MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 04 Desember 2017 09:40
Diintai Kanker hingga Kerusakan Hati
-

PROKAL.CO, SESUATU yang berlebihan dikonsumsi cenderung dekat dengan bahaya. Ada batas wajar harus dipatuhi. Termasuk menjadikan mi instan sebagai pilihan untuk dikonsumsi. Tak tanggung-tanggung, beberapa penyakit serius mengintai. Apalagi olahan makanan tersebut dikonsumsi tanpa tambahan sumber zat gizi lain.

“(Imbas menyantap mi instan berlebihan) kegemukan atau obesitas pasti. Tekanan darah tinggi bisa terjadi, juga diabetes mellitus tipe 2, kerusakan hati bahkan kanker,” terang Reny Noviasty, dosen gizi di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman (Unmul), Kamis (30/11).

Tidak ada batasan pasti jumlah mengonsumsi yang dapat menimbulkan penyakit tersebut. Pada dasarnya, mi instan merupakan sumber karbohidrat alternatif asalkan dikonsumsi benar. Artinya, dikombinasikan dengan protein, sayur, dan buah. “Lebih dianjurkan tentu makanan segar, bukan kemasan atau instan yang umumnya tinggi bahan kimia seperti pengawet,” ujarnya.

Sakit kepala menjadi efek jangka pendek pengonsumsi mi instan. Itu terjadi pada mereka yang sensitif atau alergi terhadap MSG (zat penguat rasa dalam mi instan). Jangka panjang yakni obesitas. Sebab, mi memberi efek mudah kenyang sekaligus gampang lapar. Hal itu karena kandungan seratnya lebih rendah dari nasi.

Tekanan darah tinggi terjadi karena kandungan natrium per kemasan mi yang cukup tinggi. “Sekitar 800–1300 miligram, artinya menyumbang sekitar seperempat sampai sepertiga dari jumlah maksimal konsumsi natrium sehari,” papar alumnus S-2 Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, itu. Konsumsi natrium yang dianjurkan dalam sehari yakni 2000–2400 miligram, setara dengan satu sendok teh garam.

Pada risiko kanker dan kerusakan hati bersumber dari kandungan bahan kimia seperti pengawet dan antibeku. Apalagi dikonsumsi langsung dari styrofoam (mi dalam kemasan cup) yang juga memicu kanker. Lalu bagaimana dengan konsumsi junk food? Seperti diketahui, mahasiswa cukup banyak menggemari mi instan dan makanan cepat saji. Junk food merupakan makanan tinggi kalori, rendah vitamin dan mineral. Sehingga berpotensi menyebabkan anemia zat gizi, utamanya anemia zat besi.

Konsumsi junk food membawa penyakit sama seperti mi instan. Penyakit jantung dan stroke juga membayangi mereka yang doyan melahap junk food. Apalagi kandungan lemak jenuh membuat penumpukan di pembuluh darah. Sebab itu, Reny menganjurkan pola makan berimbang. Yakni, 50 persen berasal dari makanan pokok dan lauk-pauk, sisanya dari sayuran dan buah. Perbanyak serat dan antioksidan. “Konsumsi air putih cukup, yakni 2 liter per hari untuk metabolisme dan penyerapan zat gizi dalam makanan,” kata dia.

Jika memang harus mengonsumsi mi instan, wajib menambahkan protein hewani, antara lain telur, ayam, dan udang. Jangan lupa sayuran seperti wortel atau sawi. Reny menyarankan menu sarapan praktis bagi mahasiswa yakni roti lapis isian selain kacang, lalu pisang. “Minimal tiga sumber zat gizi. Karbohidrat dari roti, protein dari selai kacang, vitamin mineral dari pisang,” jelasnya. Penting mengatur pola makan dengan prinsip gizi seimbang.

Perempuan kelahiran 1986 itu mengimbau untuk rajin memperhatikan label makanan kemasan. Kenali informasi gizi. Berdasar angka kecukupan gizi (AKG) harian, kalori untuk pria usia 19–29 tahun sebesar 2.725 kkal. Sedangkan perempuan 2.250 kkal. Konsumsi gula dibatasi empat sendok per hari. “Jangan melewatkan sarapan karena justru lebih rentan gemuk. Makanlah teratur, sekitar selang 6–7 jam diselingi kudapan bergizi untuk menghindari penyakit pencernaan, misalnya mag,” ucapnya.

Reny kerap menjumpai mahasiswanya menyepelekan waktu makan. Apalagi konsumsi jenis makanannya seperti yang dijelaskan di atas. Sebenarnya, bukan pantang mengonsumsi makanan tersebut, hanya wajib perhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh.

Jelas Reny, menilik data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, lebih 90 persen penduduk Indonesia masuk kategori kurang mengonsumsi sayur dan buah. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, dianjurkan konsumsi sekitar 25–30 gram. “Diperoleh melalui 400–500 gram sayur dan buah setiap hari untuk mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah serta diabetes mellitus tipe 2,” jelasnya. (*/rdm/far/k8)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:40

Waduh, Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Tembus Rp 5.410 Triliun..!!

JAKARTA- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410 triliun (kurs…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:14

MAAF..!! Tol Balikpapan - Samarinda Molor, Ngga Jadi Diresmikan Jokowi

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda batal diresmikan akhir tahun ini. Padahal mantan Gubernur Kaltim…

Senin, 15 Oktober 2018 11:42
Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo

Lestarikan Budaya Batak karena Cinta

Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:11

INNALILLAHI..!! 12 Siswa Tewas Diterjang Banjir

JAKARTA – Kelas sore itu berubah jadi tragedi. Puluhan siswa yang tengah belajar diterjang air…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:09

Premium Tak Naik, Tapi Pasokan Dikurangi?

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai,…

Minggu, 14 Oktober 2018 08:06

Sikat Persebaya, Borneo FC Bidik Papan Atas

SURABAYA – Gairah Borneo FC kembali membuncah. Tekad bersaing di papan atas makin kuat. Suntikan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:10

Rumah DP 0 Persen Diluncurkan Anies

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan berharap rumah DP 0 persen dapat meringankan warga…

Sabtu, 13 Oktober 2018 10:28

Dua Kali Dipanggil Mangkir, Ketua DPRD Itu Dibawa Polisi

JAKARTA – Isu bahwa Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif ditangkap polisi terjawab. Ya, Mabes Polri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .