MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Jumat, 10 November 2017 09:54
Kenapa Takut Degradasi?

PROKAL.CO, CATATAN: RIZAL JURAID

HARI ini “bersejarah”. Persiba Balikpapan akan menjamu Mitra Kukar. Saudara se-Kalimantan Timur. Dalam partai terakhir Liga 1 2017. Ditutup derby pula. Sekaligus menjadi laga home terakhir di Liga 1, karena Beruang Madu bakal turun kasta.

Tapi, kepastian terdegradasinya Persiba ke Liga 2 musim depan bukanlah akhir segalanya. Semuanya memang akan berubah. Calon lawan atau atmosfer pertandingan. Bakal minim nama-nama besar mampir ke Kota Minyak. Publikasi dan atensi nasional mungkin akan menyurut juga.

Tapi, saya ragu jika itu termasuk antusiasme pencinta bola lokal. Terdegradasi ke Liga 2, Divisi I, atau apalah namanya, bukanlah hal yang sepenuhnya asing. Bukankah Liga Indonesia pertama (1994/95) dimulai dengan status Persiba (bersama PS Bengkulu saat itu) yang “terselamatkan” berkat format dua wilayah, demi melengkapi kontestan liga menjadi 34? Semusim sebelumnya, tim Selicin Minyak (julukan saat itu) sebenarnya sudah tergelincir ke Divisi I di Kompetisi Perserikatan.

Persiba akhirnya benar-benar terdegradasi di Ligina musim kelima. Tim ini menjadi juru kunci Grup E, dari lima grup penyisihan se-Indonesia musim 1998/99. Beruang Madu (julukan berikutnya) empat musim terbenam di kasta kedua. Sempat diwarnai pergantian ketua umum dari (almarhum) Mulyono ke Syahril HM Taher pada 2003, tangan dingin “Pak Ketua” (sapaan populer Syahril) membawa Persiba kembali mentas ke Divisi Utama musim 2005.

Gonta-ganti pemain, wajah pelatih yang tidak baku, begitu juga pasang-surut manajemen tim, jamak dilakukan setiap musim. Tapi benang merah dari perjalanan Persiba sejak medio 2000-an hingga pertengahan 2010-an itu adalah, tim ini dikenali sebagai kuda hitam yang susah ditaklukkan asal Kalimantan, dan karena itu, disegani lawan-lawannya.

Karenanya, terdengar jenaka jika Balikpapan harus menghadapi Liga 2 dengan wajah muram. Tidak bisakah wajah kita lebih ceria memandang? Tidak adakah yang berpikir bahwa Liga 2 semestinya menjadi momen kebangkitan?

Mari ambil contoh kasus: Persebaya Surabaya. Rasanya tidak ada klub di Indonesia yang sebandel Green Force. Rutin “digebuki” PSSI. Dikurangi poin, didegradasikan, ditepikan. Suporter mereka juga sama bandelnya. Tapi militan. Kombinasi perjuangan pengurus klub dengan Bonek-lah yang menjadikan Persebaya seperti yang kita lihat sekarang. Di bibir promosi Liga 1.

Kita tahu, ada peran besar Jawa Pos di balik itu–walau mesti mengambil alih tim yang hanya berkompetisi di kasta kedua. “Saya tidak peduli, bahkan jika tim ini (Persebaya) harus tampil di Liga Nusantara sekalipun,” kata Azrul Ananda, bos Jawa Pos yang kini presiden Persebaya, suatu ketika.

Angin perubahan bertiup di Surabaya. Pertandingan dikemas lebih bergaya. Manajemen dibenahi, memakai standar DBL (kompetisi basket pelajar garapan Jawa Pos yang terbukti sukses itu). Bonek di-rebranding. Tidak boleh urakan. Tidak boleh chant rasial lagi. Hasilnya, semangat “ber-Bajul Ijo” di Kota Pahlawan rasanya belum pernah sebergairah ini.

Kawan Jawa Pos yang diperbantukan di direksi Persebaya menginfokan, rerata penonton di Gelora Bung Tomo (GBT) ada di kisaran 30 ribu orang. Terendah 19 ribu. Tertinggi 46 ribu. Ini terjadi saat Persebaya menjamu Persigo Semeru FC pada 30 September lalu. “Aslinya sih tembus 50 ribu juga,” kata dia. Yang jelas, itu sudah cukup untuk mematahkan rekor penonton tertinggi Liga 1 musim ini, yakni 36 ribu, milik partai el clasico Persib Bandung vs Persija Jakarta di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Bayangkan, animo penonton Liga 2 lebih besar ketimbang divisi di atasnya. Cuma ada di Surabaya.

Tapi kawan itu juga mengakui Persebaya memang belum terlalu mem-push penjualan merchandise. Baru ada dua store dan joint dengan beberapa mitra. Itu pun jersey yang terjual sudah ada 5.000-an buah. Bentuk merchandise juga akan diperbanyak biar makin variatif. Yang pasti, hasil pemasukan dari beberapa pos di atas (termasuk juga sponsor) sudah cukup untuk membiayai perjalanan tim semusim.

Persiba memang bukan Persebaya. Balikpapan jauh dibandingkan Surabaya. Namun ada beberapa poin yang bisa menjadikan keduanya identik.

Surabaya punya GBT, Balikpapan ada Batakan. Sama-sama besar. Namun, kita bisa mengklaim Batakan lebih mewah. Lokasi GBT bahkan tak strategis di pinggiran Surabaya. Batakan sendiri bukan di pusat kota, tapi infrastruktur jalan ke sana lebih memadai. Bukan lagi stadion pinjaman di kawasan perusahaan yang sering jadi bahan ledekan karena becek dan menua itu.

Persebaya punya Bonek, Persiba punya Balistik. Reputasi Bonek sudah termasyhur dalam mengawal Persebaya sejak dulu. Balistik, atau elemen suporter Persiba lain, lebih muda. Tapi, militansi mereka mulai terbentuk. Belum apa-apa sudah terlontar ikrar untuk setia bersama Persiba sampai kapan pun dan di kompetisi mana pun–bahkan sebelum Beruang Madu dipastikan terdegradasi. Dulu, melihat minimnya penonton di stadion lama, kita cemas berpikir akan seperti apa pemandangan di stadion baru nanti. Eh, balkon bawah Batakan bisa penuh juga.

Persebaya adalah nama yang dirindukan kembali ke Liga 1. Tanpa ada maksud kepedean, sudah banyak suara yang menginginkan Persiba segera promosi kembali. Liga 2 bukan habitat yang pantas bagi Beruang Madu.

Apa yang telah dilakukan Persebaya, dalam skala tertentu bisa diadaptasi di Balikpapan. Kita membayangkan, ruang-ruang kosong di lantai dasar Batakan itu bisa menjadi kawasan komersial, kuliner, shopping, dan lain sebagainya (Persebaya sendiri belum sepenuhnya melakukan itu).

Manajemen Persiba kini punya ruangan lega untuk mewujudkan store yang berjualan jersey dan segala jenis merchandise lain. Bikin tur harian berkeliling stadion untuk para pengunjung dengan mengutip biaya. Mumpung Batakan masih baru dan belum banyak orang mengenalnya. Semestinya ada banyak ide di kepala.

Kita tak patut khawatir Persiba bakal tampil di Liga 2. Sehingga penonton melupakan dan meninggalkannya. Sebagai wartawan yang pernah meliput Persiba tampil di Divisi I sejak awal era 2000 hingga 2004, saya tahu persis gairah penonton Balikpapan saat itu.

Mereka tetap berduyun-duyun datang, berjejalan di tiap sudut stadion yang jauh dikatakan layak, demi menyimak penampilan nama-nama lokal, seperti Junaidi Tagor atau sang metronom Jumadi Abdi. Sebelum era pemain asing seperti Adrian Trinidad atau Marcelo Braga tiba, pemain asli Balikpapan sudah cukup membanggakan dan menyihir publik Kota Minyak. Ingat, kita belum bicara era Gatot Indra atau almarhum Junaidi.

Tidak, kita tidak patut khawatir Persiba tampil di Liga 2. Yang patut dikhawatirkan adalah bila manajemen Beruang Madu tidak cukup punya syahwat untuk mengelola tim secara modern. Tidak cukup punya mimpi dan aksi bahwa Liga 2 sekalipun bisa menjadi ajang berkreasi yang sempurna. Persiba masih punya nama besar. Liga 2 sama sekali bukanlah alasan untuk tim kehilangan motivasi, mengecilkan diri, melayu, lalu mati.

Tidak, tidak perlu khawatir soal figur pemimpin. Syahril HM Taher pun sudah berkali-kali mengisyaratkan lengser. Sayangnya, memang, problem laten di Balikpapan adalah setiap kali tuntutan suksesi di Persiba mengemuka, setiap kali itu pula tidak ada yang berani mengacungkan jari sebagai pengganti.

Degradasi dari Liga 1 mungkin berarti kematian sementara. Tapi, sejatinya kematian hanyalah awal dari kehidupan kedua. Sebagai orang beragama, saya sepenuhnya meyakini itu. (rizal.juraid@kaltimpost.co.id)


BACA JUGA

Rabu, 08 November 2017 09:16

Triliunan Disia-siakan, Belukar di Gedung Ratusan Miliar

CATATAN: SB SILABAN* BERUBAH memang tak mudah. Presiden Joko Widodo mengkritik tingkah birokrasi yang…

Selasa, 07 November 2017 09:40

Kenapa Menentang Kemajuan?

CATATAN: SB SILABAN SENIN malam pekan lalu, saya menggunakan jasa Go-Jek, ojek online, dari sebuah hotel…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .