MANAGED BY:
MINGGU
20 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 07 Desember 2017 07:33
Masih Ada yang Tinggal di Lereng Gunung

Berkunjung ke Lokasi Komunikasi Adat Terpencil

SUDAH SESUAI HARAPAN: Rumah untuk KAT di Dusun Pasero, RT 05, Desa Kerang Dayu, Kecamatan Batu Engau, dinilai warga setempat sudah sesuai keinginan. (NAJIB/KP)

PROKAL.CO, TANA PASER – Lokasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Dusun Pasero, RT 05, Desa Kerang Dayu, Kecamatan Batu Engau, tidak mudah dijangkau. Bila start dari Tanah Grogot hingga tiga jam perjalanan, baru tiba di dusun yang mayoritas dihuni warga asli Paser dan Dayak tersebut.

Jarak dari Kecamatan Tanah Grogot menuju Kecamatan Desa Kerang, Batu Engau, sekitar 65 km. Kondisi aspal cukup mulus karena merupakan jalur nasional, setelah itu, memasuki jalan desa sepanjang 15 km dengan medan cukup berat. Syukurnya koran ini menggunakan motor trail, sehingga kondisi jalur bubur bisa ditempuh selama 45 menit. Melintasi delapan jembatan kayu tidak menjadi kendala, cuaca bersahabat membuat medan semakin ringan. Meskipun untuk kendaraan roda empat atau motor bebek terbilang berat.

Dusun Pasero berbatasan dengan provinsi tetangga Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Tidak jauh dari dusun tersebut sekitar 5 km, ada Desa Muara Andeh, Kecamatan Muara Samu. Hanya desa tersebut yang bisa dijangkau warga dusun. Ada sekolah dan puskesmas bantuan (pusban).

Setiba di sana, disambut langsung oleh Amurdin, ketua adat setempat. Pria berkumis tipis keturunan asli Suku Paser tersebut menjelaskan kondisi bangunan KAT yang belakangan ramai di media. Kendati tidak ada sinyal seluler maupun internet di dusun, dia mendengar kabar tersebut saat pergi ke pusat desa serta melihat banyaknya kunjungan sejumlah pihak beberapa hari terakhir memantau.

Dia menjelaskan, hanya satu bangunan yang sempat menuai protes, namun sudah diperbaiki kontraktor. Di luar itu, tidak ada masalah, baik untuk spek bangunan maupun lainnya.

“Hanya satu yang belum rampung, tapi dalam pengawasan kami. Kami siap serah terima karena sebagian warga sudah tidak sabar untuk tinggal,” ujarnya kemarin (6/12).

Terkait teknis di lapangan, dia membeberkan bahwa kontraktor pelaksana dari Samarinda. Untuk sumber daya pekerja dan bahan baku, sebagian memanfaatkan bahan dan tenaga lokal agar imbas ekonominya juga dirasakan warga dusun. Ada 17 rumah dibangun tukang dari luar sedangkan sisanya menggunakan tenaga dusun dan desa setempat.

Amurdin yang sudah lama didaulat menjadi kepala adat setempat menuturkan, proyek sudah lama diusulkan. Sekitar 2005 lalu, setelah ayahnya menjabat ketua adat hingga puncaknya baru mendapatkan 2016, dibangun 2017. Mayoritas dari 57 kepala keluarga berasal dari Suku Paser dan Dayak Bukit atau Dayak Meratus.

Lebar rumah 5 meter dan panjang 6 meter, menggunakan fondasi kayu ulin, papan tiang kayu meranti, dinding GRC board, serta atap seng. Meskipun belum mendapatkan toilet, ada beberapa toilet dibangun di titik tengah.

BERHARAP BANTUAN BERLANJUT

Setelah serah terima 57 rumah, Amurdin berharap, bantuan lainnya segera masuk. Saat ini sebagian warga dusun yang mata pencariannya hanya berladang dan berkebun sekitar (alam), masih ada yang tinggal di bantaran sungai maupun lereng gunung. Amurdin memiliki rumah sekaligus kios kelontong.

“Untuk di luar bukit (kawasan rumah KAT) masih bisa merasakan listrik desa, tiap-tiap rumah mendapat panel tenaga surya. Sementara di kawasan KAT belum ada listrik maupun air, hanya sungai yang bisa diandalkan,” ujarnya.

Di dusun tersebut kualitas air sungai terbilang jernih. Belum tercemar limbah karena tidak ada perusahaan di sekitar dusun. Dari jumlah 57 KK di dusun, sekitar 20 anak usia SD belum tersentuh pendidikan. Menjangkau SD di Muara Andeh, jaraknya cukup berat sehingga orangtua enggan menyekolahkan. Terkadang ada program SD kunjungan dari guru SD 008 Muara Samu meski tidak bisa setiap hari memberikan pelajaran.

Kepala Adat Desa Muara Andeh Kangui yang kebetulan berada di rumah Amurdin turut bersuara. Dia berharap, pemerintah membangun pusat kesehatan dan desa di Dusun Paser. Dia yang tinggal di antara Dusun Pasero dan Muara Andeh juga enggan bila ada perusahaan masuk ke desa. Jika ada yang ingin mengeruk hasil alam sekitar, dia meminta listrik dan air bersih wajib disediakan perusahaan.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Kerang Dayo Ferry Irawan mengatakan, tetap bersikukuh tidak akan menerima surat resmi serah terima bangunan, jika salah satu bangunan yang fondasi dan lokasinya tidak tepat tidak diperhatikan kontraktor walau warga sekitar tetap menerima kondisi seadanya. Selaku pimpinan wilayah, tidak ingin di kemudian hari bangunan tersebut tidak sesuai harapan.

“Dari segi teknis, wajar saya menginginkan kualitas terbaik untuk warga saya. Tetapi, kalau memang kemauan warga setempat menerima seadanya, apa boleh buat. Rencananya besok saya meninjau kembali bangunan terakhir. Tadi baru saja Bappeda datang, mau ke lokasi meninjau atas perintah sekretaris kabupaten,” ujar Ferry di kantor desa. (/jib/waz/k16)


BACA JUGA

Jumat, 11 Mei 2018 09:41
Nasib Beruang Madu di Kaltim

Lirik Jerman, Siap Go International

SEJAK UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah berlaku, Dinas Kehutanan Kaltim memegang kendali atas Kesatuan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:10

Eksklusif namun Dilupakan

DOSEN Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda Rustam menyebut, sejak awal pendiriannya pada 2005,…

Jumat, 11 Mei 2018 09:06

Tunggu Serah-Terima Aset

KONDISI Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan terombang-ambing. Terutama pengelolaan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:03

Perlu Kolaborasi Dinas Kehutanan dan Pro Natura

OLEH: AGUSDIN(Perintis dan Pemerhati KWPLH) SEBELUM merintis KWPLH, saya bergabung dalam penyelamatan…

Jumat, 27 April 2018 13:43

Belum Ada Pasien Kanker Akibat Kopi

KOPI jadi simalakama. Mulanya tanaman tersebut mengandung antioksidan, zat yang melindungi tubuh dari…

Jumat, 27 April 2018 13:40

Bisnis Kopi, Antara Rasa dan Citra

EMPAT bulan menjelang akhir 2015, Semenjana hadir memenuhi dahaga penikmat kopi. Adalah Rifki Ramadhan…

Jumat, 27 April 2018 13:30

Kopi Itu Seksi

TIDAK hanya sekolah barista atau pembuat kopi, tempat belajar bagi mereka yang menyukai proses sangrai…

Jumat, 27 April 2018 09:25

MENGGUGAT KENIKMATAN SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi bukan sekadar bubuk hitam dan air gula. Ini soal sensasi kegembiraan, magnet penyatu,…

Jumat, 27 April 2018 09:21

Kopi Instan, Pilihan Aman?

SECANGKIR kopi tubruk, bagi sebagian orang satu hal wajib dan pantang untuk dilewatkan setiap hari.…

Jumat, 27 April 2018 08:58

Pro-Kontra Kopi, Sudah Biasa

Oleh: Kris Nugraha(Penikmat kopi dan pemilik kedai Republik Coffee) BILA bicara soal pro-kontra, kopi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .