MANAGED BY:
JUMAT
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Kamis, 16 November 2017 07:22
Direct Call Harus Terapkan Asas Cabotage

Jangan Sampai Pelayaran Dikuasai Kapal Asing

MANFAATKAN POTENSI DALAM NEGERI: Tidak hanya mementingkan komoditas dan kesiapan pelabuhan, program direct call semestinya dibarengi upaya memaksimalkan perusahaan pelayaran nasional. (DOK/ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Kaltim pada awal 2018 mulai menerapkan sistem pelayaran direct call, yang artinya dapat melakukan ekspor-impor langsung dari dan ke luar negeri. Seperti yang telah dilakukan Makassar, Surabaya, dan Jakarta. Hanya saja tak sekadar membicarakan untung dari biaya logistik yang lebih murah, namun kapal yang digunakan untuk kegiatan ini juga perlu kajian yang lebih dalam.

Ekspor-impor langsung dari Pelabuhan Kariangau Balikpapan seharusnya menerapkan asas cabotage. Yaitu, seluruh angkutan menggunakan kapal nasional dan dioperasikan awak kapal kewarganegaraan Indonesia. Jika tidak, direct call hanya dipenuhi kapal asing, dan menjadi masalah bagi perusahaan maritim lokal.

Hal itu diungkapkan Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Zaenal Arifin Hasibuan kepada Kaltim Post, Rabu (15/11). Dia mengatakan, saat ini pemerintah mementingkan program direct call hanya dari komoditas dan kesiapan pelabuhan.

“Penting juga melihat kapal pengangkutnya, yang seharusnya berasal dari kapal armada nasional,” ungkapnya.

Jika tidak begitu, tambahnya, program ini hanya akan dikuasai kapal asing dan bertolak belakang dengan cita-cita asas cabotage. Di mana sebenarnya selama ini sudah dengan baik dilayani oleh perusahaan lokal di Indonesia, yakni dari Makassar ke pelabuhan ekspor di Surabaya ataupun Jakarta.

Menurutnya, pengangkutan muatan antarpulau di Indonesia dilindungi dalam asas cabotage. Sehingga harus dilakukan oleh perusahaan nasional Indonesia dengan kapal berbendera Indonesia.

“Apabila dengan skema direct call yang multiport sesuai peraturan terus diberlakukan di Indonesia, maka semangat industri pelayaran yang sedang giat dengan program beyond cabotage seperti sekarang akan mati ditelan strategi bisnis perusahaan pelayaran asing,” ujarnya.   

Dikatakan Zaenal lebih lanjut, keinginan meningkatkan ekspor barang dari Kaltim memang patut disikapi dengan baik oleh pemerintah. Sebab, hal ini akan meningkatkan pendapatan negara dari sisi nilai jual barangnya.

“Namun, hal lain yang harus diperhatikan adalah besarnya biaya angkutan barang ekspor tersebut yang dibayarkan oleh pembeli di luar negeri,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jika kegiatan ekspor menggunakan kapal asing, maka peluang bagi pelayaran nasional untuk mendapat jasa uang freight menjadi lenyap. Besaran nilai ini dahsyat. Dan apabila bisa dilakukan dengan kapal Indonesia, maka akan mampu menjadi stimulus perkembangan pelayaran nasional termasuk menyerap SDM pelaut.

“Artinya keinginan direct call harus disikapi oleh pemerintah dari kacamata lebih luas lagi. Hal ini agar setiap pemanfaatan ekonomi kegiatan tersebut benar-benar terasa untuk kemajuan ekonomi Indonesia keseluruhan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kapal dari luar negeri, bisa menawarkan diskon tarif untuk muatan yang diangkutnya. Indonesia sebagai negara besar dengan penduduk di atas 250 juta jiwa, tentu menjadi salah satu primadona di kawasan Asia Pasifik.

“Tidak terkecuali bagi perusahaan pelayaran Hong Kong,” tuturnya.

Dikatakannya, Hong Kong dengan tingkat suku bunga di bawah satu digit, akan mudah bersaing dengan perusahaan pelayaran Indonesia, yang menggunakan pinjaman bank lokal dengan bunga termasuk yang tertinggi di Asia dengan kisaran masih dua digit.

“Belum lama ini sebuah perusahaan pelayaran Hong Kong digandeng oleh PT Pelindo IV untuk melayani ekspor-impor dari Makassar dengan skema direct call,” ujarnya.

Zaenal memaparkan, belakangan skema tersebut bergeser tidak lagi direct call. Tetapi, kapal melakukan pelayaran ke pelabuhan lain, seperti Jakarta dan kota-kota di ASEAN sebelum ke Hong Kong.

“Sesuatu yang tidak kita sadari bisa membunuh perusahaan pelayaran lokal di Indonesia. Hal ini tentu harus jadi perhatian jika ingin direct call benar-benar bermanfaat,” pungkasnya. (*/ctr/tom/k15)


BACA JUGA

Kamis, 14 Desember 2017 06:59

Volume Angkutan Bisa Naik 40 Persen

SAMARINDA - Pelaku jasa pelayaran bakal mendapat peluang pasar lebih besar pada tahun depan. Pasalnya,…

Kamis, 14 Desember 2017 06:52

Stok Bahan Pangan Aman untuk Lima Bulan

SAMARINDA - Stok bahan pangan untuk kebutuhan Natal dan tahun baru nanti dipastikan aman. Dinas Perindustrian,…

Kamis, 14 Desember 2017 06:51

Jangkau 90 Persen Wilayah Kaltim

SAMARINDA - Pertumbuhan kebutuhan telekomunikasi di Kaltim tak ingin disia-siakan XL Axiata. Operator…

Kamis, 14 Desember 2017 06:50

Yakin Tak Saling Makan dengan Toyota Rush

Rilis di Jakarta akhir November lalu, All New Terios akhirnya dirilis di Kaltim, Rabu (13/12). Menjawab…

Kamis, 14 Desember 2017 06:43

Rasio Keuntungan Bank Makin Kecil

JAKARTA - Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun…

Kamis, 14 Desember 2017 06:39

Dua Perusahaan Resmikan IPO

JAKARTA - Menjelang penutup tahun, dua perusahaan meresmikan penawaran saham perdana atau initial public…

Kamis, 14 Desember 2017 06:37

Darmin: Peringkat Investasi RI Melesat Tahun Depan

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis peringkat Indonesia pada…

Kamis, 14 Desember 2017 06:36

Targetkan 4 Juta Sapi Bunting

SURABAYA – Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian mencatat,…

Rabu, 13 Desember 2017 15:30

Leasing Hati-Hati, Suplai Tertahan

BALIKPAPAN – Sempatlesu beberapa tahun terakhir, pasar otomotif di Kaltim kembali bergairah tahun…

Rabu, 13 Desember 2017 15:28
Bangun Infrastruktur dan SDM Butuh Belanja Besar

Kemnkeu: Jangan Bergantung Pendapatan Negara

JAKARTA- Pemerintah menegaskan, pemerintah akan terus berusaha mencegah bencana pada masa mendatang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .