MANAGED BY:
SABTU
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 12 September 2017 07:12
Bisnis Perikanan Harus Dikelola Serius
MENANTI INVESTASI: Nelayan lokal Kaltim dinilai masih lemah dalam teknik dan peralatan tangkap ikan. Kapasitas kapal pun masih kecil. Di samping itu, belum ada industri hilirisasi produk ikan. (paksi sandang prabowo/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Sayang,pengelolaanpotensi bisnis kelautan dan perikanan Kaltim belum terlihat progres yang agresif. Hingga saat ini, tak ada penampungan ikan yang cukup besar. Serta masih kurangnya bisnis hilirisasi perikanan. Butuh kerja sama yang baik antara SKPD terkait, pengusaha, dan masyarakat.

Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Kaltim Syafaruddin mengatakan, potensi bisnis perikanan di Kaltim cukup menjanjikan. Hanya saja, perlu terminal transit perikanan yang profesional pengelolaannya. Seperti penampungan tangkap ikan besar lengkap dengan cold storage.

“Di Kaltim, belum ada yang bisa menampung dalam jumlah besar. Maksimal hanya berkapasitas 20-40 ton. Tak seperti di Laut Natuna sektor perikanannya dikelola besar-besaran, dan nelayannya melaut hingga 200 mil dari bibir pantai,” ujarnya kepada Kaltim Post Senin (11/9).

Menurutnya, padahal dengan perairan luas mencapai 10.217 km persegi. Ada sekitar 100 pulau kecil di Kaltim. Sehingga potensi luar biasa dari bisnis kelautan dan perikanan di Benua Etam. Namun, belum bisa maksimalkan. Selain belum adanya armada yang representatif untuk melaut lebih dari 100 mil dari bibir pantai.

Kaltim tak punya banyak pangkalan pendaratan ikan (PPI) dengan kapasitas besar. Jadi, nelayan yang datang ke perairan Kaltim tak bisa menjual ke Kaltim. Padahal nelayan tersebut ada yang berasal dari luar daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi. Hanya, tetap saja, nelayan asal Kaltim yang kembali menjual ke PPI di Kaltim.

“Pendapatan kita jadi berkurang. Mestinya nelayan dari luar yang menangkap ikan di perairan Kaltim itu menjual ke kita. Ini yang menyebabkan perikanan juga sulit berkembang,” tuturnya.

Data Dinas Perikanan Kaltim mencatat, dalam sehari, PPI Selili Samarinda bisa menghasilkan 40 ton ikan atau 1.200 ton per bulan. PPI yang besar kedua adalah Berau dengan produksi sekitar 7 ton per hari disusul Balikpapan sekitar 3 ton per hari. Namun tambah Syafaruddin, belum ada hilirisasi produk yang dihasilkan untuk memberikan nilai tambah.

“Beberapa minggu lalu kami sudah audiensi dengan SKPD terkait. Dengan kesepakatan siap mengembangkan sektor perikanan dengan mendatangkan investor,” katanya.

Namun, hal ini tidak bisa terjadi tanpa adanya kerja sama dari SKPD terkait. Tentunya para investor juga berharap regulasi termasuk perizinan dari pemerintah harus dipermudah. Karena market Kaltim cukup besar. Seperti negara-negara di Eropa, Asia terutama Jepang. “Selain ikan mentah, tentunya juga bisnis turunan perikanan,” tuturnya.

Syafaruddin mengatakan, upaya hilirisasi perikanan itu misalnya dengan mengembangkan pusat makanan berbasis ikan. Pusat makanan itu bisa menjadi ikon baru bagi ibu kota Kaltim. Apalagi produksi ikan di PPI Selili merupakan yang terbaik di Indonesia.

“Selain itu, bisa menampung usaha kuliner yang selama ini masih parsial. Dijadikan zonasi. Jangan kalah dengan daerah lain,” ungkapnya.

Selain itu, dari jumlah konsumsi ikan per kapita di daerah ini yang mencapai rata-rata 46,12 kilogram per orang per tahun. Jumlah itu melebihi target konsumsi nasional yang dipatok 40 kilogram per kapita per tahun. Tingginya konsumsi ikan di Kaltim dinilai belum diimbangi ketersediaan industri olahan.

“Padahal, hilirisasi dari sumber pangan ini menjadi hal penting untuk meningkatkan nilai jualnya,” tutupnya. (*/ctr/lhl/k15)


BACA JUGA

Kamis, 21 September 2017 06:57

Start-up Belum Terdata, BI Tetap Memantau

SAMARINDA – Kemunculan start-up di Benua Etam mewarnai geliat bisnis di daerah. Namun, hingga…

Kamis, 21 September 2017 06:56

NAH..!! Menteri ESDM Minta Cabut 600 Izin Tambang

JAKARTA - Izin tambang yang dianggap ilegal karena tak memenuhi kaidah clean on clear (CnC) terus diburu…

Kamis, 21 September 2017 06:53

Beri Peluang Swasta dengan Syarat “Uang Muka”

JAKARTA - Pemerintah bakal segera menelurkan aturan terkait Limited Concession Scheme (LCS) sebagai…

Kamis, 21 September 2017 06:52

Bauran Energi Terbarukan Sudah Lampaui Target

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan laporan kinerja terkait perkembangan…

Kamis, 21 September 2017 06:50

Uang Elektronik Mulai Tenar

ASOSIASI Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) melihat rencana Bank Indonesia (BI) terkait biaya isi ulang…

Kamis, 21 September 2017 06:48

Hanya 11 Persen Industri Punya Hak Paten

JAKARTA - Inovasi dalam dunia bisnis tengah menjadi fokus pengembangan dari pemerintah di berbagai sektor,…

Kamis, 21 September 2017 06:48

Petugas Pajak Kini Bisa Turun ke Lapangan Memeriksa

PEMERINTAH telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2017 tentang Pengenaan Pajak Penghasilan…

Rabu, 20 September 2017 07:33

Tekan Biaya Logistik, Mesti Ada Tol Sungai

BALIKPAPAN – Kaltim harus mampu menekan biaya logistik yang terlalu tinggi. Terutama di daerah…

Rabu, 20 September 2017 07:27

Ekonomi Masih Bergantung Ekspor

SAMARINDA - Ekonomi Kaltim triwulan II 2017 tumbuh 3,6 persen year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan…

Rabu, 20 September 2017 07:25

Batu Bara Berpotensi Balik Menguat

SAMARINDA - Harga batu bara pada Selasa (19/9) melemah tipis 0,45 persen atau 0,40 poin di USD 87 per…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .