MANAGED BY:
MINGGU
19 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 12 September 2017 07:12
Bisnis Perikanan Harus Dikelola Serius
MENANTI INVESTASI: Nelayan lokal Kaltim dinilai masih lemah dalam teknik dan peralatan tangkap ikan. Kapasitas kapal pun masih kecil. Di samping itu, belum ada industri hilirisasi produk ikan. (paksi sandang prabowo/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Sayang,pengelolaanpotensi bisnis kelautan dan perikanan Kaltim belum terlihat progres yang agresif. Hingga saat ini, tak ada penampungan ikan yang cukup besar. Serta masih kurangnya bisnis hilirisasi perikanan. Butuh kerja sama yang baik antara SKPD terkait, pengusaha, dan masyarakat.

Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Kaltim Syafaruddin mengatakan, potensi bisnis perikanan di Kaltim cukup menjanjikan. Hanya saja, perlu terminal transit perikanan yang profesional pengelolaannya. Seperti penampungan tangkap ikan besar lengkap dengan cold storage.

“Di Kaltim, belum ada yang bisa menampung dalam jumlah besar. Maksimal hanya berkapasitas 20-40 ton. Tak seperti di Laut Natuna sektor perikanannya dikelola besar-besaran, dan nelayannya melaut hingga 200 mil dari bibir pantai,” ujarnya kepada Kaltim Post Senin (11/9).

Menurutnya, padahal dengan perairan luas mencapai 10.217 km persegi. Ada sekitar 100 pulau kecil di Kaltim. Sehingga potensi luar biasa dari bisnis kelautan dan perikanan di Benua Etam. Namun, belum bisa maksimalkan. Selain belum adanya armada yang representatif untuk melaut lebih dari 100 mil dari bibir pantai.

Kaltim tak punya banyak pangkalan pendaratan ikan (PPI) dengan kapasitas besar. Jadi, nelayan yang datang ke perairan Kaltim tak bisa menjual ke Kaltim. Padahal nelayan tersebut ada yang berasal dari luar daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi. Hanya, tetap saja, nelayan asal Kaltim yang kembali menjual ke PPI di Kaltim.

“Pendapatan kita jadi berkurang. Mestinya nelayan dari luar yang menangkap ikan di perairan Kaltim itu menjual ke kita. Ini yang menyebabkan perikanan juga sulit berkembang,” tuturnya.

Data Dinas Perikanan Kaltim mencatat, dalam sehari, PPI Selili Samarinda bisa menghasilkan 40 ton ikan atau 1.200 ton per bulan. PPI yang besar kedua adalah Berau dengan produksi sekitar 7 ton per hari disusul Balikpapan sekitar 3 ton per hari. Namun tambah Syafaruddin, belum ada hilirisasi produk yang dihasilkan untuk memberikan nilai tambah.

“Beberapa minggu lalu kami sudah audiensi dengan SKPD terkait. Dengan kesepakatan siap mengembangkan sektor perikanan dengan mendatangkan investor,” katanya.

Namun, hal ini tidak bisa terjadi tanpa adanya kerja sama dari SKPD terkait. Tentunya para investor juga berharap regulasi termasuk perizinan dari pemerintah harus dipermudah. Karena market Kaltim cukup besar. Seperti negara-negara di Eropa, Asia terutama Jepang. “Selain ikan mentah, tentunya juga bisnis turunan perikanan,” tuturnya.

Syafaruddin mengatakan, upaya hilirisasi perikanan itu misalnya dengan mengembangkan pusat makanan berbasis ikan. Pusat makanan itu bisa menjadi ikon baru bagi ibu kota Kaltim. Apalagi produksi ikan di PPI Selili merupakan yang terbaik di Indonesia.

“Selain itu, bisa menampung usaha kuliner yang selama ini masih parsial. Dijadikan zonasi. Jangan kalah dengan daerah lain,” ungkapnya.

Selain itu, dari jumlah konsumsi ikan per kapita di daerah ini yang mencapai rata-rata 46,12 kilogram per orang per tahun. Jumlah itu melebihi target konsumsi nasional yang dipatok 40 kilogram per kapita per tahun. Tingginya konsumsi ikan di Kaltim dinilai belum diimbangi ketersediaan industri olahan.

“Padahal, hilirisasi dari sumber pangan ini menjadi hal penting untuk meningkatkan nilai jualnya,” tutupnya. (*/ctr/lhl/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 18 November 2017 06:18

Pesimistis Capai Target

JAKARTA  —  Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,2 persen…

Sabtu, 18 November 2017 06:17

Ponpes Dipacu Ciptakan Pelaku IKM

JAKARTA  —  Dengan jumlah yang banyak, pondok pesantren (ponpes) berpotensi besar menciptakan…

Sabtu, 18 November 2017 06:15

Tahan Suku Bunga Acuan 4,25 Persen

BANK  Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada besaran 4,25 persen. Ini sebagai bagian…

Jumat, 17 November 2017 07:00

Direvisi Sesuai Kondisi Ekonomi

JAKARTA — Rencana kenaikan batas bawah tarif pesawat kelas ekonomi masih dikaji oleh Kementerian…

Jumat, 17 November 2017 06:59

Selama Era Jonan, Kementerian ESDM Sepakati PPA 1.189 MW

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igansius Jonan baru saja menyaksikan penandatanganan…

Jumat, 17 November 2017 06:58

Tagihan Listrik Berpotensi Melambung

JAKARTA — Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai penyederhanaan golongan listrik tidak…

Jumat, 17 November 2017 06:58

Motor Utama Perbankan di Kaltim dan Kaltara

JAKARTA - Bankaltim yang bertransformasi menjadi Bankaltimtara menjadi sebuah harapan besar bagi Provinsi…

Kamis, 16 November 2017 07:25

Sektor Pertanian Paling Agresif

BALIKPAPAN – Optimisme kondisi ekonomi yang membaik terlihat dari penyaluran kredit sampai kuartal…

Kamis, 16 November 2017 07:22

Direct Call Harus Terapkan Asas Cabotage

SAMARINDA - Kaltim pada awal 2018 mulai menerapkan sistem pelayaran direct call, yang artinya dapat…

Kamis, 16 November 2017 07:20

Mulai Hari Ini, 8.500 Produk Turun Harga

SAMARINDA – Hypermart sepertinya tak henti-hentinya memberikan harga termurah. Saat ini salah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .