MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 07 November 2017 08:18
Tak Perlu Matang, Desain Awal Menentukan

Taufik Ramadhan, Pemahat Buah Kota Tepian yang Akan Berlomba di Jepang

TAK SEKADAR BUAH: Taufik Ramadhan menunjukkan semangka yang berhasil di ukir pada Ahad (5/11). Dia mendapat tawaran dari pemahat profesional untuk bergabung dalam lomba snow carving di Sapporo, Jepang, tahun depan. (saipul anwar/kp)

PROKAL.CO, Seni memahat bisa diaplikasikan ke berbagai media. Dulu, kayu dan tembikar umum digunakan. Saat ini, ragam bentuk dan motif terwujud dalam buah dan sayuran.

ROESITA IKA WINARTI, Samarinda

BULATAN semangka tampak menggoda saat siang nan terik. Jemari Taufik Ramadhan pun terampil mengupasnya. Tidak untuk disajikan. Namun, diukir agar makin cantik. Di Kota Tepian, Taufik merupakan pemahat buah. Keahliannya umum disebut fruit craving.

Ditemui di Hotel Grand Kartika Samarinda, dia bercerita kemampuan seperti ini belum banyak dimiliki orang. Sekalipun koki, ujar dia, belum tentu pandai dalam urusan memahat buah.

Selain kreativitas, diperlukan keterampilan dan ketekunan agar menghasilkan karya. ”Mungkin terlihat mudah. Tapi, ada teknik yang perlu dipelajari. Membuatnya pun harus fokus dan sabar,” ucap alumnus SMK 3 Samarinda itu, Ahad (5/11). Upik, sapaannya, mulai tertarik belajar, 2010 silam. Saat dia baru mulai belajar di sekolah vokasi di Jalan KH Wahid Hasyim I Samarinda. Dia mendapatkan ilmu mengukir buah dari salah satu juru masak tempat dia melakukan praktik kejuruan.

Awalnya, praktik membentuk bunga menggunakan media wortel. Sebagai pemula, dia menghabiskan lebih dari lima wortel. Waktu yang dihabiskan hampir seharian untuk berlatih. ”Untuk mempelajari ini, memang butuh semangat. Dulu, untuk membuat satu bunga saja, butuh waktu seharian. Sekarang, satu bunga di wortel tak sampai 10 menit,” jelasnya. Upik menyebut, saat sudah terampil dengan wortel, ukiran tersebut bisa diaplikasikan ke media lebih besar. Beberapa jenis buah yang biasa dipahat agar tampil lebih menarik, antara lain, semangka, labu, melon, pepaya, dan mangga.

Pemahatan buah terhitung cukup sulit. Butuh detail dan pembentukan gradasi yang baik. Upik menjelaskan, buah yang dipahat harus dalam kondisi segar, tidak terlalu matang, juga tidak mengkal. Setelah itu, dibuat dulu pola yang akan dipahat. Pemahat juga harus menentukan bagian-bagian buah menjadi apa. Misal, untuk membentuk buket bunga pada semangka, warna hijau bagian paling luar akan dijadikan daun. Sementara itu, warna merah akan dijadikan bunga dan warna putih sebagai gradasi agar bentuk bunga terlihat.

Untuk memahat, alat yang digunakan adalah seperangkat pisau ukir buah atau pisau garnish. Pisau ini biasanya memiliki bentuk-bentuk khusus, misalnya, parutan dan bengkok. Tingkat kesulitan memahat buah cukup tinggi. Pemahat harus teliti karena sekali salah gores atau potong, bisa menghancurkan desain awal. Setelah dipahat, buah biasanya dibungkus dengan plastik wrap yang kedap udara dan disimpan di kulkas dengan dingin standar, bukan freezer. Buah ini bisa tahan dalam tiga hingga empat hari.

Tak hanya flora dan fauna, Upik bisa memahat buah menyerupai karakter wajah. Khusus desain yang rumit, dia memerlukan waktu 3–5 jam. Kemampuannya ini mulai ditularkan kepada anggota yang tergabung dalam Indonesian Fruit Carving (IFC) Kaltim. ”Saat ini, anggotanya sekitar 20 orang. Kami membuka peluang bagi siapa saja yang mau bergabung. Asalkan tidak main-main saat belajar,” kata bungsu dari empat bersaudara itu.

Bila ingin bergabung, kata dia, bisa mengakses akun media sosial di Instagram dan Facebook @fruitcarving_samarinda. Upik juga membuka jasa kursus bagi instansi atau kelompok yang berminat.

Dana yang terkumpul, sebut dia, bakal digunakan untuk biaya berlaga di pentas internasional. Sebenarnya, dia telah mendapatkan tawaran dari pemahat profesional untuk bergabung dalam lomba snow carving. Lokasinya di Sapporo, Jepang. ”Tapi, saya terkendala biaya sebab semua memakai uang pribadi. Saya berharap ada yang bisa membantu. Nanti, saya akan mengajarkan kemampuan ini bila dibutuhkan,” sebut putra pasangan M Saini dan Sulasmini itu.

Pemuda kelahiran Sangasanga, 22 Februari 1994, itu menjelaskan, satu tim beranggotakan tiga orang perlu dana sekitar Rp 160 juta. Bila sudah mengantongi cukup dana, dia akan berlomba pada Februari 2018. ”Tapi, bila belum ada kesempatan, saya tetap bersemangat. Saya akan mengembangkan komunitas ini. Mungkin nanti ada kesempatan untuk anggota berlomba. Mulai tingkat nasional sampai internasional,” harapnya. (riz/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 08 Desember 2018 07:04
Mengintip Pernikahan Putra Kedua dari Wali Kota Balikpapan

Bibit Buah sebagai Tanda Cinta kepada Pasangan dan Lingkungan

Kegigihan Muhammad Rizky mengejar cinta Shindy Bidury Octavia tak bertepuk…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:56

Patroli TNI AL Diperlukan, Pariwisata Bisa Ikut Menyelamatkan

Di balik kesibukan Pasar Manggar, Balikpapan Timur, ada kawasan ekowisata…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:16
Pratu Agung Pujianto Raih Dua Emas Porprov

Persembahkan Medali untuk Calon Istri

Raut bahagia tak bisa disembunyikan Pratu Agung Pujianto. Dua emas…

Kamis, 06 Desember 2018 21:51

Tempat Makan Enak yang Cuma Ada di Bali

  Untuk anda yang ingin mencoba Makanan enak di Bali…

Sabtu, 01 Desember 2018 07:07

Mudahkan Pemerintah Bebaskan Lahan, Mempercepat Pembangunan

Kawasan Industri Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi di Kabupaten Bulungan…

Sabtu, 01 Desember 2018 06:05

Pintar Tangkap Peluang, Berani Berekspansi

Bukan hal mudah bagi Imam Muslikin dalam mengukir kesuksesan sebagai…

Sabtu, 24 November 2018 13:28
Penulis Muda Ini Tak Ingin Asal-asalan Berkarya

Rajin Mencatat Setiap Ide yang Tersirat

Seperti pepatah jatuhnya buah tak jauh dari pohonnya. Seperti itu…

Sabtu, 17 November 2018 01:45

Dimakamkan di Samping Putri Pertama sang Kakek

Kabar duka menyelimuti keluarga Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan…

Sabtu, 10 November 2018 06:56

Banyak Ingin Mengadopsi, Segudang Harapan untuk Abidah Nur Ghania

Nasib bayi yang terbuang selalu banyak yang menginginkan. Seperti itu…

Sabtu, 10 November 2018 06:43

Enam Generasi Terisolasi, Kini Berkah Bertubi

Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .