MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 26 September 2017 10:01
Negara Bayar Kompensasi Rp 237,8 Juta

Dalang Bom Gereja Diganjar Hukuman Seumur Hidup

SANTAI HADAPI SIDANG: Juhanda (kiri) berbincang dengan Tri Wijaya saat menunggu sidang putusan dimulai di PN Jakarta Timur, kemarin. (PRAM SUSANTO/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA – Juhanda alias Jo, pelaku utama peledakan bom di Gereja Oikumene Samarinda diganjar hukuman setimpal. Dia dihukum penjara seumur hidup oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur kemarin (25/9). Hukuman yang sama persis dengan tuntutan jaksa.

Ketua Majelis Hakim Surung Simanjuntak mengatakan, Juhanda terbukti bermufakat melakukan aksi terorisme yang berakibat pada meninggalnya bocah berumur 2,5 tahun, Intan Olivia Marbun.

Alasan pemberat lain, lanjut hakim, terdakwa 34 tahun itu pernah dihukum untuk kasus serupa, yakni teror bom buku pada 2011. Selain itu, Juhanda tak menunjukkan sikap penyesalan selama persidangan. “Menjatuhkan hukuman penjara kepada terdakwa (Juhanda) selama seumur hidup,” tegas Surung di ruang sidang utama PN Jakarta Timur.

Sebelum membacakan vonis kepada Juhanda, Surung yang dibantu hakim anggota Muhammad Sirad dan Khadwanto itu juga menghukum empat terdakwa bom Samarinda lainnya. Mereka adalah Supriyadi yang dihukum selama 6 tahun, Joko Sugito selama 7 tahun penjara, Ahmad Dani penjara selama 6,8 tahun, dan Rahmad alias Amad selama 6,8 bulan.

Berdasar fakta persidangan, keempatnya menurut hakim terbukti bermufakat sekaligus membantu Juhanda merakit bom di Masjid Al Mujahidin (kini Masjid Al Ishlah), Sengkotek. Disebutkan, Supriyadi yang tercatat sebagai pengelola masjid, ikut dihukum karena tak melaporkan tindakan keempat terdakwa kepada pihak berwajib. Padahal, dia tahu Juhanda yang merupakan marbut di masjid itu sempat dihukum karena terlibat kasus bom buku.

Maka, hakim menilai, Supriyadi membiarkan perbuatan Juhanda, Joko Sugito, Ahmad Dani, dan Rahmad merakit bom kemudian menyimpannya di gudang masjid. “Seharusnya terdakwa Supriyadi memeriksa langsung yang dilakukan terdakwa lain. Terlebih dia tahu warga di wilayahnya tak mau lagi beribadah di Masjid Al Mujahidin karena banyak khotbahnya mendukung ISIS,” ungkap Surung.

Amar putusan Juhanda yang dibaca Surung selama satu jam lebih itu menyebutkan pula, niat merakit bom sudah muncul sekitar sebulan sebelum teror di Gereja Oikumene. Di sekitar masjid, beberapa kali Ahmad Dani, Joko Sugito, dan Rahmad berusaha meramu beberapa jenis bahan kimia agar bisa dibuat bom rakitan. Seminggu sebelum teror dilakukan, ramuan tadi diserahkan ke Juhanda.

Oleh pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu kemudian ditambah zat kimia lain yang dia beli di Pasar Harapan Baru. Setelah dirasa menimbulkan efek ledakan yang cukup besar, Jo akhirnya melakukan aksinya, Minggu (13/11/2016). Bom rakitan disimpannya dalam tas ransel kemudian mendatangi gereja dengan mengendarai motor. Menurut saksi, lanjut hakim, bom pertama yang dilemparkan ternyata seperti petasan.

Kepanikan baru terjadi setelah Juhanda melemparkan bom kedua dan ketiga. “Bom kedua dan ketiga bunyinya sangat keras disertai semburan api ke arah gereja,” ungkap hakim berkacamata itu. Seperti diberitakan, Intan Olivia Marbun meninggal di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, keesokan harinya setelah serangan bom. Intan meninggal karena menderita luka bakar di sekujur tubuh.

Korban lain, yakni Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, Anita Kristobel Sihotang, dan Triniti Hutahaya mengalami cacat permanen dan hingga kini harus menjalani perawatan.

Dalam persidangan kemarin hakim juga memutuskan menerima permohonan kompensasi yang diajukan para keluarga korban. Namun, dari nilai total Rp 1,4 miliar yang diajukan, hanya Rp 237,8 juta yang disetujui. Ini didasari alasan saat mengajukan lewat jaksa penuntut umum, bukti yang disertakan keluarga korban menurut hakim kurang valid.

Hakim membenarkan bahwa permohonan tersebut sudah sesuai prosedur yaitu disetujui oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Namun, persetujuan tersebut dinilai tak punya kekuatan hukum, sebab LPSK bukanlah auditor. Sementara itu, terkait pembayaran kompensasi, majelis hakim memerintahkan negara dalam hal ini Kementerian Keuangan untuk membayarnya.

Dijelaskan, kompensasi itu telah diatur di Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan  Tindak  Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang. Seharusnya ganti rugi dibebankan pada Juhanda sebagai terdakwa. Namun, melihat pekerjaan terdakwa yang hanya seorang marbut, diputuskan negara yang menanggung.

Juhanda tak menunjukkan ekspresi kaget terhadap hukuman yang dijatuhkan hakim. Sesaat setelah hukuman dibacakan Surung, pria berkemeja gamis putih bergaris cokelat itu terlihat hanya mendongak sesaat. Dia hanya tersenyum seraya menghampiri anggota Densus 88 Antiteror yang mengantarnya menuju sel sementara pengadilan. “Kami pikir-pikir dulu,” ucap Tri Wijaya, penasihat hukum Juhanda, saat diminta tanggapannya soal putusan hakim tersebut.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Juhanda dihukum seumur hidup. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nawawi Pomolango mengatakan, tuntutan penjara seumur hidup terhadap Juhanda dibacakan jaksa pada persidangan akhir Agustus lalu. Tuntutan hukuman berat tersebut diminta jaksa karena dalang bom Gereja Oikumene itu merupakan residivis kasus serupa (terorisme). Selama persidangan berlangsung, pengikut Jamaah Ansharut Daulah (JAD) juga dinilai tak kooperatif. (pra/rom/k8)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:14

MAAF..!! Tol Balikpapan - Samarinda Molor, Ngga Jadi Diresmikan Jokowi

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda batal diresmikan akhir tahun ini. Padahal mantan Gubernur Kaltim…

Senin, 15 Oktober 2018 11:42
Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo

Lestarikan Budaya Batak karena Cinta

Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:11

INNALILLAHI..!! 12 Siswa Tewas Diterjang Banjir

JAKARTA – Kelas sore itu berubah jadi tragedi. Puluhan siswa yang tengah belajar diterjang air…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:09

Premium Tak Naik, Tapi Pasokan Dikurangi?

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menilai,…

Minggu, 14 Oktober 2018 08:06

Sikat Persebaya, Borneo FC Bidik Papan Atas

SURABAYA – Gairah Borneo FC kembali membuncah. Tekad bersaing di papan atas makin kuat. Suntikan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 10:28

Dua Kali Dipanggil Mangkir, Ketua DPRD Itu Dibawa Polisi

JAKARTA – Isu bahwa Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif ditangkap polisi terjawab. Ya, Mabes Polri…

Jumat, 12 Oktober 2018 11:09

Soal BBM, Ini Tiga Tekanan yang Dihadapi Pemerintah

JAKARTA- Pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM jenis premium dari Rp 6.650 menjadi Rp 7.000 per…

Jumat, 12 Oktober 2018 11:06

ADUH DERITANYA..!! Ngga Hanya BBM yang Naik, Beras Juga Ikutan Naik

JAKARTA- Saat masyarakat gelisah dengan kenaikan BBM, harga beras pun diam-diam naik. Berdasarkan data…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .