MANAGED BY:
MINGGU
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 19 September 2017 09:26
Pelajar Jadi Alat Bandar

Diimingi Gaji, Teperdaya Menjadi Kurir Narkoba

-

PROKAL.CO, SAMARINDA – Anak yang terjerembab sebagai penyalahguna narkoba bukan berarti masa depannya jadi suram. Asa menjadi lebih baik tetap ada. Mereka bisa lepas dari jeratan barang haram tersebut dengan menjalani program rehabilitasi. Faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi juga menentukan.

Di Kaltim, Yayasan Lembaga Advokasi dan Rehabilitasi Sosial (Laras) fokus menangani persoalan itu. Manajer Program Yayasan Laras Kaltim Jamilah mengatakan, layanan terbagi menjadi dua, rawat jalan dan inap. Mereka yang masuk merupakan antaran dari aparat penegak hukum, yakni Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian.

Namun, ada pula yang karena keinginan sendiri dan intervensi keluarga. Sebelum diputuskan menjalani perawatan, tingkat kecanduan terhadap narkoba di-assessment. Bila tergolong ringan, cukup menjalani rawat jalan. Bila berusia sekolah, mereka tetap bisa bersekolah, tapi tetap dalam pengawasan orangtua dan guru di sekolah.

Namun, bila berkategori sedang dan berat, menjalani rawat inap. “Kalau masih usia sekolah, dilihat lebih bermanfaat perawatan dulu dan tidak bersekolah sementara waktu atau sambil jalan. Kecenderungan pecandu berat, sekolahnya kacau,” tuturnya, kemarin (18/9).

Durasi perawatan berbeda. Rawat jalan berlangsung selama tiga bulan dan rawat inap dalam enam bulan. Dia mengungkap, sampai pertengahan 2017 ada 90 orang yang menjalani rawat jalan. Itu terbagi menjadi dua gelombang. Yakni, Januari–Maret sebanyak 40 orang dan April–Juni berjumlah 50 orang. Sementara itu, rawat inap sebanyak 45 klien. “Usia remaja sebanyak 30 orang,” terangnya.

Saat direhabilitasi, yang ditangani pertama kali adalah tingkat kecanduan. Sebab, itu erat kaitan dengan fungsi sosial. Selain perawatan fisik, masalah sosial satu demi satu diselesaikan. “Kalau merasa tanggung jawab pola hidup sehat masih kurang setelah direhabilitasi, akan terus dibantu secara berlanjut untuk penguatan. Ada kunjungan rumah,” tuturnya.

Antara tahun lalu dan warsa ini, terjadi pergeseran varian jenis narkotika yang dikonsumsi klien. Pada 2016 didominasi penyalahguna narkotika jenis sabu-sabu. Rentang usianya, 20 hingga 45 tahun. Tren tahun ini adalah inhalan. “Sekarang usia remaja. Baru lulus SMP yang putus melanjutkan SMA, juga lulus SMA putus mau kuliah,” sebutnya.

Mereka yang berusia anak-anak atau remaja mayoritas mengonsumsi narkoba karena coba-coba atau berstatus coba pakai. Itu karena intensitas waktu yang dihabiskan remaja lebih banyak berada di luar rumah. Dari pengakuan para klien, tawaran itu datang dari teman bergaul. “Ada rasa tidak enak menolak tawaran. Takut tidak diterima di lingkungan pergaulan, dibilang enggak keren,” ujarnya.

Di samping berstatus coba pakai, ada pula di antara mereka sebagai kurir. Pengedar tahu benar isi kantong pelajar. Ada yang karena tak diberi uang dari keluarga lantas untuk mendapatkan narkoba disuruh berjualan oleh pengedar. Sasaran konsumen mereka adalah sesama rekan yang seumuran. Para pelajar digaji oleh bandar. “Akhirnya intensitas mereka berjualan meningkat, otomatis kebutuhan menggunakan ikut bertambah,” sebutnya.

Mengenai advokasi bantuan hukum, Laras berperan hanya sebagai saksi meringankan saat persidangan, khusus yang berstatus pengguna. Ada pula karena tersandung kasus narkoba dan terancam dikeluarkan dari sekolah, pihaknya maju untuk melakukan advokasi.

Berdasar hasil penelitian mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kaltim AKBP Halomoan Tampubolon menuturkan, ada tiga tahapan bagi pengguna narkoba, mulai coba pakai, teratur pakai, hingga pecandu.

Sebelumnya, ada sekitar 15 ribu pelajar di Kaltim disebut sudah pernah mengonsumsi narkotika. “Banyak dari mereka berada di tahapan coba pakai,” ujar Tampubolon. Namun, bagi dia, itu adalah tahapan yang paling bahaya lantaran potensi tingkat kecanduan barang haram sangat tinggi. Sehingga, bisa dimungkinkan tingkat penggunanya terus meningkat.

Nah, perihal banyaknya pelajar yang makin marak terlibat, Tampubolon menyebut berada di tingkat sekolah menengah atas (SMA). Sayangnya, perwira polisi eks kasat Sabhara Polresta Samarinda itu tak bisa memerincikan jumlah pasti pelajar yang terlibat. “Yang jelas banyak,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Humas BNN Samarinda Ahmad Fadholi menuturkan, prevalensi pengguna narkoba di Samarinda ada sekitar 27,32 persen dari jumlah penduduk Kota Tepian berusia produktif. Lebih jauh, usia produktif versi WHO yakni 15–64 tahun.

Banyaknya penduduk ibu kota Kaltim dengan usia produktif menurut BNN Samarinda sekitar 1 juta jiwa. Artinya, ada 273.200 jiwa masyarakat Samarinda pernah mengonsumsi narkoba. “Hanya itu data yang ada,” ujar Fadholi. Lanjut dia, angka 27,32 persen itu juga merupakan hasil penelitian BNN dan pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) UI Tahun 2015.

NARKOBA MURAH

Besarnya peluang pasar di kalangan pelajar, membuat bandar narkoba khususnya di Kaltim memiliki celah peredaran. Produk yang dijual memiliki nilai yang lebih murah. Dibanding dengan yang dipasarkan ke konsumen pada umumnya. Narkoba jenis pil koplo dan dobel L jadi primadona.

“Meski belum memiliki penghasilan, para pelajar punya uang saku. Pemberian dari orangtua. Jadi, para pengedar punya produk sendiri bagi mereka. Disesuaikan dengan uang saku yang mereka miliki,” terang Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Ade Yaya Suryana, kemarin.

Dari informasi yang diperoleh Kaltim Post, dobel L hanya dihargai Rp 10 ribu untuk tiga butir. Harga yang sama berlaku untuk pil koplo. Berbeda dengan ekstasi biasanya dijual Rp 350 ribu per butir.

Menurut dia, peran orangtua penting. Karena dari sejumlah kasus, penyalahgunaan narkoba di kalangan anak karena faktor broken home. Jadi, anak yang seharusnya tumbuh melalui pengawasan kedua orangtua menjadi lebih bebas. Dengan kondisi yang masih labil, tidak ada benteng keluarga. Apalagi pergaulan saat ini lebih terbuka. Khususnya melalui media telepon pintar.

Soal modus peredaran narkoba, Ade menyebut masih seperti sebelumnya. Menawarkan narkoba secara gratis kepada konsumen pemula. Termasuk kepada pelajar di sekolah. Mereka diberikan produk coba-coba. Lambat laun ketika sudah terkena efek ketagihan, pengedar baru mematok harga. Ini yang membuat pelajar yang sudah menjadi korban penyalahgunaan narkoba menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkan uang.

Jika menilik data dari Polda Kaltim, dari Januari hingga Juni 2017 ini ada 14 pelajar yang tersangkut tindak pidana narkoba. Sedangkan pada 2016 ada 52 pelajar. Di Balikpapan, kasus peredaran narkoba jenis koplo terungkap April lalu. Ada tiga siswa di salah satu SMK swasta di Balikpapan menjadi pengedar.

Di sekolah, Polsek Balikpapan Utara berhasil menyita 243 butir dobel L dari tangan AA, SR, dan Rud. Selain itu, diamankan uang Rp 400 ribu hasil penjualan. Selain mengamankan tiga pelajar, polisi memeriksa tiga pelajar lain yang menjadi konsumen. Saat ditanya ketiganya nekat lantaran hasil penjualan pil setan itu bernilai dua kali lipat dari harga beli. “Untung lumayan besar. Beli 250 butir pil harganya Rp 300 ribu. Saya jual Rp 10 ribu empat butir,” ucap AA (16).

Selain itu, pada 9 Juni, seorang pelajar SMK lain di Balikpapan berinisial R yang duduk di kelas XI ditangkap lantaran kedapatan membawa satu paket sabu-sabu di Jalan Swadaya, Kampung Timur, Gunung Samarinda. Dia mengaku hanya diminta oleh temannya untuk mengirim narkoba. Transaksi dilakukan dengan bertemu langsung dengan pengedar. Selain di Jalan Swadaya, anak bungsu dari dua saudara ini menyebut pernah bertransaksi di Kampung Baru.

Sebelumnya, tren anak di Kaltim berhadapan hukum pada 2017 meningkat dibanding tahun lalu. Tak menutup kemungkinan, angkanya terus bertambah hingga pengujung tahun.

Dari data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), anak yang terjerat kasus hukum hingga 16 September 2017 sebanyak 109. Dengan perincian, berstatus tahanan sebanyak 28 anak dan narapidana 81 orang. (*/dra/ril/*/rdh/rom/k8)


BACA JUGA

Jumat, 20 Oktober 2017 09:29

Masih Tabu Bahas Tarif

SAMARINDA – Tarif pertama kali operasi Jalan Tol Balikpapan-Samarinda menuai kontroversi. Banyak…

Jumat, 20 Oktober 2017 09:28

Modal Sama Jelang Derby

PADANG – Modal sama menuju gelanggang derby. Mitra Kukar dan Borneo FC kemarin memetik kemenangan…

Jumat, 20 Oktober 2017 09:22

40 Tim Adu Taktik di Ajang Bergengsi

  SAMARINDA – Honda Developmental Basketball League (DBL) kembali lagi. Sepuluh tahun sudah…

Jumat, 20 Oktober 2017 09:19

“Susu” Ber-pH Tinggi di Sungai Ampal

BALIKPAPAN – Aliran sungai yang berubah warna mengagetkan warga. Puluhan pengendara sampai menepi…

Jumat, 20 Oktober 2017 09:16

Terakhir Dibuat 1987, Perajinnya Tinggal Dua Keluarga

Dalam deretan kapal-kapal Nusantara, nama Padewakang masih kalah populer dibandingkan Pinisi. Siapa…

Jumat, 20 Oktober 2017 09:11

Dipenjara Masih Bisa Mendua

PARA pria jomblo silakan iri dengan Bejo, bukan nama sebenarnya. Betapa tidak. Walau fisik terpenjara,…

Kamis, 19 Oktober 2017 09:30
Tol Balikpapan-Samarinda yang Kemahalan

Terancam Ditinggal Pengguna Jalan

SAMARINDA – Tarif Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) yang diprediksi bakal mencekik penggunanya…

Kamis, 19 Oktober 2017 09:26

Bakar Barang Bukti Rp 400 Juta

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim berhasil mengungkap…

Kamis, 19 Oktober 2017 09:23

Kenaikan Tiket Pesawat Masih Diterima Pasar

BALIKPAPAN – Rencana kenaikan tiket pesawat kelas ekonomi ditanggapi santai Angkasa Pura I Bandara…

Kamis, 19 Oktober 2017 09:21

KPK Tanya Peran Khairudin ke Rita

JAKARTA – Untuk kali ketiga, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Bupati Kutai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .