, class="PreformattedText">ANKARA – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sama-sama menentang deklarasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal Kota Yerusalem. Senin waktu setempat (11/12), dua pemimpin itu menggelar jumpa pers bersama. Dengan tegas, mereka menyatakan sikap mereka terhadap AS.

”Rusia dan Turki sepakat bahwa keputusan AS itu tidak membawa dampak positif apapun bagi Timur Tengah. Sebaliknya, keputusan itu justru mengganggu stabilitas keamanan dan mengaburkan prospek perdamaian di kawasan ini,” kata Putin dalam jumpa pers, sebagaimana dilansir Al Jazeera. Dia menambahkan, status Yerusalem hanya bisa diputuskan oleh Israel dan Palestina lewat dialog langsung.

Di sebelah Putin, Erdogan tersenyum. Dia mengaku sangat senang mendengar pernyataan pemimpin 65 tahun tersebut. Menyambung pernyataan tamunya, Erdogan mengecam kekerasan yang pecah di Israel dan Palestina setelah deklarasi Trump. ”Kami mengutuk Israel atas kematian beberapa warga Palestina dalam unjuk rasa yang sekarang (Senin) memasuki hari keenam tersebut,” tandasnya.

Hari ini (13/12), Erdogan dijadwalkan membuka pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam alias OKI. Dalam forum internasional yang akan digelar di Kota Istanbul tersebut, sebanyak 57 negara anggota OKI akan membahas Yerusalem. Sebelumnya, Erdogan menyatakan bahwa deklarasi Trump pada 6 Desember itu, menjadikan AS sebagai salah satu aktor yang melanggengkan pertumpahan darah di Timur Tengah.

Karena berada di pihak yang sama soal Yerusalem, Turki lantas mengundang Rusia untuk hadir dalam pertemuan OKI. Kemarin, undangan itu Erdogan sampaikan langsung kepada Putin. Kremlin pun menyambut undangan itu dengan tangan terbuka. Moskow berjanji mengirimkan delegasi Rusia ke pertemuan negara-negara muslim tersebut. ”(Pertemuan) Itu akan menjadi titik balik krisis Israel-Palestina,” kata Erdogan.

Dalam jumpa pers bersama itu, Putin dan Erdogan mengimbau AS tidak memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. Langkah itu akan memantik pertikaian yang lebih besar dan meliputi area yang lebih luas. Sebab, meskipun Israel yakin jika pemindahan kedubes akan diikuti oleh negara-negara sekutu AS yang lain, dua pemimpin itu yakin bakal ada lebih banyak negara yang menentang.  

Sebelum melawat Turki, Putin lebih dulu singgah di Suriah. Di sana, dia menggarisbawahi kemenangan pasukannya dan pasukan Suriah atas ISIS. Maka, dia pun langsung menginstruksikan penarikan pasukan dari negara tersebut. Dari Turki, Putin melanjutkan kunjungannya ke Mesir. Di dua negara itu, presiden yang jago bela diri tersebut menegaskan kembali sikap Rusia terhadap Yerusalem.

Tapi, menurut Marwan Karbalam, lawatan Putin itu juga mengandung kepentingan domestik. Sebab, pekan lalu, dia mengumumkan niatnya untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden (pilpres) yang akan datang.

Hampir sama dengan Karbalam, pakar hubungan internasional Russian International Affairs Council, Yury Barmin, menyebut lawatan Putin itu bermuatan politik. ”Itu hanyalah cara Putin untuk mengambil hati rakyat Rusia. Dengan berkunjung ke negara-negara sekutu AS, dia ingin mengumumkan kepada warganya bahwa dia adalah tokoh yang berpengaruh dan layak dipilih lagi sebagai presiden,” urainya.

Sementara itu, tanggapan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi terhadap Trump yang nekat mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel menuai banyak protes. Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri India menegaskan sikap India terhadap Yerusalem bahwa negara tersebut independen dan konsisten. Yakni, India yakin hanya Israel dan Palestina yang bisa memutuskan status Yerusalem. (hep/jpg/one/k15)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 11:12

Terbakar saat Transfer Minyak

MOSKOW – Api membubung di atas Laut Hitam. Dua kapal…

Selasa, 22 Januari 2019 12:03

Kamala Harris Ikut Bursa Capres AS

    Sumber : Washington Post dan CNN   WASHINGTON…

Kamis, 17 Januari 2019 11:50
Demokrat Antusias Sambut Pilpres

Ini Dia Sosok Penantang Serius Donald Trump

WASHINGTON – Politisi Partai Demokrat tidak sabar menantikan pemilihan presiden…

Selasa, 15 Januari 2019 09:39

Begini Jadinya Jika Transgender Thailand Ikut Wajib Militer

Wajib militer merupakan mimpi buruk bagi transgender Thailand. Sebab di negeri tersebut…

Kamis, 10 Januari 2019 10:33

Tiongkok Izinkan Pulang Etnis Kazakh Xinjiang

BEIJING – Selain kaum Uighur, Tiongkok kabarnya memaksa etnis Kazakh…

Selasa, 08 Januari 2019 09:07

Tolak Dideportasi, Membarikade Diri

BANGKOK – Rahaf Mohammed Al Qunun bisa bernapas lega. Untuk…

Selasa, 08 Januari 2019 09:06

Sultan Nazrin Paling Berpotensi Jadi Yang Dipertuan Agong Baru

KUALA LUMPUR – Kerajaan Malaysia tidak boleh lama-lama membiarkan singgasana…

Minggu, 06 Januari 2019 10:02
Jepang Menuju Akhir Heisei, Era Generasi ”Hilang”

Hadirkan Perdamaian, Wariskan Kultur Patriarkal

Kaisar Akihito genap 30 tahun memimpin Kekaisaran Jepang besok (7/1).…

Sabtu, 05 Januari 2019 11:26

Saudi Adili Pembunuh Khashoggi, Sembunyikan Identitas dari Media

RIYADH – Pemerintah Arab Saudi menggelar hearing perdana kasus pembunuhan…

Selasa, 01 Januari 2019 10:34

Pesimisme Selimuti Brexiteer

LONDON – Kondisi politik di kawasan Britania Raya, membuat para…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*