MANAGED BY:
MINGGU
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Minggu, 03 Desember 2017 06:28
Mengejar Sunrise di Atas Bukit Cinta Bromo
SELALU RAMAI: Titik awal penanjakan Bukit Cinta yang dipadati para wisatawan. Untuk menuju ke puncak, harus melalui ratusan anak tangga. Setiap pengunjung mesti menyiapkan kondisi fisik yang baik sebelum menanjak.

PROKAL.CO, Oleh: Nicha Ratnasari*

SIAPA yang tak tahu tentang keindahan alam di kawasan Gunung Bromo? Ya, beruntung sekali karena saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat wisata satu ini, bersama rombongan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).   

Perjalanan dimulai dari Kota Malang, Jawa Timur. Sebenarnya, ada beberapa jalur alternatif yang bisa digunakan untuk menuju kawasan Gunung Bromo. Vicky, sopir yang membawa rombongan mengatakan, jalur tercepat dari Malang menuju Bromo, yakni melalui rute Tumpang yang hanya berjarak 53 km dan lama perjalanan satu jam saja.

Namun kali ini, kami harus melalui jalur agak memutar melalui Probolinggo yang memakan waktu kurang lebih 2,5 jam, karena harus meninjau lokasi kunjungan Kemendes PDTT di Desa Ngadas. Desa Ngadas adalah salah satu penerima dana desa yang dianggap berhasil memanfaatkan dana tersebut, untuk membangun jaringan pipa air bersih sepanjang 15 km dari mata air yang berada di kaki Gunung Bromo.

Perjalanan dari Kota Malang dimulai pukul 01.00 WIB dan tiba di Balai Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo sekitar pukul 2.30 WIB. Setiba di Desa Ngadas, kami disuguhkan camilan rebusan sekadar mengganjal perut sebelum menuju titik penanjakan Bromo. Kemudian, pukul 03.30 WIB rombongan harus melanjutkan perjalanan menuju kawasan penanjakan Bromo dengan menumpang jip Hardtop yang memakan waktu sekitar satu jam.

Di titik inilah, petualangan seru  yang menguji adrenalin dimulai. Karena, sepanjang jalan yang kami lalui, mulai dari Desa Ngadas adalah tanjakan-tanjakan curam dikelilingi jurang yang pastinya sempat membuat nyali ciut. Apalagi, kabut dan hujan gerimis membuat jarak pandang tak lebih dari 5 meter.

Herannya, sopir jip yang kami tumpangi, Pak Buang, terlihat santai dan sangat lihai tanpa ragu memutar setir dengan perhitungan yang tepat, seakan sudah hafal medan yang dilaluinya. “Jarak pandang kayak begini masih lumayan bagus. Biasanya, kabutnya lebih tebal dari ini. Tapi, karena tiap hari antar tamu naik-turun ke Bromo, ya saya sudah hafal (medannya),” ujarnya santai. Baiklah, kami pasrahkan perjalanan ini di tangan Pak Buang.  

Sekira pukul 04.35 WIB rombongan akhirnya tiba di kaki Love Hill atau Bukit Cinta. Tempat ini menjadi spot andalan para wisatawan untuk menyaksikan sunrise atau matahari terbit. Tak heran, tempat ini penuh sesak dengan wisatawan yang juga saling berebut tempat di puncak untuk melihat sunrise

Dengan napas terengah-engah menanjaki ratusan anak tangga, akhirnya kami sampai di puncak Bukit Cinta. Perbedaan suhu pun semakin terasa. Di puncak Bukit Cinta, suhu tertahan di angka 8 derajat celcius. Lumayan dingin dan terasa sedikit menggigil saat sesekali ada embusan angin.

Tepat pukul 05.15 WIB, yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sebuah pertunjukan mahakarya Sang Pencipta dimulai, yakni keindahan penampakan sang surya yang merangkak naik, yang kemudian banyak diabadikan oleh para wisatawan. Dengan pancaran sinar mentari, puncak Gunung Batok yang paling awal terlihat. Ya, Gunung Batok merupakan salah satu ikon yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru. Pertunjukan sunrise ini sebenarnya juga bisa dinikmati di Bukit Kingkong yang jaraknya tak jauh dari Bukit Cinta. Hanya saja, sepertinya kurang diminati meskipun ada beberapa wisatawan yang mengunjunginya.

Setelah puas menikmati sunrise, rombongan kembali menumpang jip turun menuju Bukit Teletubbies yang juga masih berada di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru. Bukit Teletubbies ini adalah sebuah hamparan sabana yang luas dikelilingi bukit dan gundukan pasir. Namun, sayangnya pemandangan tak begitu jelas karena kabut tebal kembali menyelimuti kawasan ini. Jika cuaca cerah, pastinya akan terlihat padang sabana yang menyajikan hamparan rumput liar, tumbuhan daun adas yang  hijau kekuningan bak permadani. Apalagi semakin cantik dengan hiasan gurat-gurat celah perbukitan.

Selanjutnya, pemberhentian terakhir sebelum kembali ke Desa Jetak dan Ngadas, rombongan berhenti di padang pasir yang merupakan hasil muntahan isi Gunung Bromo. Lautan pasir ini tentu sudah tak asing di mata masyarakat, karena pernah dijadikan lokasi syuting film Pasir Berbisik besutan Garin Nugroho. (sar/tom/k15)

 *Penulis merupakan wartawan Kaltim Post yang bertugas di Jakarta


BACA JUGA

Jumat, 04 Mei 2018 07:31

Semangat Belajar dalam Keterbatasan

Oleh: Gerakan Mengajar – Universitas Mulawarman Samarinda SAMARINDA - Sabtu (28/4), Gerakan Unmul…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .