MANAGED BY:
JUMAT
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 18 November 2017 07:18
Buka Perekonomian, Harga Tanah Naik Empat Kali Lipat

Cerita Warga Transad, Berharap Pengerasan Jalan Ringroad III

DEKAT DENGAN WARGA: Kolonel Inf Hendri Wijaya (dua kiri) dan wartawan Kaltim Post Ulil Mu’awanah (kiri) berbincang dengan para pemilik lahan di kawasan Transad, Jumat (17/11).

PROKAL.CO, Pada 1976,  kawasan transmigrasi angkatan darat (Transad), Balikpapan Utara dihibahkan oleh negara untuk para prajurit TNI AD. Meski puluhan tahun berlalu, lokasi ini masih seperti sebuah desa di tengah kemajuan kota.  

 

Menuju kemari, menempuh jarak dua kilometer dari Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 8. Melewati Kampus STT Migas Balikpapan, hingga tiba di tanah yang sedikit menanjak. Di sini terlihat aktivitas alat berat. Tampak para TNI sedang bahu-membahu melebarkan jalan yang masih berupa tanah lempung tersebut.

Mulanya, jalan hanya selebar 4 meter. Hanya dapat dilewati satu mobil. Tapi kini tengah dilebarkan menjadi 20-24 meter. Melalui program Karya Bakti Kodim 0905/Balikpapan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU). Ada alokasi Rp 1 miliar dari APBD 2017 untuk mengerjakan jalan sepanjang 1,4 kilometer. Membentang menghubungkan Kelurahan Karang Joang dan Graha Indah.

Pekerjaan telah dimulai sejak 17 Oktober lalu. Mengerahkan satu tim prajurit yang terdiri dari 10 orang Bintara Pembina Desa (Babinsa). Dibantu dua unit ekskavator, buldoser, grinding, dan penumbuk jalan. “Kalau dilihat seperti botol ya, dari jalan masuk sempit di dalam jalan begitu lebar,” canda Komandan Kodim 0905/Balikpapan Kolonel Inf Hendri Wijaya.

Sebanyak 22 kepala keluarga (KK) yang tinggal di sekitar area suka rela memberikan tanahnya. Tapi bukan berarti mereka langsung saja menyerahkannya. Butuh pendekatan bahkan waktu yang cukup lama bagi anggota Kodim melakukan penjajakan. “Semula ada 2 KK yang sempat menolak. Mereka mengira akan ada biaya ganti rugi. Tapi kami terus menjelaskan bahwa Karya Bakti ini tidak ada unsur uang. Semua pun kami lakukan secara transparansi, hingga masyarakat dengan ikhlas merelakan tanahnya,” jelas Hendri yang rutin mengecek perkembangan jalan.  

Dia mengatakan, pendekatan yang dilakukan cukup terbantu karena masih ada beberapa purnawirawan. Di kawasan Transad sendiri ada tanah milik TNI AD seluas 102 hektare yang dihibahkan negara pada 1976. Secara turun-temurun ditinggali para anak dan cucu prajurit TNI AD. Hubungan emosional tersebut yang membuat Hendri merasa berterima kasih dan semakin dekat.

“Pelebaran ini bukan hanya membantu memecahkan kemacetan yang sering terjadi di Km 5 (Jalan Soekarno-Hatta), tapi juga membangun perekonomian masyarakat sekitar jalan,” tegasnya.

Demi Masa Depan

Lahir hingga tumbuh dewasa di kawasan Transad, Budi Subigiyantoro masih setia tinggal di rumah peninggalan orangtuanya di RT 1 Kelurahan Karang Joang ini. Dia merasa banyak perubahan terjadi setelah pembukaan jalan. Bermula dari TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2012 untuk mengawal pembukaan jalan tembus 6,3 kilometer ini. Sekarang, dilanjutkan dengan pelebaran jalan. Harga tanah yang turut naik, dari Rp 50 ribu menjadi Rp 200 ribu per meter. Dia merasa lebih mudah menuju kota.

“Dulu sekalipun dekat dengan perkotaan, warga yang bermukim di Transad seperti orang yang tertinggal dan tidak diperhatikan. Bahkan di era 1990-an, karena tidak ada jalan, ada tetangga meninggal mayatnya ditandu dengan sarung karena mobil tidak bisa masuk,” kenangnya.

Pria 53 tahun tersebut bahkan merelakan tanahnya seluas 500 meter untuk digunakan sebagai jalan. Satu keinginannya, melihat wajah Transad berubah lebih hidup. “Jangan sia-siakan pengorbanan kami. Kami mohon pemerintah bisa melakukan agregat (pengerasan) setelah ini,” timpal Budi.   

Siti Asmah menginginkan hal serupa. Mengingat, dulu banyak sekali pengendara maupun pejalan kaki menjadi korban. Ditambah kontur jalan berada di perbukitan dan belum disiring. Membuat jalan mudah rusak atau ambles. Meski terdapat pipa induk milik PDAM, tetapi warga menggunakan sumur bor. Perempuan yang akrab disapa Mah ini mengatakan, warga telah meminta izin PDAM agar bisa memasang pipa sambungan. Hanya saja keinginan itu ditolak.  

“Terpaksa kami pakai sumur bor dan tandon buat menampung hujan. Bahkan dulu sebelum punya sumur bor warga mesti bergotong-royong mengangkut air bersih untuk mengisi bak di musala untuk salat,” kisahnya. (*/lil/rsh/k18)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 11:21

Kinigalau Kampung Sebelah

Oji hanya bisa bengong. Dia tak mengira, Lapangan Kinigalau di Kampung Sebelah yang jadi tempat bermainnya…

Selasa, 05 Desember 2017 11:02

Dari Ingin Eksistensi hingga Kurang Perhatian Orangtua

Aksi remaja usia SMA yang mengunggah aksinya berciuman di Mahakam Lampion Garden mendapat tanggapan…

Sabtu, 02 Desember 2017 07:46

Berusia Lebih 70 Tahun, Lahirkan Pesepak Bola Besar

Lapangan Kinibalu bukanlah lapangan biasa bagi Kota Tepian. Sederet nama besar pesepakbola lahir dari…

Sabtu, 02 Desember 2017 07:27

Tinggal Bersama Keluarga Ateis, Aktivitas Agama Justru Didukung

An-Nahl Aulia Hakim merupakan satu dari empat siswa SMA 1 Balikpapan yang diterbangkan ke luar negeri…

Sabtu, 02 Desember 2017 06:59

Meneteskan Air Mata Kala Dengar Curhat PSK

Menjadi petugas trantib (ketenteraman dan ketertiban) pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten…

Jumat, 01 Desember 2017 07:38

Asuh 40 Anak Yatim Piatu, Suami Meninggal karena Depresi

Perempuan ini telah menghabiskan waktu 11 tahun hidup bersama human immunodeficiency virus (HIV). Bukan…

Kamis, 30 November 2017 08:34

Bawa Rempah Sendiri, Sanggup Menampung 20 Orang

Sauna ini baru pertama di TPA yang ada di Indonesia. Terobosan ini dulunya sempat dianggap gila. GUNUNGAN…

Rabu, 29 November 2017 08:35

Pengajuan Anggaran Molor, Hasil Musrenbang Belum Diakomodasi

  Masalah utang pihak ketiga yang tak kunjung tuntas menghantui Pemkot Samarinda. Solusi sejatinya…

Selasa, 28 November 2017 08:38

Harus Cerdas Ekspos Temuan agar Tak Ditunggangi Kepentingan Politik

Investigasi Kaltim Post pada Desember 2016 di wilayah Muara Jawa, Kutai Kartanegara, berdampak signifikan.…

Sabtu, 25 November 2017 07:44

Sebagian Besar Makanan yang Dikonsumsi Diolah Sendiri

Pada usia yang memasuki angka 80 tahun, artis Titiek Puspa seolah tak kalah dengan penuaan. Wajahnya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .