MANAGED BY:
MINGGU
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 12 November 2017 08:12
Musik yang Bicara, Direkam secara Live Dua Hari

Keteguhan Dwiki Dharmawan Usung Budaya dalam Musik Jazz

KENTAL NUANSA TRADISIONAL: Musik jazz yang diusung Dwiki Dharmawan mendapat apresiasi dari seluruh dunia. (AGUS WAHYUDI/JAWA POS)

PROKAL.CO, Kecintaan musisi jazz Dwiki Dharmawan akan budaya tak perlu diragukan lagi. Dwiki merupakan sosok visioner dalam musik. Pasar Klewer, project-nya yang kental persilangan budaya mendapat apresiasi luas dari seluruh dunia.

NORA SAMPURNA, Jakarta

JANGANKAN main bareng, para calon rekan kolaborasinya cuma dikenal Dwiki Dharmawan sebatas nama. Tapi, begitu masuk ke studio di London itu, segala batas jadi lebur. 

Rekaman album pun langsung dimulai hari itu juga. “Musik yang berbicara. Semua yang ada di album benar-benar yang dimainkan saat rekaman, tanpa diulang,” ujar Dwiki mengenang proses rekaman pada Juni 2015 lalu.

Hasil berkutat di studio selama dua hari dengan para musisi Inggris dan Italia tersebut adalah Pasar Klewer. Sebuah album yang jejak kesuksesannya tetap bertahan sampai sekarang. Undangan tampil untuk Dwiki terus berdatangan. Pertengahan tahun ini, misalnya, dia keliling ke Inggris, Austria, Kroasia, Jerman, Bulgaria, dan Italia.

Pada September lalu, giliran dua negara pecahan Uni Soviet yang dirambah suami penyanyi Ita Purnamasari itu, untuk membawakan Pasar Klewer. Yang pertama Kazakhstan, lalu Azerbaijan. Semua undangan tersebut berdatangan karena Pasar Klewer tak cuma sukses secara komersial. Tapi, juga secara estetika.

Album sekaligus project yang dinamakan sesuai nama pasar legendaris di Solo, Jawa Tengah, itu diulas dengan predikat lima bintang di berbagai majalah jazz kenamaan. Di antaranya Jazz Wise, Jazz Time, dan All About Jazz.

Hingga kemudian dinobatkan sebagai The Best Album Jazz dunia pada 2016 oleh Down Beat Magazine, majalah jazz tertua di Amerika Serikat. Album ini juga menduduki nomor satu penjualan fisik CD jazz di Amazon.com pada 2016.

Karena banyaknya permintaan dari penggemar musik di Eropa, versi vinyl-nya juga dicetak di Polandia. Dan, didistribusikan oleh perusahaan distribusi dari Austria. “Ini album unik memang,” kata Dwiki, lantas tertawa sebelum melanjutkan, ”Direkam live, bebas saja, kalau harus berhenti, berhenti. Kalau harus terus ya terus,” lanjutnya ketika ditemui di Jakarta.

Para musisi yang terlibat dalam project ini adalah Gilad Atzmon (saksofon), Nicolas Meier (gitar), Asaf Sirkis (drum), Yaron Stavi (bas akustik), Mark Wingfield (gitar), dan Boris Savoldelli (vokalis). Kecuali Savodelli, semua musisi tersebut berasal dari Inggris. Adalah Leonardo Pavkovic, produser MoonJune Records, yang menjadi “mak comblang.” Persisnya ketika Dwiki tengah merekam album So Far So Close di AS.

Kepada pentolan Krakatau itu, Leonardo mengatakan dengan yakin kalau para musisi itu bakal cocok berkolaborasi dengan Dwiki. Sebab, gaya main mereka selaras dengan karakter musikal Dwiki selama ini yang kental nuansa tradisional Indonesia. Serta kebebasan berekspresi yang kuat.

Sedari awal, Dwiki dan Pavkovic memang menyepakati bila rekaman kolaborasi tersebut bakal dilakukan dengan sistem live recording in studio. “Jadi, satu bulan di AS, balik ke Tanah Air, saya menyiapkan komposisi untuk rekaman di London,” tutur musisi kelahiran Bandung, 19 Agustus 1966, itu.

Nama Pasar Klewer, yang juga jadi salah satu judul lagu di album, memang berasal dari nama Pasar Klewer di Solo. Inspirasi tersebut datang ketika suatu hari Dwiki nongkrong di sana. Terekam dalam benaknya suasana di pasar yang tak cuma diwarnai transaksi jual-beli. Tapi, kuat nuansa kulturalnya.

Album yang direkam di Studio EastCote London itu memang sangat kuat nuansa persilangan budaya. Atau bisa dibilang sebuah karya jazz multikultural. Elemen tradisional Indonesia dipertemukan dengan musik Barat.

Sound-nya sangat kaya. Ada salendro, angklung, saksofon, klarinet, dan banyak instrumen lainnya yang berpadu apik. Lagu Tjampuhan, misalnya, menggunakan gamelan gong kebyar dan semar pegulingan Bali dengan komposer gamelan I Nyoman Windha.

Sedangkan dalam komposisi Pasar Klewer dan Lir Ilir, nuansanya gamelan Jawa. “Komposer gamelannya Aris Daryono yang tinggal di London. Vokal Lir Ilir diisi oleh sinden Peni Candrarini,” urai Dwiki.

Ke-11 komposisi dalam Pasar Klewer itu direkam dalam dua hari. Ada yang durasinya 9 menit, 11 menit, bahkan hampir 13 menit. Yang paling panjang Pasar Klewer (12 menit 14 detik) serta Tjampuhan (12 menit 58 detik).

Pasar Klewer kali pertama dimainkan di Bali World Music Festival pada Desember 2015. Sambutan audiensi luar biasa. Dan, begitu dirilis resmi pada November 2016, pujian, lewat review di berbagai platform, langsung datang dari berbagai penjuru dunia. Di antaranya AS, Cile, Paraguay, Bolivia, Kroasia, Italia, dan Brasil. “Surprise dan haru. Karena berarti musik saya dibeli dan didengar di seluruh dunia, di negara-negara yang akarnya bukan jazz,” ungkap ayah seorang putra tersebut.

Karena sifatnya project, yang berarti terbuka untuk diisi musisi mana saja dan dari mana saja. Tiap kali mengusung Pasar Klewer ke panggung, Dwiki biasa bergonta-ganti kolaborasi. Itu juga sejalan dengan keterbukaan terhadap segala anasir musik yang jadi prinsip bermusik Dwiki selama ini. “Karena itulah jazz. Musik jazz itu punya banyak surprise di dalamnya,” paparnya.

Keteguhan Dwiki di jalur jazz yang kuat unsur etniknya telah merentang sekitar tiga dekade. Bukan pilihan yang mudah sebenarnya. Karena, siapa pun tahu, itu jalur yang sulit “dijual.”

Tapi, Dwiki berhasil bertahan dan mendapat pengakuan luas. Yang bisa dibuktikan, di antaranya, lewat pergaulan musikalnya yang melintas batas-batas negara. “Instrumen musik pertama yang saya kenal itu gamelan, sebelum piano. Saya biasa memainkan bonang, angklung,” ujar personel Krakatau tersebut.

Baginya, keragaman musikal Indonesia itu mengagumkan. Dari Sabang sampai Merauke bisa jadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya. “Musik tradisional menurut saya bukan music from the past, justru merupakan future of music,” ucap musisi berdarah darah Sunda dan Jawa tersebut.

Obsesinya adalah mengangkat berbagai kekayaan musik Indonesia ke pentas musik internasional. Itu yang mendorongnya membawa Krakatau ke arah ethno setelah sebelumnya banyak bermain di wilayah fusion jazz.

Ketika Krakatau Ethno vakum awal 1990-an pun, Dwiki tetap bersiteguh dengan jalur pilihannya itu. “Ada kebahagiaan tersendiri di mana saya merasa punya jati diri yang kuat ketika bersanding dengan teman-teman musisi dari berbagai negara,” ungkapnya.

Keteguhan itulah yang diapresiasi Pavkovic. “Dwiki merupakan musisi besar yang memiliki racikan tersendiri untuk membawa musiknya ke ranah global,” ujar Pavkovic. Dia mengenal musik Dwiki sejak 2003. Kemudian keduanya mulai penjajakan pada 2008. Dan, akhirnya bekerja sama menggarap album Dwiki pada 2015.

Itu pula yang membuat Pavkovic sangat yakin saat menjodohkan Dwiki dengan para musisi Inggris dan Italia yang akhirnya menghasilkan Pasar Klewer. “Saya melihat ada sisi jenius dalam diri Dwiki yang masih tersembunyi dan harus digali. Dipertemukan dengan musisi-musisi lain yang juga visioner, seperti Asaf Sirkis, Mark Wingfield, jelas itu kombinasi yang hebat,” paparnya.

Kini setelah sukses dengan Pasar Klewer, kolaborasi Dwiki dengan Pavkovic berlanjut. Mereka sudah merekam dua album di Spanyol. Salah satunya, album yang mempertemukan jazz dengan progressive rock serta elemen etnik. Album itu rencananya akan dirilis pada Mei 2018.

Proyek satunya lagi yang akan rilis lebih awal, Januari 2018, adalah album yang, dalam kalimat Dwiki, bakal melampaui gaya atau genre yang tak bisa dibayangkan. ”Ini bakal menjadi musik baru, sebuah pergeseran besar dalam improvisasi, tapi tetap jazz dan benar-benar inovatif,” terangnya.

Sejauh ini, lewat beragam kolaborasi, baik melalui World Peace Orchestra, Pasar Klewer, World Peace Trio, maupun Dwiki Dharmawan & Friends, Dwiki sudah memperkenalkan Indonesia di 70 negara. “Saya hanya bisa bilang alhamdulillah. Tapi, tidak lantas berhenti, melainkan bakal terus berkarya,” ujarnya. (*/ttg/jpnn/rom/k9)


BACA JUGA

Jumat, 17 November 2017 09:32

NGERI..!! Overkapasitas Penjara Capai 260 Persen

SAMARINDA – Masalah overkapasitas di rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas)…

Jumat, 17 November 2017 09:30

Tabrak Tiang Listrik, Setnov Gegar Otak

JAKARTA  – Drama terkait Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) kembali berlanjut. Ketua Umum Partai…

Jumat, 17 November 2017 09:15

Sama-Sama Baik untuk Kaltim

SAMARINDA – Polemik proyek Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto di Kota Tepian oleh dua…

Jumat, 17 November 2017 09:11

Dirakit hingga Subuh, Terkendala Mahalnya Baterai

Digadang-gadang menjadi mobil listrik pertama di Kalimantan, Enggang Electric Vehicle 1 (Enggang Evo…

Kamis, 16 November 2017 09:51

Ada Bandara APT Pranoto, Manfaatnya Tak Hanya untuk Samarinda

SAMARINDA- Kisruh nota keberatan Pemkot dan DPRD Balikpapan yang menolak rekomendasi perpanjangan landasan…

Kamis, 16 November 2017 09:42

“Bubur” Selimuti Jalan Antardaerah

SANGATTA – Jalan antardaerah bak dilumuri “bubur”. Rabu (15/11) jalur Sangatta-Rantau…

Kamis, 16 November 2017 09:39

Dialog Dibalas Timah Panas

JAKARTA – Upaya Polri–TNI dalam berdialog dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua,…

Kamis, 16 November 2017 09:37

Atletnya Ada Eks Taekwondo, Bisa Jadi Ajang Pelampiasan

Cabang olahraga (cabor) rugbi bukanlah sepak bola yang menjadi primadona di atas bumi Indonesia. Walaupun…

Kamis, 16 November 2017 09:30

Tolak Pisah, Pisau Diajak Berulah

“SIAPA yang berani ceraikan saya,” teriak Bedu, nama samaran, setelah dua langkah keluar…

Kamis, 16 November 2017 08:45

Pilgub Kaltim, Mahyunadi Lobi Rizal

SANGATTA - Ketua DPRD Kutim Mahyunadi yang belakangan viral di media sosial diisukan maju pilgub karena…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .