MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Senin, 11 September 2017 09:09
Berantas Campak dengan Kecapi

Kisah Tenaga Kesehatan Teladan Nasional dari Kota Minyak: Temy Ermawati (4)

TINGKATKAN KEPEDULIAN: Temy Ermawati (kanan) bersama Kader Campak Peduli bercengkerama dengan warga Klandasan Ilir, Balikpapan Kota, belum lama ini. (ANGGI PRADITHA)

PROKAL.CO, Sebagai surveilans campak, perawat Puskesmas Klandasan Ilir ini merasa perlu mempertajam data, sekaligus melihat fakta di lapangan. Dengan misi tersebut, Temy Ermawati menciptakan jaringan di lingkungan masyarakat. Mereka disebut Kader Campak Peduli (Kecapi).

DINA ANGELINA, Balikpapan

LATAR belakang terbentuknya Kecapi sesungguhnya untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini (SKD) kejadian luar biasa (KLB) campak. Perempuan 32 tahun ini cukup akrab dengan bidang tersebut. Sebab, dalam kesehariannya, Temy, sapaannya, bertugas sebagai surveilans penyakit menular. Dia berpendapat, tak boleh hanya berdiam diri menunggu laporan kasus campak datang.

”Kalau dibiarkan, kondisi ini mirip dengan fenomena gunung es. Kasus campak mungkin saja banyak terjadi, namun tidak terdengar hingga ke puskesmas. Sebagian besar karena masyarakat tidak paham atau meremehkan kasus campak. Makanya saya yakin perlu membangun jaringan SKD KLB melalui Kecapi,” tuturnya.

Alumnus D-III Keperawatan Akademi Perawat Pemprov Kaltim ini menjelaskan, Kecapi bertugas memantau faktor risiko KLB campak di masyarakat. Kemudian, membantu petugas kesehatan melakukan identifikasi atau mencatat kasus campak. Ibaratnya, anggota Kecapi menjelma sebagai perpanjangan tangan pegawai puskesmas. ”Mereka yang berinteraksi langsung dengan warga dan tahu benar perkembangan di lapangan. Sementara saya bertugas mengumpulkan data dari mereka. Setiap ada kasus campak, kader dengan sigap melaporkannya ke puskesmas. Mereka juga harus menganjurkan pasien untuk segera berobat ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Setelah ada laporan dari kader, Temy langsung melakukan survei kontak untuk penegakan diagnosis. Dia perlu memastikan, warga tersebut termasuk penderita campak atau tidak. Perempuan penyuka seni ini menuturkan, ada banyak gejala yang mirip dengan campak. Misalnya rubela, kerumut, cacar, dan alergi. Temy mengatakan tidak hanya memantau dan mengidentifikasi, Kecapi turut memberikan penyuluhan sederhana kepada masyarakat.

Meski sumber daya manusia di puskesmas terbatas, Temy mengaku ingin berbagi informasi sebanyak mungkin kepada masyarakat. Maka, dia perlu peran kader yang mendukung dan turun langsung mendistribusikan pengetahuan tentang campak. ”Dari penyuluhan sederhana kader, setidaknya masyarakat tahu dulu informasi tentang campak. Sehingga mereka bisa mencegah penyakit itu mandiri. Tidak perlu cemas, namun bukan juga mengabaikan penyakit itu,” imbuhnya.

KONSEP DASAR KECAPI

Temy mengungkapkan, terdapat lima poin konsep dasar Kecapi. Di antaranya, kenali penyakit campak, cukupi nutrisi anak, anjurkan menjaga kebersihan lingkungan, pantau kasus imunisasi anak, dan segera ke puskesmas jika menemukan kasus. Sebenarnya semua itu tergolong simpel. Namun, tetap perlu penegakan agar kinerja dalam menjaga kesehatan masyarakat berjalan maksimal.

Sejak inovasi ini berjalan awal tahun, Temy mengatakan, pihaknya fokus mendirikan Kecapi di tingkat RT. Terutama di permukiman yang berpotensi rawan campak. Sebelum mendirikan Kecapi, putri dari pasangan Waras Sardiyanto dan Sri Supatmi itu perlu melakukan analisis data. Kurang lebih data tersebut berasal dari tiga tahun terakhir. Menariknya, hasil pengolahan data menunjukkan, campak sangat rentan di kawasan slam area (kumuh).

Serta daerah yang menolak program imunisasi alias cakupan imunisasi, campaknya kecil. Alasannya, karena daerah pesisir pantai memiliki jumlah kartu keluarga (KK) bertumpuk dan bangunan tidak teratur. Belum lagi ada angin laut yang cenderung cepat membawa virus seperti campak. ”Jadi ada pemetaan penyakit, daerah mana saja yang membutuhkan pendirian Kecapi. Tidak semua daerah sama dan butuh,” katanya.

 Saat ini, Kecapi sudah berjalan di RT 50 Klandasan Ilir dan RT 06 Klandasan Ulu. Pada RT 50 yang berada di wilayah pesisir pantai, ada 12 petugas Kecapi yang berpartisipasi dan tergolong aktif. Bukan hanya membentuk jaringan, Temy turut membekali instrumen pendukung untuk mempermudah tugas Kecapi. Setiap anggota akan dilengkapi dengan buku saku layaknya buku panduan tugas. Dalam buku tersebut, ibu dari dua anak ini memberikan penjelasan tentang penyakit campak, cara penularan, gejala, sampai komplikasinya.

Jadi, kader yang awalnya awam menjadi tahu cara menerapkan SKD KLB campak. ”Termasuk penanggulangan dini jika menemukan kasus campak, mereka sudah bisa menyebarkan informasi ini ke warga walau secara sederhana. Hal yang penting lagi, kader mampu melakukan identifikasi penyakit campak. Hingga petunjuk teknis tentang penyampaian bentuk laporan kader kepada petugas surveilans di puskesmas,” ungkapnya.

Selain itu, Kecapi memiliki formulir pendataan. Warga yang berada dalam lingkup jangkauan kerjanya, kader standby mengumpulkan lampiran formulir saat diadakan kegiatan posyandu setiap awal bulan.

Rencananya, ucap Temy, dalam setahun dia mengadakan dua kali pertemuan besar bersama kader. Yakni, awal tahun untuk perencanaan, pendampingan, dan pelatihan. Selanjutnya akhir tahun untuk program evaluasi.

”Selama ini, kami terus berkoordinasi rutin lewat aplikasi Messenger, telepon, atau SMS (Short Message Service). Biasanya setiap Senin, saya menghubungi mereka untuk update kondisi di lapangan. Kader segera kirim informasi ke kami setiap ada pasien campak. Jadi, pendataan dan laporan juga jelas,” ungkapnya.

Setelah Kecapi berjalan lebih dari setengah tahun ini, jumlah kasus terduga campak terus meningkat. Namun, dia mengungkapkan, hasil itu merupakan capaian positif untuk petugas surveilans. Sebab, dengan meningkatnya jumlah kasus, berarti semakin banyak warga yang terdeteksi dan membuat tim semakin ketat dalam penanggulangannya. Namun, khusus untuk RT 50, dia mengaku belum menemukan kasus campak. Tidak ada penyebaran campak yang membahayakan.

”Kader sangat membantu kami untuk  terjun ke masyarakat. Mereka aktif memberikan sumbangsih melalui laporan setiap kali ada kasus. Jadi, kontrol warga mudah dan data yang saya miliki tidak bersifat pasif. Manfaat lain, warga lebih mudah mendapatkan informasi dari kader yang terbentuk,” kata istri dari Rizal Rivai tersebut. Setelah mendapatkan gelar tenaga kesehatan teladan nasional 2017 kategori perawat, Temy semakin termotivasi untuk membuat program ini semakin maksimal.

Pekerjaan besarnya yakni melatih kader agar mandiri melakukan penyuluhan dan percaya diri. “Khusus slam area, Kecapi perlu dijalankan secara kontinu untuk mencegah campak karena faktor lingkungannya besar. Nantinya jika ada daerah yang mencolok jumlah kasus campaknya, kami akan segera dirikan Kecapi di wilayah tersebut,” pungkasnya. (riz/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 12 Januari 2019 07:02
Melihat Pelatihan Make-up di Rutan Klas IIB Balikpapan

Tepis Bosan, Modal agar Tak Kembali Terjerumus

Bayangan terhadap kelam dan buruknya kehidupan di balik dinding penjara…

Minggu, 06 Januari 2019 08:52

Mingalabar from Myanmar

Oleh: Firman Wahyudi   PERJALANAN dari Balikpapan ke Myanmar memakan…

Sabtu, 05 Januari 2019 06:57

Raih Harmony Award, Warga Punya Peran Besar

Kalimantan Utara (Kaltara) dinobatkan Kementerian Agama (Kemenag) sebagai provinsi dengan…

Sabtu, 29 Desember 2018 06:59

Evaluasi APBD Sudah Rampung, Menunggu Pengesahan DPRD

Draf APBD Kalimantan Utara (Kaltara) 2019 sudah dievaluasi Kementerian Dalam…

Rabu, 26 Desember 2018 11:54
Kisah Para Nelayan Pandeglang yang Selamat dari Tsunami

Selembar Penutup Boks Ikan Jadi Penyelamat

Kuatnya terjangan tsunami membuat kapal-kapal pencari ikan itu pecah. Nelayan…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:59
Menengok MRI Anyar Milik RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo

Bantu Dokter Mampu Visualisasikan Jaringan Tubuh Terkecil Pasien

Setahun lalu diusulkan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) baru milik RSUD…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:45
AKP MD Djauhari, Kapolsek Loa Janan Peraih Medali Perak Porprov

Tetap Percaya Diri Meski Bersaing dengan Atlet Muda

Nama AKP MD Djauhari tak asing lagi di lingkungan atlet…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:38

Ikuti Adik Jajal Samarinda, Sudah Bidik Pasar Luar Negeri

Memiliki jiwa bisnis, putra sulung Presiden RI ke-7, Joko Widodo,…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:12

Penularan “Santun”, Pasien Tak Perlu Dijauhi

Stigma HIV/AIDS di kalangan masyarakat masih buruk. Penderitanya kerap dikucilkan:…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:05

Urunan Sayur Saat Hajatan, Ngopi Bareng Kaburkan Zona Merah

“Proactif Policing” yang kerap digaungkan Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*