MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 04 Desember 2017 07:16
Ongkos Produksi Juga Naik
BELUM TENTU MAKMUR: Tak hanya harga jual, naiknya kurs dolar AS juga menaikkan komponen produksi. Termasuk untuk produksi batu bara, yang banyak menggunakan alat-alat impor. (DOK/KP)

PROKAL.CO, MESKI di pasaran bisa menguntungkan para eksportir, menguatnya kurs dolar terhadap rupiah juga bisa menambah beban. Pasalnya, tak sedikit pengusaha yang beroperasi dengan alat-alat impor.

Salah satu bisnis yang dianggap untung karena dolar menguat, adalah pertambangan dan perdagangan batu bara. Selain diuntungkan posisi kurs, para pengusaha emas hitam juga tengah menikmati pulihnya harga komoditas, yang per Oktober lalu berada di level USD 93,6 per metrik ton (Harga Batu Bara Acuan Ditjen Minerba Kementerian ESDM).

Namun, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Alexander Soemarno menyebut, kedua faktor itu belum tentu sepenuhnya berefek baik bagi pebisnis batu bara. Dia menyebut, tingginya nilai tukar dolar USD tinggi sepanjang tahun ini memang banyak dinikmati pengusaha.

Namun, dia mengatakan, tak sedikit pula yang tertekan. Seperti mereka yang banyak berutang dalam bentuk dolar. “Tentunya mereka harus membayar lebih mahal,” ujarnya kepada Kaltim Post, Minggu (3/12).

Alex menyebut, tak selamanya keuntungan pengusaha dapat diukur lewat kurs. Sebab, selain harga jual komoditas, menguatnya dolar AS juga turut mengerek harga barang produksi. Artinya, di tengah pendapatan yang meningkat, pengeluaran penambang juga naik.

“Mengukurnya tidak bisa seperti itu. Bicara keuntungan, itu setelah pemasukan dipotong biaya produksi. Dolar tinggi tidak menjamin pebisnis batu bara makmur,” tuturnya.

Selain ongkos produksi dan impor alat, dolar yang tinggi juga bisa saja membuat ongkos kirim lebih mahal. Meski demikian, bagi sebagian pebisnis, naiknya harga jual tentu tetap bisa menjadi momen mendongkrak keuntungan.

“Yang pasti untung adalah barang-barang yang diproduksi dengan alat yang dibeli menggunakan rupiah, lalu diekspor dalam bentuk USD. Itu yang paling untung karena harga komponen produksinya lokal semua,” jelas Alex.

Dia menegaskan, selama biaya produksi masih melibatkan dolar AS, kondisi saat ini belum bisa menjadi faktor yang menguntungkan. “Naik-turunnya dolar ini, tentu ada plus-minusnya. Memang yang terbaik adalah stabil, tidak jatuh terlalu dalam, dan tidak naik begitu tinggi,” pungkasnya. (*/ctr/man2/k15)


BACA JUGA

Minggu, 20 Mei 2018 06:31

Permintaan Aneh Pelanggan Menggali Kreativitas

SETELAH lulus dari Limkokwing University of Creative Technology, Malaysia pada 2014, Sherli Sukangto…

Minggu, 20 Mei 2018 06:28

Jaga Komunikasi, Kualitas, dan Kecepatan Kerja

MENGELOlA bisnis di bidang desain sejak 2014, Sherli Sukangto mengaku telah banyak menghadapi persaingan.…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:14

2019, Ekonomi Ditarget Tumbuh 5,8 Persen

JAKARTA  –  Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi pada 2019 mendatang mencapai…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:09

BI Terbitkan Buku Kajian Stabilitas Keuangan

JAKARTA –  Bank Indonesia (BI) meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan No.30, Maret 2018.…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:08

BI Terapkan Pengetatan Moneter, Era Bunga Tinggi Dimulai

JAKARTA  –  Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan suku bunga acuan. Kamis (17/5), rapat…

Jumat, 18 Mei 2018 06:37

Perusahaan Lokal Masih Enggan Go Public

BALIKPAPAN - Minat perusahaan lokal untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public…

Jumat, 18 Mei 2018 06:34

RDMP Berjalan, Gubernur Prioritaskan Naker Lokal

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak meminta pembangunan kilang minyak baru milik PT Pertamina…

Jumat, 18 Mei 2018 06:32

Lampaui Target Konsumsi Nasional

TANA PASER  –  Meski terjadi kenaikan harga, masyarakat Paser tidak perlu bingung mencari…

Jumat, 18 Mei 2018 06:30

Penguatan Dolar Bisa Katrol Harga Otomotif

BALIKPAPAN - Harga jual otomotif di Kaltim diprediksi bakal terpengaruh penguatan dolar Amerika Serikat…

Jumat, 18 Mei 2018 06:27

Asuransi Optimistis Tumbuh 20 Persen

JAKARTA – Industri asuransi tetap optimistis bisa tumbuh 20-30 persen tahun ini. Indonesia dinilai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .