MANAGED BY:
MINGGU
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 14 November 2017 07:10
Tiongkok Jadi Pasar Potensial

Indonesia Pikirkan Strategi Ekspor Kopi

-

PROKAL.CO, JAKARTA - Indonesia tengah merumuskan bagaimana agar ekspor kopi ke Tiongkok meningkat. Delapan pengusaha kopi Indonesia telah bertemu dengan para pengusaha asal Negeri Bambu guna merealisasikan hal itu.

"Kami berinisiatif mengumpulkan pengusaha kopi agar dapat mencapai rumusan meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke Tiongkok," kata Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou Ratu Silvy Gayatri seperti dikutip dari Antara.

Silvy menyebutkan pada Januari-September 2017, nilai ekspor kopi Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 34,1 juta. Indonesia berada di peringkat dua dalam daftar negara pengekspor kopi ke Tiongkok di bawah Vietnam yang selama periode tersebut nilai ekspor kopinya telah mencapai USD 368,8 juta.

Ia optimistis Indonesia mampu mengejar Vietnam. Pasalnya, produk kopi Indonesia memiliki keunggulan kompetitif. "Bersama Brasil, Vietnam, dan Kolombia, Indonesia merupakan satu dari empat negara penghasil kopi terbesar di dunia," ujarnya.

Pasar kopi di negara berpenduduk terbesar di dunia itu masih berkembang dengan pertumbuhan konsumsi kopi per kapita terus meningkat antara 15 hingga 30 persen per tahun, jauh di atas peningkatan konsumsi kopi rata-rata di dunia yang hanya 2,3 persen per tahun.

Menurut catatan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou, tahun 2020 nilai industri kopi di daratan Tiongkok diproyeksikan mencapai 300 miliar yuan atau sekitar Rp 600 triliun.

"Hal ini dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat Tiongkok. Generasi muda Tiongkok semakin menggemari kopi sebagai gaya hidup baru yang dinilai modern," ujarnya.

Di sisi lain, sambung Silvy, produksi kopi Tiongkok yang berpusat di Yunnan dan Hainan tidak mampu memenuhi tingginya permintaan kopi domestik sehingga impor kopi menjadi keharusan.

Ketua SCIBA Tjin Pek Yan mengatakan, untuk memaksimalkan ekspor kopi ke Tiongkok, Indonesia harus fokus pada kopi jenis arabika berkualitas mengingat kepemilikan lahan petani di Indonesia relatif kecil, sekitar 1–2 hektare.

Padahal, menurut pengusaha asal Bandung yang sudah 17 tahun membuka usaha di Tiongkok itu, petani kopi di negara-negara seperti Vietnam, Brasil, dan Kolombia memiliki perkebunan yang jauh lebih luas dan dikelola dalam skala industri besar.

"Kita perlu lebih fokus menjual produk kopi berkualitas dengan harga premium. Kopi asal Panama, misalnya, dengan fokus penjualan kopi kelas premium, harga per pound di sini bisa mencapai USD 20, sementara kopi dari Indonesia sekitar USD 2," jelas Pek Yan.

Sementara Jason, importir kopi Indonesia asal Tiongkok, menyarankan Indonesia mengekspor kopi jenis robusta dalam bentuk kemasan.

"Kalau Indonesia menjual kopi robusta dalam bentuk bijian ke Tiongkok sangat sulit bersaing dengan Vietnam yang mampu menjual kopi jenis serupa dengan harga yang jauh lebih murah," ujarnya. (ant/aji/tom/k1)


BACA JUGA

Jumat, 17 November 2017 07:18

PARAH..!! Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Terendah di Kalimantan

SAMARINDA – Kaltim tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah, yakni sebesar…

Jumat, 17 November 2017 07:14

Yang Pasti, Ber-UKM Jangan Menyerah

BALIKPAPAN — Bangkitkan semangat ber-UKM, MarkPlus Inc bersama International Council for Small…

Jumat, 17 November 2017 07:12

ITK Menurun, Kondisi Konsumen Masih Baik

SAMARINDA - Nilai indeks tendensi konsumen (ITK) Kaltim pada triwulan III mengalami penurunan 0,99 poin…

Jumat, 17 November 2017 07:09

Setelah Berau, Kukar Juga Kembangkan Jagung

SAMARINDA - Realisasi luas tambah tanam (LTT) jagung di Berau dari Januari hingga September tahun ini…

Jumat, 17 November 2017 07:07

Rute ke Madinah Dibuka, Guangzhou Menyusul

BALIKPAPAN - Berlabel internasional, Bandara Sepinggan Balikpapan memiliki sedikit penerbangan ke luar…

Jumat, 17 November 2017 07:05

NPL Balikpapan Betah di Level Bahaya

BALIKPAPAN - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat rasio kredit bermasalah (non-performing…

Kamis, 16 November 2017 07:25

Sektor Pertanian Paling Agresif

BALIKPAPAN – Optimisme kondisi ekonomi yang membaik terlihat dari penyaluran kredit sampai kuartal…

Kamis, 16 November 2017 07:22

Direct Call Harus Terapkan Asas Cabotage

SAMARINDA - Kaltim pada awal 2018 mulai menerapkan sistem pelayaran direct call, yang artinya dapat…

Kamis, 16 November 2017 07:20

Mulai Hari Ini, 8.500 Produk Turun Harga

SAMARINDA – Hypermart sepertinya tak henti-hentinya memberikan harga termurah. Saat ini salah…

Kamis, 16 November 2017 07:18

Baru 23 Perusahaan Memiliki Sertifikat ISPO

SAMARINDA - Sebagai bukti memegang prinsip pembangunan kelapa sawit berkelanjutan dan ramah lingkungan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .