MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Selasa, 07 November 2017 09:40
Kenapa Menentang Kemajuan?

Berubah, atau “Melawan Kehidupan” (1)

PROKAL.CO, CATATAN: SB SILABAN

SENIN malam pekan lalu, saya menggunakan jasa Go-Jek, ojek online, dari sebuah hotel berbintang di Jalan Soekarno-Hatta, Km 5, tempat menginap. Tujuan saya Kantor Iklan Kaltim Post di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Markoni. Saya punya skedul membekali awak halaman Komunikasi Bisnis dan Society. Agar lebih kreatif menyajikan halaman yang disukai banyak instansi dan perusahaan itu.

Pengemudi ojek itu bernama Misran. Sikapnya santun. Dengan ongkos Rp 21 ribu, perjalanan beberapa kilometer itu saya manfaatkan untuk mendapatkan informasi. Seputar transportasi online tentu saja. Termasuk kenapa masih ada penolakan dari pihak tertentu. Baik terhadap ojek maupun mobil penumpang. Sebagai perbandingan, di Samarinda, transportasi online beroperasi tanpa hambatan.

Satu angka dari Misran membuat saya tercengang. “Bapak tahu berapa jumlah pengemudi Go-Jek di Balikpapan ini? 7.000 orang,” katanya. Ketika saya melontarkan komentar bernada kurang yakin, dia “menantang” saya untuk mengeceknya di kantor perusahaan penyedia aplikasi online itu. “Delapan puluh persen dari kami adalah korban PHK,” ujar Misran.

Tanpa nada kesal, dia berujar tak mengerti kenapa masih ada pihak yang menentang transportasi online. “Pekerjaan ini bagi kami adalah jalan keluar sementara, sambil menunggu kesempatan yang lebih baik,” katanya. Saya berhitung, jika dari 7.000 orang itu ada 3.000 orang yang sudah berkeluarga, masing-masing dengan dua anak, berarti ada 12.000 jiwa yang hidup dari hasil “ngojek”. Itu baru di Go-Jek. Di Balikpapan juga ada jasa penyedia ojek online lain. Khusus mobil, selain Go-Car dan Grab, juga ada Uber.

Seusai pertemuan di Kantor Kaltim Post, saya kembali menggunakan jasa transportasi online. Tujuannya, memperoleh lebih banyak kisah. Kali ini saya menggunakan jasa mobil. Yang menjemput saya, agak surprise, adalah seorang ibu berusia pertengahan 40-an. Linda namanya. Berkacamata, dia mengemudikan Toyota Avanza Veloz warna gelap. Saat memasuki mobilnya, tercium aroma wangi yang menyenangkan. Seperti Misran, sikapnya juga santun.

Linda berkisah, dirinya sudah enam bulan jadi pengemudi online. “Jualan sepi,” ujar perempuan beranak tiga, tertua 21 tahun itu, tentang toko elektronik yang dikelolanya bersama suami. “Daripada duduk-duduk menunggui toko yang sepi, lebih baik ‘nge-Go-Car’,” ujarnya. Setiap hari, rata-rata dia memperoleh 5–7 penumpang.

Linda berharap, pemerintah bijak memutuskan peraturan tentang angkutan online. “Ini zaman kemajuan, Pak,” katanya. Linda menyebutkan, adiknya yang bekerja di kantor wilayah sebuah bank swasta di Balikpapan, juga mengisi jam selepas kantor dengan menjadi pengemudi online. “Ada 1.000 orang pengemudi online di tempat saya,” ujar Linda.

Sesampai di hotel, dia menerima uang Rp 56 ribu sebagai ongkos jasanya, dengan senyum ramah. Saya pun mengirimkan penilaian bintang lima ke perusahaan penyedia aplikasi itu, atas layanan yang baik dari Linda. Transportasi online hanyalah sekelumit kisah dari kemajuan yang kita hadapi. Dunia memang sedang berubah. Sangat cepat. Sering tanpa menunggu kita siap.

Baru-baru ini, toko serba-ada, Lotus Department Store, mengumumkan penutupan dua gerainya di Jakarta. Sebelum itu, salah satu merek ritel nasional lain, sudah mengumumkan hal senada untuk sebagian tokonya. Yang paling baru adalah pengumuman dari Debenhams, toserba mewah dari Inggris. Isinya sama. Menutup gerai terakhirnya di Senayan City, Jakarta, setelah menutup dua lainnya. Sejumlah analisis bisnis menyebutkan, perubahan pola belanja masyarakat, termasuk pemanfaatan belanja dalam jaringan (online shopping), termasuk faktor penting penyebab ditutupnya toserba-toserba itu.

Tak hanya di Jakarta. Di New York, tiga raksasa ritel, yakni Walmart, JC Penney, dan Sears mengumumkan penutupan gerai mereka di Staten Island Mall, yang termasuk terbesar di kota bisnis itu. Ketiganya keok menghadapi perubahan belanja konsumen.

Koran dan media cetak lain juga sedang mengalami masa penuh tantangan. Minat membaca koran menurun. Meskipun di sejumlah tempat, masih ada koran yang mencatatkan pertumbuhan. Dua di antara penyebab stagnannya pertumbuhan koran adalah media online dan media sosial.

Pada 2013, dunia koran dikejutkan oleh penjualan koran tertua dan paling berpengaruh di AS, Washington Post. Itu setelah selama tujuh tahun, pendapatannya terus menurun. Lalu rugi 14,8 juta dolar AS pada dua kuartal 2013. Washington Post dijual ke Amazon, raksasa ritel online shopping.

Membandingkan dengan angkutan konvensional yang mendemo angkutan online, tentu sangat tak lucu jika media cetak lantas berdemo, minta media online ditutup dan media sosial dilarang. Mau tidak mau, media cetak lalu jungkir-balik melakukan berbagai upaya. Agar bisa bertahan. Termasuk dengan menyajikan sebagian kontennya secara online juga.

Di Kaltim Post Group, yang meliputi Kaltim Post dan sembilan media cetak di Kaltim, Kaltara, Kalsel, dan Kalteng, kami pun berbenah. Apa yang kami sajikan, dievaluasi secara internal. Setiap hari. Yang bikin berita dangkal disemprot. Yang datanya salah “dikuliti”. Yang tak mau berubah agar lebih baik, menghadapi kemungkinan pahit; dipamitkan dari koran ini.

Kemajuan dan perubahan bukan untuk dilawan, begitu kata orang bijak. Yang bisa dilakukan adalah melakukan penyesuaian. Di ibu kota negara bagian Victoria di Australia, Melbourne, toserba Debenhams yang di Jakarta ditutup, justru baru dibuka. Namun, dengan sejumlah penyesuaian. Konsumen misalnya tak harus antre di kasir untuk membayar. Staf toko akan hilir mudik dengan alat pembayaran elektronik, menangani pembayaran di berbagai bagian toko itu.

Calon pembeli juga bisa mengirimkan daftar barang yang diminatinya, dan toko akan menyediakannya di ruang ganti yang lapang. Di negara asalnya, Debenhams didesain ulang. Tiga di antaranya dilengkapi dengan pusat kebugaran Sweat, untuk menyelaraskan posisi Debenhams dengan gaya hidup kekinian.

Sebagian Anda yang membaca tulisan ini sambil menikmati secangkir teh, air panas untuk menyeduh teh itu juga hasil perubahan. Sekian tahun lalu, istri Anda mungkin memasak memakai kompor minyak tanah. Lalu berubah ke kompor gas, perubahan yang juga sempat ditentang berbagai kalangan. Sampai kemudian perubahan itu terasa biasa, lalu menjadi bagian dari keseharian kita. Jika di samping teh Anda ada martabak, bisa jadi istri membelinya lewat online juga. Simpel. Praktis. Tak perlu keluar rumah.

Yang pragmatis bilang; berubahlah, atau mati. Tapi, janganlah mati dulu. Kalaupun tak bisa berubah sepenuhnya, minimal melakukan penyesuaian. Lihat kiri dan kanan. Apa yang bisa kita perbuat? Baik untuk diri sendiri. Juga untuk orang lain. (far/k8/bersambung)

(*) Anggota Dewan Redaksi Kaltim Post Group


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .