MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 26 Oktober 2017 07:16
Kawasan Industri; Antara Potensi dan Ironi (1)

PROKAL.CO, CATATAN: TEGUH RIYANTO
(Pengamat Perencanaan Kawasan dan Lingkungan)

BERBICARA tentang kawasan industri, tak berlebihan jika menyebut Kaltim tertinggal dibanding daerah lain di Indonesia. Padahal, provinsi ini punya potensi lahan luas dan sumber daya alam yang melimpah untuk diolah.

Sebutlah Jawa Barat dan Jawa Timur, yang sebenarnya lebih sulit mengembangkan kawasan industri. Harga lahan di dua daerah itu melambung tinggi karena ruang yang semakin sempit. Sementara kebutuhan lahan terus meningkat, menyusul semakin menariknya Indonesia menjadi tujuan investasi.

Sedikit gambaran di atas, harusnya mudah terbaca sebagai peluang bagi Kaltim. Pengembangan kawasan untuk mengolah beragam sumber daya, mestinya bisa menjadi “jualan” Kaltim di mata investor.

Kita harus akui, tak mudah membangun kawasan industri. Biayanya pun tak murah. Belum lagi faktor eksternal seperti dukungan masyarakat, hingga risiko lain seperti enggannya investor datang.

Sebelum menganalisis lebih jauh tentang potensi Kaltim, mari kita lihat definisi dari sebuah kawasan industri, agar kita punya persepsi sama. Kawasan industri disebut sebagai lahan yang dikembangkan dan dibagi-bagi dalam plot-plot yang terencana secara komprehensif, dengan jaringan jalan, sistem transportasi, utilitas, dan fasilitas publik lain yang bisa dipakai bersama. Definisi itu dipaparkan William Bredo dalam bukunya, Industrial Estate-Tool for Industrialisation, Stanford Research Institute, 1960 silam.

Definisi itu masih sederhana. PBB, misalnya, mendefinisikan kawasan industri sebagai klaster terencana tempat beradanya perusahaan-perusahaan industri yang menyediakan lahan siap pakai, dengan fasilitas akomodasi dan penyediaan layanan dan fasilitas lainnya bagi Industri yang beroperasi di sana (United Nations, Dept of economic and Social Affairs-New York 1966 p.3).

Di Indonesia, berdasarkan PP 24/2009 tentang Kawasan Industri disebutkan: kawasan industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri.

Dalam definisi-definisi tersebut, dapat disarikan bahwa kawasan industri adalah tempat berkumpulnya beberapa industri dalam satu kawasan yang terencana dan dikelola oleh suatu badan pengelola. Kata “terencana” dan “dikelola” itulah yang membedakan suatu kawasan industri dengan kumpulan industri yang berkumpul dalam satu lokasi, namun berkembang dengan tanggung jawab dan cara masing-masing.

Dalam sejarahnya, kawasan industri pertama kali dikembangkan di Inggris pada 1896 silam. Tepatnya Trafford Park Manchester (United Nations, Establishment of Industrial Estate, New york 1961, p.16). Konsep ini kemudian diikuti di Amerika Serikat di tahun 1899 di Clearing Industrial District. Lalu disusul Naples, Italia, pada 1904.

Pengembangan awal di Inggris dan Amerika dilakukan oleh perusahaan swasta. Sementara di Naples, dilakukan pemerintah kota.

Pengembangan Kawasan Industri menjadi penting sejak setelah perang dunia kedua. Peran utamanya adalah dalam rangka menghindarkan lokasi industri dari area yang sudah padat ke lokasi-lokasi yang masih belum berkembang. Serta menjadi semacam agen perubahan dan pemicu pusat-pusat pertumbuhan baru, sehingga menarik penduduk dari kawasan-kawasan lain yang sudah padat.

Sejak awal, memang kawasan industri dikembangkan untuk berperan positif bagi pemicu berkembangnya suatu wilayah. Pada era 1960-an, kawasan industri sudah berkembang pesat di Eropa, Amerika, serta beberapa negara Asia seperti Jepang dan India.

Di Asia Tenggara, kala itu pun sudah ada negara yang mengembangkan kawasan industri. Di antaranya Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Di Indonesia, kawasan industri baru mulai dikembangkan pada tahun 1970. Beberapa kota yang menjadi pionir, antara lain Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Pengembangan kawasan industri di Indonesia pada awalnya diprakarsai pemerintah.

Dari sejarah itu terlihat bahwa di Asia Tenggara, perkembangan kawasan industri termasuk tertinggal. Meski belakangan berkembang pesat di beberapa negara.

Ambil contoh, Vietnam. Indonesia harus semakin waspada, karena di negara yang lebih muda usianya, perkembangan kawasan industri justru sudah sangat pesat. Harga sewa maupun harga jualnya pun bersaing di mata investor.

Dalam salah satu seminar yang pernah penulis hadiri, perwakilan dari Samsung menyampaikan perusahaan asal Republik Korea itu lebih memilih membangun pabrik besar di kawasan industri di Vietnam. Alasannya, di sana mereka disediakan lahan siap bangun, dengan fasilitas pendukung yang lengkap. Daya tarik juga tersedia dari sisi regulasi dan paket kebijakan ekonomi, yang dianggap sangat kompetitif. Seperti pembebasan sewa dan pajak dalam jangka waktu tertentu.

Padahal, jika dilihat dari pasar produk Samsung, Indonesia adalah yang paling besar di Asia Tenggara. Di Indonesia, perusahaan dengan logo tiga bintang itu juga membuat pabrik. Tapi, hanya tempat perakitan akhir yang skalanya kecil.

Boleh dibilang, strategi itu sekadar untuk menghibur Indonesia. Tentu menjadi sebuah ironi, mengingat dalam hal apapun yang kasatmata, Indonesia harusnya bisa jadi prioritas untuk urusan ekspansi, baik oleh perusahaan asing kelas dunia seperti Samsung sekalipun. Dalam hal pengembangan kawasan industri ini, posisi Kaltim di Tanah Air dapat dibilang menjadi gambaran kecil atas kondisi Indonesia di panggung internasional. (**/man/k15/bersambung)

Penulis adalah lulusan Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang. Sempat menjabat GM Teknik & Pengembangan PT Kaltim Industrial Estate, 2009-2015. Pada periode yang sama, juga menjadi Korwil Kalimantan dari Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).


BACA JUGA

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13

Teknologi Bisa Mengubah Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM bulan September lalu, perusahaan…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:11

"Enggak Perlu Pakai Helm"

Oleh: Hendrajati(Pendiri HSE Indonesia & Mahasiswa S-2 MP UAD Jogjakarta.) Enggak perlu pakai helm,…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:03

Pentingnya Bangun Ketahanan Mental sejak Dini

Oleh: dr Mariati Herlina Sitinjak Sp KJ(Dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Samarinda…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:00

Menaruh Harapan pada Isran–Hadi untuk Kaltim Berdaulat

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 09 Oktober 2018 07:00

Mari Jaga Martabat Peradilan

OLEH: USNUL KHOTIMAH(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman) KESADARAN masyarakat untuk mewujudkan…

Selasa, 09 Oktober 2018 06:56

Gempa, Geological Hazard

OLEH: Dr SUNARTO SASTROWARDOJO(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Universitas…

Kamis, 04 Oktober 2018 08:13

Kebenaran Narasi Sejarah demi Pembangunan Berkelanjutan

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM (Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S-3 Prodi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .