MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Jumat, 01 Desember 2017 07:32
SENGON OH SENGON

PROKAL.CO, CATATAN: CHRISNA ENDRAWIJAYA
(*) Penulis adalah Direktur Utama Kaltim Post

ENAK sekali jualan olahan sengon. Itu terlintas saat ke PT Kayu Sengon Industri (KSI), Semarang, Senin lalu. Berapapun Anda punya, pasar Asia siap menyerap. Wong Tiongkok saja butuh 1.000 kontainer per bulan. Apalagi sengon memang bikin ngiler. Ampasnya saja bisa disusun-susun jadi lempengan. Lantas dijual, dan laku!

                                                                                                    ***

Bagi awak Kaltim Post Group, datang ke perusahaan di Jalan Soekarno-Hatta Km 32, Harjosari, Bawen ini, bukanlah hal baru. Sudah beberapa kali. Namun tiap kali datang, selalu bikin iri. Apalagi si empunya dulu juga tinggal di Balikpapan. Dialah Sie Velly Ongkowijoyo, 60 tahun. Dia dan delapan saudaranya puluhan tahun lalu, tinggal di Balikpapan sebelum pindah ke Surabaya pada 1996. Hijrah untuk memburu rezeki lebih besar.

Di kota markas Jawa Pos itu, Velly mulai menekuni potensi bisnis kayu. Dia masuk ke perusahaan mebel rotan, keluar, lalu masuk lagi ke pabrik kayu olahan. Tiga tahun berselang, dia pindah ke Temanggung. Terus menyambung ke perusahaan kayu. Namun, kali ini dia main sengon. Setelah cukup paham, lantas memulai trading kayu olahan. Mulai mapan, hingga pada 2008 mendirikan pabrik sengon pertamanya.

Ya di tempat yang saya kunjungi ini. Terletak 30-an menit dari Bandara Ahmad Yani. Kini, Velly punya 3 pabrik kayu olahan sengon. Dengan 2.000-an pekerja, pabrik ini membeli sengon untuk diolah menjadi lempengan kayu jenis particle board, blockboard, dan plywood. Sebulan minimal, puluhan ribu batang sengon dibeli. Rata-rata dari Sumatra, Papua, dan Kalimantan.

Cukup tentang Velly. Kali ini, saya ingin sharing tentang sengon. Kayu yang membuat Velly sukses dan menikmati hidup. Saat diskusi dengan Velly, dulu dia butuh modal sekitar Rp 15-20 miliar untuk membangun pabrik sengon pertamanya itu. Itu pada 2008 lalu. Belum termasuk lahan. Bila ini diseriusi, keuntungannya cukup menggiurkan. Dari satu pabrik ini, 100 kontainer olahan sengon bisa Velly ekspor.

Tujuan utama ke Jepang. Sebagian ke Tiongkok, Hong Kong, Thailand, dan negara-negara Asia lainnya. Nilai perputaran uangnya mencapai Rp 25 miliaran sebulan.

Namun agar bisa berkelanjutan, kualitas kayu olahan harus nomor 1. Terutama bila pasar incaran adalah Jepang. Negeri Matahari Terbit sangat mengutamakan fisik. Cacat sedikit, ditolak. Bila berkali-kali terjadi, eksportir pasti di-blacklist.

Baru-baru ini, pengusaha kayu besar lainnya di Semarang merasakan apesnya. Bisnisnya yang sudah terkenal besar, kandas. Sudah setahun terakhir ini, kabarnya dia pindah haluan. Sementara kapok. Belajar dari Velly, dia memisahkan produknya. Yang terbaik dikirim ke Jepang. Yang agak baik dikirim ke Tiongkok, Hong Kong, Thailand, dan lainnya. Sehingga, tidak tercampur dan kualitas tetap terjaga. Bahkan ampasnya, atau potongan-potongan sengon kecil berukuran balok, bisa dijual juga.

Caranya, disusun-susun hingga membentuk lempengan segi empat yang ukurannya mirip plywood, atau sekitar 120x240 cm. Agar potongan-potongan tak kelihatan, kemudian dilapis veneer/lapisan kayu. Tampilan luar “ampas” tadi akhirnya mirip particle board. Tak banyak, sebulan hanya tiga kontainer yang dihasilkan Velly untuk jenis ini. Tapi yang jelas, rasanya tetap untung bila “ampas” ada yang beli, he-he.

Nah, bicara bisnis milik Velly, maka polanya beli sengon, olah, ekspor. Namun, bila Anda berpikir untuk menjadi pemasok pohon sengon saja, bisa juga. Sama menggiurkannya. Polanya lebih simpel. Cukup punya lahan, tanam, panen lima tahun kemudian. Saking gampangnya, biasanya para pensiunan ditawari bisnis ini sebelum purnatugas. Misalnya punya lahan 50 hektare. Per hektare bila menjaga jarak per pohon 3x3 meter, maka bisa ditanam 1.100-an pohon. Maka dalam 5 tahun, akan panen 55.000 batang pohon.

Tinggal perkalian dan jangan lupa dengan pengurangan biaya produksi, angkanya bisa membuat tersenyum. Sebagai contoh, untuk diameter 25 cm (biasanya butuh 2-3 pohon), dihargai lebih dari Rp 800 ribu. Memang, di bisnis apapun, tentu ada risiko. Ada hal-hal yang mengganggu. Misalnya dicuri orang, ditebang orang, kebakaran, dan lainnya. Tapi, bisnis apa sekarang yang tak berisiko? Intinya bila ingin maju, segera action. Apapun bentuknya. Sengon oh sengon, rasanya ingin kau kupeluk! (*/riz/k15)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .