MANAGED BY:
KAMIS
23 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Sabtu, 23 September 2017 07:14
Mukmin, Bagaimana Mengenang Bapak?

CATATAN : Ismet Rifani Wartawan Kaltim Post

Ismet Rifani Wartawan Kaltim Post

PROKAL.CO, PUKULAN  telak sekaligus kabar duka itu menyebar cepat di media sosial sejak Jumat (22/9) pagi. Kali ini bukan hoax yang bikin gempar sebagaimana 4-5 hari sebelumnya. Mukmin Faisyal HP, wagub Kaltim berpulang saat dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Dia menyerah pada serangan stroke di usianya yang ke-67.

Bagaimana dia akan dikenang? Pria Bugis ganteng nan flamboyan? Tempat bersandar dan panutan ribuan keluarga nelayan di timur Balikpapan? Aktivis sekaligus politikus ulung? Atau narasumber yang juga kerap jadi sasaran tembak para jurnalis?

Sebagai wartawan yang mengenal cukup dekat dan mengikuti sepak terjang Mukmin, tentu saja ada banyak kisah yang bisa saya sarikan. Beberapa harus membuat kita mengangkat jempol tinggi-tinggi. Misalnya, kini semua orang tahu Golkar adalah partai pemenang pemilu di Kaltim dan Balikpapan, kota basis Mukmin.

Tapi sedikit yang tahu, Mukmin adalah loyalis sejati sekaligus jatuh bangun di partai ini. Ketika Golkar dihujat habis kanan-kiri, muka-belakang karena dianggap partai paling bersalah saat reformasi bergejolak, mantan lurah Manggar, di Balikpapan Timur itu memilih bergeming. Banyak sejawatnya memilih balik kanan, Mukmin tetap setia.

Dia telaten bersama Beringin. Tiarap namun terus merangkak. Masih teringat saat massa membakar habis hadiah termasuk door prize utama beberapa unit motor kala Golkar menggelar jalan santai di awal-awal reformasi di pusat pertokoan Balikpapan Permai. Mukmin dingin menyikapi.

Saya merekam banyak angle termasuk wajah Mukmin saat api berkobar di panggung. Dia marah tapi tak mengumpat. Dia sempat berujar, lawan politiknya rupanya belum puas. Golkar habis? Sejarah mencatat, Beringin tak terduga meraih kursi terbanyak setelah PDI Perjuangan.

Mukmin pun memetik buah keteguhannya. Dia menjadi wakil ketua DPRD Balikpapan. Hanya setahun lebih, dia naik kelas. Awal 2001, digandeng Imdaad Hamid, dia terpilih menjadi wakil wali kota Balikpapan periode 2011-2016.

Saat itu bintang terang menaunginya. Sebagai politikus, Mukmin dikenal tak pernah pilih-pilih kawan. Kalangan dunia usaha tentu salah satunya. Banyak cerita yang mengiringi masa-masa dia menjadi orang nomor dua di Pemkot Balikpapan. 

Misalnya, dia dikenal susah menolak orang-orang yang ingin bertemu dan meminta tolong untuk secarik memo. Tapi di situlah lucunya. Karena terkadang memo Mukmin yang lebih dari satu, untuk satu urusan, justru membingungkan pihak-pihak penerima memo yang bertemu di lapangan.

Sebagai wartawan muda di desk kota, saya termanjakan. Mukmin menerima kapan saja permintaan wawancara. Di kantor oke, di rumah dinas boleh, via telepon tak ditolak. Satu lagi, saat makan di restoran pun wawancara dilayani. Tentu saja –malu-maluin– saya juga ikut makan.

Sekali waktu dia memberi kejutan pada saya. “Ada paspor?” Mukmin rupanya perlu seorang wartawan media lokal untuk liputan di tiga negara sekaligus. “Belum ada,” jawab saya. Segera bikin, katanya, dan lapor pada Sofyan Asnawi.

Sofyan Asnawi (alm), adalah wartawan senior Sinar Harapan di Kaltim yang ditugasi Mukmin mengawal rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan untuk muhibah ke Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Tapi, sahut saya, saya harus minta izin kantor. Kala itu bos di redaksi Kaltim Post adalah Rizal Effendi, kini wali kota Balikpapan. Mukmin bilang itu urusan dia. Maka muluslah saya terbang bersama rombongan MUI. Begitulah sejarah, pada 2006, Mukmin memanjakan saya, dan Rizal yang menaungi saya, justru menimbulkan dilema.

Imdaad dan Mukmin pecah kongsi di detik-detik akhir pendaftaran Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Balikpapan untuk masa bakti 2006-2011. Padahal Imdaad-Mukmin telah mendeklarasikan diri untuk maju berpasangan. Deklarasinya di Hotel Benakutai, saat itu megah dan diliput luas media.

Kala itu, Imdaad-Mukmin, kata orang “Jerman” --he..he..he-- nde gaga lawangna (tak ada lawannya). Jika Anda penggemar bulu tangkis, mereka seperti Ricky-Rexy. Jika Anda suka biliar, mereka adalah duo maestro asal Filipina Reyes-Bustamante. Jika Anda penggila bola, duet ini seperti Ruud Gullit-Van Basten, atau Messi-Neymar atau boleh juga Ronaldo-Benzema. Tak tertahankan, susah dibendung.

Tapi ini urusan politik bung. Seperti cuaca, hanya bisa diramal, tak bisa dipastikan. Imdaad Hamid mencetak headline di media, kala itu dia justru lebih memilih menggandeng Rizal Effendi sebagai calon wakilnya. PDIP, perahu yang dipilihnya, rupanya memberi kewenangan penuh padanya untuk memilih pasangan.

Mukmin tak patah arang. Dia menggandeng pria muda. Insinyur lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar yang memilih meninggalkan status PNS dan mantap menjadi ketua partai Islam, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namanya Gunawarman. Kini dia anggota DPRD Kaltim.

Masyarakat Kota Minyak terbelah. Mukmin punya basis massa besar. PKS punya massa militan. Imdaad punya nama besar, Rizal pemred dari media lokal terbesar. Pertarungan penuh gengsi, beradab, sekaligus berkelas.

Imdaad-Rizal menang tipis. Roda Mukmin yang di atas pun kembali goyang. Masa tiga tahun, 2006-2009, bukan lagi masa-masa terbaiknya. Untuk menggambarkan kondisi Mukmin saat itu, saya menukilkan kisah seseorang yang tak mungkin saya sebutkan namanya di sini. Dia bercerita, Mukmin sedang sakit. Banyak teman-teman yang dulu ditolongnya justru terkesan menjauh. Tapi beberapa di antaranya tetap loyal.

Sebagai wartawan yang juga bergaul dan berteman dekat dengan sejumlah kader muda Golkar, saya kerap menengok Mukmin pada masa-masa tersebut. Beberapa kali bersama kader Golkar, beberapa kali bersama sejumlah rekan wartawan.

Kala itu harus diakui, sulit membaca bahwa bintang Mukmin sekadar tertutup awan dan akan kembali terang. Karena pada 2009, saat dia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kaltim dari daerah pemilihan Balikpapan. Suara yang diraihnya sangat fantastis. Sekitar 27 ribu suara dikantonginya. Golkar pun menang di Balikpapan, sekaligus di Kaltim.

Mukmin pun terpilih jadi ketua DPRD. Beringin benar-benar menaunginya. Karena di Kaltim dia pun dipercaya menjadi ketua di partai ini. Cerita lama berulang. Tak puas di legislatif, Mukmin mencoba peruntungan maju ke Pilgub Kaltim bersama Awang Faroek Ishak. Lawannya? Imdaad Hamid yang mengalahkannya di Pilwali Balikpapan. Kali ini Imdaad tak bersama Rizal, yang justru memilih mendukung Mukmin. Pilihan Rizal tak salah.

Banyak analisis berseliweran mengapa Mukmin mau digandeng Awang Faroek. Tentu saja salah satunya dia membidik kursi gubernur pada 2018. Dengan 13 kursi di DPRD Kaltim, Golkar berhak mendukung calon tanpa perlu berkoalisi saat gelaran pilgub. Ketua partai tentu memiliki kans terbesar.

Tapi begitulah politik. Tak ada teman dan lawan yang abadi. Friksi Golkar di pusat juga merembet hingga ke Kaltim. Dan Mukmin yang masuk dalam pusaran pun harus menelan pil pahit. Kali ini akar Golkar tak lagi bisa dipegangnya. Dia dilengserkan dari partai yang dibesarkan sekaligus membesarkannya justru saat Pilgub Kaltim di depan mata.

Beberapa bulan lalu saya sempat bertandang ke kantornya di Gubernuran, Samarinda. Untuk urusan pekerjaan tentunya. Beberapa anggota DPRD Kaltim dari Golkar rupanya sudah ada di ruang kerjanya. Kami sempat bernostalgia.

Kepada sejawatnya dia mengenalkan saya dan berseloroh, saya adalah teman sekaligus musuhnya. Dia juga menyindir saya kini lebih dekat ke sebelah. Maksudnya kini condong kepada mereka-mereka yang kini memimpin Golkar di Kaltim. Tentu saja setelah itu dia tertawa lepas.

Inilah yang saya kagumi. Mukmin Faisyal tak pernah mendendam. Kami berseberangan saat Pilwali Balikpapan 2006. Perang di media, berhadap-hadapan di lapangan, dan saat momen itu lewat, semuanya kembali cair.

Itulah tawa terakhirnya yang langsung saya lihat. Beberapa waktu belakangan media relatif jarang memberitakannya. Sampai sepekan terakhir saat dia terserang stroke dan dirawat di RSUD Kanujoso Djatiwibowo di Balikpapan sebelum diterbangkan ke RSPAD Gatot Soebroto.

Kali ini bukan hoax. Pak Mukmin, untuk semua kebaikan yang pernah Bapak buat, saya berdoa semoga Allah melapangkan jalan Bapak. Tapi bagaimana kami harus mengenang Bapak? (rom/k18)


BACA JUGA

Jumat, 10 November 2017 09:54

Kenapa Takut Degradasi?

CATATAN: RIZAL JURAID HARI ini “bersejarah”. Persiba Balikpapan akan menjamu Mitra Kukar.…

Rabu, 08 November 2017 09:16

Triliunan Disia-siakan, Belukar di Gedung Ratusan Miliar

CATATAN: SB SILABAN* BERUBAH memang tak mudah. Presiden Joko Widodo mengkritik tingkah birokrasi yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .