MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Sabtu, 02 Desember 2017 07:58
Setnov Makin Terdesak
Setnov

PROKAL.CO, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi peluang bagi Andi Agustinus alias Andi Narogong menjadi justice collaborator (JC) kasus megakorupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el). Andi dinilai memenuhi kriteria sebagai JC setelah membuka “Kotak Pandora” keterlibatan sejumlah pihak, khususnya Ketua DPR Setya Novanto (Setnov).

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, pengakuan Andi yang blak-blakan itu sangat membantu penanganan kasus KTP-el. Karena itu, pihaknya bakal memproses lebih lanjut soal langkah menjadikan Andi sebagai JC dalam perkara yang merugikan keuangan Rp 2,3 triliun tersebut. “Tinggal kami (pimpinan KPK) berlima memutuskan (Andi sebagai JC atau tidak),” ujarnya, kemarin (1/12).

Menurut Saut, kejutan yang diberikan Andi membantu mempercepat penanganan kasus KTP-el. Pengakuan Andi juga membuktikan sangkaan dan dakwaan KPK soal korupsi berjamaah KTP-el benar-benar nyata. “Kami lebih firm (kuat) bahwa selama ini yang kami lihat itu sudah betul,” imbuh mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN) itu.

Diketahui, Andi Narogong pada Kamis (30/11) bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Terdakwa kasus dugaan korupsi KTP-el itu terlihat semangat dan lantang menjawab pertanyaan jaksa penuntut maupun majelis hakim. Gestur pengusaha yang hanya lulusan SMP itu cukup mengejutkan.

Sebab, sejak ditetapkan tersangka dan ditahan oleh KPK pada Maret lalu, Andi cenderung “tertutup” ketika dimintai keterangan sebagai saksi di persidangan Irman dan Sugiharto atau ketika ditanya awak media. Nah, di persidangan tahap pemeriksaan terdakwa itu, Andi membuat kejutan. Dia membuka “Kotak Pandora” tentang aliran uang haram KTP-el untuk DPR, khususnya Setnov.

Jumlah uang yang disebut-sebut Andi mengalir ke Setnov dan anggota dewan bernilai fantastis, yakni USD 7 juta atau sekitar Rp 94,6 miliar. Uang itu ditransfer dua tahap ke rekening Made Oka Masagung, rekan Setnov, pada akhir 2011 dan awal 2012.

Andi menjelaskan, uang tersebut berasal dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, anggota konsorsium pemenang tender KTP-el. Distribusi tahap pertama yakni sebanyak USD 3,5 juta dikirim Anang dengan difasilitasi pemilik PT Biomorf Lone Indonesia Johannes Marliem yang dikabarkan tewas beberapa waktu lalu di Amerika Serikat.

Transaksi dilakukan di Singapura dari rekening Biomorf ke rekening Oka Masagung yang memang sengaja dibuat di negara tetangga itu. Sedangkan pengiriman tahap kedua dengan nominal yang sama diurus sendiri oleh Anang. Uang tersebut juga ditransfer ke rekening Oka di Singapura. “Oka Masagung punya jaringan luas terhadap perbankan,” ungkap Andi.

Keterangan distribusi uang itu belum pernah dijelaskan secara detail di persidangan sebelumnya. Andi mengatakan, pengiriman uang ke Oka atas perintah Setnov. Itu setelah mantan Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap menagih ke Irman soal komitmen fee sebesar 5 persen yang dijanjikan pemenang tender KTP-el kepada sejumlah anggota DPR periode 2009–2014.

“Atas penagihan itu, Pak Paulus Tannos dan saya diundang ke Equity Tower, kantornya Pak Novanto. Waktu itu ada Pak Chairuman, saya, Pak Paulus, dan Pak Novanto,” terang suami Inayah itu. Setnov mengenalkan Oka kepada Andi dan Paulus di kediamannya pada November 2011. “Nanti dia (Oka) yang akan urusi masalah fee ke DPR,” tutur Andi menirukan perintah Setnov kala itu.

Jatah fee 5 persen untuk DPR itu merupakan komitmen awal yang disepakati Irman, pemenang tender KTP-el dan para wakil rakyat. Komitmen bagian 5 persen dari nilai proyek KTP-el setelah dipotong pajak itu juga diberikan kepada Irman dan pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Total, 10 persen komitmen fee itu senilai Rp 500 miliar dari proyek Rp 5,9 triliun.

Sayang, selain USD 7 juta, Andi mengatakan tidak mengetahui distribusi uang haram KTP-el lain untuk DPR. “Setelah itu, saya tidak mengikutinya kembali. Setahu saya yang USD 7 juta itu,” jelasnya. Andi mengaku tidak lagi mengurusi proyek KTP-el setelah tidak mendapat kepastian terkait pekerjaan yang dijanjikan konsorsium Perusahaan Umum Percetakan Negara Republik Indonesia (Perum PNRI), pemenang tender KTP-el.

Bukan hanya membeberkan keterangan soal aliran uang, Andi juga membongkar soal pemberian hadiah jam tangan mewah merek Richard Mille untuk Setnov pada November 2012. Jam tangan senilai USD 135 ribu (sekitar Rp 1,3 miliar saat pembelian 2012) yang dibeli Johannes Marliem di Los Angeles, Amerika Serikat, itu diberikan saat peringatan ulang tahun ke-57 Setnov.

Namun, jam tangan itu dikembalikan Setnov ke Andi pada awal 2017 atau ketika kasus KTP-el tengah ramai. Andi pun menjual jam tangan itu di Blok M dengan harga sekitar Rp 1 miliar.

“Pak Johannes Marliem bilang mau memperhatikan Pak Novanto. Dia bilang (Setnov) mau ulang tahun patungan saja, beli jam. Saya berikan uang sekitar Rp 650 juta, lalu Pak Johannes Marliem beli di Amerika Serikat,” bebernya.

Andi mengakui jam tangan itu sebagai ucapan terima kasih kepada Setnov atas bantuan lobi-lobi anggaran proyek KTP-el. Menurut dia, tanpa bantuan Setnov, penganggaran di DPR tidak bisa berjalan mulus.

Selain itu, Andi mengungkapkan memang kerap bertemu Setnov selama proyek KTP-el tahun anggaran 2011–2012 bergulir. Keterangan itu menepis pernyataan Setnov yang mengaku hanya dua kali bertemu Andi. Yakni, hanya soal urusan jual-beli kaus partai. “Saya sudah kenal (Setnov) dari tahun 2009,” akunya.

Andi menyatakan, baru kali ini dia bisa membeberkan peran Setnov dan aliran uang yang diduga dinikmati anggota DPR. Sebab, dia merasa dijadikan pelampiasan oleh para saksi, khususnya kalangan pengusaha dan politikus. “Orang yang saya bantu justru melempar sampah kepada saya. Maka dari itu, saya membuka fakta yang sesungguhnya. Saya ingin hidup tenang,” jelasnya.

Pengusaha yang pernah menggarap sejumlah proyek di Mabes Polri sejak 2011–2016 itu pun mengaku membuat surat pernyataan mengembalikan uang diduga hasil korupsi KTP-el sebesar USD 2,5 juta (Rp 33,81 miliar). Uang itu merupakan pemberian Johannes Marliem sebagai ucapan terima kasih karena pernah mengeluarkan duit sebanyak USD 2,2 juta untuk keperluan Irman.

“Saya sudah mencicil USD 350 ribu, itu cicilan pertama. Saya merasa itu uang negara. Saya mau hidup tenang, Yang Mulia,” jelasnya. Andi mengakui hanya diuntungkan USD 300 ribu (Rp 4 miliar) dari proyek KTP-el.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, keterangan Andi tersebut sangat membantu penyidik untuk mengusut lebih jauh keterlibatan Setnov dalam dugaan korupsi KTP-el yang merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun itu. “KPK akan mempelajari lebih lanjut fakta-fakta persidangan itu. Termasuk aspek kesesuaian dengan bukti lain,” kata dia.

KPK menegaskan, pemberkasan Setnov sudah masuk tahap akhir atau tinggal merapikan administrasi. Paling cepat berkas itu segera dilimpahkan ke penuntutan sebelum sidang praperadilan Setnov di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan bergulir. (tyo/lum/jpnn/rom/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 22 September 2018 01:42

AYO, BUNGKAM VIETNAM

KUALA LUMPUR  –  Timnas Indonesia U-16 memang baru menjalani satu laga di fase Grup…

Sabtu, 22 September 2018 01:41

Sembilan Caleg Dicoret

SAMARINDA  –   Sebanyak 709 calon anggota legislatif (caleg) berebut 55 kursi DPRD Kaltim…

Sabtu, 22 September 2018 01:40

Mau Nikah, Hadiri Grand Wedding Expo

EMPAT tahun sudah Kaltim Post menggelar Grand Wedding Expo secara berturut-turut. Banyak kejutan yang…

Sabtu, 22 September 2018 01:35

Tanpa Ribet, Cukup Berurusan dengan Mesin di Imigrasi

Serangkaian aksiterorisme mengguncang Amerika pada 11 September 2001. Setelah 17 tahun berlalu, bagaimana…

Sabtu, 22 September 2018 01:32

Panas-Dingin DPRD dan Pemprov

SAMARINDA  -  Tensi tinggi pembahasan APBD Perubahan (APBD-P) Kaltim 2018 antara Badan Anggaran…

Jumat, 21 September 2018 09:12

41 Eks Koruptor Resmi Bertarung

JAKARTA – Sebanyak 41 mantan koruptor dipastikan bakal ikut bertarung memperebutkan kursi wakil…

Jumat, 21 September 2018 09:09

Tetap Dihukum Berat meski Berstatus Anak

BALIKPAPAN - Meski telah terungkap, namun pembunuhan pasangan suami istri (pasutri), Wanto (45) dan…

Jumat, 21 September 2018 09:06

2019 Mulai Kelola Jatah Blok Mahakam

SAMARINDA  -  Keterlibatan Pemprov Kaltim dan Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) di Blok Mahakam…

Jumat, 21 September 2018 09:05

Tugas Pertama Menyambut Jamaah Haji

PENAJAM - Penajam Paser Utara (PPU) resmi memiliki bupati dan wakil bupati baru. Abdul Gafur Mas’ud…

Jumat, 21 September 2018 09:01

Omzet Perajin Berkurang, Berharap Rupiah Segera Perkasa

Tempe belakangan jadi viral. Seiring menguatnya nilai tukar dolar. Apalagi setelah ada kalimat kiasan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .