MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SAMARINDA

Senin, 13 November 2017 10:46
60 Tahun UKS; Belum Optimal
Dokter Danial

PROKAL.CO, SETIAP 12 November, kita memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN). HKN merupakan bentuk perhatian pemerintah Indonesia bersama segenap rakyatnya yang senantiasa berkomitmen dalam pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Tahun ini, HKN mengusung tema Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Pemilihan tema tentunya sangatlah beralasan. Keadaan kesehatan kita sangatlah dipengaruhi atau ditentukan oleh perilaku hidup. Karena itu, HKN tahun ini diharapkan menjadi trigger munculnya kesadaran kolektif dari elemen bangsa ini. Dalam upaya mewujudkan pemeliharaan sekaligus peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. 

Berbagai cara, upaya, kegiatan, dan metode dapat dilakukan dalam mengimplementasikan Germas. Demikian juga sasaran peruntukannya. Bisa dilakukan di berbagai kelompok masyarakat. Khususnya yang rentan terhadap permasalahan kesehatan tertentu. Seperti pada kelompok manula, pasangan usia subur, balita, ibu hamil dan menyusui, penderita penyakit keganasan, kelompok pekerja, korban penyalahgunaan obat dan zat berbahaya, tunawisma dan gelandangan. Juga, kelompok masyarakat anak sekolah.

Mengapa anak sekolah? Anak sekolah yang berusia 6–18 tahun merupakan kelompok berisiko terhadap berbagai permasalahan kesehatan. Misalnya, makin meningkatnya kasus anak usia sekolah dengan berat badan berlebih, kegemukan atau obesitas, yang disebabkan gaya hidup dengan perilaku makan atau jajan tidak sehat. Ditambah, kurangnya aktivitas fisik, kurang terjaganya kebersihan diri, penyakit infeksi, dampak penggunaan alat teknologi dan pergaulan bebas, stres, hingga penyalahgunaan obat dan zat berbahaya yang telah merasuk hingga ke lingkungan sekolah.

Di samping sebagai kelompok rentan, anak sekolah adalah sasaran strategis pelaksanaan program kesehatan. Soekidjo Notoatmodjo (2005), pakar promosi kesehatan Indonesia, menyatakan anak sekolah merupakan kelompok yang sangat peka dalam menerima perubahan dan pembaruan. Keingintahuan tinggi dan kecenderungan mencoba-coba, mudah dimotivasi, dan cepat menerima serta mengadopsi hal-hal baru, termasuk pesan-pesan kesehatan, menyebabkan mereka lebih mudah dibimbing, diarahkan, dan ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik.

Sekolah juga merupakan komunitas yang telah terorganisasi dengan baik sehingga menjadi sasaran yang lebih cepat dan mudah dijangkau. Dengan jumlah anak sekolah yang lebih dari 60 juta siswa, bisa dipastikan bahwa setiap upaya kesehatan, akan lebih cepat dan mudah tercapai kalau dikembangkan lewat sekolah atau madrasah. Sebab, selain diadaptasi oleh peserta didik sendiri, juga akan disebarluaskan ke masyarakat, khususnya di lingkungan keluarga peserta didik dan masyarakat sekitar.

Ini tentunya akan berdampak luas dan maksimal terhadap upaya perubahan perilaku kesehatan masyarakat. Sekolah sebagai pusat pendidikan merupakan wadah yang sangat strategis dalam promosi kesehatan. Itu bukanlah hal baru. Karena sejak beberapa dekade lalu,World Health Organization (WHO) telah memprakarsai program promosi kesehatan melalui sekolah-sekolah. Mulai Ottawa Charter for Health Promotion (1986) kemudian the WHO Expert Committee on Comprehensive School Health Education and Promotion (1995) hingga the Declaration of the Fourth International Conference on Health Promotion di Jakarta (1997).

Di Indonesia, UKS merupakan wadah berbagi kegiatan kesehatan yang ada di sekolah. Pertama kali dibentuk pada 1956. Selanjutnya diperkuat dalam Pasal 45 Undang-Undang (UU) 23/992 tentang Kesehatan. Kemudian, peraturan bersama Nomor 6/X/PB/2014, Nomor 73 Tahun 2014, Nomor 41 Tahun 2014, dan Nomor 81 Tahun 2014 antara menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menteri Kesehatan, menteri Agama dan menteri Dalam Negeri tentang Pembinaan dan Pengembangan UKS.

Keputusan itu menjelaskan, UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Serta menciptakan lingkungan pendidikan sehat. Sehingga, memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis peserta didik.

Berdasar pada tujuan terbentuknya UKS, jelaslah bahwa program dan kegiatan UKS memiliki nilai strategis dalam upaya promosi kesehatan di sekolah. Memicu dan mendorong Germas, khususnya pada kelompok masyarakat anak sekolah. Apa saja yang bisa dilakukan di UKS? UKS yang terbentuk mulai tingkat SD hingga SMA, sejatinya, telah mempunyai program kerja. Dalam buku Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (2012), tercantum program kerja utama yang kita kenal dengan Trias UKS.

Meliputi pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat.

Pendidikan kesehatan di sekolah bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan. Di antaranya, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kesehatan reproduksi bagi remaja, kesehatan gigi dan mulut, gizi dan keamanan makanan. Pelayanan kesehatan dilakukan dengan membantu pelaksanaan penjaringan kesehatan, pemeriksaan berkala, pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan gigi dan mulut, reproduksi, jiwa, indra penglihatan dan pendengaran, program cacingan, pertolongan pertama pada kecelakaan dan penyakit, penyelenggaraan pemberian makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS).

Sementara itu, pembinaan lingkungan sekolah sehat dilakukan dengan kegiatan pengendalian faktor risiko lingkungan. Baik lingkungan fisik, antara lain higienis dan sanitasi bangunan, penyediaan air bersih dan sarana sanitasi; pengelolaan sampah dan limbah; penghijauan; lingkungan mental sosial, misalnya menciptakan rasa aman dan nyaman, menyediakan layanan bimbingan dan konseling.

Kalau dicermati dengan baik, seluruh implementasi dari berbagai kegiatan dan program UKS akan memberi optimisme dan harapan akan tercapainya tujuan dari promosi kesehatan, khususnya di lingkungan sekolah. Akan tetapi, meskipun UKS sudah hadir lebih 60 tahun dan telah terbentuk hampir di setiap sekolah yang ada di negeri ini, pemanfaatan sekolah sebagai ujung tombak agent of change khususnya di bidang kesehatan belum optimal. Berbagai kendala menghambat pencapaian tersebut. Masalah pendanaan merupakan faktor yang sangat vital karena akan berimbas kepada pelaksanaan kegiatan UKS.

Selain itu, komitmen para pembina dan pengurus dari berbagai level; pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan, kelurahan/desa dan sekolah sebagai pusat kegiatan, sepertinya belum maksimal. Serta SDM para pengurus dan pelaksana di lingkungan sekolah yang masih rendah, hingga ketersediaan fasilitas yang belum menunjang tercapainya tujuan UKS tersebut.Dengan belum optimalnya pelaksanaan dan pencapaian target program UKS, tentunya perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan dan pengembangan yang dapat mewujudkan tujuan tersebut.

Mengutip Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI Jane Soepardi (2015), ada tujuh terobosan strategis dalam rangka akselerasi UKS.

Pertama, memperkuat dasar hukum. Kedua, meningkatkan kemampuan, peran, fungsi, dan tanggung jawab kelembagaan dan kompetensi personel TP UKS. Ketiga, meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga terlatih UKS. Keempat, memantapkan peran aktif peserta didik dalam pelaksanaan UKS. Kelima, meningkatkan peran kepala sekolah, guru, orangtua, dan masyarakat sekitar sekolah. Keenam, memperkuat kemitraan dan peran serta masyarakat. Ketujuh, memfasilitasi kearifan lokal (local wisdom) yang dapat mempercepat pencapaian dari tujuan UKS. (riz/k8)

*Dokter Danial (Dosen Fakultas Kedokteran, Unmul Samarinda)

 


BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 20:48
BPTP Kaltim Gelar Rakorda Upsus Pajale se-Kaltim

YAKIN..!! Kekurangan Luas Tambah Tanam 9 Ribu Hektar Lahan Bisa Teratasi

SAMARINDA – Pemenuhan kebutuhan pangan di Benua Etam menjadi atensi bagi pemerintah daerah. Balai…

Kamis, 22 Februari 2018 10:10

Pematangan Lahan Jadi Modus

LEBIH dari separuh wilayah Kota Tepian sudah berubah menjadi area pertambangan. Bisnis perumahan jadi…

Kamis, 22 Februari 2018 10:10

PARAH INI..!! Ada Batu Baranya, Kuburan Dikeruk Oknum Polisi

SAMARINDA – Aktivitas penambangan batu bara secara sembunyi-sembunyi alias ilegal, seolah tak…

Kamis, 22 Februari 2018 10:09

MENGENAL CARA KERJA REPORTER

Puluhan murid TK Islam Ruhamaa Samarinda antusias mengunjungi redaksi Kaltim Post di Jalan Untung Suropati…

Kamis, 22 Februari 2018 10:08

Fasilitas Citra Niaga Akan Ditingkatkan

SAMARINDA – Citra Niaga telah tertinggal jauh dari pusat perbelanjaan modern. Pemkot Samarinda…

Kamis, 22 Februari 2018 10:07

Pemkot Diminta Seriusi Relokasi Warga SKM

SAMARINDA –Tertundanya relokasi warga di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) ke Handil Kopi jadi…

Rabu, 21 Februari 2018 10:37

Unsur Kelalaian Belum Ditemukan

SAMARINDA – Keberadaan pelindung tiang utama jembatan sangat diperlukan. Tujuannya agar kapal-kapal…

Rabu, 21 Februari 2018 10:36

WASPADA..!! Jalan AW Sjahranie Rawan Kriminal

SAMARINDA - Kriminalitas di ibu kota Kaltim bisa dibilang memprihatinkan. Terutama di ruas Jalan AW…

Rabu, 21 Februari 2018 10:36

Lima Tempat Dilarang Pasang Algaka

SAMARINDA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Samarinda kembali menggelar rapat koordinasi dengan Polresta,…

Rabu, 21 Februari 2018 10:35

Manusia Harus Sadar, Hutan Itu Penting

Proses hukum atas kematian orangutan di Taman Nasional Kutai (TNK) telah berjalan setengah bulan. Empat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .