MANAGED BY:
JUMAT
24 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 12 September 2017 09:46
Bayi Baru Lahir Tak Diberi Susu tapi Gula Air

Pohon Lontar, Ruh Masyarakat Pulau Rote

KAYA MANFAAT: Seorang warga Pulau Rote memanjat pohon lontar. Foto kiri, warga menjadikan nira yang disadap dari lontar menjadi gula. (TIMOR EKSPRESS )

PROKAL.CO, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sering disebut sebagai pulau sejuta lontar. Sebutan itu tidak berlebihan, karena pohon lontar memang menyebar di seluruh daratan pulau tersebut. Lontar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Rote.

BAYU PUTRA, Rote

RUMAH daun. Begitulah pasangan suami-istri, Daniel Koen dan Sarai Manafe, menyebut bangunan tradisional Rote yang mereka tinggali. Dindingnya kayu. Beratapkan daun lontar. Lantainya dari tanah yang berpasir. Karena dindingnya tidak rapat, berkali-kali ayam peliharaan mereka bebas keluar-masuk rumah.

Ruangan utama di rumah itu tidak luas. Hanya berukuran 6x3 meter. Tinggi pintunya pun hanya 1 meter lebih sedikit. Tersedia dua buah balai-balai di ruangan itu untuk alas tidur Daniel dan Sarai. Tinggi ruangan hanya 2,5 meter, karena di atasnya menjadi tempat menyimpan bahan makanan.

Kemudian, ada ruang dapur di bagian belakang rumah. Di halaman, terlihat deretan pagar berbahan tangkai daun lontar yang mulai lapuk. Pagar itu disusun sederhana saja. Delapan sampai sepuluh tangkai disusun sejajar dari atas ke bawah, ditopang dua tangkai lain yang berdiri vertikal.

Lalu disusun sebelah menyebelahi untuk membatasi halaman rumah mereka dengan tetangga. Daniel sudah berusia 80 tahun. Sarai 64 tahun. Keduanya tidak bisa berbahasa Indonesia. “Kata Bapak, dia sudah tinggal di sini selama 22 tahun,” terang Meri Mero, menantu Daniel. Sebelumnya, mereka tinggal di kawasan perbukitan. Juga dengan model rumah yang sama persis.

Sementara itu, biaya hidup mereka ditopang oleh beberapa pohon lontar yang tumbuh liar di halaman rumah di kampung Oedai, Kecamatan Rote Barat Daya. Selama lontar masih menghasilkan nira, selama itulah tungku di dapur mereka tetap menyala. Hanya, tugas menyadap nira kini dibantu putra pertamanya, Dominggus Koen. 

Daniel dan Sarai merupakan potret keterkaitan lontar dalam kehidupan masyarakat Rote. Saking lekatnya, orang-orang terdahulu menyebut bahwa lontar sudah menjadi ruh masyarakat Rote. “Orang Rote sejak dia lahir tidak dikasih susu, tapi langsung gula air hasil lontar,” terang tokoh masyarakat adat Rote, Arkhimes Molle saat diwawancarai akhir Agustus lalu.

Gula air dapat dikatakan sebagai makanan pokok bagi masyarakat tradisional di Rote. Meski bentuknya cair seperti sirop, masyarakat tradisional sudah terbiasa mengonsumsinya sebagai makanan sehari-hari. Bila di Jawa “belum makan kalau bukan nasi”, maka masyarakat tradisional Rote menggunakan idiom yang sama untuk gula air.

Minuman itu berasal dari nira lontar yang diolah hingga kental seperti sirop. Untuk menyajikannya, tinggal mencampurkan dengan air lalu diminum. Molle menyebut, seorang pria dewasa di Rote sanggup bekerja di ladang seharian hanya dengan sarapan dua gelas gula air.

Bukan sekadar kebiasaan yang membuat masyarakat tradisional Rote bisa bertahan hidup hanya dari gula air. Litbang Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa nira lontar memiliki kandungan glukosa 10,96 persen atau hampir 11 persen. Kemudian, nira lontar juga mengandung sukrosa antara 13–18 persen. Juga, sedikit protein dengan kandungan 0,28 persen.

Karena itu, Molle tidak khawatir ketika Bupati Rote Ndao Leonard Haning menyebut, tingkat kemiskinan di wilayahnya mencapai 26 persen. ’’Mungkin mereka memang miskin. Tapi selama ada lontar, mereka tidak lapar,’’ lanjut Molle.

Selain menjadi makanan pokok, banyak kegunaan lain lontar bagi masyarakat tradisional Rote. Tidak ada bagian dari pohon lontar yang terbuang. Kayunya bisa dijadikan bahan bangunan untuk menopang rumah. Daunnya untuk atap, dan tangkainya menjadi pagar. Niranya menjadi makanan pokok, meski saat ini perlahan mulai digantikan oleh nasi.

Topi Ti’i Langga yang menjadi simbol kebesaran laki-laki di Rote dianyam dari daun lontar. Beberapa puluh tahun lalu, sebelum Rote menjadi kabupaten tersendiri, adat masih sangat kental. Setiap rumah dipastikan memiliki Ti’i Langga. “Karena setiap laki-laki yang keluar dari rumah selalu menggunakan Ti’i Langga,” tutur Molla. Seiring kemajuan zaman, saat ini Ti’i Langga dipakai hanya pada acara-acara adat.

Begitu pula Sasando, alat musik tradisional Rote yang sudah mendunia, dibuat dari daun lontar. Alat musik itu awalnya hanya merupakan sarana hiburan bagi warga tradisional. Keberadaan Sasando membuat masyarakat rela berkumpul dan bernyanyi bersama, sehingga timbul kebersamaan.

Masyarakat tradisional Rote juga mengolah lontar menjadi sopi, tuak khas dari pulau tersebut. Kandungan alkoholnya di atas 40 persen. “Sekarang juga banyak yang diolah menjadi alkohol medik, dengan kandungan 90 persen,” tutur Molle yang juga mantan anggota DPRD Rote Ndao itu.

Beberapa puluh tahun silam, sopi begitu populer pada masyarakat Rote. Namun, belakangan penggunaannya semakin dibatasi untuk mencegah dampak buruk minuman beralkohol. Saat ini, Sopi hanya dihidangkan pada acara-acara adat. Dalam ritual adat, sopi memberikan kekuatan dalam mengambil keputusan.

Ada satu aturan tidak tertulis dalam hal pemanfaatan lontar. Masyarakat Rote hanya boleh mengolah lontar yang tumbuh di halaman rumahnya. Setiap keluarga tradisional Rote memiliki sejumlah pohon lontar yang tumbuh di halaman rumahnya yang bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan.

Itulah yang terjadi pada keluarga Daniel. Siang itu, Dominggus menggantikan Daniel menyadap nira lontar. Dengan cekatan, dia memanjat pohon lontar setinggi 12 meter di depan rumah. Kemudian, mengambil wadah dari daun lontar kering yang telah dipenuhi oleh cairan nira dari atas pohon. Saat dia turun, beberapa kali nira dalam wadah yang digendongnya menyiprat keluar.

Nira itu akan diolah menjadi gula lempeng untuk dijual. Hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekadar menjaga agar dapur sederhana di belakang rumah daun itu tetap berasap. Artinya, hari itu Daniel sekeluarga bisa makan.

Daniel pun mengisyaratkan bila urusan perutnya telah paripurna. Ketika ditanya apa keinginannya, dia lebih memikirkan papan ketimbang pangan. “Mudah-mudahan pemerintah mau membantu saya membuatkan rumah seng,” ucap Daniel yang kemudian diterjemahkan Meri.

Rumah seng yang dimaksud adalah rumah berdinding batu atau kapur dan beratapkan seng. Lebih mudah menjumpai rumah beratap seng ketimbang beratap genting di Rote, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai rumah seng. Itu pula yang didambakan Daniel, yang sepanjang hidupnya tinggal di rumah daun.

Masa produktif pohon lontar bisa mencapai 50 tahun lebih sehingga Daniel tidak perlu khawatir kehabisan nira untuk diolah. Di sisi lain, pohon lontar baru bisa menghasilkan nira setelah berusia minimal 15 tahun. Bila dianggap sudah terlalu tua, pohon itu ditebang untuk dijadikan bahan bangunan.

Sayangnya, saat ini masyarakat yang benar-benar memanfaatkan lontar secara keseluruhan semakin berkurang. Kemajuan zaman membuat kebutuhan masyarakat bergeser, sehingga kebutuhan akan hasil lontar juga menurun. Padahal, bila mau mengolah lontar, tidak ada orang yang kelaparan di Rote, semiskin apapun dia.

Arkhimes Molle menuturkan, saat ini sudah banyak pengusaha kayu dari luar Rote yang memanfaatkan lontar. Pohon-pohonnya ditebangi untuk dijual menjadi bahan bangunan. Penebangan itu mengindikasikan jumlah pohon lontar akan menyusut dalam beberapa tahun ke depan.

Meskipun demikian, dia mengamati fenomena yang dianggapnya sebagai anugerah Tuhan. Berapa pun banyaknya pohon lontar ditebang, seakan tidak pernah habis. Di sisi lain, ketika pemkab setempat mencoba menumbuhkan lontar dengan cara budi daya, selalu gagal.

Lontar tumbuh secara alami, meski lambat, tanpa perlu campur tangan manusia. Seakan mengerti, lontar menyiapkan dirinya untuk menjadi manfaat bagi masyarakat Rote. Tidak perlu dirawat, tinggal diambil manfaatnya bila mau. Karena Lontar adalah ruh masyarakat di Nusa Lontar alias Rote. (far/k8)


BACA JUGA

Kamis, 23 November 2017 09:05

Korban Tuntut Ganti Rugi Ditebus

BALIKPAPAN – Dua tahun sudah korban gagal umrah dari PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa)…

Kamis, 23 November 2017 09:02

Presiden Selalu dari Satu Kelompok

SAMARINDA – Kericuhan dalam Pemilihan Raya (Pemira) Presiden BEM Universitas Mulawarman yang membuat…

Kamis, 23 November 2017 09:01

Kaltim Post Peduli Pajak

BALIKPAPAN – Kaltim Post ikut berperan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kemarin…

Kamis, 23 November 2017 08:58

Lindungi Kesehatan Seluruh Masyarakat

PEMKAB Mahakam Ulu (Mahulu) membuktikan komitmen memberi kepastian perlindungan atas hak jaminan sosial…

Kamis, 23 November 2017 08:55

Khusus Penyetelan dan Finishing Tak Dikerjakan Karyawan

Tidak banyak perajin gitar di Balikpapan. Dari 776.632 warga Balikpapan tahun ini, fakta yang diperoleh…

Kamis, 23 November 2017 08:52

Dukung Kadrie Oening Jadi Nama GOR Sempaja

WACANA penamaan Kompleks GOR Madya Sempaja menjadi Kompleks GOR Kadrie Oening terus menuai dukungan.…

Rabu, 22 November 2017 10:10

Politik Minus Etika Kaum Intelek

SAMARINDA – Teriakan penuh amarah menggelegar di langit Universitas Mulawarman ketika ratusan…

Rabu, 22 November 2017 10:06

Golongan Putih di Kampus Hijau

BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulawarman memang hanya sebuah organisasi. Namun, untuk…

Rabu, 22 November 2017 10:00

Nusyirwan: APBD Perubahan Molor

SAMARINDA – Belasan proyek penanganan banjir menumpuk pada akhir tahun. Fenomena itu diklaim bukan…

Rabu, 22 November 2017 09:56

Golkar Kaltim Masih Menimbang

SAMARINDA – Rumor Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) DPP Golkar setelah penahanan sang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .