MANAGED BY:
SABTU
24 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Jumat, 01 Desember 2017 07:38
Asuh 40 Anak Yatim Piatu, Suami Meninggal karena Depresi

Hages Budiman, Sebelas Tahun Melawan Stigma ODHA

BERHATI BAJA: Banyaknya kondisi ODHA yang memprihatinkan, membuat Hages Budiman mendirikan komunitas Kumpulan dengan Segala Aksi Kemanusiaan atau Kuldesak pada 2011. (DINA ANGGELINA)

PROKAL.CO, Perempuan ini telah menghabiskan waktu 11 tahun hidup bersama human immunodeficiency virus (HIV). Bukan hal mudah untuk menerima dan akhirnya move on. Bahkan, Hages Budiman mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

DINA ANGELINA, Jakarta

VONIS dokter 2006 silam ibarat petir di siang bolong. Perempuan yang kini berdomisili di Depok, Jawa Barat ini tak menyangka, ia dan suami harus menerima kenyataan sebagai penderita HIV. Parahnya lagi, ada potensi virus tersebut juga mengidap dalam tubuh buah hatinya yang kala itu masih berusia 40 hari.

Berdasarkan penjelasan dokter, virus dalam tubuhnya berasal dari sang suami yang terlebih dahulu mengidap HIV. Hages tak mengira sama sekali. Karena tak ada gejala apapun dalam tubuhnya. Dia merasa sangat sehat, apalagi baru saja melahirkan anak pertama secara normal tanpa ada masalah. ”Setelah tahu suami positif, saya dan anak langsung tes. Bahkan, anak saya sempat dinyatakan positif. Tapi dokter bilang, usia anak saya masih di bawah 18 bulan ada kemungkinan berubah,” tuturnya kepada Kaltim Post.

Ia merasa gamang karena keluarga kecilnya harus menerima ujian tersebut. Semua semakin memburuk. Sang suami tak bisa menerima kenyataan dan tidak memiliki semangat berjuang. Suaminya begitu depresi dan berselang lima bulan setelah vonis itu, akhirnya meninggal dunia. Tak hanya itu, dokter mengatakan bahwa perempuan berusia 35 tahun ini menderita HIV stadium 3. Bahkan, kemungkinan dirinya hanya mampu bertahan hidup selama dua tahun. Tentu, dia bingung bukan kepalang.

Tak ada keinginan berjuang. Apalagi sang suami telah tiada di sisinya. ”Butuh waktu healing (penyembuhan) sekitar satu tahun, tidak sebentar. Saya mengurung diri dan tak tahu harus berbuat apa,” ungkapnya. Perkataan dokter terus menghantui pikirannya. Hatinya pun ikut bergejolak. Hages tak bisa begitu saja menerima vonis dan berpikir untuk melawan.

Ia mengaku, momen ini memang menjadi titik terendah. Namun, sekaligus titik balik dalam hidupnya.”Saya merasa harus bangkit dan berjuang demi anak. Karena dia sendirian tanpa saya. Saya ingin lihat masa depan anak saya yang masih panjang. Itu akhirnya menjadi alasan saya bertahan hidup,” ucapnya. Hages menuturkan, keluarga berperan besar dalam “kebangkitan” dirinya. Perempuan kelahiran Jakarta ini bersyukur, keluarga semua mendukung dan tak melakukan diskriminasi.

 Keluarga berpikir bahwa dia adalah korban dan butuh dukungan agar mampu berjuang melawan HIV. Semangat hidup juga terpacu karena pesan dari sang ibunda, Iin Charolina. ”Mama bilang, posisi mama jauh lebih menyedihkan karena harus melihat anak yang dia lahirkan dengan sehat justru sakit seperti ini. Ucapan mama itu seperti tamparan buat saya,” imbuhnya. Dari hal itu, Hages berkeyakinan untuk bangkit dari keterpurukan. Ia ingin membuktikan kepada orangtuanya. Jika dirinya mampu sehat dan mandiri berobat. Kini, keluarga mengaku salut dengan apa yang dia lakukan.

”Kalau bukan mereka siapa lagi yang jadi pasukan saya untuk berjuang. Alhamdulillah, setelah saya mulai berpikir positif, kabar baik datang karena anak saya dinyatakan nonreaktif ketika dia berusia 18 bulan,” sebutnya. Ibu dari dua anak ini mengatakan, HIV bukan lagi penyakit mematikan. Namun, lebih tepat masuk dalam kategori penyakit kronis. Layaknya hipertensi dan diabetes, penderita HIV harus konsumsi obat seumur hidup.

Sehingga jalan satu-satunya untuk berjuang hanyalah semangat hidup dan rutin mengonsumsi antiretroviral (ARV). ”Semangat hidup dan ARV harus seimbang. Dua hal itu berpengaruh pada jumlah sel kekebalan tubuh atau CD4. Kalau kita bahagia, angka CD4 naik dan begitu sebaliknya. Jadi, semangat hidup harus ada dan ARV yang mengontrol virusnya,” katanya. Jika keduanya tidak seimbang, tentu virus dapat muncul kembali dan dapat berkembang menjadi-jadi. Maka dari itu, ODHA wajib minum obat secara teratur dan tepat waktu.

Hages sendiri memutuskan minum obat sebanyak satu kali dalam sehari sekali. Obat ini bekerja selama 24 jam dalam darah. ”Kondisinya virus HIV tidak bisa hilang, tapi bisa pulih. Artinya virus tidak kambuh dengan cara menjaga CD4. Jadi, ARV mampu mengontrol virus. Dulu empat tahun awal menderita HIV, saya memilih tidak meminum obat. Ternyata gejala mulai terasa, seperti rasa gampang lelah dan sering diare,” terangnya.

Kini, terbukti kondisi Hages sangat baik. Dia beraktivitas normal dan mampu memiliki dua orang anak yang sehat. Hages mampu menemani tumbuh kembang anak dan menjalani perannya sebagai ibu. Dia bisa memberikan kasih sayang berupa peluk dan cium kepada anak layaknya ibu yang normal. ”Saya dulu hanya punya semangat hidup, tidak minum obat ARV membuat badan saya drop. Jadi, semangat hidup dan ARV harus seimbang. Tidak ada juga pantangan makanan yang penting harus bergizi,” ujarnya.

Namun, meski ada dukungan dari keluarga, tetap saja semangat berjuang hidup harus berasal dari ODHA sendiri. Sebab, percuma ada dukungan yang besar, rasanya akan mustahil jika ODHA tak mau berubah. Hages mengakui, stigma dan diskriminasi terhadap ODHA hingga kini masih ada. Namun sesungguhnya, ODHA juga yang harus mampu melawan pikiran negatif itu. ”Dalam pikiran mereka, HIV/AIDS adalah penyakit kotor dan aib keluarga. Jadi, mereka tertutup dan tidak mau membuka diri.

Apalagi jika mereka tinggal di kampung dengan pendidikan masyarakat kurang. Karena ketidaktahuan itu, mindset yang salah menciptakan stigma dan diskriminasi,” bebernya. Banyaknya kondisi ODHA yang masih prihatin membuat Hages mendirikan komunitas Kumpulan dengan Segala Aksi Kemanusiaan (Kuldesak). Berbasis di Margonda, Depok, komunitas ini berdiri sejak 2011. Sejauh ini, Kuldesak sudah menjangkau 700 ODHA dan mendampingi 40 anak dengan HIV sebagai asuhan. Kebanyakan dari mereka sudah yatim piatu.

”Saya ingin jadi role mode yang baik bagi kaum ODHA. Saya ingin buktikan kalau kita bisa bangkit dan berkarya seperti orang normal. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Jangan merasa sedih sendiri, pikirkan juga orang sekitar Anda. mereka punya hak untuk bahagia ketika melihat Anda sehat," tuturnya. Alasan lain, komunitas berdiri untuk mendorong pemerintah lebih memerhatikan kondisi ODHA. Hages merasa, banyak masyarakat dan pemerintah belum paham dengan HIV.

Bahkan, Depok sebagai kota penyanggah Ibu Kota tak memiliki layanan kesehatan untuk ODHA. Akhirnya, ia mengajak teman-teman lain membuat komunitas dan melakukan kampanye. Mereka berhasil mendorong pemerintah daerah dan layanan pengobatan ODHA mulai masuk sekitar 2013 kemarin. ”Saya ingin ODHA lain berpikir positif dan mau berjuang bersama. Paling tidak mendorong mereka untuk berani periksa diri dulu. Kalau memang positif, ayo jalani pengobatan bersama-sama. Hidup belum berakhir, kita masih bisa beraktivitas seperti orang lain," tegasnya.

Saat ini, Kuldesak memiliki beberapa tugas utama. Seperti penjangkauan, pendampingan, study club, dan lain-lain. Di mana penjangkauan dilakukan bersama dinas sosial ke tempat-tempat sebaran kaum berisiko HIV. Kemudian, roadshow ke sekolah kerja sama dinas pendidikan dan dinas kesehatan setempat. Bahkan, Kuldesak juga menjalankan konsep social entrepreneurship untuk memberdayakan teman-teman ODHA.

”Tantangannya susah bagi seorang ODHA untuk menerima status itu. Akhirnya, mereka sulit diajak berobat dan mengubah kehidupan mereka jadi yang lebih baik. Tapi lama-kelamaan kami harus dorong terus sampai mereka mau mengerti dan berubah,” imbuhnya. Pihaknya terus melakukan sosialisasi bahwa hidup ODHA harus berubah. Kalau belum terinfeksi segera lakukan pencegahan. Bagi yang positif, rutin konsumsi obat dan kumpulkan semangat hidup.

Ia berpesan, agar ODHA harus punya alasan untuk bertahan hidup. Sehingga, mereka punya dorongan survive. ”Kemudian, mari mendukung, jangan menghukum ODHA. Mereka menerima hidupnya saja sulit. Apalagi kalau seandainya ada tambahan hukum sosial. Padahal mereka punya hak yang sama. Jauhi virusnya, bukan orangnya," tutupnya. (riz/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Februari 2018 11:05
Subuh Perdana Novel Baswedan di Masjid Al Ihsan setelah Teror Air Keras

Tidak Trauma, Hanya Pandangan Mata Kabur

Setelah lebih dari sepuluh bulan, Novel Baswedan kembali berjalan kaki melewati jalan tempat dia disiram…

Sabtu, 17 Februari 2018 08:09

Motivasi Warga Binaan Rutan, sampai Resmikan Musala di Pelosok

Di luar ingar-bingar aksi panggungnya, Wali Band memiliki sejumlah kegiatan sosial. Dengan bendera Wali…

Sabtu, 17 Februari 2018 06:34

Ubah Metode Tanam, Produksi Naik Dua Kali Lipat

Padi menjadi salah satu komoditas terpenting dalam struktur pangan nasional. Tak terkecuali di Kaltim.…

Sabtu, 03 Februari 2018 01:47

Cepat Haus dan Sering Buang Air Kecil, Tanda Harus Waspada

Penyakit diabetes mellitus (DM) mengincar seluruh kalangan. Tak kenal muda, tua sampai anak-anak, semua…

Senin, 29 Januari 2018 08:26

Bertahun-tahun Tersesat, Lupa Nama dan Alamat

Hampir semua orang ingin berumur panjang. Tapi, tak selamanya anugerah itu membuat orang bahagia. Di…

Minggu, 28 Januari 2018 07:44

Ada Timses Tak Bisa Bikin Surat Elektronik

Sistem baru pelaporan harta kekayaan peserta pemilihan kepala daerah (pilkada) yang berbasis online…

Sabtu, 27 Januari 2018 07:02

Merasakan Serunya Memacu Ski-doo

Setelah kunjungan ke pabrik alat-alat berat, saatnya menjajal lokasi wisata. Menikmati keseruan ski-doo…

Sabtu, 27 Januari 2018 06:53

Tumbuh Subur, Suplai Hasil Panen ke Hotel dan Perusahaan

Tak banyak yang tahu kegiatan narapidana di dalam lapas. Selama ini, mereka hanya diidentikkan terisolasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .