MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 19 November 2017 07:55
Dari Hobi, Bisa Berbuat Jahat

PROKAL.CO, BERPERILAKU jahat harus dicegah sejak usia dini. Sebab, mengatasi overkapasitas rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) tak hanya menambah jumlah penjara tersebut. Namun perlu pembinaan orangtua kepada anak agar tak melakukan aksi kejahatan.

Yulia Wahyu Ningrum, psikolog Biro Psikologi Matahati, menerangkan salah satu penyebab banyaknya orang di usia produktif melakukan kejahatan lantaran masih memiliki stamina yang bugar dan kuat. “Sementara untuk anak, biasanya karena iseng, coba-coba, dan pengaruh lingkungan,” bebernya.

Kebanyakan ada beberapa faktor orang di usia produktif (15–64) melakukan tindak kejahatan. Yakni, mayoritas orang di usia produktif sudah mengemban tugas sebagai tulang punggung keluarga. “Sementara lapangan pekerjaan dan mata pencarian cukup sulit,” ujarnya.

Sebagai tulang punggung keluarga tentu banyak hal yang mesti orang tersebut penuhi. Mulai susu anak, istri yang akan melahirkan bagi yang sudah berkeluarga, hingga kebutuhan hidup bagi para bujangan. Maka disimpulkan faktor ekonomi jadi penyebab.

Faktor ekonomi, menurut Yulia, tak hanya berhenti pada tuntutan keperluan keluarga. “Bisa juga karena tuntutan zaman sekarang,” kelakarnya. Ingin terlihat eksis memenuhi keperluan hobi, namun dari segi ekonomi tak mampu. Sehingga untuk memenuhi keperluan itu, seseorang bisa berbuat tindak kriminal.

Sementara faktor lainnya, pada usia produktif, emosi sangat mudah terpancing. Misal dengan alasan harga diri tak dihargai, mereka merasa harus memberi pelajaran kepada orang yang dianggap menginjak-injak harga diri mereka. “Cara memberi pelajaran biasanya dengan kekerasan, mulai memukul hingga membunuh,” ungkapnya.

Dikatakan, belum adanya lapas dan rutan khusus anak di Kaltim juga mesti menjadi perhatian pemerintah. Memang, tahanan atau narapidana anak ditempatkan di blok khusus di rutan atau lapas. Tapi hal tersebut tak menutup rapat kesempatan orang dewasa dan anak tersebut berinteraksi.

Dengan begitu, anak-anak ini banyak melihat dan belajar dari para orang dewasa di sekitarnya. “Sekali lagi, mayoritas anak-anak yang masuk rutan dan lapas melakukan kejahatan berawal dari coba-coba,” terangnya. Dengan ada interaksi penghuni penjara, yang ditakutkan, anak-anak itu jadi lebih memahami dunia kriminal. Bukannya makin baik, malah belajar menjadi “profesional”.

Sementara itu, pengamat sosial dari Universitas Mulawarman (Unmul) Sarosa Hamongpranoto menjelaskan, tindakan preventif dengan menjebloskan pelaku tindak kejahatan ke lapas atau rutan memang perlu. Juga dengan penambahan kapasitas rutan dan lapas pun perlu.

Harapannya, dengan kapasitas baru membuat dua lembaga tadi melakukan reformasi pembinaan tahanan dan narapidana. Mesti dilihat adalah kasus yang menjerat pelaku kejahatan tersebut. “Apakah pencurian, penyalahgunaan, dan peredaran narkoba, atau kasus lain. Ini yang mesti dipisahkan berdasar tindak kejahatan mereka. Apakah ringan, sedang, atau berat,” ujarnya.

Pada dasarnya, fungsi lapas dan rutan bukan lagi seperti penjara konvensional yang memberi jera pelaku kriminal dengan kekerasan. “Tapi lebih kepada pembinaan kepada warga binaan,” jelasnya.

Menurut dia, orang yang masuk lapas dan rutan tak seimbang dengan yang keluar. “Bahkan yang sudah masuk lapas, bisa kembali lagi,” ujarnya. Hal ini dikarenakan generalisasi tahanan dan narapidana. Sejauh ini, di Kaltim hanya kasus penyalahgunaan narkoba saja yang ada lapas khusus. Namun tidak berlaku untuk tindak pidana lain.

Klasifikasi tindak kejahatan ini bermaksud agar penanganannya berbeda-beda. “Jangan sampai yang sudah kelas kakap digabung dengan kelas teri. Dikhawatirkan yang kelas teri, keluar dari lapas akan menjadi lebih profesional melakukan aksi kejahatan,” terangnya. Warga binaan yang baru sekali melakukan tindak kriminal tentu berbeda penanganan dengan yang sudah malang-melintang di dunia kejahatan.

Sarosa meneruskan, masalah rutan dan lapas hanya masalah di hilir. Tentunya akar permasalahan yakni pembinaan di masyarakat mesti dilakukan. Bukan hanya di tingkat masyarakat berusia dewasa, melainkan sejak usia dini. 

Masalah overkapasitas di rutan dan lapas secara nasional agaknya sulit teratasi. Mengingat, tahanan dan narapidana yang masuk tak berbanding lurus dengan yang keluar. Dalam satu waktu, yang masuk lebih banyak dari yang keluar. Dan, itu berlangsung secara terus-menerus.

Menukil data Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kaltim, tahanan dan narapidana yang masuk ke rutan atau lapas dua kali lipat, bahkan hampir tiga kali lipat lebih banyak dari yang bebas. Sebab, jumlah penghuni baru dalam sehari berkisar 15–20 orang, sedangkan yang bisa menghirup udara segar rata-rata hanya 2–7 warga binaan pemasyarakatan (WBP). Dengan kondisi tersebut, terus terjadi penggelembungan WBP.

Selama tindak kejahatan marak terjadi di masyarakat, hunian akan semakin sesak. Itu diperkuat data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham. Per 16 November 2017, kondisi rutan atau lapas di Benua Etam masih overkapasitas. Dengan total tahanan dan narapidana sebanyak 8.787 orang. Sementara daya tampung hanya 2.513 orang. (*/fch/rom/k9)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:40

Waduh, Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Tembus Rp 5.410 Triliun..!!

JAKARTA- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410 triliun (kurs…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:14

MAAF..!! Tol Balikpapan - Samarinda Molor, Ngga Jadi Diresmikan Jokowi

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda batal diresmikan akhir tahun ini. Padahal mantan Gubernur Kaltim…

Senin, 15 Oktober 2018 11:42
Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo

Lestarikan Budaya Batak karena Cinta

Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:11

INNALILLAHI..!! 12 Siswa Tewas Diterjang Banjir

JAKARTA – Kelas sore itu berubah jadi tragedi. Puluhan siswa yang tengah belajar diterjang air…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:09

Premium Tak Naik, Tapi Pasokan Dikurangi?

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai,…

Minggu, 14 Oktober 2018 08:06

Sikat Persebaya, Borneo FC Bidik Papan Atas

SURABAYA – Gairah Borneo FC kembali membuncah. Tekad bersaing di papan atas makin kuat. Suntikan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:10

Rumah DP 0 Persen Diluncurkan Anies

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan berharap rumah DP 0 persen dapat meringankan warga…

Sabtu, 13 Oktober 2018 10:28

Dua Kali Dipanggil Mangkir, Ketua DPRD Itu Dibawa Polisi

JAKARTA – Isu bahwa Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif ditangkap polisi terjawab. Ya, Mabes Polri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .