MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 17 November 2017 08:08
Potensi Budaya Belum Dilirik

PROKAL.CO, align="left">CATATAN: ANDI SULTRA HANDAYANI
(Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur)

BEBERAPA objek sumber daya budaya di Samarinda telah didata oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur. Misalnya Masjid Shiratal Mustaqim di Kecamatan Samarinda Seberang. Masjid tertua di Samarinda itu selesai dibangun pada 1881. Selain memiliki keunikan dari segi arsitektur, masjid ini juga sejarah bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Objek lain yang tidak kalah menarik adalah Kelenteng Thien Ie Kong yang merekam sejarah kehadiran bangsa Jepang di Samarinda. Tempat ibadah ini nyaris hancur akibat bom ketika penjajah mengebom pabrik pengolahan minyak goreng yang berada tepat di belakang kelenteng. Dalam urusan pelestariannya, kelembagaan pemerintah dan hukum harus terlibat.

Sangat diperlukan sebuah konsep yang dapat memadukan antara pariwisata dan pelestarian. Ataupun sebaliknya. Jika ditelusuri, pariwisata berarti melakukan perjalanan dari tempat kediaman menuju tempat wisata dengan maksud bersantai. Pariwisata dapat juga dipandang sebagai kegiatan dan interaksi berbagai pihak.

Seperti wisatawan, pebisnis, dan masyarakat dalam proses menarik dan melayani wisatawan. Pariwisata merupakan proses dalam upaya “menjual” segala potensi yang dimiliki oleh suatu daerah untuk menarik wisatawan.

Wisatawan memiliki kecenderungan menyukai objek-objek yang unik dan langka. Sehingga, keberadaan sumber daya arkeologi di suatu daerah dapat dijadikan sebagai modal kepariwisataan yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata.

Beberapa pengamat wisata budaya menjelaskan, bahwa modal kepariwisataan dapat dikembangkan sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi atraksi penahan maupun atraksi penangkap wisatawan. Sehingga, wisatawan selama berhari-hari dapat berulang kali menikmati objek wisata. Bahkan pada kesempatan lain, wisatawan akan datang berkunjung ke tempat yang sama.

Atraksi penangkap adalah modal yang hanya menarik kedatangan wisatawan, cenderung hanya sekali dinikmati, kemudian ditinggalkan oleh wisatawan. Dengan demikian, dalam memberdayakan modal kepariwisataan di suatu daerah, yang dibutuhkan adalah kejelian dalam melihat peluang tersebut.

Kemudian, memanfaatkan potensi yang ada di Samarinda. Model kepariwisataan yang hanya mengandalkan segi alam yang dipadukan dengan modernisme akan dapat tergeser. Bahkan, akan ditinggalkan. Tolok ukur tersebut jika dilihat dari tingkat konsumsi para wisatawan. Sementara, untuk menarik perhatian wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara, harus lebih kreatif dan mampu menyajikan sesuatu yang tidak hanya terfokus pada bersantai dan menikmati sun, sea, and sand.

Saat ini, pola konsumsi wisatawan mulai berubah ke arah yang lebih tinggi. Seperti menikmati produk atau kreasi budaya, peninggalan budaya, perpaduan alam, wisata sejarah, dan wisata ziarah. Keberadaan sumber daya budaya kurang dimanfaatkan oleh pemerintah Kalimantan Timur, khususnya Samarinda. Sehingga, perlunya model pengelolaan yang baik secara pariwisata tanpa mengesampingkan pelestarian sumber daya budaya.

Pemanfaatan sumber daya budaya sebagai objek wisata tanpa mengesampingkan pelestarian, justru dapat memberikan apresiasi lebih tinggi terhadap upaya pemeliharaan peninggalan budaya bangsa. Sesungguhnya, sumber daya budaya adalah nyawa atau ruh dari kegiatan kepariwisataan. Tanpa adanya peranan pelestarian sumber daya budaya maka pariwisata akan lumpuh dan tidak memiliki daya tarik untuk dikunjungi.

Perubahan pola tersebut perlu untuk segera disikapi dengan berbagai strategi pengembangan produk pariwisata maupun promosi. Baik di sisi pemerintah maupun masyarakat. Dari sisi pemerintah, perlu dilakukan perubahan skala prioritas sehingga kebijakan peran sebagai fasilitator dapat dioptimalkan untuk mengantisipasi hal tersebut.

Dari segi masyarakat, adanya sinus bisnis berarti menjaga peninggalan-peninggalan sejarah yang masih ada, sehingga imbasnya kembali ke sektor-sektor ekonomi masyarakat setempat. Ketika hal tersebut terjadi secara berkesinambungan dan harmonis, maka wisatawan yang hadir dari dalam negeri maupun mancanegara tidak hanya datang untuk menikmati wisata alam, namun juga wisata sejarah, wisata ziarah, bahkan dapat melakukan penelitian terhadap sumber daya budaya yang ada di Kalimantan Timur.

Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya. Distribusi kewenangan pemerintah memberikan kewenangan luas, nyata, dan bertanggung jawab secara proporsional. Implikasi otonomi daerah harus menukik kepada otonomi masyarakat di daerah. Prioritas utama adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang menciptakan berbagai fasilitas kemudahan meningkatkan produksi. Sesuai potensi sekitarnya.

Selain itu, investasi harus dipacu untuk memancing minat investor menanam modal. Perundang-undangan juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengidentifikasi, menggali, memanfaatkan serta mengelola segala sumber daya budaya yang ada di daerahnya. Faktor penting dalam pemanfaatan kawasan bersejarah sebagai ruang publik secara maksimal umumnya berkaitan dengan karakteristik ekonomi atau budaya masyarakat setempat.

Termasuk jenis fasilitas yang disediakan, kesesuaian dengan masyarakat, aksesibilitas serta tingkat kemudahan memasuki wilayah secara ekonomi, ekologis, dan simbolis.

Pemberdayaan pariwisata budaya berarti mengemas segala aktivitas kehidupan manusia. Termasuk benda-benda peninggalan budaya menjadi daya tarik wisata. Pariwisata budaya memiliki peluang yang cukup besar untuk menarik minat wisatawan, bergantung pada daya cipta, inovasi, dan pengemasan dari semua yang terlibat secara kondusif. 

Semakin banyak perbedaan budaya dan aspek kehidupan masyarakat lokal dengan kebudayaan dan kehidupan wisatawan, maka semakin besar keinginannya untuk datang berkunjung untuk mengetahui budaya tersebut. Pemikiran berkenaan dengan pengembangan sumber daya budaya tersebut hendaklah tetap memerhatikan pelestarian sumber daya yang ada. Sehingga tidak berdampak negatif.

Pembangunan diperlukan untuk meningkatkan nilai dari berbagai sumber daya yang ada bagi kepentingan masyarakat. Dengan demikian, harusnya pembangunan yang berkaitan dengan pariwisata tetap berwawasan lingkungan dan tidak mengesampingkan pelestarian yang bernilai penting. Akan lebih baik lagi jika pembangunan penunjang kepariwisataan tetap berbasis pada pelestarian dengan kaidah-kaidah yang menjadi acuan dalam pengembangan sebagai kepariwisataan.

Hal ini dimaksudkan, agar kelangsungan objek yang menjadi sumber pemasukan dapat terawat dengan baik. Untuk itu, sangat diperlukan manajemen yang tepat. Sehingga, berbagai kepentingan dapat terangkul dan terkoordinasi dengan baik. (riz/k15)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 11:28

Perokok Zaman Now

Sudah menjadi kesepakatan dan terbukti, bahwa rokok sangatlah tak baik bagi kesehatan si perokok sendiri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .