MANAGED BY:
SENIN
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Kamis, 30 November 2017 07:06
Akui Ada Lonjakan, Tetap Lebih Suka Diversifikasi Pasar

Jaringan Bisnis Astra Bicara Peluang dari Pemulihan Batu Bara

BINCANG RINGAN: Dari kanan, Lindung Karuniawan, Kurnia Indra Pramana, dan Hasmulyadi, saat berbincang dengan Kaltim Post di Samarinda, Selasa (28/11) lalu. (ISTIMEWA)

PROKAL.CO, Tahun ini, banyak bidang usaha di Kaltim menyambut pemulihan harga batu bara. Meski sebagian besar enggan kembali bergantung. Sikap ini juga diambil oleh manajemen jaringan bisnis Astra Internasional di Samarinda.

TIGA jaringan itu adalah Astra International Daihatsu, Astra Credit Companies, dan Asuransi Astra. Ketiganyasama-sama tak menampik, rebound harga batu bara hingga menyentuh level USD 93 per metrik ton, memberi dampak besar pada kinerja bisnis.

Dimulai dari jasa pembiayaan atau leasing, yang meningkat hingga 20 persen dibanding tahun lalu. Branch Manager ACC Samarinda, Hasmulyadi mengatakan, sepanjang 2015 dan 2016 lalu, kinerja mereka turun rata-rata turun 5 persen. Meski tak terlampau tajam, dia tetap menilai hal tersebut sebagai anomali dalam bisnis jasa keuangan.

“Semester II tahun ini, pertumbuhan leasing ACC tumbuh lebih dari 20 persen. Kontribusi pertumbuhan itu banyak berasal dari alat berat,” ungkapnya saat bincang ringan dengan Kaltim Post, Selasa (28/11) lalu.

Dia menyebut, pasar alat berat di Kaltim memang bergantung pada bisnis batu bara. Sehingga tak heran, membaiknya harga emas hitam membuat permintaan kredit alat berat melalui pembiayaan ACC ikut naik.

Namun demikian, pangsa pasar terbesar ACC saat ini adalah dari kendaraan penumpang. Segmen itu, kata Hasmulyadi menyumbang 60 persen pembiayaan mereka.

Leasing memang sangat bergantung pada produk mobil. Jika produknya bagus, peningkatan orang yang ingin kredit mobil pasti meningkat,” tuturnya.

Tahun depan, dia mengaku optimistis kinerja ACC di Samarinda lebih baik. Optimisme itu berdasar pada kian banyaknya varian mobil baru dari kalangan produsen. Ditambah, pulihnya ekonomi Kaltim lantaran harga batu bara yang kembali menanjak.

Meski demikian, Hasmulyadi mengaku, perusahaan yang dipimpinnya enggan bergantung pada bisnis tambang. Dia mengatakan, Kaltim perlu melakukan transformasi jangka pendek, menengah, maupun panjang.

“Harus bisa melakukan diversifikasi ekonomi. Kalau masih mau menjual mentah, lebih baik lupakan saja, kendati harganya kini membaik. Salah satu yang terpenting adalah SDM. Kalau bagus SDM, lebih mudah mengelola batu bara dengan diversifikasi produk. Kalau terealisasi, semua bisnis ikut terangkat,” tuturnya.

Ditemui bersama, Branch Manager Asuransi Astra, Lindung Karuniawan mengatakan, jika harga batu bara terus membaik, diprediksi tahun depan asuransi kendaraan juga kan meningkat hingga 8 persen. “Tahun lalu, premi asuransi kami di Kaltim sudah Rp 58 miliar,” ujarnya.

Dia mengatakan, asuransi otomotif tentu berharap pada penjualan mobil, termasuk yang melalui kredit. “Kalau bisnis batu bara bangkit, banyak bisnis ikut terkerek. Kami optimistis tahun depan lebih baik,” tuturnya.

Menurutnya, Kaltim sudah terlalu lama mengandalkan tambang. Terlihat, saat harga komoditas itu naik, semua bisnis ikut terangsang naik. Sebaliknya, saat harganya turun, banyak bisnis lesu.

“Sekarang memang dalam tren membaik. Tapi, bisnis batu bara tetaplah bukan pilihan bagus bagi Kaltim. Kalau masih menjual komoditas secara mentah, maka berisiko tinggi, karena harganya dapat berfluktuasi seperti beberapa tahun lalu,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ekonomi Kaltim sejak 2013 sampai tahun lalu harusnya menjadi pembelajaran untuk menyiapkan diversifikasi. Untuk mewujudkannya, memang perlu waktu. Namun, bisa dimulai dengan meng-upgrade mutu SDM.

 “Kita tidak bisa tinggalkan. Tapi, bisa dikelola dengan sungguh-sungguh. Seperti menyiapkan bisnis turunan,” tutupnya. (*/ctr/man/k15)


BACA JUGA

Jumat, 19 Januari 2018 08:18

Putar Omzet Puluhan Juta dan Ciptakan Lapangan Kerja

Keterbatasan fisik kerap dianggap membatasi kesempatan bersaing dengan yang lain. Namun hal itu dibantah…

Jumat, 19 Januari 2018 08:14

Pilkada Tak Hambat Investasi

JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi pertumbuhan ekonomi…

Jumat, 19 Januari 2018 08:13

Bappenas: Efek Krisis 1998

JAKARTA - Upaya pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur bukan tanpa alasan. Pasalnya, rasio…

Jumat, 19 Januari 2018 08:12

Pajak Berat, Jenis Produksi Mobil Terbatas

JAKARTA - Kinerja negara tetangga dalam produksi otomotif diakui Gabungan Industri Kendaraan Bermotor…

Jumat, 19 Januari 2018 08:11

Tahun Ini Pemerintah Lelang 43 Blok Migas

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) alan melelang 43 blok minyak dan gas (migas)…

Kamis, 18 Januari 2018 07:33
PAD Restoran Naik 100 Persen dalam Tiga Tahun

Masyarakat Konsumtif, Peluang di Depan Mata

SAMARINDA - Tak hanya menggenjot pertumbuhan ekonomi, sektor makanan dan minuman menjadi andalan Pemkot…

Kamis, 18 Januari 2018 07:31

LCGC Sumbang 75 Persen Pangsa Pasar

JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan penjualan kendaraan…

Kamis, 18 Januari 2018 07:28

Terkerek Tahun Politik

PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) serentak tahun ini berdampak beragam terhadap masing-masing sektor…

Kamis, 18 Januari 2018 07:26

Direct Call Tak Kunjung Jalan

BALIKPAPAN - Upaya mempercepat realisasi pelayaran internasional langsung atau direct call di Balikpapan…

Kamis, 18 Januari 2018 07:24

Peluang Menang Masih Terbuka

BALIKPAPAN - Program Strukvaganza sudah memasuki bulan ketiga sejak diluncurkan pada November lalu.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .