MANAGED BY:
MINGGU
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Rabu, 13 September 2017 09:44
Fokus ke Mata Kiri Novel
-

PROKAL.CO, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat kabar baik dari tim dokter yang merawat Novel Baswedan di Singapura. Berdasar informasi yang mereka terima, pertumbuhan lapisan mata kanan penyidik senior lembaga antirasuah itu sudah sempurna. Namun demikian, bukan berarti perawatan dan pengobatan berhenti. Novel masih harus melalui beberapa proses. Termasuk di antaranya operasi tahap dua.

Juru Bicara (Jubir) KPK Febri Diansyah menjelaskan, Novel masih perlu penanganan intensif setelah menjalani operasi tahap pertama. “Kontrol secara rutin ke rumah sakit,” kata dia ketika diwawancarai di Gedung Merah Putih KPK, kemarin (12/9). Perkembangan positif pada pemulihan mata kanan membuat tim dokter lebih leluasa untuk kembali fokus pada mata kiri. “Treatment yang akan dilakukan relatif lebih fokus kepada pengobatan mata kiri,” imbuhnya.

Febri kembali menuturkan, kerusakan mata kiri Novel lebih parah ketimbang mata kanan. Sebab, mata kiri lebih banyak terpapar air keras yang sengaja disiramkan kepada penyidik asal Semarang itu. Untuk menanganinya, tim dokter terus memantau perkembangan jaringan yang ditanam pada bagian tersebut. “Apakah kemudian bisa sesuai dan bisa tumbuh menggantikan fungsi bagian-bagian di mata,” ucap dia. Guna memastikan hal itu, pemeriksaan dilaksanakan secara rutin.

Di samping menunggu operasi tahap kedua yang rencananya bakal dilakukan dua atau tiga bulan ke depan, perawatan dan pengobatan rutin membuat Novel masih harus berada di Singapura. “Ada keperluan dan saran dokter untuk pemeriksaan rutin,” imbuhnya. Selain itu, kata Febri, biaya yang harus dikeluarkan bila Novel bolak-balik Jakarta-Singapura lebih banyak ketimbang bila Novel dirawat di sana. Karena itu, dia menegaskan Novel belum bisa kembali ke Tanah Air dalam waktu dekat. 

Berkaitan dengan penanganan kasus penyiraman air keras yang diproses Polda Metro Jaya, KPK belum mendapat informasi terbaru dari Polri. Namun demikian, mereka percaya kasus tersebut bakal dituntaskan. “Kami yakin betul Polri akan serius,” ucap Febri. Apalagi, sambung dia, Presiden Joko Widodo sudah memberi mandat kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menuntaskan kasus yang sudah lima bulan berjalan.

Sedangkan soal laporan yang dibuat oleh Direktur Penyidikan KPK Brigjen Aris Budiman, Febri mengungkapkan bahwa pimpinan KPK akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pimpinan Polri. Itu dilakukan guna memastikan laporan tersebut tidak merusak hubungan KPK dengan Polri. “Agar hal lain yang kemudian berisiko menghambat hubungan kelembagaan bisa diselesaikan,” terang dia. Namun demikian, sampai kemarin belum ada informasi laporan tersebut bakal dicabut.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono memastikan kasus dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Aris Budiman terus berjalan. Kemarin dia menyebutkan, total ada 12 saksi yang diperiksa oleh penyidik. Semua saksi berkaitan dengan kasus tersebut. Para saksi itu adalah pegawai KPK yang bertugas sebagai penyidik di lembaga antirasuah tersebut. 

Argo menampik kabar yang menyebutkan bahwa kasus Aris Budiman merupakan upaya pengalihan isu dari permasalahan penyiraman air keras kepada Novel. “Kami itu harus bisa memilih dan melihat informasi yang benar. Ini ada aduan dari seseorang. Murni pelaporan kasus,” terang Argo. 

Lantas, apakah Novel bisa menjadi tersangka? Argo meminta publik untuk bersabar. Namun, dia menyebutkan, tidak mungkin jika suatu kasus tidak ada seorang tersangka. Status tersangka pada sebuah kasus bakal didapatkan setelah gelar perkara di tahap penyelidik.

Sementara itu, saat disinggung kapan memeriksa Novel, Argo bungkam. Dia menegaskan, penyelidik belum memiliki agenda untuk memeriksa Novel dalam waktu dekat. Menurut dia, hal tersebut memerlukan proses perizinan. “Pak Novel juga sedang dirawat. Jadi, tidak bisa sembarangan juga,” tambahnya. (syn/sam/jpnn/rom/k15)


BACA JUGA

Jumat, 17 November 2017 18:37

Generasi Muda Golkar: Lupa Ingatan, Skenario Setnov Berikutnya

Kecelakaan tunggal yang mengakibatkan tersangka korupsi e-KTP Setya Novanto harus dirawat serius di…

Jumat, 17 November 2017 18:31

Dikawal KPK Setnov Pindah ke RSCM

Demi mendapatkan pelayanan yang lebih maksimal, dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo…

Jumat, 17 November 2017 18:28

What??? Benjol di Kepala Setya Novanto Sebesar Bakpao

Setelah mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik, kecelakaan yang dialami Ketua DPR Setya Novanto…

Kamis, 16 November 2017 09:27

Koran Tidak akan Mati

SURABAYA – Sejak lama, koran diramalkan akan mati karena gempuran media online. Tapi kenyataannya,…

Kamis, 16 November 2017 09:25

Heboh Donor Sperma di Kampus UI

JAKARTA – Kabar menghebohkan muncul di tengah persiapan penyelenggaraan Symposium and Workshop…

Rabu, 15 November 2017 17:57

Saingi Jokowi? Fachri: Bisa Buktikan Korupsi e-KTP Dapat Hadiah Sepeda

Kuis atau pertanyaan berhadiah sepeda lagi tren. Bukan hanya Presiden Joko Widodo yang bisa, Wakil Ketua DPR…

Rabu, 15 November 2017 17:50

Agar Adil, Panglima TNI Berikutnya Idealnya dari AU

Meski menjadi hak prerogatif presiden, Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  Tubagus…

Rabu, 15 November 2017 17:37

Wapres JK: Setnov Jangan Mengada-ada untuk Hindari KPK

Langkah-langkah hukum akrobatik dari Ketua DPR Setya Novanto terus mengundang sorotan. Termasuk oleh…

Rabu, 15 November 2017 17:28

Elite Golkar Jangan Lindungi Novanto

Demi kepentingan Partai Golkar sendiri, elite partai ini diminta jangan melindungi ketua umumnya yang…

Rabu, 15 November 2017 17:23

Panggil Setnov, KPK Tak Perlu Izin Presiden

Ketua Umum Golkar terus mengulur-ulur waktu saat dipanggil KPK. Termasuk mengemukakan dalil KPK perlu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .