MANAGED BY:
MINGGU
18 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Rabu, 13 September 2017 09:44
Fokus ke Mata Kiri Novel
-

PROKAL.CO, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat kabar baik dari tim dokter yang merawat Novel Baswedan di Singapura. Berdasar informasi yang mereka terima, pertumbuhan lapisan mata kanan penyidik senior lembaga antirasuah itu sudah sempurna. Namun demikian, bukan berarti perawatan dan pengobatan berhenti. Novel masih harus melalui beberapa proses. Termasuk di antaranya operasi tahap dua.

Juru Bicara (Jubir) KPK Febri Diansyah menjelaskan, Novel masih perlu penanganan intensif setelah menjalani operasi tahap pertama. “Kontrol secara rutin ke rumah sakit,” kata dia ketika diwawancarai di Gedung Merah Putih KPK, kemarin (12/9). Perkembangan positif pada pemulihan mata kanan membuat tim dokter lebih leluasa untuk kembali fokus pada mata kiri. “Treatment yang akan dilakukan relatif lebih fokus kepada pengobatan mata kiri,” imbuhnya.

Febri kembali menuturkan, kerusakan mata kiri Novel lebih parah ketimbang mata kanan. Sebab, mata kiri lebih banyak terpapar air keras yang sengaja disiramkan kepada penyidik asal Semarang itu. Untuk menanganinya, tim dokter terus memantau perkembangan jaringan yang ditanam pada bagian tersebut. “Apakah kemudian bisa sesuai dan bisa tumbuh menggantikan fungsi bagian-bagian di mata,” ucap dia. Guna memastikan hal itu, pemeriksaan dilaksanakan secara rutin.

Di samping menunggu operasi tahap kedua yang rencananya bakal dilakukan dua atau tiga bulan ke depan, perawatan dan pengobatan rutin membuat Novel masih harus berada di Singapura. “Ada keperluan dan saran dokter untuk pemeriksaan rutin,” imbuhnya. Selain itu, kata Febri, biaya yang harus dikeluarkan bila Novel bolak-balik Jakarta-Singapura lebih banyak ketimbang bila Novel dirawat di sana. Karena itu, dia menegaskan Novel belum bisa kembali ke Tanah Air dalam waktu dekat. 

Berkaitan dengan penanganan kasus penyiraman air keras yang diproses Polda Metro Jaya, KPK belum mendapat informasi terbaru dari Polri. Namun demikian, mereka percaya kasus tersebut bakal dituntaskan. “Kami yakin betul Polri akan serius,” ucap Febri. Apalagi, sambung dia, Presiden Joko Widodo sudah memberi mandat kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menuntaskan kasus yang sudah lima bulan berjalan.

Sedangkan soal laporan yang dibuat oleh Direktur Penyidikan KPK Brigjen Aris Budiman, Febri mengungkapkan bahwa pimpinan KPK akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pimpinan Polri. Itu dilakukan guna memastikan laporan tersebut tidak merusak hubungan KPK dengan Polri. “Agar hal lain yang kemudian berisiko menghambat hubungan kelembagaan bisa diselesaikan,” terang dia. Namun demikian, sampai kemarin belum ada informasi laporan tersebut bakal dicabut.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono memastikan kasus dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Aris Budiman terus berjalan. Kemarin dia menyebutkan, total ada 12 saksi yang diperiksa oleh penyidik. Semua saksi berkaitan dengan kasus tersebut. Para saksi itu adalah pegawai KPK yang bertugas sebagai penyidik di lembaga antirasuah tersebut. 

Argo menampik kabar yang menyebutkan bahwa kasus Aris Budiman merupakan upaya pengalihan isu dari permasalahan penyiraman air keras kepada Novel. “Kami itu harus bisa memilih dan melihat informasi yang benar. Ini ada aduan dari seseorang. Murni pelaporan kasus,” terang Argo. 

Lantas, apakah Novel bisa menjadi tersangka? Argo meminta publik untuk bersabar. Namun, dia menyebutkan, tidak mungkin jika suatu kasus tidak ada seorang tersangka. Status tersangka pada sebuah kasus bakal didapatkan setelah gelar perkara di tahap penyelidik.

Sementara itu, saat disinggung kapan memeriksa Novel, Argo bungkam. Dia menegaskan, penyelidik belum memiliki agenda untuk memeriksa Novel dalam waktu dekat. Menurut dia, hal tersebut memerlukan proses perizinan. “Pak Novel juga sedang dirawat. Jadi, tidak bisa sembarangan juga,” tambahnya. (syn/sam/jpnn/rom/k15)


BACA JUGA

Jumat, 16 Februari 2018 19:39

Ongkos Pilkada Selangit, Korupsi Tak Terbendung

Sudah jadi rahasia umum, ongkos untuk bisa menjadi kepala daerah sangatlah mahal. Nah kondisi ini mendapat…

Jumat, 16 Februari 2018 19:36

Parpol Gagal, Banyak Calon di Pilkada Kena OTT KPK

Tertangkapnya sejumlah kepala daerah yang mencalonkan diri kembali di Pilkada 2018 merupakan bukti kegagalan…

Jumat, 16 Februari 2018 19:28

Imlek Lepas Burung, Apa Maknanya?

Ada tradisi unik mengiringi perayaan Imlek.  Warga Tionghoa biasanya menjalankan tradisi melepas…

Jumat, 16 Februari 2018 19:22

Adakah Peluang Habib Rizieq Jadi Capres 2019

Di tengah maraknya pemberitaan persaingan Jokowi dan Prabowo, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib…

Jumat, 16 Februari 2018 19:17

Albothyl Berbahaya, DPR Kritik BPOM

Anggota DPR gerah dan mengkritik habis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ini berkait hasil bahaya…

Selasa, 13 Februari 2018 19:58

Belanja di Pasar, Tentara Tewas Didor

TNI berduka. Serangan separatis bersenjata di Papua menewaskan Anggota TNI Satgas Ban Timsus Sinak,…

Selasa, 13 Februari 2018 19:47

Cueki UU MD3, KPK Tak Perlu Izin Presiden Garap Legislator Korup

Anggota DPR boleh saja berlindung di balik UU MD3, tapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak mempersoalkan…

Selasa, 13 Februari 2018 19:43

Akhirnya, 19 Ribu Guru Honorer Bisa Jadi CPNS Tahun Ini

Setelah sekian lama terkatung-katung, nasib sebanyak 19.317 guru honoreryang mengabdi di daerah terdepan,…

Selasa, 13 Februari 2018 19:39

Airlangga Belum Terpikir Jadi Cawapres

Meski digadang-gadang memiliki kans untuk maju dalam Pilpres 2019, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga…

Selasa, 13 Februari 2018 19:34

Cekcok Mobil Kreditan, Sekeluarga Dibantai

Tak butuh waktu lama, otak kasus pembunuhan sekeluarga di Tangerang Banten berhasil dibongkar. Penyidik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .