MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 12 September 2017 09:46
Bayi Baru Lahir Tak Diberi Susu tapi Gula Air

Pohon Lontar, Ruh Masyarakat Pulau Rote

KAYA MANFAAT: Seorang warga Pulau Rote memanjat pohon lontar. Foto kiri, warga menjadikan nira yang disadap dari lontar menjadi gula. (TIMOR EKSPRESS )

PROKAL.CO, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sering disebut sebagai pulau sejuta lontar. Sebutan itu tidak berlebihan, karena pohon lontar memang menyebar di seluruh daratan pulau tersebut. Lontar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Rote.

BAYU PUTRA, Rote

RUMAH daun. Begitulah pasangan suami-istri, Daniel Koen dan Sarai Manafe, menyebut bangunan tradisional Rote yang mereka tinggali. Dindingnya kayu. Beratapkan daun lontar. Lantainya dari tanah yang berpasir. Karena dindingnya tidak rapat, berkali-kali ayam peliharaan mereka bebas keluar-masuk rumah.

Ruangan utama di rumah itu tidak luas. Hanya berukuran 6x3 meter. Tinggi pintunya pun hanya 1 meter lebih sedikit. Tersedia dua buah balai-balai di ruangan itu untuk alas tidur Daniel dan Sarai. Tinggi ruangan hanya 2,5 meter, karena di atasnya menjadi tempat menyimpan bahan makanan.

Kemudian, ada ruang dapur di bagian belakang rumah. Di halaman, terlihat deretan pagar berbahan tangkai daun lontar yang mulai lapuk. Pagar itu disusun sederhana saja. Delapan sampai sepuluh tangkai disusun sejajar dari atas ke bawah, ditopang dua tangkai lain yang berdiri vertikal.

Lalu disusun sebelah menyebelahi untuk membatasi halaman rumah mereka dengan tetangga. Daniel sudah berusia 80 tahun. Sarai 64 tahun. Keduanya tidak bisa berbahasa Indonesia. “Kata Bapak, dia sudah tinggal di sini selama 22 tahun,” terang Meri Mero, menantu Daniel. Sebelumnya, mereka tinggal di kawasan perbukitan. Juga dengan model rumah yang sama persis.

Sementara itu, biaya hidup mereka ditopang oleh beberapa pohon lontar yang tumbuh liar di halaman rumah di kampung Oedai, Kecamatan Rote Barat Daya. Selama lontar masih menghasilkan nira, selama itulah tungku di dapur mereka tetap menyala. Hanya, tugas menyadap nira kini dibantu putra pertamanya, Dominggus Koen. 

Daniel dan Sarai merupakan potret keterkaitan lontar dalam kehidupan masyarakat Rote. Saking lekatnya, orang-orang terdahulu menyebut bahwa lontar sudah menjadi ruh masyarakat Rote. “Orang Rote sejak dia lahir tidak dikasih susu, tapi langsung gula air hasil lontar,” terang tokoh masyarakat adat Rote, Arkhimes Molle saat diwawancarai akhir Agustus lalu.

Gula air dapat dikatakan sebagai makanan pokok bagi masyarakat tradisional di Rote. Meski bentuknya cair seperti sirop, masyarakat tradisional sudah terbiasa mengonsumsinya sebagai makanan sehari-hari. Bila di Jawa “belum makan kalau bukan nasi”, maka masyarakat tradisional Rote menggunakan idiom yang sama untuk gula air.

Minuman itu berasal dari nira lontar yang diolah hingga kental seperti sirop. Untuk menyajikannya, tinggal mencampurkan dengan air lalu diminum. Molle menyebut, seorang pria dewasa di Rote sanggup bekerja di ladang seharian hanya dengan sarapan dua gelas gula air.

Bukan sekadar kebiasaan yang membuat masyarakat tradisional Rote bisa bertahan hidup hanya dari gula air. Litbang Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa nira lontar memiliki kandungan glukosa 10,96 persen atau hampir 11 persen. Kemudian, nira lontar juga mengandung sukrosa antara 13–18 persen. Juga, sedikit protein dengan kandungan 0,28 persen.

Karena itu, Molle tidak khawatir ketika Bupati Rote Ndao Leonard Haning menyebut, tingkat kemiskinan di wilayahnya mencapai 26 persen. ’’Mungkin mereka memang miskin. Tapi selama ada lontar, mereka tidak lapar,’’ lanjut Molle.

Selain menjadi makanan pokok, banyak kegunaan lain lontar bagi masyarakat tradisional Rote. Tidak ada bagian dari pohon lontar yang terbuang. Kayunya bisa dijadikan bahan bangunan untuk menopang rumah. Daunnya untuk atap, dan tangkainya menjadi pagar. Niranya menjadi makanan pokok, meski saat ini perlahan mulai digantikan oleh nasi.

Topi Ti’i Langga yang menjadi simbol kebesaran laki-laki di Rote dianyam dari daun lontar. Beberapa puluh tahun lalu, sebelum Rote menjadi kabupaten tersendiri, adat masih sangat kental. Setiap rumah dipastikan memiliki Ti’i Langga. “Karena setiap laki-laki yang keluar dari rumah selalu menggunakan Ti’i Langga,” tutur Molla. Seiring kemajuan zaman, saat ini Ti’i Langga dipakai hanya pada acara-acara adat.

Begitu pula Sasando, alat musik tradisional Rote yang sudah mendunia, dibuat dari daun lontar. Alat musik itu awalnya hanya merupakan sarana hiburan bagi warga tradisional. Keberadaan Sasando membuat masyarakat rela berkumpul dan bernyanyi bersama, sehingga timbul kebersamaan.

Masyarakat tradisional Rote juga mengolah lontar menjadi sopi, tuak khas dari pulau tersebut. Kandungan alkoholnya di atas 40 persen. “Sekarang juga banyak yang diolah menjadi alkohol medik, dengan kandungan 90 persen,” tutur Molle yang juga mantan anggota DPRD Rote Ndao itu.

Beberapa puluh tahun silam, sopi begitu populer pada masyarakat Rote. Namun, belakangan penggunaannya semakin dibatasi untuk mencegah dampak buruk minuman beralkohol. Saat ini, Sopi hanya dihidangkan pada acara-acara adat. Dalam ritual adat, sopi memberikan kekuatan dalam mengambil keputusan.

Ada satu aturan tidak tertulis dalam hal pemanfaatan lontar. Masyarakat Rote hanya boleh mengolah lontar yang tumbuh di halaman rumahnya. Setiap keluarga tradisional Rote memiliki sejumlah pohon lontar yang tumbuh di halaman rumahnya yang bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan.

Itulah yang terjadi pada keluarga Daniel. Siang itu, Dominggus menggantikan Daniel menyadap nira lontar. Dengan cekatan, dia memanjat pohon lontar setinggi 12 meter di depan rumah. Kemudian, mengambil wadah dari daun lontar kering yang telah dipenuhi oleh cairan nira dari atas pohon. Saat dia turun, beberapa kali nira dalam wadah yang digendongnya menyiprat keluar.

Nira itu akan diolah menjadi gula lempeng untuk dijual. Hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekadar menjaga agar dapur sederhana di belakang rumah daun itu tetap berasap. Artinya, hari itu Daniel sekeluarga bisa makan.

Daniel pun mengisyaratkan bila urusan perutnya telah paripurna. Ketika ditanya apa keinginannya, dia lebih memikirkan papan ketimbang pangan. “Mudah-mudahan pemerintah mau membantu saya membuatkan rumah seng,” ucap Daniel yang kemudian diterjemahkan Meri.

Rumah seng yang dimaksud adalah rumah berdinding batu atau kapur dan beratapkan seng. Lebih mudah menjumpai rumah beratap seng ketimbang beratap genting di Rote, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai rumah seng. Itu pula yang didambakan Daniel, yang sepanjang hidupnya tinggal di rumah daun.

Masa produktif pohon lontar bisa mencapai 50 tahun lebih sehingga Daniel tidak perlu khawatir kehabisan nira untuk diolah. Di sisi lain, pohon lontar baru bisa menghasilkan nira setelah berusia minimal 15 tahun. Bila dianggap sudah terlalu tua, pohon itu ditebang untuk dijadikan bahan bangunan.

Sayangnya, saat ini masyarakat yang benar-benar memanfaatkan lontar secara keseluruhan semakin berkurang. Kemajuan zaman membuat kebutuhan masyarakat bergeser, sehingga kebutuhan akan hasil lontar juga menurun. Padahal, bila mau mengolah lontar, tidak ada orang yang kelaparan di Rote, semiskin apapun dia.

Arkhimes Molle menuturkan, saat ini sudah banyak pengusaha kayu dari luar Rote yang memanfaatkan lontar. Pohon-pohonnya ditebangi untuk dijual menjadi bahan bangunan. Penebangan itu mengindikasikan jumlah pohon lontar akan menyusut dalam beberapa tahun ke depan.

Meskipun demikian, dia mengamati fenomena yang dianggapnya sebagai anugerah Tuhan. Berapa pun banyaknya pohon lontar ditebang, seakan tidak pernah habis. Di sisi lain, ketika pemkab setempat mencoba menumbuhkan lontar dengan cara budi daya, selalu gagal.

Lontar tumbuh secara alami, meski lambat, tanpa perlu campur tangan manusia. Seakan mengerti, lontar menyiapkan dirinya untuk menjadi manfaat bagi masyarakat Rote. Tidak perlu dirawat, tinggal diambil manfaatnya bila mau. Karena Lontar adalah ruh masyarakat di Nusa Lontar alias Rote. (far/k8)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 01:37

Libur Panjang Reduksi Kepadatan

SAMARINDA  –  Kebijakan pemerintah memberi porsi besar untuk cuti bersama pada periode…

Minggu, 17 Juni 2018 01:26

Ambulans saat Lebaran

SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara.…

Minggu, 17 Juni 2018 01:20

Perjalanan Via Darat, Waspada Mobil Terbakar

ANCAMAN  dalam setiap perjalanan darat, termasuk saat arus balik, bisa menimpa siapa saja. Tragedi…

Minggu, 17 Juni 2018 01:11

Minimalisir Kebakaran, Remajakan Listrik Setiap 15 Tahun

SANGATTA  -  Musibah tak mengenal momen. Perayaan Idulfitri hari kedua di Sangatta, diwarnai…

Minggu, 17 Juni 2018 01:08

Siapa pun yang Menang, Rakyat Korbannya

Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin…

Sabtu, 16 Juni 2018 13:00

Libur Lebaran, Wisata Tirta Bakal Ramai

KALTIM menyimpan banyak destinasi wisata yang tak kalah menarik dan indah dengan tempat-tempat di luar…

Sabtu, 16 Juni 2018 12:00

Mobil Terbakar setelah Mogok, Truk BBM Terguling Tak Terkendali

SAMARINDA – Sementara banyak umat Islam merayakan Hari Kemenangan dan penuh sukacita, sebagian…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:34

Tinggal Puing setelah Salat

MUSIBAH  tak dapat terelakkan meski momen Idulfitri sekalipun. Jika sebagian besar warga melewati…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:12

2022 Mulai Tidak Kompak

PEMERINTAH boleh bersyukur penetapan awal puasa dan lebaran tahun ini bersamaan. Tetapi, jika penyatuan…

Jumat, 15 Juni 2018 02:31

Kegembiraan Tak Berlebih, Lebaran Bukan Sekadar Baju Baru dan Penganan Melimpah

Suasana serba-baru sudah lumrah setiap Lebaran. Busana yang masih tajam aroma tokonya hingga rumah yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .