MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 11 November 2017 07:37
Kaltara Ingin Beli Dua, Disiapkan untuk Ambulans Udara

Nurtanio, Pesawat N-219 yang Dikhususkan untuk Kawasan Perbatasan

KARYA ANAK BANGSA: Presiden Joko Widodo (tengah) menerbangkan pesawat kertas dalam peresmian pemberian nama Pesawat N-219 di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/11).

PROKAL.CO, Puluhan pesanan untuk Pesawat N-219 berdatangan jauh sebelum pesawat itu diberi nama. PT Dirgantara Indonesia (DI) yakin bisa memenuhi kebutuhan pesawat perintis tersebut, karena N-219 akan diproduksi per 2019.

PRESIDEN Joko Widodo meresmikan nama yang disematkan pada pesawat buatan anak bangsa itu. Dipilihlah Nurtanio. Siapa dia? Nurtanio merupakan sosok perintis di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Laksamana Muda Udara anumerta Nurtanio Pringgoadisuryo adalah kepala Lapan pertama saat berdiri pada 27 November 1964. Namanya juga pernah diabadikan menjadi nama perusahaan PT DI saat kali pertama beroperasi.

 Presiden menuturkan, salah satu hal yang dia teladani dari Nurtanio adalah semangat kerja. Dia ingat betul kalimat tersebut. ’’Sudah, kita jangan ribut-ribut yang penting kerja,’’ ucap Jokowi menirukan Nurtanio, saat meresmikan penamaan pesawat itu di Lanud Halim Perdanakusuma kemarin (10/11). Hasil dari prinsip tersebut terasa betul saat ini, di mana putra-putri Indonesia kembali bisa memproduksi pesawat terbang.

 Menurut Jokowi, pesawat yang masih berupa prototipe itu harus segera dikomersialkan. ’’Kalau ini sudah selesai seluruhnya, proses berikutnya adalah proses bisnis,’’ tutur mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Pesawat itu harus bisa masuk dan ikut bersaing di dunia industri dirgantara, dan menjadi komoditas yang laku di pasaran. Bila itu terjadi, industri pesawat terbang nasional akan mampu berkembang.

Sementara itu, Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro menuturkan, saat ini pesanan pesawat N-219 sudah mencapai 80 unit. Baik maskapai swasta maupun pesanan dari pemerintah daerah. Pesawat itu memang dirancang untuk terbang di daerah terpencil, dan mampu mendarat di landasan sepanjang 400–500 meter. Sementara itu, pesanan dari luar Indonesia masih terus dijajaki, salah satunya dari Meksiko. 

 Produksi akan dimulai pada 2019. ’’Mudah-mudahan awal Juli kami sudah bisa delivery, dan first customer yang kami deliver adalah Pelita Air Service,’’ terangnya. Sementara itu, pelanggan kedua yang membeli pesawat yang harga per unitnya mencapai USD 6 juta itu adalah Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie.

 Pesawat N-219 yang terbang kemarin adalah prototipe pertama. Rencananya, prototipe kedua akan selesai pada medio 2018. ’’Kami akan terus uji coba sampai jam terbangnya minimal 350,’’ lanjutnya. Jadi, bisa betul-betul diketahui apa saja kekurangan pesawat tersebut.

            Disinggung mengenai target, Elfien optimistis PT DI bisa memproduksi hingga 50 pesawat per tahun. Namun, untuk tahun-tahun pertama, dia hanya menargetkan produksi 6–12 unit per tahun. Terlebih, pada 2019 ada konsumen pertama yang memang harus mendapat prioritas.

            Mengenai ketangguhan, Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, N-219 merupakan yang terbaik di kelasnya. ’’Dia mampu bermanuver dengan kecepatan yang lambat, sehingga cocok untuk terbang di antara pegunungan dan perbukitan,’’ tuturnya.

            N-219 adalah pesawat terbesar di kelasnya. Memiliki panjang 16,74 meter, tinggi 6,18 meter, bentang sayap 19,50 meter, dan lebar badan (fuselage) 1,8 meter. Dengan muatan penuh, berat total N-219 adalah 7 ton. Pesawat 19 penumpang itu juga mampu mengangkut beban hingga 2,3 ton, sehingga cocok untuk membawa bahan-bahan pokok.

            Komisaris Utama PT DI Marsekal Hadi Tjahjanto optimistis prospek pesawat Nurtanio akan bagus dalam jangka panjang. Mengingat, Indonesia merupakan negara kepulauan dan banyak landasan di pulau-pulau itu yang pendek. ’’Saya terlibat langsung, dan performanya menurut saya oke,’’ ujar kepala Staf Angkatan Udara itu.

BELI DUA

Gubernur Kaltara Irianto Lambrie mendapat kesempatan menyaksikan peresmian  N-219. Irianto menjadi satu-satunya kepala daerah yang diundang pada peresmian itu oleh Presiden Joko Widodo.

Menurut Gubernur, pesawat tersebut menyimpan kecanggihan luar biasa, bahkan lebih baik dari pesawat sejenis buatan asing. Pesawat N-219 memiliki kecepatan maksimum 210 knot, dan kecepatan terendah 59 knot. Artinya, pesawat ini bisa terbang dengan kecepatan cukup rendah namun pesawat masih bisa terkontrol. Itu penting terutama saat memasuki wilayah tebing dan pegunungan.

Spesifikasi ini yang membuat gubernur tertarik untuk membelinya. “Kami akan diskusikan dengan DPRD karena tujuannya adalah untuk ambulans udara sekaligus untuk angkutan ke perbatasan dalam menyongsong DOB (daerah otonomi baru),” kata Irianto kepada Radar Tarakan.

Wacana tersebut juga sejalan dengan rencana Pemprov Kaltara untuk membangun bandara perintis di Lumbis Ogong dan Sebuku, Kaltara, serta daerah yang selama ini belum terjangkau maskapai penerbangan.

“Kelebihan pesawat ini bisa take off dan landing di landasan sepanjang 500 meter saja. Selain itu, bisa mengangkut 19 orang dengan bobot bagasi 2,3 ton. Jadi, untuk mengangkut sembako ke perbatasan tentu sangat bagus,” ujar Irianto.

Lantas seperti apa skema pembeliannya? Dijelaskan Gubernur, ada beberapa skema pembayaran yang bisa dilakukan untuk membeli pesawat ini dengan catatan tidak memberatkan APBD provinsi. “Kalau bisa sistem kredit, kerja sama atau investor,” tuturnya.

Bisa juga menggunakan dana APBD provinsi, tapi pembiayaannya bertahap, atau Pemprov Kaltara bekerja sama dengan investor, atau dengan opsi lain pinjaman kredit perbankan.

Namun yang pasti, Pemprov Kaltara harus melakukan kerja sama dengan maskapai yang sudah punya izin terbang, salah satunya Pelita Air. “Saya sudah diskusi dengan dirut DI (Dirgantara Indonesia). Ada beberapa skema yang dapat dilakukan untuk pembelian pesawat ini,” jelasnya.

Untuk penjajakan awal, lanjut Irianto, pihaknya sudah mengagendakan Dinas Perhubungan Provinsi Kaltara dan DPRD Kaltara untuk meninjau pembuatan pesawat tersebut langsung ke hanggarnya. “Sistemnya kerja sama bisnis. Bisa melibatkan perusda atau kita mendorong pihak swasta yang beroperasi dan kita fasilitasi,” jelasnya.

Menurut Gubernur, pesawat lokal buatan PT DI ini prospeknya bagus, apalagi untuk Kaltara yang wilayahnya luas dan berada di perbatasan. Saat disinggung mengenai pengalaman Pemprov Kaltim yang pernah membeli pesawat namun operasionalnya terhenti dan akhirnya dijual, menurut dia, berbeda dengan wacana saat ini.

“Itu salah beli jenis pesawat. Terlalu kecil kapasitasnya. Baling-baling satu,” ujar Irianto yang saat itu belum menjadi sekprov. (byu/ddq/jpnn/far/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 07 April 2018 07:20

Menolak Partai demi Warga Kaltim, Target Jadi Ketua DPD RI

Polemik rencana pergantian Mahyudin di wakil ketua MPR mulai meredup. Hingga kemarin (6/4), dia masih…

Sabtu, 07 April 2018 07:09

DP Hanya Rp 3 Juta Bisa Pilih Lokasi

BALIKPAPAN  —  Borneo Paradiso tak pernah berhenti menyuguhkan hunian terbaik bagi warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .