MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 22 November 2017 10:06
Golongan Putih di Kampus Hijau

PROKAL.CO, BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman memang hanya sebuah organisasi. Namun, untuk lingkup kampus, BEM bisa dianggap negara kecil. Organisasi itu dipimpin presiden dan wakil presiden lengkap dengan kabinet berisi para menteri. Presiden dan wapres BEM, layaknya Republik Indonesia, dipilih melalui pemilihan umum yang disebut pemira, pemilihan raya.

BEM sering dijadikan miniatur perpolitikan. Badan tersebut, bagi sebagian mahasiswa, adalah tempat pendidikan politik. Bukan rahasia, banyak jebolan Unmul yang berkiprah sebagai politikus di Kaltim bahkan nasional. Pada masa lalu, mereka berkiprah di BEM Kampus Hijau, sebutan Unmul.

Namun, kualitas politik di kampus yang notabene diisi kaum intelek sangat jauh berbeda dari keadaan politik sebenarnya. Pemilu di kampus berkali-kali diwarnai keributan yang disertai kontak fisik di antara para pendukung capres dan cawapres. Bukannya adu visi dan misi, kaum intelektual justru beradu jotos.

Hal itu diperparah karena sebagian besar rakyat di “negara Unmul” tak acuh. Tingkat partisipasi tertinggi pemilu di Unmul dalam empat tahun terakhir hanya 17,37 persen, yaitu Pemira 2015. Mahasiswa yang masuk golput, golongan putih atau tidak menggunakan hak suara, sangat tinggi. Pada 2013, golput menembus 93,95 persen (lebih terperinci, lihat infografis). Begitu jauh dibandingkan Pemilihan Gubernur Kaltim pada tahun yang sama. Golput Pilgub 2013 hanya 45,29 persen.

Dari golput sebesar itu, satu pasangan calon hanya perlu 2 ribu suara untuk menang pemira. Padahal, jumlah mahasiswa Unmul yang tercatat saat ini menembus 27 ribu orang.  Dengan kata lain, paslon hanya perlu dipilih 7,4 persen dari total pemegang hak suara untuk menang.

Komisi Penyelenggara Pemilihan Raya (KPPR) Unmul sebenarnya sudah berusaha kuat. Mereka mengambil inisiatif pemilu online untuk mengurangi angka golput. Pemilik suara cukup memilih lewat perangkat telepon pintar masing-masing. Lebih dari itu, pemilu tidak perlu memakai kotak suara lagi. Kotak suara memang meninggalkan cerita Pemira Unmul yang sejak masa lalu sudah penuh kekerasan. Pada 2013, terakhir kali pemira konvensional di kampus, kotak suara dibakar oleh satu kelompok.

Belakangan, memilih melalui telepon pintar terbukti tidak ampuh. Golput tetap tinggi. Sementara keamanan fasilitas pemilihan selalu disoal para kandidat. KPPR memodifikasi kembali sistem pemilihan. Tahun ini, pemilik suara harus datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Namun, mereka tidak perlu mencoblos, cukup memilih lewat komputer yang disediakan panitia. Lewat cara itu, sistem keamanan yang disoal bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pemira juga hemat ongkos karena tidak harus mencetak surat suara.

Rektor Unmul Profesor Masjaya menjelaskan, semua rangkaian Pemira 2018 diatur sedemikian rupa agar berjalan baik. Namun, dia mengakui perjalanan pemilu tidak seperti yang diharapkan. Sebagai rektor, Masjaya tak bermaksud mengintervensi.

“Saya hanya menjaga agar kampus kembali kondusif,” tegasnya. (fch/him/fel/far/k8)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:40

Waduh, Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Tembus Rp 5.410 Triliun..!!

JAKARTA- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410 triliun (kurs…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:14

MAAF..!! Tol Balikpapan - Samarinda Molor, Ngga Jadi Diresmikan Jokowi

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda batal diresmikan akhir tahun ini. Padahal mantan Gubernur Kaltim…

Senin, 15 Oktober 2018 11:42
Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo

Lestarikan Budaya Batak karena Cinta

Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:11

INNALILLAHI..!! 12 Siswa Tewas Diterjang Banjir

JAKARTA – Kelas sore itu berubah jadi tragedi. Puluhan siswa yang tengah belajar diterjang air…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:09

Premium Tak Naik, Tapi Pasokan Dikurangi?

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai,…

Minggu, 14 Oktober 2018 08:06

Sikat Persebaya, Borneo FC Bidik Papan Atas

SURABAYA – Gairah Borneo FC kembali membuncah. Tekad bersaing di papan atas makin kuat. Suntikan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:10

Rumah DP 0 Persen Diluncurkan Anies

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan berharap rumah DP 0 persen dapat meringankan warga…

Sabtu, 13 Oktober 2018 10:28

Dua Kali Dipanggil Mangkir, Ketua DPRD Itu Dibawa Polisi

JAKARTA – Isu bahwa Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif ditangkap polisi terjawab. Ya, Mabes Polri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .