MANAGED BY:
MINGGU
24 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 04 Desember 2017 09:40
Diintai Kanker hingga Kerusakan Hati
-

PROKAL.CO, SESUATU yang berlebihan dikonsumsi cenderung dekat dengan bahaya. Ada batas wajar harus dipatuhi. Termasuk menjadikan mi instan sebagai pilihan untuk dikonsumsi. Tak tanggung-tanggung, beberapa penyakit serius mengintai. Apalagi olahan makanan tersebut dikonsumsi tanpa tambahan sumber zat gizi lain.

“(Imbas menyantap mi instan berlebihan) kegemukan atau obesitas pasti. Tekanan darah tinggi bisa terjadi, juga diabetes mellitus tipe 2, kerusakan hati bahkan kanker,” terang Reny Noviasty, dosen gizi di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Mulawarman (Unmul), Kamis (30/11).

Tidak ada batasan pasti jumlah mengonsumsi yang dapat menimbulkan penyakit tersebut. Pada dasarnya, mi instan merupakan sumber karbohidrat alternatif asalkan dikonsumsi benar. Artinya, dikombinasikan dengan protein, sayur, dan buah. “Lebih dianjurkan tentu makanan segar, bukan kemasan atau instan yang umumnya tinggi bahan kimia seperti pengawet,” ujarnya.

Sakit kepala menjadi efek jangka pendek pengonsumsi mi instan. Itu terjadi pada mereka yang sensitif atau alergi terhadap MSG (zat penguat rasa dalam mi instan). Jangka panjang yakni obesitas. Sebab, mi memberi efek mudah kenyang sekaligus gampang lapar. Hal itu karena kandungan seratnya lebih rendah dari nasi.

Tekanan darah tinggi terjadi karena kandungan natrium per kemasan mi yang cukup tinggi. “Sekitar 800–1300 miligram, artinya menyumbang sekitar seperempat sampai sepertiga dari jumlah maksimal konsumsi natrium sehari,” papar alumnus S-2 Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, itu. Konsumsi natrium yang dianjurkan dalam sehari yakni 2000–2400 miligram, setara dengan satu sendok teh garam.

Pada risiko kanker dan kerusakan hati bersumber dari kandungan bahan kimia seperti pengawet dan antibeku. Apalagi dikonsumsi langsung dari styrofoam (mi dalam kemasan cup) yang juga memicu kanker. Lalu bagaimana dengan konsumsi junk food? Seperti diketahui, mahasiswa cukup banyak menggemari mi instan dan makanan cepat saji. Junk food merupakan makanan tinggi kalori, rendah vitamin dan mineral. Sehingga berpotensi menyebabkan anemia zat gizi, utamanya anemia zat besi.

Konsumsi junk food membawa penyakit sama seperti mi instan. Penyakit jantung dan stroke juga membayangi mereka yang doyan melahap junk food. Apalagi kandungan lemak jenuh membuat penumpukan di pembuluh darah. Sebab itu, Reny menganjurkan pola makan berimbang. Yakni, 50 persen berasal dari makanan pokok dan lauk-pauk, sisanya dari sayuran dan buah. Perbanyak serat dan antioksidan. “Konsumsi air putih cukup, yakni 2 liter per hari untuk metabolisme dan penyerapan zat gizi dalam makanan,” kata dia.

Jika memang harus mengonsumsi mi instan, wajib menambahkan protein hewani, antara lain telur, ayam, dan udang. Jangan lupa sayuran seperti wortel atau sawi. Reny menyarankan menu sarapan praktis bagi mahasiswa yakni roti lapis isian selain kacang, lalu pisang. “Minimal tiga sumber zat gizi. Karbohidrat dari roti, protein dari selai kacang, vitamin mineral dari pisang,” jelasnya. Penting mengatur pola makan dengan prinsip gizi seimbang.

Perempuan kelahiran 1986 itu mengimbau untuk rajin memperhatikan label makanan kemasan. Kenali informasi gizi. Berdasar angka kecukupan gizi (AKG) harian, kalori untuk pria usia 19–29 tahun sebesar 2.725 kkal. Sedangkan perempuan 2.250 kkal. Konsumsi gula dibatasi empat sendok per hari. “Jangan melewatkan sarapan karena justru lebih rentan gemuk. Makanlah teratur, sekitar selang 6–7 jam diselingi kudapan bergizi untuk menghindari penyakit pencernaan, misalnya mag,” ucapnya.

Reny kerap menjumpai mahasiswanya menyepelekan waktu makan. Apalagi konsumsi jenis makanannya seperti yang dijelaskan di atas. Sebenarnya, bukan pantang mengonsumsi makanan tersebut, hanya wajib perhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh.

Jelas Reny, menilik data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, lebih 90 persen penduduk Indonesia masuk kategori kurang mengonsumsi sayur dan buah. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, dianjurkan konsumsi sekitar 25–30 gram. “Diperoleh melalui 400–500 gram sayur dan buah setiap hari untuk mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah serta diabetes mellitus tipe 2,” jelasnya. (*/rdm/far/k8)


BACA JUGA

Minggu, 24 Maret 2019 11:48
Belanda vs Jerman

PEMBUKTIAN PEROMBAKAN

AMSTERDAM–Kualifikasi Euro 2020 akan menjadi babak baru bagi Jerman. Sejak…

Minggu, 24 Maret 2019 10:18

Tim SAR Temukan Anak Tenggelam di Tenggarong Seberang

TENGGARONG - Tim gabungan Search and Rescue (SAR) berhasil menemukan…

Sabtu, 23 Maret 2019 21:08

Terang-terangan Mau Jadi Istri Kedua Sandiaga, Ini Alasan Tiffani

Pernyataan terbuka yang disampaikan mahasiswi cantik Vincentia Tiffani bahwa dia…

Sabtu, 23 Maret 2019 20:51

Rommy Ngeluh Rutan Pengap, Ini Kata KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespons keluhan mantan ketua umum PPP…

Sabtu, 23 Maret 2019 20:50

Kampanye Akbar Jokowi-Ma'ruf, Ini Menteri-Menteri yang Ikut Serta

 Pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin bakal…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:12
Spanyol vs Norwegia

500 Hari Mencari Morata

 VALENCIA – Jangan tanya berapa banyak gol yang dicetak Alvaro…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:09

TEGANYA..!! Puluhan Anak Dipaksa Jadi Anjal

SAMARINDA-2018 jadi awal mula mimpi buruk dua bersaudara, FK (12)…

Jumat, 22 Maret 2019 10:34

Lagi Angkat Barang di Pelabuhan, Ayah Bhrada Aldy Ditelepon Komandan Brimob, Menangis…

Bharada Muhammad Aldy – personel Brimob putra asal Kabupaten Nunukan…

Kamis, 21 Maret 2019 21:48

Tabrak Batu di Riam Udang, Tiga Orang Belum Ditemukan

SAMARINDA - Sebuah kapal long boat bermuatan penumpang dan barang…

Kamis, 21 Maret 2019 21:26

ASTAGAAA..!! Oknum Lurah dan Pegawai Protokol Pemkot Tertangkap Pesta Sabu

SAMARINDA - Jajaran Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*