MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 26 September 2017 10:01
Negara Bayar Kompensasi Rp 237,8 Juta

Dalang Bom Gereja Diganjar Hukuman Seumur Hidup

SANTAI HADAPI SIDANG: Juhanda (kiri) berbincang dengan Tri Wijaya saat menunggu sidang putusan dimulai di PN Jakarta Timur, kemarin. (PRAM SUSANTO/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA – Juhanda alias Jo, pelaku utama peledakan bom di Gereja Oikumene Samarinda diganjar hukuman setimpal. Dia dihukum penjara seumur hidup oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur kemarin (25/9). Hukuman yang sama persis dengan tuntutan jaksa.

Ketua Majelis Hakim Surung Simanjuntak mengatakan, Juhanda terbukti bermufakat melakukan aksi terorisme yang berakibat pada meninggalnya bocah berumur 2,5 tahun, Intan Olivia Marbun.

Alasan pemberat lain, lanjut hakim, terdakwa 34 tahun itu pernah dihukum untuk kasus serupa, yakni teror bom buku pada 2011. Selain itu, Juhanda tak menunjukkan sikap penyesalan selama persidangan. “Menjatuhkan hukuman penjara kepada terdakwa (Juhanda) selama seumur hidup,” tegas Surung di ruang sidang utama PN Jakarta Timur.

Sebelum membacakan vonis kepada Juhanda, Surung yang dibantu hakim anggota Muhammad Sirad dan Khadwanto itu juga menghukum empat terdakwa bom Samarinda lainnya. Mereka adalah Supriyadi yang dihukum selama 6 tahun, Joko Sugito selama 7 tahun penjara, Ahmad Dani penjara selama 6,8 tahun, dan Rahmad alias Amad selama 6,8 bulan.

Berdasar fakta persidangan, keempatnya menurut hakim terbukti bermufakat sekaligus membantu Juhanda merakit bom di Masjid Al Mujahidin (kini Masjid Al Ishlah), Sengkotek. Disebutkan, Supriyadi yang tercatat sebagai pengelola masjid, ikut dihukum karena tak melaporkan tindakan keempat terdakwa kepada pihak berwajib. Padahal, dia tahu Juhanda yang merupakan marbut di masjid itu sempat dihukum karena terlibat kasus bom buku.

Maka, hakim menilai, Supriyadi membiarkan perbuatan Juhanda, Joko Sugito, Ahmad Dani, dan Rahmad merakit bom kemudian menyimpannya di gudang masjid. “Seharusnya terdakwa Supriyadi memeriksa langsung yang dilakukan terdakwa lain. Terlebih dia tahu warga di wilayahnya tak mau lagi beribadah di Masjid Al Mujahidin karena banyak khotbahnya mendukung ISIS,” ungkap Surung.

Amar putusan Juhanda yang dibaca Surung selama satu jam lebih itu menyebutkan pula, niat merakit bom sudah muncul sekitar sebulan sebelum teror di Gereja Oikumene. Di sekitar masjid, beberapa kali Ahmad Dani, Joko Sugito, dan Rahmad berusaha meramu beberapa jenis bahan kimia agar bisa dibuat bom rakitan. Seminggu sebelum teror dilakukan, ramuan tadi diserahkan ke Juhanda.

Oleh pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu kemudian ditambah zat kimia lain yang dia beli di Pasar Harapan Baru. Setelah dirasa menimbulkan efek ledakan yang cukup besar, Jo akhirnya melakukan aksinya, Minggu (13/11/2016). Bom rakitan disimpannya dalam tas ransel kemudian mendatangi gereja dengan mengendarai motor. Menurut saksi, lanjut hakim, bom pertama yang dilemparkan ternyata seperti petasan.

Kepanikan baru terjadi setelah Juhanda melemparkan bom kedua dan ketiga. “Bom kedua dan ketiga bunyinya sangat keras disertai semburan api ke arah gereja,” ungkap hakim berkacamata itu. Seperti diberitakan, Intan Olivia Marbun meninggal di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, keesokan harinya setelah serangan bom. Intan meninggal karena menderita luka bakar di sekujur tubuh.

Korban lain, yakni Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, Anita Kristobel Sihotang, dan Triniti Hutahaya mengalami cacat permanen dan hingga kini harus menjalani perawatan.

Dalam persidangan kemarin hakim juga memutuskan menerima permohonan kompensasi yang diajukan para keluarga korban. Namun, dari nilai total Rp 1,4 miliar yang diajukan, hanya Rp 237,8 juta yang disetujui. Ini didasari alasan saat mengajukan lewat jaksa penuntut umum, bukti yang disertakan keluarga korban menurut hakim kurang valid.

Hakim membenarkan bahwa permohonan tersebut sudah sesuai prosedur yaitu disetujui oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Namun, persetujuan tersebut dinilai tak punya kekuatan hukum, sebab LPSK bukanlah auditor. Sementara itu, terkait pembayaran kompensasi, majelis hakim memerintahkan negara dalam hal ini Kementerian Keuangan untuk membayarnya.

Dijelaskan, kompensasi itu telah diatur di Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan  Tindak  Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang. Seharusnya ganti rugi dibebankan pada Juhanda sebagai terdakwa. Namun, melihat pekerjaan terdakwa yang hanya seorang marbut, diputuskan negara yang menanggung.

Juhanda tak menunjukkan ekspresi kaget terhadap hukuman yang dijatuhkan hakim. Sesaat setelah hukuman dibacakan Surung, pria berkemeja gamis putih bergaris cokelat itu terlihat hanya mendongak sesaat. Dia hanya tersenyum seraya menghampiri anggota Densus 88 Antiteror yang mengantarnya menuju sel sementara pengadilan. “Kami pikir-pikir dulu,” ucap Tri Wijaya, penasihat hukum Juhanda, saat diminta tanggapannya soal putusan hakim tersebut.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Juhanda dihukum seumur hidup. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nawawi Pomolango mengatakan, tuntutan penjara seumur hidup terhadap Juhanda dibacakan jaksa pada persidangan akhir Agustus lalu. Tuntutan hukuman berat tersebut diminta jaksa karena dalang bom Gereja Oikumene itu merupakan residivis kasus serupa (terorisme). Selama persidangan berlangsung, pengikut Jamaah Ansharut Daulah (JAD) juga dinilai tak kooperatif. (pra/rom/k8)


BACA JUGA

Selasa, 22 Januari 2019 12:27

PROTES..!! Australia Tak Ingin Ba’asyir Bebas Bersyarat

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengajukan protes atas rencana…

Selasa, 22 Januari 2019 12:25

BELUM PASTI..!! Pembebasan Ba’asyir Dikaji Lebih Lanjut

JAKARTA – Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir pekan ini masih belum…

Selasa, 22 Januari 2019 09:16

Investor Minati Kembangkan Udang Windu Kaltim

SAMARINDA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim, Riza…

Selasa, 22 Januari 2019 09:14

Selama Tahun 2018, BI Temukan 1.108 Lembar Uang Palsu

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur mencatat sepanjang…

Senin, 21 Januari 2019 11:40

Menanti Dampak Perda Tata Niaga Sawit

TANA PASER – Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten…

Senin, 21 Januari 2019 10:55

Pansel KPU Buka Lagi Pendaftaran

SAMARINDA–Kerja Panitia Seleksi (Pansel) Komisioner KPU Kaltim 2018–2023 sempat terhenti.…

Senin, 21 Januari 2019 08:47

Sulit Membagi Waktu Kuliah, Ingin Fokus ke Teater

Salva Kalimatin Sava unjuk gigi di dunia perfilman. Mahasiswa asal…

Minggu, 20 Januari 2019 11:00

MUDAHAN LEBIH HOT..!! Tanpa Kisi-Kisi di Debat Kedua

JAKARTA – Debat capres-cawapres edisi kedua masih sebulan lagi. Namun,…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:09

Biaya Tol Teluk Kian Membengkak

BALIKPAPAN  –   Semakin lama tertunda, anggaran pembangunan Jembatan Tol…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:07

Abu Bakar Ba’asyir Bebas Tanpa Syarat

JAKARTA  -  Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir bisa mengakhiri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*