MANAGED BY:
JUMAT
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 23 November 2017 09:05
Korban Tuntut Ganti Rugi Ditebus

Kecewa Bos Tisa Dihukum Terlalu Ringan

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Dua tahun sudah korban gagal umrah dari PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa) berharap. Ganti rugi biaya yang mereka keluarkan tak kunjung ditebus hingga bos agen perjalanan wisata religi itu duduk di kursi pesakitan. Naga-naganya, para korban bakal gigit jari.

Dua hari lalu, sidang putusan kasus penipuan umrah untuk terdakwa Mawan Rosmawan dan Julianto Harahap digelar di Pengadilan Negeri Bekasi. Mawan yang merupakan dirut Tisa divonis hukuman penjara 2 tahun 8 bulan.

Sedangkan Julianto Harahap selaku komisaris Tisa divonis penjara 2 tahun 3 bulan. “Putusan hukuman tersebut diambil berdasarkan hasil pertimbangan majelis,” terang Hakim Ketua Krosbin Lumban Gaol, dua hari lalu.

Meski telah dihukum, korban tetap saja masih tak terima. Penyebabnya ganti rugi belum juga dibayar. Endang, korban asal Balikpapan, mengatakan pesimistis ganti rugi bisa ditebus oleh pihak Tisa. “Tuntutan kami sebenarnya masih sama (minta ganti rugi dibayar). Tapi kami lihat tak ada harapan. Kami tak bisa apa-apa karena semua urusan itu terpusat di Jakarta. Saya berusaha kejar ke Jakarta tapi tak ada hasil,” bebernya.

Apakah akan melakukan langkah hukum, dia mengatakan, menyerahkan hal itu kepada tiap-tiap jamaah. Sebab, 2015 lalu pernah melapor ke polisi tapi tak ada tindak lanjutnya. “Saya hanya memediasi. Saya juga dirugikan. Saya tak pegang data. Jamaah langsung transfer ke rekening Tisa,” katanya.

Hingga kini, tutur dia, belum ada sama sekali pengembalian dana dari Tisa untuk korban di Balikpapan. Dulu pernah menyegel rumah dan kantor Tisa di Balikpapan Baru. Ternyata semua diagunkan ke bank. “Kami pernah berupaya menelusuri aset. Ada alat berat tapi ternyata milik leasing,” beber Endang.

Korban lain, Susi, mengatakan, meski dirugikan, dirinya belum melapor ke penegak hukum. Dia dan suami juga tak mengikuti perkembangan berita Tisa. Susi menyatakan ikhlas menghadapi kondisi ini. Dia mengungkapkan, memperkarakan ke polisi hanya menghabiskan waktunya. “Kalau ada laporan lagi, lanjut saja terus,” ulasnya.

Susi menyebut, dengan kondisi seperti ini, tipis harapan uang bakal kembali. Karena itu, dia hanya pasrah kepada Tuhan. Dia justru berdoa supaya Mawan diberi umur panjang dan punya rezeki yang baik, sehingga mampu mengembalikan uang jamaah. Dia menunggu iktikad baik Mawan meski dia telah didustai. “Selama ini saya sabar. Setelah ditipu, alhamdulillah rezeki saya tidak berkurang. Saya sudah naik haji,” tutur dia.

DIBAWA KE KALTIM

Kepolisian di Kaltim kini sudah punya dasar untuk membawa Mawan Rosmawan dan Julianto Harahap ke Benua Etam. Pijakan hukum tersebut tak lain dari putusan Pengadilan Negeri (PN) Bekasi yang menyebutkan keduanya terbukti bersalah telah menggelapkan uang umrah Rp 1,4 miliar milik saksi korban Usman Yakub.

“Sudah ada putusan pengadilan terhadap mereka (Mawan dan Julianto). Sekarang giliran polisi di Kaltim untuk memproses keduanya,” ucap Usman saat dihubungi kemarin (22/11).

Fakta persidangan terpenting yang menurut Usman jadi acuan adalah pengakuan Mawan bahwa tanpa sepengetahuan para jamaah umrah, uang miliaran diinvestasikan ke perusahaan penyewaan alat berat batu bara di Samarinda dan Sumatra Selatan. “Saya sangat yakin bukan uang saya saja, tapi milik ribuan jamaah Tisa lain,” sambung pria berdarah Aceh itu.

Menurut Usman, Mawan dan Anto, panggilan Julianto, dijerat lagi dengan Pasal Penipuan dan Penggelapan. Untuk mengungkap ke mana saja uang jamaah dilarikan, kepolisian harus menjerat mereka dengan Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang atau TPPU. Selain itu, tambah Usman, harus diungkap pula siapa pihak lain yang terlibat kasus Tisa yang terjadi di Kaltim.

“Saya dengar ada keterlibatan adik Mawan. Dia bahkan sempat diperiksa polisi di sana (Polres Balikpapan),” bebernya seraya menyebut pria tersebut berinisial HH. Soal peran aktif HH dalam kasus penggelapan uang jamaah umrah Tisa di Kaltim dibenarkan Endang Susilowati, korban Tisa asal Balikpapan. “Benar dia sempat diperiksa di Polres Balikpapan karena pernah jadi kepala cabang,” ucapnya dihubungi lewat telepon.

HH, tambah Endang, adalah pria yang pertama merintis bisnis Tisa di Kaltim. Bersama Mawan, dia sempat membuat surat perjanjian untuk mengganti seluruh biaya umrah korban Tisa. “Yang diinginkan para jamaah itu uangnya kembali,” katanya.

Memang, selama ini baik Mawan maupun Anto mengatakan tak punya aset lagi yang bisa digunakan untuk mengganti uang jamaah yang ditaksir mencapai Rp 80 miliar itu. Namun, kepolisian dengan kewenangan yang dimiliki dimungkinkan menelusuri aset keduanya, untuk kemudian diserahkan kepada para jamaah.

KORBAN BINGUNG

Dilla, korban penipuan Tisa, mengutarakan kecewa dengan putusan hakim terhadap Mawan dan Anto yang dinilai terlalu ringan. Namun, dia saat ini tidak bisa berbuat banyak. “Ya kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi,” lirihnya saat dihubungi Kaltim Post kemarin.

Dia mengatakan, setelah sidang putusan tersebut, pihaknya bersama korban lain sepakat akan menunggu masa hukuman Marwan dan Anto selesai. Lalu, akan kembali membuat laporan bersama-sama terkait kasus ini. “Kemarin (dua hari lalu) di grup WhatsApp banyak yang bilang kita tunggu dua tahunan sampai masa tahanannya selesai. Terus kami mengajukan laporan lagi,” tuturnya.

Di sela obrolan, Dilla menceritakan, sebenarnya, ingin menuntut ganti rugi terhadap kedua terdakwa. Namun, dia dan keluarga masih awam soal hukum. Jadi, belum mengetahui jalur-jalur untuk menuntut ganti rugi itu.

Oktober 2014, Dilla menyampaikan sudah mendaftarkan diri mengikuti paket umrah Tisa yang berkantor di kawasan Duren Tiga, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Dilla mendaftarkan pula seluruh keluarganya yang berjumlah empat orang. Tisa Tour saat itu mematok harga paket umrah Rp 18 juta per orang dan dijadwalkan berangkat April 2016.

“Sebelumnya, kami sempat dihubungi untuk menambah uang yang akhirnya masing-masing paket senilai Rp 24 juta per orang. Setelah kami tambah, ternyata pas mendekati hari H tidak ada kabarnya,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Yuli yang juga korban Tisa Tour. Saat ditemui Kaltim Post, dia mengatakan heran dengan putusan hakim. “Kok jadi sama ya hukumannya antara tuntutan jaksa dengan putusan hakim?” tanyanya heran.

Menurut dia, putusan hukum ini seharusnya lebih berat dari yang diajukan oleh jaksa. Tapi, pihaknya berusaha untuk menerima dan ikhlas dan menghormati proses hukum yang ada. “Kalau di Bekasi sudah putusan. Nanti lihat saja bagaimana kasus yang di Polda Metro Jaya. Saya ikuti saya perkembangannya,” pasrahnya.

Sementara itu, kepada Kaltim Post, Anto menyatakan bingung harus menghadapi proses hukum yang kemungkinan besar juga akan dilakukan di Kaltim. “Enggak tahu, bagaimana nanti. Saya ikuti perkembangan kasusnya saja,” jawab Anto setelah sidang di Pengadilan Negeri Bekasi.

Dengan kondisi itu, Anto memohon seluruh korban Tisa agar merelakan kerugian yang diprediksi mencapai puluhan miliar rupiah itu. “Saya hanya bisa memohon maaf dan adanya keikhlasan dari semuanya (korban),” ucapnya. Sementara Mawan yang ada di samping Anto, hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan bekas bawahannya itu.

Sebab, jika ganti rugi yang tetap dituntut, Anto menyebut kini sudah tak ada lagi aset milik mereka. Termasuk bangunan sekolah di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, yang disebut-sebut masih milik Tisa. “Sudah diambil (disita) semua,” ucapnya lirih.

Diketahui, sejak akhir tahun lalu, nama Tisa Travel jadi sorotan. Masalahnya, calon jamaah umrah se-Indonesia periode Desember 2015 hingga April 2016 yang seharusnya berangkat, dibatalkan sepihak oleh pengelola jelang hari keberangkatan. Padahal, calon jamaah sudah melunasi pembayaran. Jamaah asal Kaltim bahkan sudah merampungkan kegiatan manasik umrah di Asrama Haji Batakan, Balikpapan.

Peristiwa gagal berangkat ala Tisa Travel mengakibatkan ribuan calon jamaah ibadah umrah gigit jari. Khusus Kaltim, korbannya mencapai 1.300 orang dengan nilai kerugian puluhan miliar rupiah. (*/hdd/pra/sar/rom/k18)


BACA JUGA

Kamis, 14 Desember 2017 09:27
Putusan Bebas Abun dan Elly, Jaksa Masih Buat Telaah Hukum

Sekarang Giliran KPK

SAMARINDA – Putusan Pengadilan Negeri (PN) Samarinda yang membebaskan Hery Susanto Gun alias Abun…

Kamis, 14 Desember 2017 09:23

Antisipasi Manuver di Sidang Setnov

JAKARTA – Setya Novanto (Setnov) tidak bisa berkelit ketika ketua majelis hakim Pengadilan Tipikor…

Kamis, 14 Desember 2017 09:19

Balsam Terkesan Panas, Berintan Berpeluang

Jalan Tol Balikpapan-Samarinda belum beroperasi. Singkatan Balsam sudah melekat di proyek yang ditarget…

Kamis, 14 Desember 2017 09:16

Sembilan Suspek Difteri di Kaltim

SAMARINDA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendapat laporan 11 provinsi tentang kejadian luar…

Kamis, 14 Desember 2017 09:14

Masuk Lebih 2 Ribu Setruk

ANTUSIASME tinggi ditunjukkan publik untuk mengikuti program Strukvaganza. Buktinya, jumlah setruk yang…

Kamis, 14 Desember 2017 09:13

Hasil Tangan Kreatif Perempuan Gaza yang Jadi Senjata Diplomasi

Sejumlah tokoh publik di Tanah Air mengirimkan dukungan mereka ke Palestina lewat syal. Ada cerita perjuangan…

Rabu, 13 Desember 2017 09:37

Tak Terbukti Memeras, Abun Bebas

SAMARINDA – Perkara dugaan pemerasan di Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran yang disidangkan di…

Rabu, 13 Desember 2017 09:27
Golkar Kaltim Belum Tentukan Arah Dukungan

Pasang Kriteria Ketum Baru

SAMARINDA – Partai Golkar segera menentukan babak baru masa depannya. Seluruh DPD Golkar provinsi…

Rabu, 13 Desember 2017 09:23

IUP Menunggak PNBP Rp 1 T

SAMARINDA – Pemblokiran aktivitas pemegang izin usaha pertambangan (IUP) menjadi cara baru pemerintah…

Rabu, 13 Desember 2017 09:21

Jangan Lupa Simpan Setruk Anda

BAGI Anda yang sudah mengikuti program Strukvaganza, setelah mengirim foto setruk via WhatsApp (WA),…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .