MANAGED BY:
KAMIS
21 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 19 September 2017 08:26
Digolongkan sebagai Penyakit Mental
-

PROKAL.CO, PUNGUTAN liar atau pungli sepertinya sudah bukan hal asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Pungli dengan mudah dijumpai. Sayangnya, hal yang salah ini justru sering terabaikan dan terus berkembang menjadi kebiasaan. Meski sebagian besar pungli bersifat kecil, tarif liar ini tetap saja termasuk tindakan korupsi.

Psikologi klinis Sarwendah Indararani mengatakan, zaman sekarang sulit sekali melawan maraknya pungli. Sebab, pungli seperti budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. ”Pungli termasuk penyakit mental dan kalau sudah jadi budaya pasti susah mengubah. Tidak jauh dari tindakan korupsi dan gratifikasi,” katanya. Perempuan yang akrab disapa Awen ini menjelaskan, dari kacamata psikologi, ada beragam faktor yang memengaruhi orang lain untuk melakukan pungli.

Selain bukan hanya karena ada kesempatan, semua bergantung dari watak atau sifat seseorang. Di mana, hal ini berkaitan dengan bagaimana peran keluarga membentuk karakter individu. Jika keluarga tidak mampu memberikan bekal ilmu moralitas, maka dengan mudahnya mereka tergiur godaan seperti pungli. ”Faktor kedua, ada yang pungli karena sistem di lingkungannya sudah terbentuk seperti itu. Kalau tidak mau pungli, dia bisa dimusuhi oleh rekan-rekannya. Sehingga, dia tidak bisa mengelak dan akhirnya terjun ke dalam budaya negatif itu,” sebut psikolog dari Klinik Fajar Farma tersebut.

Sehingga, begitu banyak kasus pungli justru terjadi akibat dorongan lingkungan sekitar. Ibaratnya seperti sudah saling tahu keburukan masing-masing individu, pungli pun dibiarkan dan malah jadi hal yang lumrah. ”Tidak semua berani melawan pungli, apalagi kalau budaya ini sudah mengental di lingkungan itu. Kecuali memang dia memiliki basic diri yang kuat dari keluarga dan pemahaman kalau harus melawan kebiasaan buruk itu,” imbuhnya.

Awen mengungkapkan, sesungguhnya alasan terbesar di balik orang melakukan pungli tak lain adalah tuntutan gaya hidup. Masalahnya, semakin hari kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup terus meningkat. Besarnya kebutuhan tidak sebanding dengan pendapatan. Dikit-dikit semua hal membutuhkan uang. ”Tuntutan gaya hidup justru sangat berperan hingga akhirnya orang memilih pungli. Misalnya, sang ayah sebagai kepala keluarga harus memenuhi kewajiban membiayai keinginan istri dan anak. Tak ada pilihan, jalan pintasnya malah cari cara yang tidak halal,” bebernya.

Psikolog dari Lembaga Terapan Psikologi Perkembangan Sumber Daya Manusia (LTPPSDM) Universitas Balikpapan (Uniba) ini menuturkan, menghapus biaya pungli rasanya kemungkinan mustahil. Apalagi jika tak ada dukungan kuat dari pemerintah sendiri. Terutama karena mereka yang harus menerapkan sistem kerja bersih dan transparansi. Kenyataannya, saat ini tindakan pungli sering ditemui di lingkup instansi pemerintahan.

”Bisa sembuh atau tidaknya penyakit mental ini bergantung dari setiap orang. Dia mau berusaha menghindar atau tidak, kemudian tegas untuk berhenti melakukan pungli. Melihat keberaniannya mengatakan tidak untuk pungli dan terus bersikap jujur. Hal yang paling berat melawan budaya sekitar,” ujarnya.

Meski pungli merajalela, bukan berarti semua pejabat sama. Dia menyebutkan, semua kembali soal moralitas dan mental seseorang. Kesadarannya untuk melakukan hal sesuai aturan. Termasuk tahu bagaimana dampak pungli yang merugikan masyarakat. Sehingga dengan sangat sadar memilih untuk jauh dari perilaku pungli. ”Sementara di satu sisi, ada juga pejabat yang bisa jujur. Jadi, bergantung moral dan mental setiap orang. Salah satu peran penting dalam membentuk karakter seseorang dari keluarga. Butuh waktu sedari dini untuk menanamkan nilai kejujuran, tegas, dan berani yang membentuk kepribadian orang di masa mendatang,” terangnya.

Maka dari itu, ada tiga elemen utama dalam membentuk generasi bangsa anti-pungli. Di antaranya keluarga, sekolah, lingkungan. Awen menegaskan, hal krusial bagaimana karakter terbentuk dari pendidikan dalam keluarga. ”Apakah keluarga dapat menanamkan nilai yang benar dalam mendidik anaknya. Biasakan berani berkata jujur dan tegas,” ucapnya. Termasuk orangtua di zaman kini yang harus mampu tegas ketika melihat sang buah hati berperilaku buruk. Misalnya saat mereka mulai berbohong, mencuri, dan sebagainya.

”Jangan hanya dibiarkan, orangtua bisa langsung memberikan pemahaman. Tapi, bukan berarti marah dan kasar,” sebutnya. Kedua, sekolah juga menjadi elemen yang dapat membentuk karakter anak. Caranya dengan menyelipkan kurikulum antikorupsi dalam proses belajar mengajar. Penjelasan tentang bagaimana bersikap jujur, misalnya tidak boleh mencontek. Sayangnya, ada guru yang memperbolehkan tindakan mencontek. Padahal itu bukan hal yang baik.

”Mungkin terdengar sepele, tapi penting. Mencontek ini kan hal yang salah. Tapi, seakan sudah dianggap lumrah. Hal yang salah malah seperti biasa. Pemakluman seperti ini salah besar. Jauh lebih baik kita buat anak jujur,” sambungnya. Seharusnya, guru dapat menjadi contoh yang baik untuk siswa. Mencontek ini termasuk tindakan negatif dan berpotensi membentuk anak-anak mudah melakukan perilaku buruk lainnya. Sebab, mereka menganggap perilaku itu sudah biasa. Termasuk mungkin saja tindakan pungli di masa mendatang.

”Bahkan di sekolah ada kantin kejujuran, konsepnya siswa harus jujur membeli apa saja tanpa diawasi. Itu hal-hal simpel untuk membangun kejujuran anak. Kita perlu membudayakan kejujuran dari kecil agar suatu saat mereka tidak jujur maka akan timbul rasa resah,” tutupnya. (gel/riz/k15)


BACA JUGA

Jumat, 08 Juni 2018 09:09

Menggantung Asa di Program Pusat

GAP antara si kaya raya dan miskin papa masih terbentang lebar. Kesenjangannya tak hanya tentang pendapatan,…

Jumat, 08 Juni 2018 09:05

Teliti Developer sebelum Membeli Rumah

NEGARA mengatur rakyatnya memiliki hak terhadap papan yang memadai, sebagaimana tertulis dalam UUD 1945.…

Jumat, 08 Juni 2018 09:03

TAK MUDAH..!! Rumah yang Bisa Dikredit dengan Harga Bersahabat

SEPTIANI (23), kini berumah tangga dengan Ivandi (23). Tidak hanya berdua, mereka kini memiliki putri…

Jumat, 08 Juni 2018 09:01

Warga Susah dapat Rumah, Reduksi dengan DP Nol Persen

MENDIRIKAN jutaan unit hunian tak serta-merta mengurangi kesenjangan kepemilikan rumah. Warga tetap…

Senin, 04 Juni 2018 22:00

Siraman Rohani untuk Generasi Menunduk

CATATAN: M RIDHUAN SAYA termasuk generasi menunduk. Pada zaman digital saat ini, khususnya pekerja media,…

Senin, 04 Juni 2018 21:10

DAI, DEMI PAMRIH KEPADA ILAHI

Tak ada kata istirahat dalam dakwah. Islam menyebar lewat perjuangan, yang kini dilanjutkan para dai.…

Senin, 04 Juni 2018 21:02

Jatuh Bangun Empat Dekade

SIANG itu, meski matahari sedang terik-teriknya, Hasyim masih saja sibuk dengan cangkul, kapak, serta…

Senin, 04 Juni 2018 08:37

Menyesuaikan Gaya, Menyentuh Anak Muda

MUHAMMADIYAH salah satu organisasi Islam Tanah Air yang punya peran besar dalam menyebarkan dakwah.…

Senin, 04 Juni 2018 08:30

Santun Jadi Modal Utama

DALAM memberikan nasihat dakwah, yang pertama adalah dengan hikmah. Ini prinsip pertama yang hendaknya…

Senin, 04 Juni 2018 08:24

“Siapa Pun Harus Bisa Menikmati Dakwah”

EKSISTENSI Hidayatullah sudah hampir lima dekade. Tak hanya di Balikpapan, pondok pesantren yang didirikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .