MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Jumat, 06 Oktober 2017 07:52
Tak Sedikit Korban Perundungan Akhirnya Bunuh Diri

Kisah Psikolog Kota Tepian tentang Gangguan Psikologis: Rizqi Syafrina (8-habis)

DAMPAKNYA BERAT: Menggeluti dunia psikologi sejak 2003, Rizqi Syafrina banyak menemukan orangtua yang berbuat kriminal karena ingin melindungi anak yang di-bully.(roesita ika winarti/klp)

PROKAL.CO, Bicara soal kekerasan, sering kali perempuan dan anak menjadi korban. Baik verbal maupun nonverbal. Permasalahan ini perlu penanganan khusus.

ROESITA IKA WINARTI, Samarinda

DI Kota Tepian, kejahatan seksual hingga kekerasan fisik paling banyak dialami anak-anak. Itu disampaikan psikolog pendidikan anak, Rizqi Syafrina. Mirisnya, kata dia, kekerasan masih dianggap biasa karena sering terjadi di rumah.

Nonon, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa peran orangtua dalam keluarga begitu vital.

Bertugas untuk memastikan anak tumbuh dalam kondisi baik. Lingkungan juga mempunyai peran. ”Ya itu tadi, lingkungan yang tidak peduli akan memperparah kekerasan. Jadi bila melihat, jangan diam. Bantu untuk membela diri atau melaporkan ke pihak berwajib,” ucapnya kepada Kaltim Post, Kamis (5/10). Dia menjelaskan, banyaknya anak menjadi korban kekerasan akan berdampak buruk pada masa depan.

Sebab, kejadian itu meninggalkan trauma. Bila tak ditangani, risiko perubahan perilaku makin besar. Nonon menegaskan, apapun alasannya kekerasan tidak dibenarkan. Entah dalam hal mendidik atau mendisiplinkan anak. Apalagi dalam pergaulan sehari-hari. Perempuan berjilbab itu mengatakan, dampak bullying atau perundangan sangat berat. Sebab, bisa saja menyebabkan perbuatan kriminal.

Tak sedikit anak korban perundungan yang psikisnya terganggu, dan akhirnya bunuh diri.

Emosi yang tidak terbendung, kemudian membunuh teman, bahkan orangtua pun juga bisa berbuat kriminal karena ingin melindungi anak yang di-bully. ”Sebenarnya memang tidak bisa disepelekan. Tapi sebenarnya, bullying itu terjadi karena ada orang yang merasa di-bully," jelas psikolog dari biro psikologi Cahaya Consultant, itu.

Dia menerangkan, setiap orang berbeda tipe. Ada dominan dan tidak atau tertutup. Nonon mengatakan, ada anak yang berlaku seperti bos (bossy) dan suka mengolok, kemudian ada anak yang sensitif. ”Ada orang yang memang senang mengolok, tapi kalau yang diejek tidak sensitif, maka ejekan itu tidak akan membuatnya merasa di-bully," ucap dia.

Nonon mengatakan, hal itu kembali kepada penerimaan masing-masing anak. Memang tidak mudah dan memerlukan waktu yang lama membuat seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, terbuka, dan tidak sensitif.

Pembentukan anak menjadi pribadi yang bahagia, baik, dan positif itu menurutnya harus dilakukan sejak dini.

”Pribadi yang positif dan mengatasi masalah yang baik, dapat mencegah anak menjadi korban perundungan,” terangnya. Bila memang sudah telanjur anak menjadi korban bullying, dukungan orangtua adalah hal penting yang harus diberikan. Namun, tegasnya, orangtua juga perlu bijak menghadapi hal itu. Jangan sampai emosi dan malah melakukan hal yang tidak baik.

Saat mengetahui anak di-bully, Nonon menyarankan, mengecek kebenaran bullying anak. Cari tahu penyebabnya. Tak perlu langsung memindahkan anak ke sekolah lain jika lingkungan sekolah masih kondusif. “Tapi, kalau memang dirasa sangat mengganggu, orangtua bisa mencarikan lingkungan sekolah lain yang lebih nyaman dan diterima oleh anak,” ujarnya.

Mencegah perundungan memang harus dilakukan banyak pihak. Mulai dari keluarga, hingga lingkungan terdekatnya, seperti di sekolah. Mengajarkan anak toleransi sejak kecil juga baik. Gunanya agar anak menghargai perbedaan. Lalu, paham bagaimana menghormati orang lain dan kasih sayang sesama manusia.

Dia mengatakan, mengajarkan toleransi kepada anak, sama seperti pola asuh yang baik.

Strukturnya seperti piramida terbalik. Saat anak masih kecil, orangtua harus otoriter. Agar anak memahami nilai-nilai yang ditanamkan keluarga. Ketika sudah paham, barulah orangtua menerapkan pola asuh yang demokrasi. ”Saat itu, anak sudah bisa dimintai pendapat dan diajak berdiskusi. Ketika sudah dewasa, barulah orangtua bisa menerapkan pola asuh permisif atau memberikan hak dan kebebasan kepada anak,” ucapnya.

PROFESI KEREN

Sejak berseragam putih biru, Nono sudah bercita-cita menjadi psikolog. Menurut dia, itu adalah profesi yang keren. Sehingga akhirnya mantap mengambil jurusan Psikologi di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, pada 2003.Lulus kuliah dia hijrah ke Jakarta. Bekerja di sebuah biro psikologi yang konsen ke dunia industri selama enam bulan.

Tapi dia merasa bosan di bidang tersebut. Muncullah hasratnya untuk mendalami pendidikan. Di pun melanjutkan pendidikan magister psikolog pendidikan di UII Jogjakarta pada 2009.”Lulus pada 2012, saya langsung kembali ke Samarinda di akhir tahun itu. Sempat bergabung dengan rekan di biro psikologi lain sebelum membuka biro sendiri. Saya juga mengajar di perguruan tinggi,” kata dia.

Nonon tak menyia-nyiakan kesempatan mengajar di Universitas Mulawarman (Unmul) dan Universitas 17 Agustus (Untag) Samarinda, sebagai dosen luar biasa di jurusan Psikologi.

Menurut dia, mengajar mahasiswa lebih mudah dibandingkan mengajar anak-anak. Dia menggunakan prinsip pendidikan orang dewasa saat mengajar mahasiswa walau setiap mahasiswa di kampus yang berbeda memiliki karakter yang berbeda juga.

”Saya menyesuaikan cara mengajar dengan karakter mahasiswa. Ada kampus yang mahasiswanya memang fresh graduate, ada juga yang rata-rata mahasiswanya kuliah sambil bekerja, bahkan ada yang lebih tua dari saya. Kadang mereka excited di kelas, tapi lambat mengerti,” ujar perempuan 32 tahun itu.

Dari pengalamannya, dia mengerti bila dalam pendidikan anak, perhatian orangtua adalah hal yang harus diutamakan. Sebagai seorang relawan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Samarinda, dia banyak mendapat contoh kasus anak yang lepas dari perhatian orangtua. ”Saya pernah menangani anak korban pemerkosaan, yang senang minuman keras (miras), atau mencuri motor. Rata-rata, anak bermasalah itu karena korban perceraian, atau orangtua yang supersibuk," ungkap istri dari Ricky Hafidz Jan Gunarto, itu.

Sehingga, sambung dia, orangtua harus lebih peduli dan perhatian dengan anak. Ketika anak menjadi korban, orangtua harus menerima dan kuat. ”Sebab, penerimaan keluarga itu sangat penting untuk perubahan perilaku anak-anak yang bermasalah atau yang pernah menjadi korban kekerasan serta pelecehan,” sebutnya. (riz/k15)


BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 10:19

JOSSS..!! Agnes Jadi Cover Majalah Rogue

Kerja keras Agnez Mo untuk go international semakin membuahkan hasil nyata. Setelah majalah fesyen dunia,…

Minggu, 17 Juni 2018 00:49

Lolos 6 Besar, Belajar Tampil Live di TV

Lima remaja ini sudah eksis dengan kelompok nasyid sekolah selama dua tahun terakhir. Siapa sangka,…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:18

Tak Lagi di Rumah Dinas, Serasa Lebaran Bersama Keluarga

Ada yang berbeda open house yang dilakukan Rizal Effendi kali ini. Masa cutinya kali ini membuat perayaan…

Sabtu, 26 Mei 2018 02:26

“Darah Madura Saya Tidak Memungkinkan untuk Menjadi Takut”

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .