MANAGED BY:
JUMAT
19 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 06 Desember 2017 07:45
Nasib Kesultanan Paser di Zaman Sekarang

Minim Kunjungan dan Perhatian, Merindukan Pesta Budaya

PROKAL.CO, Sejarah panjang Kerajaan Paser telah berakhir 1906 silam. Setelah Pangeran Mangku Jaya Kesuma gelar Sultan Ibrahim Khaliluddin ditangkap Belanda, dan diasingkan ke Cianjur, akhirnya meninggal pada 1934. Sejak itu, masyarakat hanya bisa menyaksikan sisa-sisa peninggalan kerajaan kebanggaan warga Paser tersebut.

PENINGGALAN Kerajaan Paser atau Kerajaan Sadurengas yang masih terjaga yakni istana yang terletak di pinggir Sungai Kandilo, Kecamatan Pasir Belengkong. Istana yang kini menjadi Museum Sadurengas, berdampingan dengan masjid kesultanan. Luas area museum adalah 2.000 meter persegi dengan luas bangunan 1.250 meter persegi.

Museum dipugar pada 2008, dulunya adalah rumah salah satu Sultan Aji Tenggara (1844–1873). Awal abad ke-19, rumah tersebut menjadi istana Sultan Ibrahim Khaliludin. Rumah panggung yang dalam bahasa Paser disebut Kuta Imam Duyu Kina Lenja (rumah kediaman pemimpin yang bertingkat), memang tinggal kenangan saja.

Nyaris tak ada kegiatan budaya di dalam museum itu. Dukungan pemerintah yang minim membuat aktivitas budaya yang berhubungan dengan Kesultanan Paser ikut menghilang.

Wakil Ketua I Kerukunan Keluarga Kesultanan Paser (KKKP) H Muhammad Azan menyebut, kegiatan kesenian yang melambangkan sejarah keraton sudah tidak ada lagi setelah minimnya dukungan pemerintah daerah. Saat ini, hanya perempuan dari garis keturunan sultan saja yang aktif menggelar pengajian dan arisan. Sedangkan pria masih vakum. 

Dikonfirmasi terpisah, saat koran ini menemui keluarga yang berasal dari garis sultan, disimpulkan perhatian pemerintah daerah dalam mempertahankan kearifan lokal budaya tidak berbanding lurus dengan tingginya nilai sejarah kesultanan. Salah satunya untuk suntikan anggaran. Hal itu disampaikan Sekretaris Umum KKKP Muhammad Darmawi. Dia menuturkan, sampai detik ini organisasi yang mengurus kerajaan nyaris tinggal nama, lantaran tidak ada anggaran dari dinas terkait. Sudah tidak ada lagi kegiatan kerajaan digelar, seperti pesta adat Erau di Tenggarong. Sulit melestarikan budaya tanpa dukungan anggaran dan kebijakan pemerintah.

“Kami pernah mengusulkan dana, namun yang disetujui tidak sesuai harapan. Bahkan, buku sejarah yang saya buat tidak bisa dipublikasikan secara luas karena terkendala dana,” ujar pria yang memiliki keturunan Sultan Ibrahim Khaliluddin dari garis ibu.

Darmawi memiliki ibu bernama Aji Halimah, cicit dari Aji Meja yang biasa dikenal dengan Pangeran Menteri, kini menjadi salah satu jalan di Kota Tana Paser. Aji Meja dalam silsilah merupakan saudara Sultan Ibrahim Khaliluddin, dia merupakan keluarga keraton yang turut diasingkan Belanda. Jika Sultan Ibrahim Khaliluddin diasingkan ke Cianjur, sementara Aji Meja ke Padang, Sumatra Barat.

Dari penelusuran koran ini, narasumber pertama ialah penjaga Keraton Sadurangas di Kecamatan Paser Belengkong. Dia bernama M Arifin, pria itu sebagai juru pelihara peninggalan keraton yang ditugaskan Kementerian Pariwisata melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Kaltim. Ada enam orang yang ditunjuk, bersama lima petugas lainnya. Dia berbagi tugas, terdiri tiga penjaga keraton/museum, dua penjaga masjid, dan dua lainnya berjaga di makam.

Sekian tahun menjaga, Arifin mengatakan, sulit menyatukan persepsi dari berbagai keturunan Sultan Ibrahum Khaliluddin yang merupakan pimpinan kesultanan terakhir, sebelum diambil alih Belanda. Ada banyak pihak mengaku keturunan dari keraton, mulai dari warga Paser, Bugis, Sulawesi, dan Banjarmasin. Namun dia tidak berani memutuskan silsilah paling valid, karena semua memiliki versi masing-masing. Kini tugas pokoknya hanya menjaga benda sisa peninggalan kesultanan, yakni masjid, keraton, dan makam raja. Sementara peninggalan rumah raja yang lokasinya dekat dengan keraton, sudah tidak layak lagi dijaga maupun ditinggali.

Perhatian pemerintah yang minim tergambar dari tingkat kunjungan ke museum. Saat ini pengunjung hanya bisa menikmati keraton dan seisinya, tidak ada kegiatan, upacara atau kesenian keraton yang bisa disaksikan. Pendapatan rata-rata per tahun hanya Rp 12 juta.

“Yang jelas yang ada di sini saja, mulai lemari, tempat tidur, lukisan, dan lainnya. Tidak semuanya asli karena gedung sudah pernah direnovasi,” terang penjaga karcis retribusi keraton, Herman. Dia yang merupakan asli warga Paser Belengkong, ditugaskan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dispora) Paser untuk menjaga pintu masuk.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Paser Supriani menuturkan, terdapat puluhan peninggalan Kerajaan Paser. Namun, 50 persennya bukan berstatus milik Pemkab Paser melainkan titipan saja.

Supriani mengatakan, salah satu kendala sulitnya menjadikan benda-benda peninggalan kerajaan Paser sebagai milik pemkab adalah tidak adanya anggaran khusus untuk membeli dari tangan pemiliknya. Sehingga pemilik barang tersebut hanya menitipkan di museum dan sewaktu-waktu bisa saja diambil kembali.

MAKAM-MAKAM RAJA PASER

Selain area bangunan kerajaan Paser yang saat ini dijadikan sebagai Museum Keraton Sadurengas. Peninggalan sejarah lainnya juga tampak pada area pemakaman sultan-sultan serta keturunannya. Juga masih berada di wilayah Desa Pasir Belengkong. Terdapat 14 makam sultan beserta keturunan atau pangeran yang saat ini masih dijaga kelestariannya.

Dari kompleks pemakaman di pertengahan Kecamatan Pasir Belengkong, dapat ditemui makam-makan utama para raja atau sultan generasi pertama hingga kesepuluh. Mulai raja pertama, Sultan Aji Geger atau Sultan Aji Moehammad Alamsyah (wafat 1738 M). Kemudian makam raja kedua, yaitu anak dari Raja pertama, Sultan Sepuh 1 Alamsyah (wafat 1768 M).

Terdapat juga makam raja keempat, yaitu Sultan Abdurrahman Alamsyah (wafat 1811 M). Makam sultan kelima, Sultan Ibrahim Alamsyah (wafat 1815 M). Kemudian makam Sultan Moehammad Han Alamsyah yang merupakan raja keenam. Selanjutnya makam Sultan Adam Alamsyah (wafat 1853 M) sebagai raja ketujuh. Makam raja kesembilan, yakni Sultan Abdurrahman Alamsyah (dimakamkan 1890 M). Terakhir makam Raja Sultan Raja Besar.

Sementara itu, di dalam kompleks pemakaman seluas 100 meter kali 50 meter itu pun ditemukan enam makam lainnya, merupakan keturunan raja atau sultan yang pernah berkuasa di Kerajaan Paser. Di antaranya makam Ratu Agung, Aji Rind, Pangeran Burok Dipati, Aji Ingga serta Aji Kenas. (*/jib/*/ns/waz/k9)


BACA JUGA

Rabu, 17 Januari 2018 09:07
Nasib Jalan Tol ketika Bandara Samarinda Beroperasi

Sepi Sesaat, Kendaraan Tumbuh Pesat

KEKHAWATIRAN terhadap fungsi jalan tol ketika Bandara APT Pranoto di Samarinda beroperasi sempat mencuat.…

Rabu, 17 Januari 2018 09:06

Harapan dari Rute Baru

EKONOMI Kaltim yang belum sepenuhnya membaik turut memengaruhi pertumbuhan penumpang dari dan menuju…

Rabu, 17 Januari 2018 09:00

"Bandara Takkan Mati"

KEHADIRAN Bandara Samarinda Baru diyakini menggerus penumpang Bandara Internasional Sepinggan di Balikpapan.…

Rabu, 17 Januari 2018 08:58

BSB dan Sepinggan Sama-Sama Untung

CATATAN : FARID NURRAHMAN ST MSC(Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi…

Selasa, 16 Januari 2018 08:51

Burung Besi Berdenging Lagi

KALTIM punya pesawat pribadi yang dikelola Perusda Melati Bhakti Satya (MBS). Kapal terbang Gippsland…

Selasa, 16 Januari 2018 08:49

Nasib Miris Pesawat Perintis

TUJUH tahun selepas dugaan rasuah memudar, empat pesawat Gippsland GA8 Airvan disimpan di hanggar Bandara…

Selasa, 16 Januari 2018 08:46

"Terlalu Sensitif Diungkapkan"

PEMUCUK pimpinan Perusda Melati Bhakti Satya (MBS) berganti dari Sabri Ramdhani kepada Agus Dwitarto…

Senin, 15 Januari 2018 08:58

Dianggap Berbeda, Setahun Tak ke Kantin

MELIHAT namanya masuk daftar mahasiswa yang lulus, Nur Intan Savitri meluapkan kebahagiaan dengan hati…

Senin, 15 Januari 2018 08:53

Rp 62,4 Miliar dari Kaltim Cemerlang

BEASISWA penuh bagi seluruh mahasiswa Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim adalah tawaran…

Senin, 15 Januari 2018 08:52

Terobos Ruang Gubernur untuk Lapor Kekurangan

PERPINDAHAN aktivitaskuliah ISBI Kaltim dari Jogjakarta ke Tenggarong menjadi awal lahirnya kesukaran.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .