MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 27 Oktober 2017 08:22
Kawasan Industri; Antara Potensi dan Ironi (2)

PROKAL.CO, CATATAN: TEGUH RIYANTO
(Pengamat Perencanaan Kawasan dan Lingkungan)

BARU-baruini, Indonesia memperbaiki peringkat kelayakan investasi dari beberapa lembaga pemeringkat internasional. Sentimen yang bagus untuk merangsang para pemodal masuk, termasuk ke Kaltim.

Hal tersebut mestinya dimanfaatkan. Seperti diulas dalam tulisan sebelumnya, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia tak sendiri dalam memburu investor. Jika membiarkan potensi tersebut untuk mengembangkan kawasan industri, negara tetangga seperti Vietnam akan merebutnya.

Kenapa Indonesia perlu mengembangkan kawasan industri? Di dalam negeri, kenapa Kaltim mesti lebih gencar melakukannya, ketimbang daerah lain?

Alasan pertama, dalam sejarahnya sejak lebih dari seabad lalu, kawasan industri selalu sukses memacu pertumbuhan ekonomi, serta kemakmuran di wilayah yang menjadi lokasi pengembangannya.

Dalam sebuah kawasan industri, umumnya banyak pabrik, pusat pergudangan, pelabuhan, dan fasilitas pendukung industri lain. Paling tidak, itu semua butuh tenaga kerja dan pasokan kebutuhan harian yang tak kecil jumlah maupun nilainya.

Aktivitas di kawasan industri akan menghasilkan multiplier effect. Ekonomi pendukung, baik langsung maupun tidak langsung akan ikut bergerak.

Bahkan, dalam banyak pengalaman, kawasan industri tak hanya memancing gairah perekonomian di daerah sekitarnya. Sebut saja tenaga kerja, yang sangat mungkin berdatangan dari daerah lain.

Selanjutnya, peluang seperti penyedia katering, warung makan hingga restoran, toko kelontong dan toko sembako, jasa transportasi pun diendus oleh kalangan yang lebih luas. Belum lagi menghitung potensi berkembangnya usaha skala besar, seperti kontraktor, industri-industri pendukung, hingga supplier bahan baku maupun material pendukung lain.

Pada pokoknya, kehadiran kawasan industri melahirkan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, yang selanjutnya turut berkembang menjadi kawasan penyangga industri. Lebih lanjut, bahkan bisa membentuk permukiman dan lahirnya kota baru.

Keuntungan kedua dari hadirnya kawasan industri adalah pengembangan aktivitas ekonomi yang lebih terkendali. Dengan pengembangan industri di kawasan khusus, industri-industri di dalamnya harus tunduk pada regulasidari pengelola kawasan atau estate regulation. Estate regulation adalah bagian dari kontrak antara pengelola dengan perusahaan yang akan berinvestasi di dalam suatu kawasan.

Dalam estate regulation tersebut banyak hal yang diatur. Dari tata tertib saat mulai pembangunan, hingga saat pengoperasian.

Saat pembangunan, tentunya seluruh teknologi dan metode akan dikaji untuk dipastikan memenuhi standar internasional, nasional,  dan regional. Tujuannya, agar tidak membahayakan atau berakibat buruk terhadap lingkungan dan masyarakat.

Di sisi lain, hal itu juga menjadi bahan pertimbangan bagi lembaga keuangan seperti perbankan. Penyedia dana sekarang kian ketat memberlakukan standar operasional sebuah aktivitas industri.

Saat pengoperasian, pengelola kawasan industri harus memastikan para pemilik industri mengacu pada aturan pemerintah. Termasuk pula standar keselamatan, penanganan tanggap darurat, hingga pengelolaan limbah.

Sebab, pengelola kawasan menjadi penanggung jawab apabila industri di dalamnya menyalahi aturan. Terutama dengan persoalan lingkungan dan hubungan dengan masyarakat sekitar.

Pengelolaan kawasan industri juga memungkinkan penerapan konsep eco industrial park. Konsep ini pada prinsipnya merancang industri menjadi terintegrasi, sehingga menghemat energi dan menghindarkan semaksimal mungkin limbah yang terbuang. Selain menguntungkan bagi industri, langkah ini juga untuk meminimalisasi kadar limbah yang terbuang ke alam.

Dalam hal pemakaian listrik, integrasi dapat dibuat dengan membuat satu power plant untuk melayani beberapa pabrik sekaligus. Penghematan dari sisi energi ini menjadi sangat krusial. Sebab, luar kawasan industri khusus, power plant mesti dibuat sendiri, sementara penggunaannya lebih sulit dibagi. Akhirnya, energi menjadi kurang efisien.

Poin penggunaan energi di kawasan industri ini menjadi objek penelitian penulis saat menyusun tesis magister di Undip. PT Kaltim Industrial Estate (KIE) di Bontang adalah salah satu kawasan yang sudah menerapkan konsep ini.

Jika berjalan sesuai prosedur yang terurai di atas, mestinya masyarakat tidak perlu khawatir atas pengembangan kawasan industri. Sebab, semua standar akan dipenuhi lebih dulu.

Pengawasan industri di kawasan khusus juga akan berlapis. Pertama dari pengelola, yang tentu diikuti dengan konsekuensi hukum. Ada lagi pengawasan dari pemerintah kabupaten/kota setempat. Pengawasan lainnya, tentu dari masyarakat sekitar.  (**/man/k15/bersambung)

Penulis adalah lulusan Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang. Sempat menjabat GM Teknik & Pengembangan PT Kaltim Industrial Estate, 2009-2015. Pada periode yang sama, juga menjadi Korwil Kalimantan dari Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 11:28

Perokok Zaman Now

Sudah menjadi kesepakatan dan terbukti, bahwa rokok sangatlah tak baik bagi kesehatan si perokok sendiri…

Sabtu, 25 November 2017 06:19

Peluang dan Tantangan Kaltim Tahun Depan

SELAIN  faktor makroekonomi dan investasi, masih ada beberapa aspek yang turut menghadapi risiko…

Jumat, 24 November 2017 07:01

Peluang dan Tantangan Kaltim Tahun Depan

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO *) BICARA masalah ekonomi, tak lepas dari aspek mikro dan makro. Banyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .