MANAGED BY:
JUMAT
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 23 November 2017 09:02
Presiden Selalu dari Satu Kelompok

Melihat 13 Tahun Demokrasi di Unmul

-

PROKAL.CO, SAMARINDA – Kericuhan dalam Pemilihan Raya (Pemira) Presiden BEM Universitas Mulawarman yang membuat sembilan mahasiswa terluka, bukan kali ini saja. Tragedi pada Senin (20/11) sore itu kerap mewarnai pesta demokrasi yang dimulai sejak 13 tahun silam. Perebutan kekuasaan yang diwarnai kekerasan tidak lepas dari pandangan bahwa presiden BEM adalah jabatan bergengsi. Banyak faksi mengincar posisi tersebut.

Mahasiswa, kampus, dan organisasi. Tiga hal yang sukar dipisahkan dalam kehidupan universitas. Di Universitas Mulawarman (Unmul) saja, ratusan organ menjadi wadah para mahasiswa berdinamika. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unmul adalah yang paling bergengsi, setidaknya di kalangan para aktivis kampus.

Bukan hanya satu-satunya lembaga eksekutif yang resmi mewakili kampus, presiden BEM dipilih langsung oleh mahasiswa se-universitas. Walaupun kenyataannya, tidak lebih dari 17 persen mahasiswa Unmul yang menggunakan hak suaranya.

BEM tidak seperti, katakanlah, unit kegiatan mahasiswa, yang ketuanya dipilih oleh anggota saja. BEM bak negara kecil di dalam kampus yang dipimpin pasangan presiden dan wapres beserta kabinet. Apapun itu, posisi presiden diakui bergengsi. Jabatan itu hanya dipegang satu dari 27 ribu mahasiswa Unmul dalam setahun.

Presiden BEM bersama kabinet juga berhak mengelola anggaran, yang pada periode 2016–2017, berjumlah Rp 83 juta. Seorang presiden juga sangat memungkinkan membuka akses ke petinggi daerah bahkan tokoh-tokoh nasional. Jalur itulah yang diidam-idamkan para aktivis terutama mereka yang getol berpolitik. “Jabatan presiden BEM merupakan pencapaian tertinggi dan prestisius,” aku Presiden BEM Unmul Norman Iswahyudi.

Memegang kewenangan, anggaran, dan jaringan yang luas, kursi presiden BEM menjadi incaran banyak organisasi kampus. Pemira pun sering menjadi arena adu kuat dan pengaruh berbagai organisasi baik ekstra maupun intrakampus. Kelompok-kelompok itu seperti partai politik yang mengusung calon dalam pilkada.

Mereka membentuk tim sukses. Tim hore-hore itu kebanyakan kader dari tiap-tiap organisasi. Perbedaan organisasi kampus dengan parpol sungguhan hanya pada pengusungan kandidat presiden. Semua kandidat Pemira Unmul adalah calon perseorangan. Untuk maju sebagai calon presiden, hanya perlu mengumpulkan 500 dukungan mahasiswa atau 1,8 persen pemilik suara.

Pemira pun kerap berjalan sengit sampai-sampai menimbulkan kekerasan di antara kelompok yang bersaing. Selain ribut-ribut mekanisme Pemira 2017 pada Senin lalu, kekerasan pernah terjadi pada 2013. Saat itu, satu kelompok menolak diadakan pemira dan membakar kotak suara. Mereka juga memukuli tim sukses pasangan calon yang akhirnya memenangi pemungutan suara.

Pemenang pemira pada 2013 itu, seperti seluruh presiden BEM Unmul yang pernah menjabat, berasal dari satu faksi di kampus. Sejak pemira pertama pada 2004, organisasi setingkat BEM sebelumnya vakum, pemenangnya didominasi kader Pusat Studi Islam Mahasiswa (Pusdima) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ini ibarat satu partai politik yang menang dalam setiap pemilihan presiden. Suatu fenomena yang tidak pernah terjadi di Pilpres Indonesia setelah masa reformasi.

Tidak sukar menelisik asal-muasal kekuatan tunggal di Unmul yang dipegang Pusdima dan KAMMI. Kaderisasi menjadi kunci utama. Sebagai organisasi, Pusdima, misalnya, mampu melahirkan kader yang loyal dan militan. Banyak yang mengira, keberhasilan itu tidak lepas dari program mentoring pendidikan agama Islam yang digagas Pusdima.

Meskipun tidak secara langsung, program mentoring yang diadakan sejak 15 tahun lalu, disebut-sebut menjadi sarana penting Pusdima menjaring pengikut. Program mentoring belakangan wajib diikuti seluruh mahasiswa setelah menjadi bagian Pendidikan Agama Islam dengan bobot 1 satuan kredit semester (SKS).

Program demikian tidak dimiliki kelompok lain, terutama organisasi ekstrakampus. Sebagai contoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Para mahasiswa yang menjadi kader organisasi ekstra kebanyakan bergabung atas dasar ketertarikan personal.

Hasilnya benar-benar terlihat saat pemira. Kader Pusdima dan KAMMI yang dikenal solid lewat proses pengaderan panjang, selalu memenangkan pasangan calon presiden yang diusung. Padahal, jumlah kader mereka tak banyak-banyak amat. Hanya sekitar 2 ribu orang dari 27 ribu pemilik suara di Unmul tahun ini. Namun, Pusdima dan KAMMI berhasil memenangkan 13 pemira selama 13 tahun.  Mayoritas mahasiswa Unmul memang tidak menggunakan hak suara alias golongan putih.

Kemenangan satu faksi secara berturut-turut di pemira bisa dibilang memunculkan polarisasi. Dalam setiap pemira, walaupun jumlah kandidat bisa tiga atau empat pasangan, hanya dua kubu yang sebenarnya bersaing. Kelompok Pusdima dan KAMMI sebagai petahana di satu kelompok, lawan mereka sebagai kelompok kedua. Pusdima dan KAMMI tidak bisa dibantah begitu mendominasi. Sampai-sampai, pemira pernah diikuti satu kelompok itu saja.

“Kader kami memang selalu terlibat dalam pemira. Kami menganggapnya penting,” terang Ketua Pusdima Unmul Haris Juhandana, ketika disinggung kesolidan organisasi. Haris menolak tuduhan bahwa Pusdima menjadi rezim organisasi kampus. Pemira, kata dia, dirancang dengan demokratis. Siapa pun boleh ikut beradu visi dan misi. Urusan menang dan kalah ditentukan dengan demokratis.

Mengenai tudingan mentoring disebut-sebut sarana Pusdima merekrut kader, Haris mengatakan tidak tepat. “Memang dulu memang kami membantu mengelola (mentoring) karena kami yang usulkan masuk (kurikulum),” jelas Haris. Tapi sekarang, sambung dia, tidak lagi di bawah Pusdima. Mentoring mata kuliah Pendidikan Agama Islam dikelola badan khusus yang otonom di bawah rektorat.

“Dikelola profesional tanpa kepentingan politik dari kelompok mana pun. Jika ada yang memanfaatkan, itu oknum,” tegas mahasiswa Fakultas Kehutanan angkatan 2013 tersebut.

Ketua KAMMI Kaltim Muhammad Teguh Satria tak membantah organisasinya mendambakan posisi presiden BEM. KAMMI memang mengirim dua kader untuk bertarung di Pemira Unmul 2017. “Posisi BEM Unmul sangat penting bagi kami karena berpeluang besar berkiprah di dunia kemahasiswaan,” terangnya.

Duduk di BEM juga memudahkan kader KAMMI mengadvokasi mahasiswa kampus dan masyarakat luas. “Selain meminimalisasi kebijakan-kebijakan mudarat,” terang mantan presiden BEM Unmul 2016 itu.

Sekretaris Umum HMI Cabang Samarinda M Iskandar Zulkarnain menilai, pernyataan adu kuat antar-organisasi kurang tepat. Pemira Unmul, kata dia, adalah pesta demokrasi. “Keterkaitan organisasi eksternal dalam hal ini HMI berada di pembahasan yang berbeda,” terangnya. HMI dalam pemira hanya memberi dukungan moral kepada kader yang maju. HMI tidak terjun langsung.

“Bukan latar belakang HMI yang mesti digarisbawahi, melainkan (pasangan calon) sebagai mahasiswa Unmul,” tutur pria yang akrab disapa Koko itu. Dia sekaligus menolak dikaitkan dengan keributan mahasiswa pada 20 November lalu. “Keributan itu murni antara tim sukses kedua calon,” pastinya. HMI juga tidak mempermasalahkan sistem pengaderan yang disebut-sebut timpang. “Selama ada aturan hukum yang jelas, tidak masalah,” terangnya.

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda Risal mengungkapkan, pemira menjadi pertarungan politik di kampus. Menyinggung pemira yang dimenangkan hanya satu kelompok selama 13 tahun, GMNI melihat secara universal. “Sekali lagi, pemira adalah pertarungan politik,” singkatnya. Jika organisasi internal menggalang dukungan lebih banyak karena menggunakan latar belakang kampus, Risal menganggap hal biasa. (*/him/*/fch/fel/k8)


BACA JUGA

Kamis, 14 Desember 2017 09:27
Putusan Bebas Abun dan Elly, Jaksa Masih Buat Telaah Hukum

Sekarang Giliran KPK

SAMARINDA – Putusan Pengadilan Negeri (PN) Samarinda yang membebaskan Hery Susanto Gun alias Abun…

Kamis, 14 Desember 2017 09:23

Antisipasi Manuver di Sidang Setnov

JAKARTA – Setya Novanto (Setnov) tidak bisa berkelit ketika ketua majelis hakim Pengadilan Tipikor…

Kamis, 14 Desember 2017 09:19

Balsam Terkesan Panas, Berintan Berpeluang

Jalan Tol Balikpapan-Samarinda belum beroperasi. Singkatan Balsam sudah melekat di proyek yang ditarget…

Kamis, 14 Desember 2017 09:16

Sembilan Suspek Difteri di Kaltim

SAMARINDA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendapat laporan 11 provinsi tentang kejadian luar…

Kamis, 14 Desember 2017 09:14

Masuk Lebih 2 Ribu Setruk

ANTUSIASME tinggi ditunjukkan publik untuk mengikuti program Strukvaganza. Buktinya, jumlah setruk yang…

Kamis, 14 Desember 2017 09:13

Hasil Tangan Kreatif Perempuan Gaza yang Jadi Senjata Diplomasi

Sejumlah tokoh publik di Tanah Air mengirimkan dukungan mereka ke Palestina lewat syal. Ada cerita perjuangan…

Rabu, 13 Desember 2017 09:37

Tak Terbukti Memeras, Abun Bebas

SAMARINDA – Perkara dugaan pemerasan di Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran yang disidangkan di…

Rabu, 13 Desember 2017 09:27
Golkar Kaltim Belum Tentukan Arah Dukungan

Pasang Kriteria Ketum Baru

SAMARINDA – Partai Golkar segera menentukan babak baru masa depannya. Seluruh DPD Golkar provinsi…

Rabu, 13 Desember 2017 09:23

IUP Menunggak PNBP Rp 1 T

SAMARINDA – Pemblokiran aktivitas pemegang izin usaha pertambangan (IUP) menjadi cara baru pemerintah…

Rabu, 13 Desember 2017 09:21

Jangan Lupa Simpan Setruk Anda

BAGI Anda yang sudah mengikuti program Strukvaganza, setelah mengirim foto setruk via WhatsApp (WA),…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .