MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 19 Oktober 2017 09:18
Jejak Badak Bercula Dua di Kaltim
Sekerabat Badak Sumatra, Tinggal 12 Ekor
HIDUP DI KALTIM: Badak bercula dua, subspesies badak Sumatra yang hidup di Kaltim, segera menuju kepunahan jika tidak dilindungi. (BKSDA KALTIM FOR KALTIM POST)

PROKAL.CO, Setelah gajah mungil, badak dipastikan hidup di Kaltim. Sebuah harta alam yang tak ternilai. Yang berarti, penyertaan tanggung jawab untuk melindunginya.

NOFIYATUL CHALIMAH, Samarinda                                  

KENING Yuyun Kurniawan berkerut hebat ketika pandangannya menemukan jejak yang tidak biasa. Bekas kaki hewan yang cukup besar, namun tidak familier di tanah Kalimantan. Rasa penasaran segera menggelayuti aktivis World Wide Fund (WWF) Indonesia yang sedang meneliti orangutan itu.

Yuyun mendapati jejak tersebut ketika menyusuri belantara hutan Kutai Barat pada 2012. Ukurannya lumayan besar, kira-kira setengah telapak tangan manusia. Untuk sementara, dia menyimpulkan jejak itu ditinggalkan hewan berkaki besar. Lebih besar dari kaki sapi, tapi tidak lebih besar dari kaki gajah. Tidak pula bercakar, tetapi berkuku belah.

Kedalaman jejak menunjukkan bobot hewan. Yuyun menduga, binatang misterius itu serupa dengan gajah kecil. Namun, bentuk jejak itu jelas bukan milik gajah. Segera dalam bayangannya muncul badak Sumatra yang bercula dua. Dia bergumam, “Yang benar saja?”

Memang pernah ada dua badak ditemukan di utara Kalimantan, wilayah Malaysia. Itu pun sudah punah. Tidak ada riwayat ilmiah yang menyebutkan badak bercula dua hidup di tanah Borneo di sisi Indonesia.

Tapi, dengan kemungkinan yang tersisa, Yuyun bersama rekannya menyusuri petunjuk yang lain. Kesaksian masyarakat bisa dijadikan tambahan referensi. Mereka menemui beberapa orang yang tinggal di sekitar lokasi penemuan jejak. Wawancara memberi hasil mengejutkan.

“Tidak sedikit yang mengaku pernah melihat badak,” tutur Yuyun kepada Kaltim Post. Pemilik jejak misterius pelan-pelan mulai dikenali. Namun, tanpa bukti fisik, keterangan boleh dibilang sebatas legenda.

WWF terus menelusuri dugaan awal. Yuyun dan kolega membentuk survei gabungan pada Februari 2013. Menyisir hutan di dua kabupaten, yakni Kutai Barat (termasuk Mahakam Ulu) dan Kutai Timur, mereka mendapati banyak petunjuk. Mulai kubangan, pelintiran pucuk tanaman, bekas gesekan tubuh, dan jejak yang diduga badak.

Dua bulan kemudian, pada Mei 2013, WWF memasang kamera jebakan. Ada lima camera trap yang diaktifkan di titik-titik yang diduga perlintasan badak. Kamera milik WWF, seperti dipakai di banyak negara, berbentuk empat persegi panjang. Ia diikat di batang pohon dengan ketinggian yang sesuai keinginan.

Di dalam kotak itu, tersimpan sebuah kamera digital yang bekerja menurut sensor gerak inframerah. Pada masa itu, kamera jebakan masih rakitan. Harganya mahal karena memakai kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR).

Pada masa sekarang, camera trap sudah banyak dijual. Kamera serupa telepon pintar sehingga lebih murah. Di pasar daring, kamera jebakan dijual Rp 1 juta sampai Rp 3 juta. Sudah serbaotomatis. Mampu merekam siang dan malam berdasarkan sensor gerak sejauh 20 meter.

Daya tangkap inframerah 120 derajat, bersudut sama dengan kemampuan mata manusia. Sudah pula menangkap gambar sampai 16 megapixel dan video 720 pixel. Tahan sampai 6 bulan dengan kekuatan daya dari enam baterai tipe AA. Dilengkapi jaringan WiFi dan 4G, hasil jepret bisa dipantau dari jauh.

Setelah empat bulan memasang lima kamera, WWF melihat hasilnya pada September 2013. Mata kamera merekam binatang yang dicari-cari itu; badak bercula dua. Dari situ, Yuyun menyaring sejumlah masukan penting.

Dari lima lokasi, tiga titik merekam seekor badak. Yuyun menolak mendetailkan lokasi temuan badak untuk mencegah perburuan liar. Atas alasan yang sama, WWF tidak menyiarkan citra hewan yang ditangkap kamera.

Namun, dari tinjauan Yuyun yang menjadi spesialis konservasi badak WWF, beberapa informasi penting didapat. Ciri-ciri badak yang ditemukan di Kalimantan serupa dengan badak Sumatra. Mereka adalah hewan soliter, suka menyendiri alias malas bersosialisasi dengan kaumnya. Tiga rekaman menunjukkan badak-badak itu sendirian.

Badak di belantara Kalimantan juga dipastikan sejenis dengan badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) meskipun bobotnya lebih mungil. Dia lebih ringan dari badak Sumatra yang beratnya 300–500 kilogram. Badak Kalimantan hanya sebesar anak sapi. Seturut penelitian Animal Biosystematics and Ecology, Institut Pertanian Bogor (IPB), badak Kalimantan adalah subspesies badak Sumatra.

Bertautannya badak di Sumatra dengan Kalimantan sejalan dengan tesis yang diajukan Alfred Russel Wallace. Garis Wallace adalah garis imajinasi memisahkan Indonesia menjadi dua bagian, barat dan timur. Garis khayal yang disempurnakan Weber itu diperoleh dari sebaran fauna.

Badak, misalnya, ditemukan di Sumatra dan Jawa dahulunya. Sekarang ada di Kalimantan. Maka, wilayah barat dengan sebaran hewan yang mirip, masuk kelompok oriental atau Asia. Sedangkan wilayah timur seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua, masuk golongan Australia. Jika ditarik lebih jauh, garis khayal Wallace-Weber menguatkan teori bahwa jutaan tahun lalu Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bali, satu daratan dengan Benua Asia.

Dari teori yang sama, dapat diduga pula bahwa badak Jawa pernah hidup di Kalimantan. Namun, hukum Charles Darwin, si bapak evolusi itu, kemungkinan berlaku. Dalam bukunya berjudul Obat Kuat, Chandra Dewana Boer membangun hipotesis badak di Kalimantan adalah subspesies badak Sumatra, bukan badak Jawa.

Chandra, dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda, mengambil teori seleksi alam yang diusung Darwin. Badak Sumatra mampu beradaptasi di daerah tinggi atau sub-pegunungan. badak Jawa tidak demikian.

Kemampuan hidup di dataran tinggi membuat badak Sumatra di Kalimantan terhindar dari perburuan. Sedangkan badak Jawa, yang kini tersisa di Ujung Kulon, Jawa Barat, lebih banyak bergesekan dengan manusia. Jumlah mereka tergerus karena diburu. “Padahal, jejak badak Jawa dahulu sampai di Jawa Tengah,” tulis Chandra.

Jika baru sekarang badak Kalimantan ditemukan, Yuyun dari WWF punya jawaban. Faktor utama adalah hutan Kalimantan makin sempit. Akses ke dalam hutan kian mudah. Pertemuan badak dan manusia pun terbuka lebar.

Dari survei WWF yang baru menyentuh 15 persen wilayah, populasi badak diperkirakan tersisa 12 ekor di timur Kalimantan. Namun, kata Yuyun, kalaupun sebaran survei ditambah, jumlah badak yang ditemukan tidak akan banyak.

Sebaran badak bercula dua diperkirakan di tiga kantong berjauhan. Di sinilah masalahnya. Sebagai hewan soliter, pertemuan di antara badak sangat jarang. Para badak biasa berkumpul di kolam raksasa. Mereka akan berkembang biak di sana.

Nyatanya, intensitas pertemuan para badak makin sukar. Mereka sudah dipisahkan ratusan hektare kebun kelapa sawit. Survei WWF pada 2017 menunjukkan bahwa para badak semakin terkepung. Tinggal seribu hektare yang tersisa untuk populasi. Mereka akhirnya bersaing mencari makanan atau dimakan oleh perburuan liar.

Jika badak Borneo di Malaysia sudah punah, badak di Kaltim segera punah tanpa upaya konservasi yang masif. WWF kemudian membentuk tim monitoring. Mereka berpatroli setiap bulan meskipun dengan personel terbatas.

Badak Kalimantan yang di ambang kepunahan membuat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim membangun sanctuary, tempat perlindungan badak. Pelajaran dari badak Sumatra sangat penting. Di kawasan Pegunungan Leuser, Bukit Barisan, dan Way Kambas, satwa itu tersisa 100 ekor dan terus menyusut. Harus ada tempat perlindungan.

Lahan 300 hektare di areal konservasi eks PT Kelian Equatorial Mining (KEM) di Kutai Barat pun disiapkan. Kepala BKSDA Kaltim Sunandar menargetkan, sanctuary beroperasi tahun ini. “Begitulah rekomendasi dari pakar untuk translokasi badak,” terangnya.

Seluruh tahapan penyelamatan telah melewati diskusi panjang dari berbagai ahli. Di sanctuary nanti, badak tidak akan kelaparan. Sebagai mamalia Mega-Folivorous yang 97 persen memakan dedaunan, tunas muda, dan ranting, badak adalah makhluk yang rakus. Seekor badak Sumatra bisa menelan 50 kilogram makanan dari 100 jenis tumbuhan.

Badak-badak yang masuk area konservasi, terang Sunandar, dari tiga kantong habitat di hutan Kubar dan Mahakam Ulu. Untuk menyelamatkan badak Kalimantan, Sunandar mengaku segudang pekerjaan rumah tersisa. Namun, dia melihat harapan bahwa badak di Kaltim bisa diselamatkan, bukannya musnah seperti di Malaysia. (fel/rom/k11)


BACA JUGA

Senin, 18 Juni 2018 08:19

Usai Lebaran, Selamat Datang Kemacetan

TENGGARONG – Hampir saban tahun saat Lebaran, jalan poros Balikpapan-Samarinda padat. Namun, titik…

Senin, 18 Juni 2018 08:05

TEGAS..!! RM Tahu Sumedang Harus Tutup saat Idulfitri

BATAS waktu pengurusan izin RM Tahu Sumedang, Jalan Soekarno-Hatta, Km 50, di kawasan Tahura Bukit Soeharto…

Senin, 18 Juni 2018 07:55

Bukan Panggung Rookie

PIALA Dunia 2018 bukan untuk rookie. Peringatan ini wajib didengar Inggris. Apalagi setelah melihat…

Senin, 18 Juni 2018 07:51

PLIISSSS NAH..!! Aturan KPR Dilonggarkan Dong....

SURABAYA – Pengembang properti meminta kelonggaran regulasi kredit pemilikan rumah (KPR). Itu…

Senin, 18 Juni 2018 07:50

Jalin Komunikasi dengan para Pemimpin hingga Jenguk Senior yang Sakit

Momen Idulfitri dimanfaatkan umat muslim untuk bersilaturahmi. Begitu juga yang dilakukan Gubernur Kalimantan…

Minggu, 17 Juni 2018 01:37

Libur Panjang Reduksi Kepadatan

SAMARINDA  –  Kebijakan pemerintah memberi porsi besar untuk cuti bersama pada periode…

Minggu, 17 Juni 2018 01:26

Ambulans saat Lebaran

SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara.…

Minggu, 17 Juni 2018 01:20

Perjalanan Via Darat, Waspada Mobil Terbakar

ANCAMAN  dalam setiap perjalanan darat, termasuk saat arus balik, bisa menimpa siapa saja. Tragedi…

Minggu, 17 Juni 2018 01:11

Minimalisir Kebakaran, Remajakan Listrik Setiap 15 Tahun

SANGATTA  -  Musibah tak mengenal momen. Perayaan Idulfitri hari kedua di Sangatta, diwarnai…

Minggu, 17 Juni 2018 01:08

Siapa pun yang Menang, Rakyat Korbannya

Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .