MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 26 November 2017 07:49
Investasikan Gaji hingga Cuti

Siasat Hilangkan Rasa Jenuh saat Kerja

PROKAL.CO, Para pekerja, khususnya generasi millennial yang kini berusia 16–34 tahun cepat merasa bosan dan jenuh. Hal itu membuat mereka memutuskan berhenti bekerja dan mulai berwirausaha.

KONDISI tersebut tergambar dari hasil survei yang dilakukan Tim Riset Kaltim Post. Sebanyak 74,7 persen para pekerja millennial menjawab “Ya” ketika ditanya tentang niat mereka untuk berhenti bekerja. Ada beberapa alasan sehingga mereka memutuskan sikap itu.

Sebanyak 40 persen beralasan karena pendapatan yang minim. Kemudian 25,5 persen kerena tingkat jenuh yang tinggi dengan pekerjaannya saat ini. Hanya 22,7 persen yang ingin berhenti bekerja karena alasan pekerjaannya sekarang tidak sesuai dengan keahlian. Sisanya 11,8 persen karena merasa terlalu banyak tekanan di tempat kerja.

Namun, masih ada 25,3 persen dari para pekerja generasi millennial yang ingin bertahan dengan pekerjaannya saat ini. Mereka mayoritas bekerja dengan menginvestasikan gajinya untuk menjadi modal usaha pada masa mendatang. Investasi itu 38,1 persen ditanamkan generasi millennial melalui emas. Kemudian sebanyak 36,1 persen melalui investasi tanah, dan sebanyak 25,8 persen melalui investasi tabungan.

Koordinator Tim Riset Kaltim Post Rizky Rizkyawandy menyebut, survei dilakukan kepada 110 responden yang berasal dari Samarinda dan Balikpapan. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian yakni purposive sampling. Mayoritas sampel merupakan karyawan swasta sebanyak 68,2 persen dan pegawai negeri sipil (PNS) 29,1 persen.

“Kami menemukan 76,4 persen pekerja dari generasi millennial cepat jenuh dengan pekerjaannya saat ini,” beber pria yang akrab disapa Wandy tersebut.

Dari hasil survei itu, tambah dia, pekerja generasi millennial menyiasati jenuh dengan sejumlah cara. Sebanyak 38,2 persen di antaranya mengambil cuti kerja. Kemudian 18,2 persen dengan mendengarkan musik. Lalu, 13,6 persen lagi menyiasati dengan bermain game di smartphone. (lihat grafis)

“Mereka yang tak tahan dengan kejenuhan itu memutuskan berhenti bekerja. Mereka mencoba peruntungan dengan memulai usaha. Hasil survei kami 48,5 persen atau mayoritas di antara mereka memilih usaha di bidang kuliner,” paparnya.

Dia menyebut, survei yang dilakukan Tim Riset Kaltim Post menggunakan teknik pengambilan sampel nonprobabilitas. Artinya, peluang setiap orang untuk terpilih menjadi sampel tidak sama.

Dalam teknik sampling nonprobabilitas perhitungan margin of error tidak dicantumkan. Meski demikian, sebut dia, hasil survei ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh pendapat masyarakat umum yang telah bekerja di Samarinda dan Balikpapan. “Tujuannya untuk melihat persepsi generasi millennial di tempat kerja yang kerap jenuh dan bosan, serta cara mereka mengatasinya,” pungkas dia.

Psikolog dari Biro Psikologi Mata Hati Samarinda Yulia Wahyu Ningrum mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan kejenuhan. Seperti disebabkan pekerjaannya tidak sesuai dengan karakter si pegawai.

Misalnya, ujar dia, pekerja tersebut tipe out door atau yang berhubungan dengan orang banyak, ramai, dan dinamis. Tapi ditempatkan di bagian gudang atau admin, dengan pimpinan yang terlalu kaku dan kurang mampu mengakomodasi kemampuan, serta bakat atau ide-ide kreatif bawahannya. “Sementara gaji kurang. Tidak sesuai dengan beban pekerjaannya yang banyak,” sebut Yulia.

Penyebab kejenuhan berikutnya, menurut dia, karena penghargaan yang kurang dari pimpinan. Pekerja sudah loyal dan berdedikasi besar dengan lembur, banyak menghasilkan laba, namun tetap saja kurang dihargai atasan atau perusahaan. Sementara perusahaan hanya mengukur dari absen semata. Pimpinan perusahaan sama sekali tidak mempertimbangkan dedikasi pekerja tersebut.

“Parahnya kondisi itu ditambah dengan pimpinan yang cuek dan kurang memahami keperluan bawahan. Bahkan, hanya memberikan punishment tanpa diberikan reward. Akhirnya staf jadi lelah, stres, dan depresi karena tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ya berhenti kerja,” paparnya.

Tak berhenti sampai di situ. Disebutkannya, perilaku atasan yang tidak adil atau kurang mampu melihat kompetensi bawahan turut menjadi penyebab. Misalnya yang selalu mendapat jatah perjalanan dinas selalu orang sama.

Kemudian minimnya jenjang karier yang jelas. Pegawai bertahun-tahun hanya jadi staf di tempat dan posisi yang sama tanpa ada perubahan atau mutasi, rolling atau promosi.  Sehingga, dia pastikan pegawai yang di posisi dan tempat sama yang lebih dari empat tahun bakal jenuh. Terutama di ruangan dengan dekorasi yang sama berpuluh tahun. Bahkan, membuat karyawan mudah emosi dan stres.

“Tidak sedikit pimpinan memperlakukan pekerja tidak adil. Mereka bekerja puluhan tahun, namun ketika melakukan kesalahan pimpinan langsung marah atau memberikan punishment berat. Padahal hanya kesalahan kecil. Marah tanpa mempertimbangkan hal baik lainnya,” tuturnya.

Demi menghindari kejenuhan tersebut, dia menyarankan, perusahaan harus mampu menyesuaikan karyawan dengan pekerjaan yang tepat. Sesuai dengan passion si karyawan. Caranya melalui proses rekrutmen yang benar. Job fit. Itu penting untuk menyesuaikan karakter atau kepribadian karyawan dengan pekerjaan yang ada.

Kemampuan yang sesuai kompetensi karyawan akan membuat pekerja lebih bertanggung jawab. “Misalnya si A memiliki IQ di atas rata-rata normal. Mereka banyak ide dan kreatif. Namun bekerjanya sebagai administrasi dengan pola kerja yang harus menyesuaikan dengan pimpinan. Semua ide yang dimiliki harus izin pimpinan. Mereka sudah pasti jenuh,” pungkasnya. (*/him/rom/k9)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:40

Waduh, Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Tembus Rp 5.410 Triliun..!!

JAKARTA- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410 triliun (kurs…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:14

MAAF..!! Tol Balikpapan - Samarinda Molor, Ngga Jadi Diresmikan Jokowi

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda batal diresmikan akhir tahun ini. Padahal mantan Gubernur Kaltim…

Senin, 15 Oktober 2018 11:42
Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo

Lestarikan Budaya Batak karena Cinta

Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:11

INNALILLAHI..!! 12 Siswa Tewas Diterjang Banjir

JAKARTA – Kelas sore itu berubah jadi tragedi. Puluhan siswa yang tengah belajar diterjang air…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:09

Premium Tak Naik, Tapi Pasokan Dikurangi?

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai,…

Minggu, 14 Oktober 2018 08:06

Sikat Persebaya, Borneo FC Bidik Papan Atas

SURABAYA – Gairah Borneo FC kembali membuncah. Tekad bersaing di papan atas makin kuat. Suntikan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:10

Rumah DP 0 Persen Diluncurkan Anies

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan berharap rumah DP 0 persen dapat meringankan warga…

Sabtu, 13 Oktober 2018 10:28

Dua Kali Dipanggil Mangkir, Ketua DPRD Itu Dibawa Polisi

JAKARTA – Isu bahwa Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif ditangkap polisi terjawab. Ya, Mabes Polri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .