MANAGED BY:
SELASA
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 08 Desember 2017 09:40
Mengubur Lokasi Bersejarah

Selamatkan Lapangan Kinibalu, Saksi Perjuangan Kaum Republiken

DUA TEMPAT BERSEJARAH: Setelah Lapangan Kinibalu (foto kiri) yang terancam hilang karena akan dibangun masjid, GOR Segiri, Samarinda, direncanakan bakal digusur. Diubah menjadi ruang terbuka hijau.(saipul anwar/kp)

PROKAL.CO, Lapangan Kinibalu yang menjadi lokasi pembangunan Masjid Al Faruq adalah saksi bisu peristiwa penting di Kaltim. Segera menyusul banyak lokasi bersejarah di Samarinda yang dikalahkan pembangunan.

FELANANS MUSTARI, Samarinda

SULTAN Kutai Aji Muhammad Parikesit baru selesai membaca pernyataan politik ketika ribuan orang di depannya berteriak keras. Seseorang bernama Sayid Gasim Barackbah disebut sebagai sosok yang menyuruh massa untuk bersuara. Masyarakat yang sebagian besar pendukung republik meminta Abdoel Moeis Hassan ikut memberi kata sambutan.

Senin siang pada 23 Januari 1950 di Lapangan Kinibalu, Samarinda, para pangeran Kesultanan Kutai terperanjat mendengar teriakan massa. Para petugas protokol ikut gugup. Sama pula yang dirasakan Abdoel Moeis Hassan, ketua Front Nasional sekaligus pendiri Partai Ikatan Nasional Indonesia. Pria yang namanya dielu-elukan itu turut tak nyaman. Seorang pangeran yang melihat kekagokan itu, diduga antara Pangeran AP Sosronegoro atau APT Pranoto, segera menetralkan suasana. Lewat gerakan tangan sang pangeran, Abdoel Moeis Hassan dipersilakan naik ke panggung.

Dalam Ikut Mengukir Sejarah yang ditulis sendiri oleh A Moeis Hassan, dia kemudian berorasi di lapangan sepak bola itu. Pria yang kemudian menjadi gubernur Kaltim keempat tersebut menekankan, pemerintahan swapraja seperti kesultanan sudah usang. Rakyat, kata Moeis Hassan, akan sangat berterima kasih jika sultan dan kaum bangsawan bisa menyesuaikan diri.

Sebelum A Moeis Hassan naik ke panggung, Sultan Parikesit lebih dulu berpidato. Sebulan sebelumnya, pada 27 Desember 1949, perjanjian KMB, Konferensi Meja Bundar, telah berlaku. Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia yang berbentuk serikat.

Dalam Samarinda Tempo Doeloe yang ditulis Muhammad Sarip, konstelasi politik di Kaltim bergejolak. Para sultan yang memimpin Federasi Kaltim, sebuah negara boneka yang diciptakan Letnan Gubernur Jenderal Hubertus Johannes van Mook, seakan kehilangan induk. Selepas KMB, Belanda tak memiliki kuasa di Indonesia. Kerajaan lokal menghadapi dilema. Masyarakat yang gencar berjuang melawan Belanda menyuarakan satu hal; menghapuskan Federasi Kaltim berikut pemerintahan feodal yang menjadi bawahan Belanda. 

Menghadapi situasi demikian, Sultan Parikesit mengadakan rapat umum di Lapangan Kinibalu. Sultan menyampaikan pernyataan sebagai sikap resmi setelah Belanda mengakui kedaulatan RI. Di lapangan itu, Sultan membacakan Proklamasi Kerajaan Kutai Kartanegara yang berisi tiga butir. Pertama, menyetujui bentuk negara kesatuan untuk seluruh Indonesia. Kedua, melaksanakan Pancasila sebagai dasar negara. Ketiga, pelaksanaan secepat mungkin Pasal 45 UUD RI Serikat. Pasal itu berbunyi memberikan pemerintahan yang demokratis kepada rakyat (Secercah Perjuangan BPRI, M Djunaid Sanusie).

Peristiwa itu, dalam lini masa pemerintahan di Kaltim, adalah hal yang sangat penting. Orasi A Moeis Hassan mulai mendelegitimasi swapraja yang diperjuangkan kaum republiken. Mereka menginginkan sistem feodal dihapus dari Kaltim. Muhammad Sarip menulis, kaum republiken adalah masyarakat pro-RI sejak awal Proklamasi 1945. Di luar mereka ada kelompok yang baru pro-RI setelah KMB 1949.

Tiga bulan setelah pernyataan bergabung dengan RI, pada 10 April 1950, Samarinda menjadi ibu kota Keresidenan Kaltim, bagian Provinsi Kalimantan. RI Serikat yang dibubarkan pada 15 Agustus 1950 menjadikan Indonesia kembali berbentuk republik. Swapraja Kutai Kartanegara kemudian diubah menjadi daerah istimewa, setingkat kabupaten dengan ibu kota di Tenggarong.

Sampai pada 1956, menurut undang-undang nomor 25, Provinsi Kaltim dibentuk. Samarinda pun menjadi ibu kota provinsi. Pusat pemerintahan provinsi itu sekarang di Kantor Gubernur Kaltim. Kantor yang mulai dibangun pada 1980 itu sekarang berdiri tak sampai 100 meter dari Lapangan Kinibalu yang bersejarah.

Lapangan Kinibalu segera hilang setelah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menggagas pembangunan Masjid Al Faruq di situ. Dana Rp 73,8 miliar telah disiapkan APBD Kaltim. Sebanyak 44 persen, dari 72 persen warga sekitar yang menolak pembangunan masjid, menganggap lapangan itu bersejarah. Angka itu diperoleh lewat survei Kaltim Post awal pekan ini.

Aji Sofyan Alex, mantan calon wakil gubernur Kaltim, menceritakan sejarah berikutnya dalam rentang waktu yang berbeda. Ketika Partai Komunis Indonesia memberontak pada 1965, Lapangan Kinibalu adalah lokasi pembakaran harta Kesultanan Kutai. Dalam kudeta yang gagal itu pula, nama Kinibalu kembali disebut. Dalam Samarinda Tempo Doeloe, pemuda Kinibalu bersama unsur pemuda yang lain ikut “mengganyang” PKI.

Sofyan Alex adalah kakak dari almarhum Aji Surya Dharma Alex, pendiri Ikatan Putra Daerah Peduli Kaltim. IPDP Kaltim mengelola Lapangan Kinibalu selama dua dekade. Dari situ, lahir sejumlah nama besar pesepak bola Putra Samarinda hingga tim nasional. “Saya sepakat lapangan itu menyimpan banyak sejarah,” tutur Aji Sofyan kepada Kaltim Post.

PEMBANGUNAN AHISTORIS

Dari banyaknya peristiwa yang disaksikan Lapangan Kinibalu, penggiat sejarah di Samarinda, Roedy Haryo Widjono, meminta Gubernur lebih bijaksana. Dia setuju bahwa pemerintah tidak sensitif mengalokasikan dana pembangunan masjid yang sangat besar ketika anggaran defisit. Namun, persoalan yang lebih besar dari itu adalah paradigma pemerintah. Pembangunan selalu berpangkal kepada fisik sehingga mengabaikan sisi historis.

“Sudah terlalu banyak tempat bersejarah di Samarinda yang hilang,” terangnya kepada Kaltim Post, kemarin (7/12). Selain Lapangan Kinibalu, Lapangan Pemuda dan SMP 1 telah tiada. “Padahal, di situ tempat interaksi hingga kaderisasi pemuda,” terangnya. Berbagai tempat bersejarah, seiring dengan pembangunan, juga telah hilang di Samarinda (lihat grafis).

“Apalagi ditambah dengan merobohkan GOR Segiri,” lanjut dia. Gedung olahraga itu dibangun pada masa duet pemimpin yang masyhur namanya, Gubernur Abdoel Wahab Sjahranie dan Wali Kota Kadrie Oening. Selain menyimpan banyak kenangan, sejumlah kegiatan besar pernah diadakan. Satu di antaranya, gedung itu pertama kali dipakai untuk pembukaan MTQ nasional pada 1976. Baru-baru ini, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menginginkan agar GOR Segiri dijadikan ruang terbuka hijau.

Roedy yang menulis berbagai artikel antropologi dan histori Kalimantan itu punya pendapat mengenai pembangunan kota. Pendiri Samarinda sejak Daeng Mangkona hingga zaman Hindia Belanda, menurut dia, sudah memikirkan perencanaan kota. Samarinda dirancang sebagai kota maritim. Ketika peradaban berubah ke darat, semua ciri khas kota lenyap. “Sebut saja rumah terapung di Teluk Lerong, perahu tambang, hingga taman hiburan klasik masyarakat,” terangnya.

Dia mengatakan, paradigma pembangunan fisik jelas akan mengubur lokasi bersejarah. Pada akhirnya, Samarinda tidak akan berbeda dengan kota-kota yang lain. Ikon Samarinda juga banyak di tempat lain. Islamic Center, stadion, convention hall, adalah beberapa contoh.

Padahal, kata Roedy, Samarinda dibangun dengan memperhatikan tiga bentang. Untuk lanskap bentang alam, Samarinda dirancang sebagai kota maritim. Dalam bentang budaya, masyarakat Samarinda yang multikultur dipertemukan di kawasan perdagangan di Pasar Pagi dan Citra Niaga. Bentang ketiga adalah religi.

“Bentang religi ini akan menjawab ide gubernur itu sudah dipikirkan sejak dahulu,” kata Roedy. Ide gubernur yang dimaksud adalah pembangunan Masjid Al Faruq menjadi ikon kerukunan umat beragama. Masjid itu akan berdiri berdekatan dengan dua gereja. 

Pada masa lalu, pemimpin Samarinda padahal telah memikirkan ikon kerukunan beragama. Dalam satu ruas jalan, dibangun empat rumah ibadah berusia tua. Di ujung Jalan Yos Sudarso, Kelenteng Thien Ie Kong yang biasa disebut Tempekong telah berdiri. Dilanjutkan dengan Masjid Raya Darussalam, lalu Katedral Santa Maria, serta Gereja Immanuel untuk umat Protestan. 

Roedy setuju bahwa hanya sedikit daerah yang menjaga lokasi bersejarah. DKI Jakarta bisa dijadikan contoh merawat Kota Tua. Sayangnya, kata dia, Kota Tua di Samarinda justru telah lenyap karena pembangunan. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, jas merah-nya Bung Karno, akhirnya tinggal sebuah pesan tanpa dijawab dengan perbuatan. (far/k8)

loading...

BACA JUGA

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya,…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event…

Minggu, 11 November 2018 11:10

Kasihan Banget..!! Banyak Guru Honor yang Pensiun dengan Gaji Rp 150 Ribu Per Bulan

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi…

Minggu, 11 November 2018 10:11

Khashoggi Dilenyapkan dengan Larutan Asam

ISTANBUL – Tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, angkat bicara. Hatinya…

Minggu, 11 November 2018 08:39

Dendam Terbalaskan

SAMARINDA - Misi Borneo FC membalas kekalahan di putaran pertama…

Sabtu, 10 November 2018 21:05

Habib Rizieq Tak Gentar, Lewat Video Sampaikan Pesan ke Jokowi

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengaku…

Sabtu, 10 November 2018 21:00

Buku Nikah Mau Diganti, Begini Penampakannya Kelak...

JAKARTA- Kementerian Agama (Kemenag) berencana mengubah tanda bukti pernikahan. Jika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .