MANAGED BY:
RABU
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 11 Oktober 2017 09:26
Keterangan Saksi Berbeda-beda

Lanjutan Sidang Abun dalam Kasus Dugaan Pungli di TPK Palaran

“KUMPULKAN AMUNISI”: Hery Susanto (kiri) berdiskusi dengan Deny Ngari di sela-sela di PN Samarinda kemarin. Tampak barang bukti karcis untuk memungut retribusi parkir di TPK Palaran. (SAIPUL ANWAR/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Kasus dugaan pungutan liar (pungli) retribusi parkir oleh Koperasi Serba Usaha Pemuda Demokrat Indonesia Bersatu (KSU PDIB) kembali bergulir kemarin (10/10). Sidang yang diketuai AF Joko Sutrisno ditemani dua hakim anggota, Burhanuddin dan Hendry Dunant, itu berlangsung maraton di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda.

Setidaknya, tiga agenda persidangan tersaji bergiliran dari sidang yang bermula sekitar pukul 11.30 Wita itu. Agenda pertama, pemeriksaan dua saksi untuk para terdakwa dalam perkara ini, Hery Susanto Gun alias Abun, Ketua PDIB dan Noor Asriansyah alias Elly, manajer unit Pelabuhan KSU PDIB di Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran. Dua saksi yang dihadirkan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) merupakan sopir yang rutin mengantar barang ke TPK Palaran, yakni Sudarmanto dan Heru Purnomo.

Berikut kutipan dari persidangan yang berhasil dirangkum awak media ini.

AF Joko: Agenda kita semestinya pemeriksaan saksi dan ahli, apa JPU sudah memanggil seluruh pihak yang akan diperiksa?

JPU Agus: Untuk saksi, kami hadirkan dua sopir, Majelis. Sudarmanto dan Heru Purnomo. Untuk ahli, kami sudah panggil secara patut hingga kini namun dua ahli dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) atau ahli pidana dari Universitas Airlangga masih berhalangan hadir.

AF Joko: Kita periksa dulu para saksi. Kedua saksi pernah diperiksa sebelumnya ‘kan? Untuk Sudarmanto dulu. Di mana tempat bekerjanya?

Sudarmanto: Saya kerja di perusahaan ekspedisi, PT Surya Sakti, Pak. Kerja sejak 2011 lalu.

AF Joko: Biasanya sekali pengantaran dibayar berapa dan ke mana saja pengantaran itu?

Sudarmanto: Sekali antar dibayar Rp 450 ribu. Umumnya langsung ke TPK Palaran. Tapi sebelum itu kami urus dulu surat-surat ekspedisi baru berangkat antar barang dari Kompleks Pergudangan di Jalan Ir Sutami, Sungai Kunjang.

AF Joko: Uang itu (Rp 450 ribu) hanya untuk fee atau bagaimana?

Sudarmanto: Enggak Pak, kami kerjanya bukan kontrak tapi borongan. Jadi, bayaran dihitung setiap kali antar, itu sudah termasuk solar (BBM) dan retribusi masuk ke pelabuhan untuk bongkar muat. Per hari, Cuma sekitar Rp 140 ribu bisa kami kantongi. Itu kalau makan sekali saja.

AF Joko: Saat masuk ke TPK Palaran, berapa biaya yang harus dirogoh dari bayaran yang diterima setiap sopir?

Sudarmanto: Dua kali bayar di pos yang berbeda, Pak. Pertama pintu yang ada portal buat parkir katanya. Retribusi yang dibayar awalnya hanya Rp 6 ribu, sempat naik Rp 10 ribu dan akhirnya sekitar 2016 jadi Rp 20 ribu. Lalu, di pelabuhannya juga sekitar Rp 4 ribu.

AF Joko: Untuk bayar retribusi di pos pertama itu memang sudah ada kesepakatan?

Sudarmanto: Enggak tahu, Pak. Hanya dengar dari teman wajib bayar.

AF Joko: Tahu alasan harga retribusinya naik sampai Rp 20 ribu itu? Pernah keberatan enggak?

Sudarmanto: Enggak tahu, Pak. Semula memang keberatan ke PT PSP (Pelabuhan Samudera Palaran). Tapi, enggak ada solusi juga.

AF Joko: Di pos pertama yang bayar Rp 20 ribu itu ada yang jaga? Dari pihak pelabuhan atau pemerintah?

Sudarmanto: Ada, terkadang yang jaga perempuan dan kadang laki-laki. Saya enggak tahu pihak mana. Saya pikir dari pelabuhan.

AF Joko: Waktu diperiksa Tim Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) Mabes Polri bagaimana? Pernah mengalami kekerasan atau ancaman tidak ketika jika enggak mau bayar pas masuk di pos pertama itu?

Sudarmanto: Ditanya terkait pengantaran saja. Ada pungutan apa saja dan bayar ke mana.  Saya enggak pernah Pak. Bayar saja malas ribut.

AF Joko: Kenapa enggak menanyakan ke tempat kerja ada pungutan dua kali?

Sudarmanto: Perusahaan ekspedisi bilang kerjanya bayarnya hanya segitu. Jadi, enggak ada biaya tambahan lain. Itu sudah masuk pengeluaran yang lain.

AF Joko: Di BAP (berkas acara pemeriksaan) saksi menjelaskan lahan yang diportal menuju pelabuhan peti kemas itu milik Abun. Tahu dari mana?

Sudarmanto: Dengar dari cerita sesama sopir, Pak. Katanya milik Abun.

Pertanyaan pun berlanjut. Kali ini untuk saksi kedua, Heru Purnomo.

AF Joko: Jadi sopir di mana? Berapa bayarannya sekali antar?

Heru Purnomo: Sama dengan Manto (Sudarmanto, saksi pertama), Pak. Di PT Surya Sakti, sekali antar Rp 450 ribu. Tapi, saya hanya sopir pengganti. Kalau sopir utama sakit atau enggak bisa kerja. Baru saya gantikan antar ke pelabuhan.

AF Joko: Pernah coba enggak bayar ketika masuk TPK Palaran? Atau ada sopir lain yang pernah? Ada ancaman enggak jika tidak bayar karcis Rp 20 ribu itu.

Heru: Enggak tahu, Pak. Kalau saya antar barang bayar. Didemo enggak ada solusi jadi tetap bayar.

AF Joko: Tahu Abun atau Elly tidak? Di antara dua orang itu ada tidak? (Sembari menunjuk Abun dan Elly yang duduk sebelah kiri majelis hakim)

Heru: Saya cuma tahu nama tapi enggak tahu orangnya. Tapi kata sesama sopir, lahan milik Abun.

AF Joko: Yang jaga di portal, mereka berdua bukan? (kembali menunjuk para terdakwa).

Heru: Bukan Pak. Saya baru lihat di sini.

Burhanuddin: Katanya sempat mogok soal kenaikan tarif lahan masuk yang diportal itu. Memang enggak ada pertemuan dengan sopir terkait kenaikan tarif?

Heru: Sopir mana tahu, Pak. Tiba-tiba naik saja retribusinya. Saya enggak ikut demo, Pak.

Pertanyaan hakim anggota pun dilemparkan ke Sudarmanto.

Burhanuddin: Dalam BAP, khususnya poin 15. Saksi mengaku sempat terjadi negosiasi soal tarif itu dengan KSU PDIB. Belum selesai perundingan para pedemo didatangi 15 orang dari PDIB bawa sajam (senjata tajam) dan linggis untuk bubarkan demo. Orang-orang itu dipimpin Elly. Ini benar? Karena tadi enggak tahu orang yang pakai baju putih itu siapa? (menunjuk terdakwa Elly)

Sudarmanto: Memang saya beri keterangan waktu diperiksa, ada sekitar 15 orang bawa parang dan linggis. Waktu diperiksa saya bilang, kata teman yang sama-sama demo, rombongan itu dipimpin Elly. Saya hanya dengar dari teman.

Burhanuddin: Saksi mengalami ancaman di luar atau seperti apa? Apa memang benar mereka mau membubarkan? Rombongan pembawa sajam dan linggis itu di mana saat demo itu?

Sudarmanto: Jaraknya agak jauh. Tapi kelihatan dari jauh bawa sajam. Karena yang lain bubar pas rombongan itu datang, ya saya bubar juga.

Burhanuddin: Kembali ke BAP, poin selanjutnya, saksi bilang takut karena ada preman, makanya pilih bayar meski tarifnya naik. Memang pasti itu preman, apa dia bawa sajam atau linggis juga?

Sudarmanto: Di pos yang diportal itu selalu ada dua orang yang jaga dan mereka bawa karcis.

Burhanuddin: Preman bawa karcis? Ini bagaimana ceritanya? Bayar retribusi itu hanya dua itu saja.

Sudarmanto: Kami enggak bisa bedakan. Tapi biasanya mereka enggak buka portal kalau enggak dibayar. Kalau dari kantor, pengeluaran itu hanya tiket masuk pelabuhan.

Burhanuddin: Pernah enggak bayar tidak? Atau ada sopir lainnya yang enggak bayar?

Heru dan Sudarmanto: Kami bayar terus. Malas ribut. Enggak tahu kalau yang lain.

Henry Dunant: Di BAP, poin 10, saksi Sudarmanto kasih keterangan kalau di TPK Palaran, tarif bisa dikasbon. Sementara di pos awal enggak bisa. Kalau enggak bayar bisa dipukuli. Ini benar?

Heru dan Sudarmanto: Enggak tahu, Pak. Kami enggak pernah kasih keterangan kayak gitu.

Henry Dunant: Terus keterangan di BAP ini bagaimana? Masa Tim Saber Pungli Mabes Polri mengada-ada?

Heru dan Sudarmanto: Kami enggak pernah ngomong gitu, Pak. Kami malas ribut makanya bayar saja.

AF Joko: Saya lihat dari BAP, kedua saksi menyoal PSP. Tapi, rentetannya malah ke KSU PDIB. Kenapa bisa muncul nama PDIB?

Sudarmanto: Saya tahu ada KSU PDIB dari karcis. Semula para sopir mempermasalahkan karena harus dipungut Rp 20 ribu itu.

AF Joko: Tahu ada SK (Surat Keputusan) Wali Kota tentang tarif ini tidak?

Heru dan Sudarmanto: Tahu. Tapi enggak ngaruh juga, malah naik.

Selesai bertanya, giliran bertanya pun dilempar ke tim JPU.

JPU Agus Supriyanto: Para saksi ada tekanan dari luar? Beberapa keterangan yang diberikan sempat berbeda.

Heru dan Sudarmanto: Bukan tertekan, Pak. Karena bersaksi kami enggak bisa kerja. Kan, nyambung napasnya dari kerja ekspedisi itu.

JPU Agus: Setelah heboh adanya OTT Saber Pungli Mabes Polri ini, para saksi masih kerja di PT Surya Sakti itu?

Heru dan Sudarmanto: Enggak, Pak. Kami pindah cari yang lebih layak bayarnya.

JPU Agus: Sejak kapan antar-angkut barang ke Palaran (Terminal Peti Kemas)? Setiap melintas portal itu pasti dapat tiket, masih ingat?

Heru dan Sudarmanto: Sekitar 2012. Ada tapi enggak ingat bentuknya karena sempat berubah waktu naik. Lagi pula habis bayar langsung taruh gitu saja.

JPU Agus: Hanya menegaskan, ketika para sopir demo terkait kenaikan itu? Benar ada beberapa orang yang bawa sajam?

Heru dan Sudarmanto: Memang ada yang bawa parang dan linggis. Makanya kami pilih bubar.

Giliran penasihat hukum kedua terdakwa yang bertanya.

Deny Ngari (penasihat hukum Abun): Para saksi kerjanya sistem kontrak atau borongan?

Heru dan Sudarmanto: Kami sistem borongan. Bahan bakar hingga karcis semua jadi tanggungan sopir.

Deny Ngari: Berarti sudah tahu sistem kerjanya, sejak awal mengantarkan kontainer sudah menyiapkan dong.

Heru dan Sudarmanto: Sudah, Pak.

Deny Ngari: Terus kerugiannya di mana?

Sudarmanto: Kami dibayar Rp 450 ribu. Karcis masuk PSP 4 ribu, solar paling banter Rp 250 ribu. Ditambah, di jalan masuk yang diportal jadi Rp 20 ribu. Karena ada tambahan yang terakhir itu pendapatan kami makin nyusut.

Deny Ngari: Waktu diperiksa penyidik Saber Pungli bagaimana?

Sudarmanto: Ditanya-tanya biasa saja, Pak. Pas lagi istirahat di pergudangan. Ya, soal pernah antar ke TPK Palaran tidak, lalu, ada bayar apa saja. Setelah itu diminta ke Hotel Mesra untuk diperiksa.

Deny Ngari: Diperiksa di Hotel Mesra? Bukan di Jakarta?  Saksi Heru juga sama?

Heru: Iya Pak. Waktu santai menunggu bongkar muat di pergudangan. Ada polisi pakaian bebas nanya pernah antar barang ke Palaran. Bilang iya, saya dikasih surat untuk diperiksa di Hotel Mesra.

Roy Hendrayanto (penasihat hukum Elly): Di BAP, poin 7, saksi bilang dapat bayaran pengantaran kontainer Rp 600 ribu. Kok, keterangan di persidangan hanya Rp 450 ribu.

Heru dan Sudarmanto: Rp 450 ribu itu sebelum solar naik Pak. Waktu naik jadi Rp 600 ribu.

Roy: Menegaskan saja, untuk saksi Sudarmanto, sekitar 15 orang yang bawa sajam itu menyambangi para pedemo enggak waktu itu?

Sudarmanto: Enggak tahu pasti. Waktu tahu ada orang bawa sajam, saya langsung kabur.

Roy: Sejak awal bekerja memang ada dua pos yang dilalui untuk menuju TPK Palaran?

Sudarmanto: Semula hanya satu, sekitar 2013 baru jadi dua pos.

Selesai kedua sopir itu bersaksi, tim JPU meminta penundaan untuk kembali menghadirkan ahli ke persidangan. Namun, majelis menyoal lantaran ini kali ketiga ahli tak berhasil dihadirkan tim JPU. Sidang pun sempat dihentikan sementara untuk majelis bermusyawarah.

JPU Agus: Kami minta waktu sekali lagi untuk menghadirkan ahli, Majelis.

AF Joko: Ini sudah tiga kali enggak hadir. Kalau mau dibacakan sesuai BAP saja, karena pekan depan para hakim anggota harus diklat ke MA (Mahkamah Agung). Kalau ditunda lagi bakal terbentur penahanan. Untuk terdakwa Abun enggak masalah. Tapi untuk terdakwa Elly, pada 6 November nanti masa penahanannya sudah habis. Kalau enggak selesai bisa bebas demi hukum.

JPU Agus: Kami upayakan bakal hadir, Majelis. Ahli penting karena untuk menyesuaikan bukti-bukti dengan tindak pidana yang didakwakan.

AF Joko: Para terdakwa ada mengajukan saksi meringankan, tidak?

Deny Ngari: Klien kami tidak. Hanya pihak Elly yang menghadirkan.

AF Joko: Oke, sidang untuk pemeriksaan ahli digelar 18 Oktober nanti. Tapi jika tidak hadir maka dilanjutkan ke agenda selanjutnya. Ini kesempatan terakhir! (*/ryu/rom/k8)


BACA JUGA

Rabu, 21 Februari 2018 14:39
Sidang Tipikor Perdana Rita Widyasari

Ngga Tanggung-Tanggung..!! Ini Dakwaan Jaksa KPK kepada Rita

JAKARTA- KPK mengungkap adanya tim khusus di lingkaran Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari,…

Rabu, 21 Februari 2018 11:50
BREAKING NEWS

SIDANG PERDANA... Rita Berselfie Ria dengan iPhone Teranyar

JAKARTA- Dua ekspresi berbeda ditunjukkan dua terdakwa kasus korupsi Kutai Kartanegara (Kukar) Rita…

Selasa, 20 Februari 2018 11:05

Ribuan Calon Jamaah Digantung

BALIKPAPAN – Diduga ada ribuan calon jamaah umrah di Kaltim yang menanti kepastian kepada PT Amanah…

Selasa, 20 Februari 2018 11:04

Sinabung Meletus, Enam Kecamatan “Hujan” Abu

JAKARTA – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kembali meletus kemarin (19/2) pagi.…

Selasa, 20 Februari 2018 11:01

Pemkab Pilih Opsi Enklave di TNK

SANGATTA – Pembunuhan orangutan dengan bukti 130 peluru senapan angin di Taman Nasional Kutai…

Selasa, 20 Februari 2018 10:58

Apapun Partainya, Konstituen Istikamah

SAMARINDA – Anggota DPRD Kaltim Herwan Susanto menggelar reses di Masjid Nurussalam, Muang Ilir,…

Selasa, 20 Februari 2018 10:55

Dukung Calon Pemimpin Pilihan Anda

PEMILIHAN Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018 tinggal menghitung waktu. Ya, pencoblosan dari pesta demokrasi…

Selasa, 20 Februari 2018 10:55

Tanggal Lahir Seingatnya, Kolom Agama Dikosongi Dulu

Apa jadinya bila masyarakat Baduy dengan tradisi yang kuat mengikuti perekaman KTP elektronik (KTP-el).…

Senin, 19 Februari 2018 09:47

Manis Batu Bara Masih di Atas Saja

Membaiknya harga batu bara belum bisa mengembalikan perputaran roda ekonomi Kaltim. Masih sulit rebound…

Senin, 19 Februari 2018 09:38

Rasanya seperti Berlari dan Terus Berlari

Tak banyak orang kenal myasthenia gravis (MG). Jumlah penderita yang tidak terlalu banyak dan pengobatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .