MANAGED BY:
RABU
23 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Sabtu, 18 November 2017 07:34
Dipindah ke RSCM, Wajah Setnov Mulus

Status Ditahan, Pengacara Debat dengan Penyidik KPK

ADA YANG JANGGAL: Setya Novanto dibawa keluar dari RS Medika Permata Hijau kemarin. Foto bawah, petugas dari Ditlantas Polda Metro Jaya melakukan olah tempat kejadian perkara kecelakaan mobil yang ditumpangi Setnov di Jalan Permata Hijau, Jakarta.

PROKAL.CO, JAKARTA  –  Tersangka kasus kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) Setya Novanto tidak sampai 24 jam menjalani perawatan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Berdasarkan rekomendasi dari dokter RS Medika, Setnov diputuskan pindah ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jumat siang (17/11).

Keputusan tersebut dilakukan berselang sekitar tiga jam setelah Bimanesh Sutarjo, dokter yang merawat Setnov, menyampaikan kondisi terakhir ketua DPR RI itu. Sekitar pukul 12.30 WIB, Setnov yang berbaring di brankar dengan balutan kain di seluruh kepala dikawal ketat melewati jepretan dan sorotan kamera media. Sejumlah orang yang mengelilingi Setnov berusaha keras menutupi wajah Setnov dengan selimut saat akan dibawa masuk ke ambulans.

Hanya terlihat bagian muka Setnov dengan mata terpejam. Tidak terlihat benjolan sebesar bakpao yang disebut pengacara Fredrich Yunadi, karena tertutup kain merah muda. Sementara itu, luka bagian pipi yang sempat disebut Yunadi juga tidak terlihat. Pipi Setnov masih terlihat mulus saat diarak ke ambulans.

Yunadi menjelaskan, kliennya diputuskan dipindah ke RSCM atas rekomendasi dokter RS Medika. Dia menyebut, ketua umum Partai Golkar itu harus segera menjalani pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Namun, mesin MRI yang dimiliki RS Medika rusak.

”MRI di sini (RS Medika) rusak, sedangkan cedera kepalanya tidak bisa ditunda lagi. Tadi beliau kakinya kram, matanya tidak bisa dibuka. Kalau dibuka matanya berputar,” katanya.

Setelah berkoordinasi dengan tim dokter RSCM, diputuskan untuk dirujuk ke rumah sakit tersebut. Namun, sempat ada ide agar Setnov dirujuk ke RS Medika di Bintaro yang juga memiliki peralatan yang sama. ”Daripada mencari swasta, diputuskan mencari RS pemerintah tipe A, nah tipe A ini RSCM, di Kencana,” ujarnya.

Yunadi menyebut, pemindahan kliennya tidak terkait dengan dokter maupun penyidik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, penyidik KPK, dalam hal ini, tetap mengikuti keberadaan Setnov, termasuk saat dibawa ke RSCM. ”KPK tetap ngikutin,” ujarnya. Meski begitu, terang Yunadi, ada satu peristiwa yang menurut dia tidak mengenakkan. Setelah ada kesepakatan untuk memindah Setnov ke RSCM, datang penyidik KPK dengan inisial D menyerahkan surat. Dalam surat itu dinyatakan, kliennya telah ditahan. ”Saya katakan, Pak SN diperiksa belum pernah, ditanya juga belum pernah, wewenang mana yang memberi peluang KPK langsung menahan, dijawab itu wewenang KPK,” kata Yunadi.

  Walau demikian, dia menyebut, rekomendasi dokter juga harus dipatuhi. Menurut dia, Dr Bimanesh menegaskan, sesuai UU Kedokteran, wewenang terkait kondisi pasien sepenuhnya ada pada dokter. ”Artinya itu tidak benar, periksa juga belum, masak sudah ditahan,” ujarnya.

Ditemui terpisah, Bimanesh yang menyampaikan kondisi Setnov sebelum adanya proses pemindahan, menjelaskan bahwa Setnov mengalami gejala hipertensi. Setnov tiba di RS Medika sekitar pukul 18.30 WIB bersama ajudannya. ”Pukul 17.30 datang dengan keadaan hipertensi berat ada kecelakaan yang terjadi,” ujar Bimanesh didampingi sejumlah staf RS Medika.

Dari hasil observasi, Bimanesh menyebut ditemukan cedera di kepala sebelah kiri. Namun, dia menepis ada kabar bahwa Setnov mengalami patah tulang. ”Secara fisik, saya enggak melihat itu. Dari lakalantas cedera di kepala, ada lecet di leher dan sebelah kanan,” ujar dokter spesialis penyakit dalam itu. Bimanesh menolak ketika Jawa Pos menanyakan lebih lanjut mengenai detail luka. Menurut dia, keterangan mengenai detail luka sudah dia serahkan ke laporan visum pihak berwajib.

Yang menjadi janggal adalah tidak ada memar maupun bengkak di sekitar luka. Model bebat atau perban di jidat kiri Novanto pun terkesan dipaksakan. Dia menggunakan bebat hypafix yang biasanya dialami oleh penyandang luka yang cukup berat. Hal tersebut diutarakan spesialis bedah kepala leher RSUD dr Soetomo, Surabaya, dr Urip Murtedjo SpBKL. "Lihat foto yang beredar, yang baru datang. Itu di jidatnya tidak ada luka pendarahan. Pasti hanya memar," ucap Urip memastikan. 

Jika betul luka di balik perban itu bukan luka jahitan atau luka besar, pemakaian bebat hypafix menurut Urip tidak tepat. "Memar itu tidak perlu hypafix. Itu ndeso," ungkap Urip.

Lebih lanjut, Setnov juga mengalami pusing. Itu karena vertigo yang kerap dikeluhkan oleh Setnov selama ini. Namun, lagi-lagi Bimanesh menepis Setnov harus menjalani MRI seperti yang disampaikan pengacara Yunadi. ”Jadi, kita yang dimintakan dokter yang menangani masalah saraf. Cedera kepalanya itu CT scan yang akan kita kerjakan, jadi belum MRI,” ujarnya.

Terkait keberadaan dokter dan penyidik KPK, Bimanesh menyatakan sudah melakukan komunikasi. Saat bertemu dengan dokter KPK, hal yang dibicarakan masih sebatas kondisi Setnov sebagai pasien. Bimanesh menyatakan tidak bisa menahan jika KPK memutuskan memindahkan Setnov.

”Saya enggak bisa nahan juga. Jadi gini, kita kan semua harus menghargai hak pasien juga, dia punya hak untuk dirawat di mana, terlepas dari masalah hukum atau apapun di balik itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bimanesh membantah adanya isu bahwa lantai 3 RS Medika dikabarkan dipesan habis oleh pihak Setnov. Bimanesh menegaskan tidak ada pasien yang diistimewakan terkait perawatan maupun pelayanan di RS Medika. ”Kami tidak ada yang istimewa, enggak ada blok-blokan. RS swasta nggak bisa kaya gitu,” terangnya.

Ambulans abu-abu yang membawa Novanto meninggalkan RS Medika Permata Hijau sekitar pukul 13.00 itu menuju RSCM Kencana. Tepatnya di Klinik Eksekutif 24 jam. Hingga berita ini ditulis, pihak Novanto maupun RSCM belum memberi keterangan. Pemeriksaan masih dilakukan. Tampak di dalam ada Fredrich dan beberapa kerabat Novanto.

 

PRESIDEN BERSUARA

Presiden Joko Widodo yang gerah karena terus ditanya mengenai kasus yang membelit Setnov, akhirnya bersuara lebih tegas. Sebelumnya, dia hanya mengingatkan semua warga negara, termasuk Setnov, untuk membuka UU dan mengikuti yang tertulis dalam regulasi. Sebab, UU merupakan produk hukum yang sudah disepakati bersama.

’’Saya minta Pak Setya Novanto mengikuti proses hukum yang ada,’’ tegas Jokowi selepas hadir di Sarasehan DPD RI di Gedung Nusantara IV Kompleks Parlemen kemarin (17/11). Dia tidak menjawab ketika ditanya apakah ada rencana untuk menjenguk Setnov yang bagaimanapun adalah kolega dalam menjalankan pemerintahan.

Meskipun upaya penegakan hukum akhir-akhir ini menimbulkan kegaduhan, Jokowi menyatakan tetap optimistis dengan masa depan hukum Indonesia. Yang terpenting, seluruh masyarakat harus patuh kepada hukum yang berlaku. ’’Saya yakin, proses hukum yang ada di negara kira ini terus berjalan dengan baik,’’ lanjut mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Seiring status tersangka tersebut, posisi Setnov terus digoyang. Baik di DPR maupun Partai Golkar. Apakah dengan status tersangka tersebut posisi Setnov sebagai ketua DPR harus diganti, Jokowi menolak berkomentar. ’’Itu wilayah DPR,’’ tuturnya. (bay/lyn/byu/jun/lum/tyo/idr/jpnn/far/k18)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 08:58

Faktor Ini Masih Jadi Penyumbang Inflasi Besar di Kaltim

SAMARINDA  - Pada tahun 2019, diperkirakan inflasi Kaltim tetap terjaga…

Rabu, 23 Januari 2019 08:31

Sudah Surati Menteri dan BNPB, Warga Diminta Tenang

Pemprov Kaltara bergerak cepat menangani dampak abrasi di Desa Tanjung…

Selasa, 22 Januari 2019 12:27

PROTES..!! Australia Tak Ingin Ba’asyir Bebas Bersyarat

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengajukan protes atas rencana…

Selasa, 22 Januari 2019 12:25

BELUM PASTI..!! Pembebasan Ba’asyir Dikaji Lebih Lanjut

JAKARTA – Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir pekan ini masih belum…

Selasa, 22 Januari 2019 09:16

Investor Minati Kembangkan Udang Windu Kaltim

SAMARINDA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim, Riza…

Selasa, 22 Januari 2019 09:14

Selama Tahun 2018, BI Temukan 1.108 Lembar Uang Palsu

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur mencatat sepanjang…

Senin, 21 Januari 2019 11:40

Menanti Dampak Perda Tata Niaga Sawit

TANA PASER – Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten…

Senin, 21 Januari 2019 10:55

Pansel KPU Buka Lagi Pendaftaran

SAMARINDA–Kerja Panitia Seleksi (Pansel) Komisioner KPU Kaltim 2018–2023 sempat terhenti.…

Senin, 21 Januari 2019 08:47

Sulit Membagi Waktu Kuliah, Ingin Fokus ke Teater

Salva Kalimatin Sava unjuk gigi di dunia perfilman. Mahasiswa asal…

Minggu, 20 Januari 2019 11:00

MUDAHAN LEBIH HOT..!! Tanpa Kisi-Kisi di Debat Kedua

JAKARTA – Debat capres-cawapres edisi kedua masih sebulan lagi. Namun,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*