MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 06 September 2017 10:20
Isap Ganja Sintetis lewat Vape

Usia Muda Rentan Terjerat Narkoba

PROKAL.CO, Tindak kejahatan narkoba sudah sangat mengkhawatirkan. Indonesia menjadi bidikan sindikat jaringan internasional.

PEREDARAN narkotika dan obat atau bahan berbahaya menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Generasi muda jadi sasaran zat adiktif yang merusak tubuh. Kekhawatiran itu tergambar dari hasil survei yang dilakukan Tim Riset Kaltim Post. Jajak pendapat ini dilakukan pada 23-29 Agustus lalu. Sekitar 100 orang dari Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong menjadi responden. Seluruhnya berusia mulai 17 tahun.

Koordinator Tim Riset Kaltim Post Rizky Rizkyawandy memaparkan, sebanyak 92,63 persen responden sepakat peredaran narkoba sudah mengancam ketahanan bangsa dan generasi muda di Kaltim. “Semua tahu bahwa efek narkoba. Namun, hal tersebut terus saja berulang. Tak sedikit memakan korban. Ini yang dianggap ancaman,” jelasnya, Ahad (3/9).

Lebih lanjut, sebanyak 20 persen responden mengaku memiliki kerabat atau keluarga yang pernah kecanduan terhadap narkoba. Sebagian besar penanganan, dari hasil jajak pendapat itu, sekitar 94,74 persen memilih rehabilitasi sebagai solusi melepaskan ketergantungan narkoba.

Sisanya, kata dia, sebesar 5,26 persen responden mengatakan jeratan narkoba berakhir di jeruji besi. Hal ini tentu perlu mendapatkan perhatian ekstra. Masih berdasar survei, mayoritas responden menganggap peran aparat masih belum maksimal. Sebab, hingga saat ini peredaran narkoba seakan luput dari pengawasan. Tapi, 26,7 persen responden mengungkapkan gaya hidup bebas dan perkembangan teknologi turut berperan. “Ini yang menyebabkan narkoba mudah luput dari pengawasan,” jelas dia.

Meski demikian, terangnya, tingkat peredaran narkoba bisa ditekan bila masyarakat lebih peduli. Ucapan ini diamini sekitar 12,4 persen peserta jajak pendapat yang mengungkapkan kepedulian masyarakat sekitar masih sangat kurang. (lihat grafis)

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kaltim, AKBP Halomoan Tampubolon menuturkan, masalah narkoba adalah yang paling serius. “Pak Joko Widodo (Presiden RI) sudah bilang, Indonesia darurat narkoba,” tuturnya.

Perwira polisi dengan dua melati di pundak itu menyebut, narkoba bukan lagi sekadar mengancam. Permasalahan itu adalah kasus utama yang harus diselesaikan. Lanjut dia menerangkan, narkoba adalah asal mula munculnya persoalan dan juga dianggap pelarian dari masalah.

Meski tak memiliki keluarga dengan riwayat pecandu narkoba, banyak masyarakat yang pernah menjadi pecandu dan berhenti melalui program rehabilitasi. “Sisanya sadar setelah di penjara,” sebutnya.

Disebut Tampubolon, banyak faktor yang memengaruhi seseorang bisa menggunakan narkoba. Namun, mantan kasat Sabhara Polresta Samarinda itu menyebut, usia produktif khususnya remaja, faktor pergaulan dan lingkungan yang tak menunjang jadi alat khusus memuluskan bandar narkoba masuk ke kalangan pelajar.

Hasil riset Kaltim Post, disebutnya, berbanding lurus dengan kajian BNN. Secara tegas, dia menyatakan, semua narkoba dianggap perusak. Jenis sabu-sabu masih jadi primadona, paling banyak dicari. Selain itu, ada ganja, ekstasi (ineks), serta narkoba jenis lainnya. “Kalau yang sedang diwaspadai itu adalah rokok elektrik (vape),” bebernya.

Seperti cairan vape yang mengandung zat 5-fluoro. Zat itu merupakan jenis ganja sintetis. “Memang belum beredar bebas,” sebut Tampubolon. Namun selama ini, lanjut dia, BNN memang belum melakukan pengungkapan kasus pengguna narkoba lewat vape. Meski demikian, fenomena tersebut mulai terendus.

Dampak yang ditimbulkan disebutnya lebih fatal ketimbang seseorang mengonsumsi flakka, narkotika yang juga disebut sudah masuk Samarinda. Harga dari narkoba yang dijual melalui likuid itu mencapai Rp 1,2 juta per 60 mililiter.

Tampubolon menambahkan, dari hasil penelusuran, cairan berbahaya itu terlampau mudah diakses. “Yang masih kami telusuri itu kode pemesanannya karena melalui online,” bebernya.

Peredaran narkoba lewat vape, ungkap dia, terendus di Banjarmasin, Kalsel. Bisa saja masuk Samarinda. “Bandar narkotika selalu mencari cara memuluskan bisnisnya. Cara itu (narkoba lewat vape) dianggap metode baru,” ungkapnya.

Menukil data BNN Kaltim, medio semester awal 2017, petugas setidaknya telah menyeret 79 orang ke jeruji besi yang tersebar di Samarinda, Balikpapan, Nunukan, dan Tarakan. Daerah tersebut paling rawan dan dianggap sebagai jalur distribusi narkoba.

Dari empat daerah itu, BNN setidaknya menggagalkan lebih dari 5 kilogram sabu-sabu dan narkoba jenis lainnya yang masuk Kaltim. “Tapi, jumlah itu diduga sangat timpang dengan banyaknya narkoba masuk melalui jalur khusus baik darat, laut dan udara,” paparnya.

Data Polda Kaltim mencatat, sejak Januari hingga Juni 2017 terdapat pengungkapan kasus narkoba di Kaltim dan Kaltara yang melibatkan pemuda. Yakni berusia 16–19 tahun terdapat 105 orang. Sedangkan usia 20–29 terdapat 642 orang.

Pada Mei 2017 lalu, publik Samarinda sempat dikejutkan dengan seorang bocah putus sekolah berumur 8 tahun mengonsumsi narkoba. Itu tak terlepas dari keseharian sebagai anak jalanan, yang notabene tak memiliki lingkungan yang baik dan pergaulan yang bebas. Bocah berinisial DV itu setiap hari tinggal di bawah jembatan yang menghubungkan Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Agus Salim.

Keberadaan mereka dianggap merusak estetika kota dan ditindak Satpol PP Samarinda. Dari itu semuanya terkuak, jika lokasi yang dijadikan tempat tinggal juga kerap digunakan DV pesta sabu-sabu. DV adalah bocah putus sekolah asal Balikpapan. Dia dan rekannya selalu berkeliling untuk mengamen.

Nah, dari hasil itu bocah putus sekolah itu membeli narkoba. Hasil mengamen sehari bisa mencapai Rp 100–150 ribu. Bak mengonsumsi makanan, sehari DV dan rekannya bisa pesta narkoba dua hingga tiga kali. “Belinya sama teman juga,” ujar DV kepada media ini, kala itu.

Bocah ini juga mengaku memiliki masa lalu yang kelam di Balikpapan. Orangtuanya sudah acuh kepada dirinya. Terlebih selama di Samarinda, tidak sekalipun dijenguk, apalagi dijemput. Alasan itu yang membuat DV betah tinggal di Kota Tepian. Namun bukannya baik, justru dirinya terjebak di lembah hitam penggunaan narkoba.

BELUM EFEKTIF

Pengamat hukum pidana dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Hairan punya pendapat. Menurut dia, kinerja aparat penegak hukum, baik kepolisian dan BNN dalam penindakan sudah luar biasa. Dalam penjatuhan sanksi hukum juga sudah tegas.

Mengapa penyalahgunaan narkoba masih menjamur? Kata Hairan, tak bisa serta-merta dengan penindakan kasus narkoba menjadi zero. Sebagai bukti, sekalipun sudah ada yang dihukum mati, namun tak cukup efektif membuat efek jera hingga menghilangkan kasus narkoba. Meski demikian, yang diperbuat aparat selama ini patut diapresiasi.

Dia menilai, pembinaan dan pencegahan tak bisa dikesampingkan. Porsi terhadap itu juga harus sama kuatnya. Bahkan lebih dari melakukan penindakan. “Itu jauh lebih penting. Edukasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan,” ucap dia.

Dia mengkritik penegakan hukum, dianggap prestasi ketika menindak. Padahal, menurutnya, penindakan adalah bagian akhir. Maka, yang mesti diperkuat adalah tahap pencegahan di bagian awal. Penilaian prestasi aparat penegak hukum harusnya dibalik. “Semakin berperan di masyarakat dalam pencegahan berbagai tindak pidana, termasuk narkoba, juga dinilai prestasi. Atasan juga harus memerhatikan itu sebagai bahan penilaian prestasi,” sebutnya.

Bila masyarakat hidup tertib, aman, tenteram, dan nyaman mengartikan keberhasilan peran penegak hukum. Artinya ada sinergi aktif aparat dengan masyarakat level bawah. Semisal ketua rukun tetangga. Bagaimanapun, aparat juga merupakan bagian dari masyarakat. “Dari sisi budaya ini belum dimunculkan,” ucap pengampu mata kuliah hukum pidana Fakultas Hukum Unmul itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, dia ikut mengamati peredaran narkoba di Kaltim, utamanya di Samarinda. Penyalahgunaan barang haram tersebut sudah merambah ke lapisan sosial masyarakat bawah. Di beberapa wilayah di ibu kota Kaltim, anak sekolah dan putus sekolah bahkan mengonsumsi narkoba lebih parah dari menenggak minuman keras. Disebutnya, kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan. “Melepas anak jadi was-was. Mengontrol diri sendiri mungkin bisa. Tapi dalam tataran pergaulan anak sulit dikontrol. Tidak bisa mengawasi 24 jam,” ujar dia.

Belum lagi fenomena sosial dan budaya di masyarakat mendukung tumbuh suburnya peredaran narkoba. Tanpa disadari, sisi sosial masyarakat tinggi. Dengan mudah melindungi orang lain yang jelas merupakan pengguna narkoba dengan dasar rasa kekerabatan. “Padahal itu jelas salah,” kata dia. (*/roe/*dra/ril/rom/k18)


BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 08:48

Adang Masjid, Daftarkan Cagar Budaya

SAMARINDA – Gelombang penolakan pembangunan Masjid Al Faruq di Lapangan Kinibalu terus berlanjut.…

Minggu, 10 Desember 2017 08:42

Lima Kandidat, Manuver Jaang

SAMARINDA – Saat suhu politik yang mendingin jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018, Syaharie…

Minggu, 10 Desember 2017 08:41

Keputusan Trump Pengaruhi Dunia Pariwisata

GUNUNG KIDUL – Suara Mahmoud Abbas di ujung telepon Jumat (8/12) malam langsung membuat Presiden…

Minggu, 10 Desember 2017 08:37

Berebut Jadi Istri Pertama demi Warisan Saudagar

GERIMIS yang malu-malu bukan penghalang bagi Karin–nama samaran– untuk mantap melangkahkan…

Minggu, 10 Desember 2017 08:35

Seirama dengan Optimalisasi PAD

STRUKVAGANZA yang digagas Kaltim Post disebut seirama dengan rencana optimalisasi pendapatan asli daerah…

Minggu, 10 Desember 2017 08:34

Tahlilan Tiap Malam Jumat, Susun Kamus Bahasa Daerah

Orang-orang Bawean mewarnai sejarah Malaysia. Mereka merantau, beranak pinak, mempertahankan tradisi,…

Sabtu, 09 Desember 2017 20:50

Pemprov Tak Tahu Tanah Eks Hotel Lamin Indah Jadi RTH

SAMARINDA – Pembangunan Transmart di Samarinda masih “dipeluk” masalah. Belum selesai…

Sabtu, 09 Desember 2017 20:47

Megah di Tengah yang Susah

SAMARINDA– Sudah kelewat banyak argumentasi yang membangun kesimpulan bahwa pembangunan Masjid…

Jumat, 08 Desember 2017 09:40

Mengubur Lokasi Bersejarah

Lapangan Kinibalu yang menjadi lokasi pembangunan Masjid Al Faruq adalah saksi bisu peristiwa penting…

Jumat, 08 Desember 2017 09:32

Dewan Sebut Tak Kuasa Membendung

GUBERNUR Kaltim Awang Faroek Ishak bergeming dengan gelombang penolakan masyarakat terhadap alih fungsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .